Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang terkubur
Langit malam sudah gelap gulita. Celeste mengenakan gaun hitam mini yang pas di badan, membuat kulit putihnya semakin kontras. Rambutnya disanggul rapi bergaya messy bun dengan beberapa anak rambut terurai di leher, lalu dipadukan dengan mantel tebal untuk menahan dinginnya angin malam kota.
Urusan bakso raksasa yang sempat ia pesan tadi terpaksa ditunda sampai ia pulang nanti, soalnya Roxy sudah mengirim pesan berulang kali dan berjanji akan menjemputnya lebih awal.
Namun, sebelum pergi ke tempat tujuan mereka, Celeste meminta Roxy mampir terlebih dahulu ke gedung perkantoran milik kakak laki-lakinya. Ia harus menemui Julian malam ini. Setelah mengetahui fakta bahwa kakak laki-lakinya itu selama ini melindungi dirinya dalam diam, Celeste merasa ada dorongan kuat di dadanya untuk mengucapkan terima kasih secara langsung.
Celeste turun dari mobil, merapatkan mantelnya, lalu melangkah masuk ke dalam lobi.
Begitu ia tiba di area resepsionis, petugas malam yang bertugas langsung membungkuk hormat. "Selamat malam, Nona Caelia. Silakan langsung naik, lift khusus CEO sudah siap."
Celeste hanya tersenyum tipis tanpa niat meluruskan kesalahpahaman itu. Ia sudah terbiasa hidup sebagai bayangan saudari kembarnya sendiri. Orang-orang di luar sana selalu mengira dirinya adalah Caelia, sebab hanya Caelia yang kerap mampir ke kantor ini untuk membawakan makan siang atau sekadar bermanja-manja dengan Julian.
Sesampainya di lantai teratas, Celeste menyusuri lorong sunyi menuju ruang kerja utama. Di sana, ia berpapasan dengan asisten pribadi Julian. Pria paruh baya itu sontak menghentikan langkah, membelalakkan mata kaget begitu melihat sosok yang berdiri di hadapannya.
"N-nona Muda Celeste?" gumam sang asisten, suaranya tercekat.
Celeste tersenyum tipis. "Malam. Kak Julian ada di dalam?"
Asisten itu mengangguk cepat sambil menelan ludah gugup. Sebagai orang kepercayaan Julian yang selama ini bertugas mengurus pengamanan rahasia Celeste di dunia malam, ia tahu betul siapa perempuan di hadapannya ini, adik perempuan bosnya yang selama ini disembunyikan dan dijaga mati-matian.
"A-ada, Nona... Silakan masuk," ucap sang asisten dengan sangat sopan, membukakan pintu kayu mahoni besar di hadapan Celeste, meski sorot matanya masih menyisakan rasa tidak percaya karena adik bosnya ini belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kantor tersebut.
Dengan tangan sedikit gemetar, Celeste mendorong pintu itu perlahan dan melangkah masuk.
Langkahnya seketika terhenti. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Di seberang ruangan, di dekat meja kerja besar, Julian sedang duduk memangku istrinya, Fanya. Mereka tampak sedang bercanda dan tertawa kecil dengan hangat. Sementara itu, di sofa panjang sudut ruangan, putra kecil mereka yang baru berusia lima tahun tampak sudah terlelap pulas dalam balutan selimut tipis.
Fanya yang pertama kali menyadari kehadiran orang lain langsung menoleh. Istri Julian itu tersentak kaget, lalu bangkit dari pangkuan suaminya dengan pipi bersemu merah.
Julian ikut mendongak. Sepasang mata tajam pria itu membelalak lebar. "Celeste...?" gumam Julian terpaku, suaranya nyaris tak terdengar.
Fanya, dengan kepekaan seorang wanita, langsung mengerti situasi. Ia menatap Julian sejenak, seolah mengatakan ia akan membawa anak mereka tidur di kamar sana.
Setelah pintu tertutup rapat dan mereka hanya tinggal berdua, Julian bangkit dari kursinya. Pria itu melangkah kaku menghampiri adiknya. Jarak mereka tinggal beberapa jengkal ketika tiba-tiba Celeste menerjang maju dan memeluk erat pinggang kakaknya.
Wajah Celeste langsung membenamkan diri di dada bidang Julian. Tangisnya pecah seketika, air mata yang selama ini tertahan tumpah sudah membasahi kemeja kerja Julian.
Julian tersentak hebat. Ia mematung selama sepersekian detik sebelum akhirnya kedua tangan kokohnya merengkuh tubuh adiknya dengan erat, seolah menyalurkan seluruh perlindungan yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
"Celeste... Hei, ada apa, hm?" suara Julian berubah panik, sebelah tangannya mengusap lembut punggung adiknya yang bergetar hebat. "Apa Lucian menyakitimu? katakan, apa dia berbuat kasar?"
Celeste menggeleng kuat-kuat di balik pelukan itu. Isak tangisnya makin menjadi. "T-Tidak... Lucian tidak pernah menyakitiku."
Julian menuntun Celeste dengan lembut menuju sofa panjang, mendudukkan adiknya di sana sembari ikut berlutut di hadapannya. Julian menggenggam kedua tangan dingin Celeste, menatap manik mata adiknya dengan penuh kekhawatiran.
"Sudah begitu lama kamu tidak menangis di depan Kakak," ucap Julian lirih, ibu jarinya menghapus jejak air mata di pipi Celeste. "Terakhir kali kamu menangis seperti ini saat kamu umur empat tahun."
Celeste tertawa kecil di tengah sisa isak tangisnya. Ia teringat masa-masa kecil dulu, di mana ia adalah anak paling manja yang selalu menempel kemana pun Julian pergi, sebelum sang kakak beranjak dewasa dan berubah menjadi sosok dingin yang sempat membuat salah paham.
"Kak..." cicit Celeste dengan suara bergetar, menatap lurus mata Julian. "Aku sudah mengetahui semuanya... tentang perhatian diam-diam yang Kakak kasih ke aku selama ini."
Julian tertegun. Napasnya terasa berat seketika.
"Aku tau Kakak yang membayar orang-orang di tempat balap liar dan klub tinju untuk menjagaku..." lanjut Celeste tulus. "Kenapa, Kak? Kenapa di rumah Kakak pura-pura dingin, tapi di belakang... Kakak mempertaruhkan semuanya untuk melindungiku?"
Julian menunduk sejenak. Rahangnya mengeras, berusaha menahan gejolak di dadanya. Ketika ia kembali mendongak, ada genangan air mata tipis di sudut matanya.
"Karena hanya itu cara yang bisa kakak lakukan," jawab Julian dengan suara berat. "Kakak tau semuanya. Tapi dunia luar itu keras. Kakak tidak mungkin membiarkanmu sendirian di luar sana."
Celeste meremas mantelnya dengan kedua tangan, dadanya sesak karena terharu. "Tapi... pernikahan itu..." Celeste menggigit bibirnya. "Apakah perjodohan dengan Lucian juga rencana Kakak?"
Julian mengangguk pelan tanpa ragu. "Iya. Itu emang rencanaku, Celeste. Walaupun... siapa sangka kalian berakhir berduaan di malam yang panjang itu."
Pipi Celeste langsung terbakar merah padam. Ia menunduk malu, merasa takut jika kakaknya akan kecewa. "Kak... Kakak tidak marah?"
Julian tersenyum kecil, meraih tangan Celeste dan mengecup punggung tangan adiknya. "Marah? Mana bisa. Kakak malah bersyukur. Keluarga St. Claire jauh lebih bisa membuat kamu bahagia dibanding keluarga kandung kita sendiri. Dan jujur aja... kakak merasa menjadi seorang pengecut karena tidak bisa membelamu di rumah kita sendiri"
Celeste menggeleng cepat. "Jangan mengatakan itu, Kak..."
"Tapi ada satu lagi yang harus kamu tau," sambung Julian dengan suara yang makin melemah. "Bukan hanya Kakak yang melindungimu dari belakang... Papa juga melakukan hal yang sama. Dia juga pengecut seperti Kakak, tapi dia selalu memastikan kamu tetap baik-baik saja"
Deg!
Jantung Celeste seolah berhenti berdetak. Papa? Ayah kandung mereka yang selama ini tampak acuh tak acuh dan tidak pernah sekalipun membelanya, ternyata juga melindunginya?
Terus bagaimana dengan Mama? batin Celeste bertanya-tanya.
Dengan sisa keberaniannya, ia mendongak menatap kakaknya. "Kalau... kalau Mama? Apa Mama juga menyayangiku?"
Mendengar pertanyaan itu, Julian seketika terdiam seribu bahasa. Rahangnya mengatup rapat, sorot matanya beralih dari tatapan Celeste. Keheningan yang panjang dan menyesakkan mendadak menyelimuti ruangan itu.
Beberapa detik berlalu dalam sunyi, Julian akhirnya bergeming dengan suara serak, "Kakak... tidak tahu, Celeste."
Celeste bisa merasakan hawa tegang yang pekat menguar dari jawaban singkat itu. Ia tahu pasti ada rahasia gelap di balik kata "tidak tau" tersebut.
Menyadari suasana mulai terlampau berat, Julian segera mengalihkan topik pembicaraan. Ia menatap wajah adiknya lekat-lekat. "Ngomong-ngomong... kamu sudah memberi tahu Lucian soal penyakit langkamu?"
Celeste menggeleng pelan. "Belum, Kak. Tapi... Mama mertuaku sudah mengetahuinya, dan beliau tidak mempermasalahkannya."
Julian menghela napas panjang, "Saran Kakak... kamu harus jujur, Celeste. Dia berhak tau semuanya tentang kamu, karena dia pria yang akan menjagamu seumur hidup."
Celeste mengangguk patuh. Ia tahu kakaknya benar.
Tak lama kemudian, Celeste berpamitan karena Roxy pasti sudah cukup lama menunggunya di bawah. Julian mengantarnya hingga depan pintu lift, berpesan agar adiknya itu sering-sering berkunjung ke kantor.
Selepas kepergian Celeste, pintu kamar dalam terbuka. Fanya melangkah keluar, berjalan anggun menghampiri suaminya, lalu tanpa ragu memeluknya dari belakang.
Julian menyambutnya dengan sebelah tangan melingkar posesif di lengan istrinya.
"Sayang..." bisik Fanya lembut, memainkan kancing kemeja suaminya. "Apa sebaiknya rahasia keluarga kita... di ceritakan kepada Celeste? Hanya dia satu-satunya yang belum tau yang sebenarnya. Aku takut dia mengetahuinya dari orang lain."
Julian mengetatkan rahangnya, memeluk istrinya lebih erat. "Jangan. Papa melarangnya... demi kesehatan mentalnya biar dia tidak hancur"