Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiket Ke dunia Luar
Aris menuruni tangga menuju ruang khazanah bawah tanah Bank Pasifik Marunda, Bramantyo mengikuti dari belakang dengan kamera analog.
Di ujung koridor, pintu besi raksasa berbentuk lingkaran setebal setengah meter, gerbang menuju ruang deposit rahasia. Pintu itu sudah terbuka.
Pria kekar dengan seragam satpam internal bank keluar, memegang sebilah pisau sangkur militer yang panjang, di tangan kirinya, pria itu menggenggam sebuah pemantik api yang sudah menyala, bersiap dilemparkan ke lantai koridor.
Aris menyorotkan senter ke bawah. Lantai marmer di depan pintu khazanah ternyata sudah digenangi bensin.
"Mundur, Aris! Jika kau melangkah maju, kita semua akan terbakar hidup-hidup di dalam ruangan tanpa udara ini!" gertak sang penjaga.
Dia adalah orang bayangan Sekretaris Kota yang ditugaskan untuk menghancurkan seluruh isi brankas khazanah jika bank berhasil ditembus.
Menembak pria itu dengan revolver bisa memicu percikan api dari peluru yang menghantam besi, yang akan langsung menyulut bensin di lantai.
Sementara waktu terus berjalan menuju fajar, dan sisa bukti Makar di Balai Kota Marunda di dalam kotak deposit nomor 204 berada hanya beberapa meter di belakang penjaga.
Aris membuat keputusan ekstrem dalam hitungan detik, dia melepas jaket kulit cokelatnya. Jaket itu dilemparkannya dengan bentangan lebar, tepat di atas genangan bensin tebal yang menutupi lantai marmer di depan pintu khazanah.
Jaket kulit itu menutupi sebagian besar area genangan cairan, tepat pada saat yang bersamaan, sang penjaga yang panik melepas pemantik api yang menyala ke arah lantai.
Api sempat menyambar sisa bensin di tempat yang tidak tertutup, namun jaket kulit tebal milik Aris bertindak sebagai tameng isolasi yang sangat baik, menahan laju rambatan api agar tidak meledak secara instan di area koridor.
Memanfaatkan api yang membuat penjaga silau, Aris menerjang melewati selimut jaketnya. Dia melompat ke arah penjaga sebelum pria itu sempat mengayunkan sangkur militernya.
Tubuh keduanya menghantam pintu besi raksasa khazanah. Aris mencengkeram pergelangan tangan yang memegang sangkur, memutarnya ke belakang dengan teknik kuncian sendi.
Sangkur militer itu jatuh ke lantai baja. Aris tidak berhenti di situ. Dengan satu hantaman lutut keras ke arah perut, sang penjaga langsung kehilangan seluruh napasnya dan ambruk pingsan di lantai ruang besi.
Bramantyo bergerak cepat di belakang, mengambil tabung pemadam api di koridor luar untuk menyemprot sisa api yang sempat menyala di sudut ubin.
Aris berdiri di tengah Khazanah Maut yang kini telah sepenuhnya tak berdaya. Di hadapannya, jajaran kotak deposit besi kuno peninggalan tahun 1959 berderet. Matanya langsung tertuju pada satu kotak besi di atas yang memiliki nomor kuningan, 204.
Tangan kanannya meraba saku celana, mengeluarkan kunci bermata ganda milik Ir. Anwar yang tersisa.
Aris memasukkan kunci ke dalam lubang brankas nomor 204. Setelah diputar dua kali ke kanan, pintu brankas kecil itu terbuka. Di dalamnya, hanya berisi sebuah amplop tahan air berwarna cokelat.
Aris membukanya dengan hati-hati menggunakan ujung jarinya, di dalam amplop, terletak selembar tiket kapal kargo internasional pelarian bermerek dagang Marunda Pasifik Logistik.
Tiket itu tertanggal hari ini, dengan jadwal keberangkatan tepat pada pukul 06.00 pagi—kurang dari satu jam lagi dari sekarang. Nama penumpang yang tertera di sana bukan Drs. Mulya ataupun Ir. Anwar, melainkan nama samaran fiktif yang disiapkan untuk Wali Kota Marunda.
Di bawah tiket tersebut, terselip peta jalur rahasia pelarian yang digambar tangan secara manual di atas kertas kalkir tipis. Peta itu menunjukkan jalur evakuasi bawah tanah dari balai kota langsung menuju Dermaga Khusus Nomor 9, sebuah pelabuhan tikus terisolasi yang tidak dijaga oleh aparat resmi Sektor Selatan.
"Aris, ini jalur pelarian darurat untuk seluruh jajaran elite mereka jika makar ini terbongkar," bisik Bramantyo, menyorotkan sisa cahaya ke arah peta kertas kalkir tersebut. "Kapal kargo itu adalah kapal asing yang tidak bisa digeledah begitu mereka melewati batas laut internasional Marunda."
Aris melihat jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 05.15 pagi. Fajar mulai menyingsing di luar gedung bank.
Wali Kota yang berada di tangan Wijaya di stasiun kereta tua mungkin hanyalah satu dari sekian banyak arsitek konspirasi. Peta ini membuktikan bahwa ada sisa faksi elite balai kota lainnya yang saat ini sedang menuju Dermaga 9 untuk membawa sisa aset dan kabur ke luar negeri.
Aris keluar dari ruang khazanah, dengan tiket dan peta pelarian, dia bersiap memacu jip patroli Sektor Selatan menuju Dermaga 9 untuk melakukan penghadangan sebelum kapal kargo maut itu angkat sauh.