Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arena Perang Dingin di Balik Meja
Suhu di dalam Ruang Multimedia seakan turun jauh lebih dingin saat keheningan melanda seketika. Balasan Aurel yang tenang namun tegas, menembus segala keraguan, membuat beberapa pengurus OSIS tak sadar menahan napas. Jessica melotot tak percaya sama sekali gadis yang selama ini dipandang rendah, yang selalu dianggap tak akan berani bersuara, kini berdiri tegak dan menatap balik Clarissa lurus-lurus di hadapan semua orang.
Tangan Clarissa mengepal erat di bawah permukaan meja, kukunya nyaris menancap ke telapak tangannya sendiri. Selama ini tak ada satu pun yang berani menegurnya begitu, apalagi menatapnya lurus dengan kepala tetap tegak dan tatapan yang tak tergoyahkan sedikit pun. Wajahnya memerah merona, meski senyum tipis yang dipaksakan tetap berusaha bertahan di bibirnya.
"Bagus kalau niatmu belajar, Aurel," suaranya terdengar terkendali, berusaha tetap anggun dan tenang, namun getaran amarah yang tertahan tak bisa disembunyikan sepenuhnya. "Tapi di panitia ini, kita membutuhkan hasil nyata, bukan sekadar kata-kata manis yang diucapkan hanya untuk mencari perhatian semua orang."
"Cukup," potong Rama, ketua OSIS kelas dua belas, lalu berdehem pelan berusaha mencairkan suasana yang kaku dan berat itu. "Kita tidak perlu membuang waktu dengan hal seperti ini. Silakan duduk, Aurel. Mari kita lanjutkan pembagian tugas yang tersisa."
Aurel menarik kursi di hadapan meja tempat Clarissa duduk, lalu duduk dengan tegak dan tenang. Sepatu yang dijahit sendiri oleh ibunya menyentuh lantai perlahan sederhana, kulitnya sudah tidak baru lagi, namun justru itulah yang memberinya keteguhan yang tak terduga. Ia tahu kata-katanya tadi pasti telah mengundang kemarahan yang dalam, namun ia tak punya pilihan lain. Jika saat ini ia menunduk dan memilih diam, maka harga dirinya, serta apa yang diperjuangkan ibunya dengan susah payah, akan terus diinjak-injak sampai tak tersisa apa-apa lagi.
Dua jam rapat berikutnya berlalu dalam keheningan yang penuh ketegangan. Di luar jendela besar, kabut tipis dari puncak Gunung Pitu turun perlahan, menyelimuti halaman sekolah yang luas dengan hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Setiap kali Aurel mengangkat pena untuk mencatat, ia bisa merasakan tatapan tajam Clarissa yang tak lepas sedikit pun darinya, seakan menunggu satu kesalahan kecil saja untuk menyerang kembali.
Dan puncak ketegangan itu tiba saat pembahasan beralih kepada pemilihan stan untuk menampilkan produk-produk khas daerah.
"Mengingat ruang yang tersedia terbatas, kita harus selektif dalam menentukan barang apa saja yang layak dipajang di Aula Utama," jelas Rama sambil menunjuk layar proyektor di depannya. "Apakah ada usulan produk dari warga yang tinggal di sekitar lereng gunung?"
Clarissa langsung mengangkat tangannya, melirik tajam sejenak ke arah Aurel sebelum tersenyum manis — senyum yang terlihat indah namun sama sekali tak sampai ke matanya.
"Aku punya pendapat soal ini, Ram," ucapnya lembut, namun setiap kata yang diucapkan terasa tajam dan menusuk. "Beberapa produk minuman tradisional memang mengajukan izin untuk ikut serta. Namun pameran ini berskala antarsekolah, tingkat kabupaten. Kita harus menjaga standar yang pantas. Jangan sampai stan sekolah kita terlihat seperti lapak biasa di pinggir jalan, seolah-olah kita hanya menjual jamu eceran begitu saja."
Ruangan kembali hening seketika. Semua orang di sana paham betul siapa yang sedang disindir. Beberapa orang tersenyum kecil sambil saling pandang, sementara Felicia yang duduk di sebelah Clarissa menatap Aurel sambil menyeringai penuh arti.
Aurel menarik napas perlahan, menghembuskannya pelan untuk menenangkan diri. Ia tahu persis apa yang sedang dilakukan Clarissa — ia sengaja memancing emosinya, berharap Aurel akan meledak dalam kemarahan, lalu dianggap tidak bisa menjaga sikap dan kehilangan tempat di sini. Di luar pintu, Sinta yang menunggu pasti sudah merasa gemas mendengar semuanya. Namun Aurel tetap berdiri teguh, tenang dan tak tergoyahkan. Ia mengangkat tangannya.
"Silakan, Aurel," kata Rama memberi kesempatan.
Aurel menatap lurus ke arah Clarissa, suaranya tenang namun terdengar jelas di seluruh ruangan. "Menurutku, justru produk itulah yang menjadi inti dan jiwa dari pameran budaya yang kita selenggarakan. Jika kita hanya memajang barang-barang yang bisa dibeli dengan mudah di pusat perbelanjaan kota, lalu apa bedanya pameran ini dengan sekadar berkeliling ke mal? Bukankah tujuan kita adalah menampilkan apa yang asli, yang tumbuh subur di tanah ini, dan yang dihidupi dengan ketulusan oleh warga yang tinggal di lereng gunung ini sendiri?"
Hening sejenak melanda ruangan, lalu satu per satu pengurus OSIS mulai mengangguk setuju. Rama tersenyum tipis, seakan menemukan jawaban yang tepat.
"Benar juga apa yang dikatakan Aurel," kata Rama dengan tegas. "Produk tradisional tetap masuk ke dalam daftar. Dan Aurel, mengingat latar belakang keluargamu yang berkecimpung dalam hal ini, kamulah yang memimpin divisi kurasi produk tersebut. Bekerja samalah dengan Clarissa untuk mengurus perizinan dan urusan sponsor."
Mata Clarissa membelalak tak percaya. Bekerja sama dengannya? Menjadikan Aurel sebagai penanggung jawab utama? Hal itu bagaikan pukulan telak yang menghantam harga dirinya seketika.
Bel berbunyi nyaring, memecah suasana yang masih terasa berat itu. Saat semua orang mulai beranjak berdiri dan berjalan keluar, Clarissa berjalan mendekat ke meja tempat Aurel merapikan catatannya. Ia mencondongkan tubuh ke depan, berbisik pelan hanya agar mereka berdua saja yang mendengar.
"Jangan merasa menang dulu begitu, anak jamu," suaranya dingin dan tajam. "Kamu mungkin memenangkan pembicaraan di sini. Tapi permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Kita lihat nanti seberapa lama kamu bisa bertahan di posisi itu."
Aurel menutup bukunya perlahan, lalu mendongak menatapnya dengan tenang.
"Silakan dicoba, Clarissa. Aku tidak akan ke mana-mana."
Clarissa melangkah pergi dengan wajah yang membara menahan amarah, menyusul Jessica dan Felicia yang sudah menunggu di koridor depan.
"Berani banget dia bicara begitu!" seru Jessica dengan suara tertahan. "Kamu tidak bisa membiarkannya begitu saja kan?"
"Tentu saja tidak," jawab Clarissa pelan, senyum licik mulai terukir di sudut bibirnya. "Dia pikir memenangkan satu perdebatan berarti dia sudah memenangkan segalanya."
Ia mulai menyusun rencana di dalam kepalanya — disusun satu per satu dengan rapi, tak terlihat kasar atau terburu-buru, namun setiap langkahnya dirancang untuk mematikan.
Langkah pertama adalah dokumen. Clarissa memegang kendali penuh atas semua urusan perizinan. Esok pagi, alih-alih mengajukan proposal yang disusun Aurel kepada dinas terkait, ia akan membuat surat penolakan seolah-olah datang dari pihak berwenang — menyatakan bahwa produk tersebut tidak lolos uji kebersihan, padahal pemeriksaan seperti itu sama sekali belum pernah dilakukan.
Namun itu belum cukup. Ia butuh pukulan yang jauh lebih dalam.
Langkah kedua adalah pendapat orang banyak. Melalui kenalan-kenalannya, ia akan menyebarkan kabar yang sama sekali tidak benar — bahwa jamu buatan keluarga Aurel mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi kesehatan. Jika kabar itu menyebar luas, bukan hanya stan pameran yang akan batal, pelanggan setia ibunya pun perlahan akan menjauh dan meninggalkan mereka.
Dan langkah ketiga, yang akan memberikan pukulan terakhir. Ia akan menghubungi sekelompok pemuda yang kerap berkumpul di jalur pendakian, menyuruh mereka melaporkan lapak ibunya sehari sebelum pameran dimulai, seolah-olah berjualan tanpa memiliki izin resmi.
Bagi Clarissa, kekalahan yang ia alami tadi adalah penghinaan yang harus dibayar lunas oleh Aurel.
Malam itu, di kamarnya yang luas dan terang benderang, di atas bukit tempat lampu kota tampak berkelap-kelip di balik kabut tipis, Clarissa mengetik pesan rahasia di layar ponselnya dengan jari yang masih sedikit gemetar menahan amarah.
Sementara itu, jauh di bawah sana, di rumah sederhana yang dindingnya berbau kayu tua dan rempah-rempah yang harum, Aurel duduk di samping ibunya, menyortir rimpang temulawak yang masih segar, beraroma tanah basah dan kesegaran hutan yang murni. Ia sama sekali tak tahu rencana apa yang sedang disusun untuk menjatuhkannya. Namun hatinya terasa tenang dan damai. Ia berdiri di atas kebenaran yang nyata, dan itulah yang memberinya kekuatan yang tak dimiliki oleh orang lain.
kalau bisa double up