NovelToon NovelToon
Bukan Drama Pernikahan 2

Bukan Drama Pernikahan 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Shann29

Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.

Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.

Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.

Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.

Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.

Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.

“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”

“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”

Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Teman

Nic kembali tertidur setelah meminum obat.

Sementara itu, Jove memilih makan malam di sofa kamar. Tidak ada suara lain di ruangan itu selain dentingan sendok dan piring yang sesekali beradu.

Beberapa kali Jove melirik ke arah tempat tidur.

Nic masih berbaring di sana, tidur cukup lelap setelah tubuhnya mulai terasa lebih baik.

Entah mengapa, Jove terus memastikan keadaan pria itu.

Setelah makan malamnya selesai dan pelayan membereskan semuanya, Jove kembali mendekati tempat tidur.

Tangannya terulur menyentuh kening Nic.

“Sudah turun,” gumamnya lega.

Karena Nic masih tertidur, Jove memutuskan untuk keluar kamar dan menemui keluarganya di ruang keluarga.

Jihan yang melihatnya langsung menanyakan keadaan menantunya.

“Bagaimana Nic, Sayang?” tanyanya.

“Sudah tidur, Mom.”

Jove kemudian duduk di samping Jonathan.

“Syukurlah,” ujar Alaska. “Dan Daddy bangga karena kamu tahu kewajibanmu, Sayang.”

Jove hanya tersenyum.

Ia sendiri tidak tahu mengapa tadi bisa begitu saja mengurus Nic yang sedang sakit.

Mungkin memang hanya rasa kemanusiaan.

Bukankah ketika seseorang sedang membutuhkan pertolongan, sudah sewajarnya kita membantunya?

Setidaknya itulah yang Jove pikirkan.

“Kak Jove.”

Jove menoleh kepada Jordy yang duduk di sofa lain.

“Kenapa, Jord?”

“Kenapa Kak Jove tidak memilih resign saja?”

“Resign?” Jove memastikan.

Jordy mengangguk.

“Kak Jove kan sudah menikah. Suami Kak Jove juga seorang CEO. Sebenarnya Kakak bisa santai di rumah tanpa harus bekerja, lalu fokus punya anak.”

Mendengar kata anak, wajah Jove seketika terasa sedikit panas.

Ia bahkan tidak pernah membayangkan hal itu.

Bagaimana mungkin ia memikirkan anak ketika pernikahannya dengan Nic sejak awal hanya berdasarkan sebuah kesepakatan?

Jonathan yang tidak menyadari kegelisahan kakaknya justru ikut menimpali.

“Benar tuh, Kak. Siapa tahu kembar seperti Mommy dengan Uncle Jid, atau seperti kami juga.”

“Kalian ini.” Jove menatap kedua adiknya. “Belum menikah sudah menyuruh aku punya anak.”

Jove menggeleng sambil terkekeh.

“Memangnya anak bisa kita beli? Itu tuh kuasa Tuhan, tahu.”

“Iya, itu benar,” sahut Alaska.

Semua mata kemudian tertuju kepadanya.

“Anak memang kuasa Tuhan. Tidak perlu memaksakan. Jika sudah waktunya, pasti Tuhan akan memberikannya.”

Jove tersenyum.

Ia merasa beruntung memiliki kedua orang tua yang selalu memahami dirinya tanpa banyak bertanya.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Jove merasa benar-benar bahagia.

Berkumpul bersama keluarganya.

Mendengar celotehan kedua adiknya.

Mendengar nasihat Dad dan Mom.

Sederhana, tetapi terasa begitu hangat.

Malam semakin larut.

Satu per satu anggota keluarga kembali ke kamar masing-masing.

Jove pun kembali ke kamarnya.

Begitu masuk, ia melihat Nic sudah duduk bersandar di sandaran tempat tidur.

“Kamu sudah bangun?” tanya Jove.

Ia segera mendekat dan kembali mengulurkan tangan untuk memeriksa kening Nic.

Suhu tubuhnya memang sudah jauh lebih baik.

“Terima kasih sudah mengurusku,” kata Nic dengan senyum samar.

Jove kemudian naik ke tempat tidur dan duduk menghadapnya.

“Sepertinya kamu terlalu lelah. Kemarin kita keluar kota, kamu yang menyetir pulang dan pergi. Terus tadi kamu langsung bekerja.”

“Mungkin.”

Nic mengusap pelipisnya.

“Dan tadi aku juga melewatkan makan siang.”

Jove menghela napas.

“Padahal kamu di mal dan melihatku. Harusnya kamu menghampiriku. Kita bisa makan bersama Jayden juga.”

Nic mengangguk pelan.

“Aku juga tidak mengerti kenapa malah menghindarimu.”

Jove menatapnya.

“Aku pikir dia pria yang sedang dekat denganmu.”

Jove tiba-tiba tertawa kecil.

“Kamu seperti orang yang sedang cemburu saja.”

Senyum Nic seketika menjadi kaku.

Cemburu?

Ia sendiri memang merasa seperti itu.

Tetapi tentu saja ia tidak akan mengakuinya.

“Lain kali kalau melihat aku dengan siapa pun, samperin saja,” kata Jove.

“Aku takut kamu marah. Karena itu bagian dari privasimu.”

Jove mengangguk.

“Iya sih. Tapi bukankah kita teman? Aku rasa hal seperti itu tidak apa-apa.”

“Teman?”

Jove mengangguk.

“Aku sudah menganggapmu teman.”

Nic terdiam.

“Aku belum pernah memiliki teman yang cukup dekat,” lanjut Jove. “Sedari kecil, temanku hanya Jayden karena dia sepupuku. Jadi sekarang aku sudah menganggapmu temanku juga.”

Jove tersenyum kecil.

“Sama seperti Jayden.”

Nic tidak berkata apa-apa.

Entah mengapa, kalimat itu justru meninggalkan sesuatu yang tidak nyaman di dalam hatinya.

Teman.

Hanya teman.

Bukankah itu seharusnya cukup?

Bukankah sejak awal itulah yang mereka inginkan?

Namun, mengapa hatinya justru terasa kecewa?

Nic mengalihkan pandangannya.

“Tidurlah.”

Jove masih menatapnya.

“Besok kamu kerja?” Tanya Nic.

Jove menggeleng.

“Kamu masih sakit. Aku akan menemanimu di sini.”

Nic kembali menatapnya.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Jove kemudian berbaring di sisi tempat tidur, sementara Nic masih bersandar di kepala ranjang.

Keduanya tidak menyadari bahwa keputusan sederhana Jove untuk menemani Nic malam itu perlahan membuat batas yang mereka buat sendiri menjadi semakin kabur.

Bagi Jove, ia hanya sedang menemani seorang teman yang sedang sakit.

Namun bagi Nic, kalimat sederhana itu terasa jauh lebih berarti.

Dan kini, Nic mulai menyadari bahwa mungkin masalahnya bukan lagi tentang Jayden.

Masalah sebenarnya adalah dirinya sendiri.

Ia mulai menginginkan sesuatu dari Jove yang sejak awal tidak pernah masuk dalam kesepakatan mereka.

Karena hari sudah semakin malam dan efek obat mulai terasa, Nic pun kembali tertidur.

Kini mereka seolah sudah mulai terbiasa.

Tidur dalam satu kamar.

Satu ranjang.

Bahkan berbagi satu selimut yang sama.

Padahal, beberapa waktu lalu, semua itu terasa begitu asing bagi mereka.

Namun malam ini, tidak ada lagi kecanggungan.

Keduanya hanya membiarkan rasa lelah membawa mereka menuju tidur.

Pagi hari menjelang.

Seperti biasa, Jove terbangun lebih dahulu.

Matanya perlahan terbuka. Sesaat ia masih merasa mengantuk, tetapi kemudian pandangannya beralih kepada Nic yang masih tertidur di sampingnya.

Tanpa sadar, seperti sudah menjadi kebiasaan baru, Jove mengulurkan tangannya.

Telapak tangannya menyentuh kening Nic.

“Masih hangat,” gumam Jove.

Jove kemudian bangkit dari tempat tidur dan membersihkan diri.

Setelah selesai, ia turun ke lantai bawah. Niatnya sederhana, ia ingin meminta pelayan membuatkan bubur untuk Nic.

“Hai, Sayang. Sudah bangun?” sapa Jihan yang sedang menyiapkan kopi untuk Alaska dan kedua anak kembarnya.

“Iya, Mom. Aku mau minta kepada pelayan dibuatkan bubur untuk Nic.”

Jihan tersenyum.

“Tadi Mommy sudah meminta pelayan untuk membuatkan bubur untuk suamimu. Mungkin sebentar lagi matang.”

Jove menatap ibunya dengan senyum hangat.

“Terima kasih, Mom.”

Jove kemudian berbincang sebentar dengan Jihan.

Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa semangkuk bubur yang masih panas dengan asap sedikit mengepul.

Jove menerimanya.

“Terima kasih, Bi.”

“Sama-sama, Nona.”

Jove kemudian berpamitan kepada ibunya dan kembali menuju kamar.

Saat Jove membuka pintu kamar, ia melihat Nic sudah bangun dan duduk di tepi tempat tidur.

“Kamu sudah bangun?” tanya Jove.

Nic menoleh.

Tatapannya langsung tertuju pada nampan berisi bubur yang dibawa Jove.

“Mau aku bantu ke kamar mandi?” tanya Jove.

“Tidak usah. Aku sendiri saja.”

Jove mengangguk.

Nic kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dengan air hangat.

Sementara itu, Jove duduk di sofa dan menunggu.

Bubur yang tadi masih panas kini mulai berubah menjadi lebih hangat.

Tak lama kemudian, Nic keluar setelah selesai membersihkan diri dan sudah berganti pakaian.

Ia menghampiri Jove lalu duduk di sofa di sampingnya.

“Makanlah,” kata Jove sambil menunjuk mangkuk bubur di atas meja.

“Terima kasih.”

Nic mengambil mangkuk tersebut dan mulai menyuap bubur perlahan.

“Kamu sudah merasa baikan?” tanya Jove.

Nic mengangguk.

“Sudah jauh lebih baik.”

Jove mengangguk lega.

“Apa kita perlu kembali ke apartemen?”

Gerakan tangan Nic terhenti.

Ia terdiam.

Kembali ke apartemen.

Kalimat sederhana itu tiba-tiba membuat pikirannya dipenuhi sesuatu yang tidak ingin ia akui.

Jika mereka kembali ke apartemen, kehidupan mereka akan kembali seperti biasanya.

Jove akan sibuk dengan pekerjaannya.

Ia juga akan kembali tenggelam dalam pekerjaannya sendiri.

Mereka akan menjalani kehidupan masing-masing seperti yang sudah mereka sepakati sejak awal.

Dan satu hal yang paling mengganggunya…

Di apartemen, mereka pasti kembali tidur di kamar yang berbeda.

Nic menundukkan pandangan pada mangkuk bubur di tangannya.

Entah sejak kapan tidur bersebelahan dengan Jove mulai terasa biasa.

Entah sejak kapan keberadaan Jove di dekatnya membuat malam terasa lebih tenang.

Dan yang paling membuat Nic tidak nyaman adalah kenyataan bahwa sekarang ia justru tidak ingin kembali tidur sendirian.

Ia mengangkat wajah dan menatap Jove.

Untuk beberapa saat, Nic tidak menjawab pertanyaan itu.

Jove mengerutkan dahi.

“Kenapa?”

Nic menghela napas pelan.

Ia sendiri tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.

Karena jika ia berkata jujur, ia takut Jove akan menyadari bahwa sesuatu dalam dirinya telah berubah.

Sesuatu yang bahkan belum mampu ia pahami sendiri.

1
Siti Chotimah
ahirx....
tinggal mnunggu nic atw jove junior
Siti Chotimah
ahirnya....
meletus balon coklat🤣🤭
lnjut kk othor💪🙏
Lia Kiftia Usman
cinta yang menarik dari kalian berdua...

lanjut thor..
Jelita S
ikut bahagia😍😍😍
Siti Chotimah
finally
The Dream26: Novel 'RUMAH' telah hadir, cerita spektakuler dan menegangkan untuk di nikmati, jangan lupa mampir ya
total 1 replies
Siti Chotimah
no comment jove
Lia Kiftia Usman
ikut bahagia u jove nic
Siti Chotimah
semangat nic mnunggu jove
Siti Chotimah
sabar dad alaska🤭...beri mereka kesempatan
Jelita S
Dady Alaska yg sabar y🤣🤣🤣🤣
Jelita S
tenang semuanya Jove dan Nick sudah saling nyaman lo😄😄
Siti Chotimah
jreng jreng jreng
Jelita S
harus bahagia y mereka😍😍😍😍😍
Siti Chotimah
lnjut....💪up kk othor
Siti Chotimah
masih abu2🤭
Jelita S
aku yg semer mesem thor😍😍😍😍
Siti Chotimah
semangat nic
Lia Kiftia Usman
perlahan tapi pasti...😊
Jelita S
aku yg baca semar mesem thor
Siti Chotimah
bisa brlanjut....💪up kk othor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!