Seorang pemuda bernama Devan dia adalah seorang kurir paket yang hidup sederhana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah menemukan sebuah gelang giok misterius.
Sejak saat itu, keberuntungan mulai menghampirinya dan satu per satu wanita cantik memasuki kehidupannya.
Namun, siapa sebenarnya mereka dan mengapa semuanya terhubung dengan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Not men, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 : Saat Takdir Memilihku
"Astaga aku lupa kalian bisa mendengarku, lalu jika aku tak bekerja bagaimana pandangan orang nanti terlebih ibuku, apa alasan yang aku berikan darimana uang ini harus ku jelaskan" batin Devan memberikan pertanyaan pada ketiga gadis di alam jiwa nya
"Kau hanya perlu membuat sebuah bisnis atau usaha saja tuan, maka tak akan ada yang curiga padamu bukan"
"Nahh! Bagus benar sekali, aku akan mengajukan pengunduran diri saja jika begitu" batin Devan dengan mata berbinar kini dia bisa membuka usaha yang dia dambakan dari dulu, sebuah toko sembako dengan harga yang lebih murah untuk membantu para tetangga nya agar sedikit lebih mengurangi beban mereka.
Devan tinggal di sebuah desa terpencil sedikit jauh dari perkotaan jadi dia hanya bisa bekerja sebagai kurir paket saja, dia ingin merantau kekota dan menemui kekasih nya namun karena dia enggan meninggalkan ibu nya dia mengurungkan niat nya itu dulu, kini dia memiliki uang yang cukup, tentu dia bisa hanya sekedar berkunjung kekota bahkan dia mampu membeli sebuah kendaraan dengan uang yang dia miliki
Devan pergi ke gudang bukan untuk bekerja, memang niat awal dia ingin bekerja namun, saat dia mendapatkan saran dari Malea dia jadi mengurungkan niat nya itu, dia tak perlu lagi merasakan lelah, kini dia akan membuka usaha toko sembako di desanya dan membangun sebuah rumah serta toko untuk usaha dia nanti.
Saat mendengar Devan hendak mengundurkan diri tentu saja boss nya menyayangkan itu tapi saat mendengarkan alasan nya boss nya pun tak bisa lagi mencegah keinginan Devan
"sangat di sayangkan van..padahal kamu yang paling rajin.." ucap boss nya
"maaf pak tapi aku emang pengen buka usaha, dan sekarang tabungan ku sudah cukup untuk membuka usaha tersebut.." jawab Devan memberi alasan karena tak mungkin juga dia menceritakan asal uang yang dia dapat.
"hmm..baiklah ini sisa gajih mu selama bekerja disini, semoga kamu sukses dengan usaha baru mu van goodluck!.." ucap boss nya seraya memberikan sebuah amplop coklat berisi sisa gajih Devan selama bekerja di sini.
Teman Devan sedikit kecewa bagaimana tidak Devan adalah sosok yang paling menyenangkan disana bagi mereka, terutama kaum hawa, Namun beberapa teman nya menyadari ada sedikit perubahan pada tubuh Devan itu terutama Joni dan Yusa.
"dihh badan mu ituloh, kenapa bisa berubah secepet ini pin?.." tanya Yusa memperhatikan tubuh Devan bahkan membalik-balikan badan Devan
"ahh kamu aja kali baru sadar.." jawab Devan memberi alasan
"ahhh masa iya bener sih aneh ini.." timpal Joni sama hal nya dengan Yusa
Namun Devan hanya terkekeh melihat perlakuan kedua sahabat nya itu, Saat Devan berpamitan pada rekan nya ada seorang perempuan yang memang sedikit dekat dengan Devan dan menghampiri nya, hingga membuat Devan menoleh saat hendak pergi saat mendengar panggilan perempuan itu.
"van! Tunggu!.." teriak perempuan itu..
"ehh vi!.." ucap Devan setelah membalikan badan nya
"terlepas apa alasan mu untuk memilih usaha sendiri tapi jangan lupain kita disini yaa, tolong ini ambil sedikit kenangan agar kau mengingat kami.." ucap perempuan itu yang ternyata bernama Vivian seraya memberikan sebuah gantungan kunci berupa boneka kecil bertuliskan nama Devan yang mungkin sengaja Vivi buat atau pesan untuk Devan, Vivi memiliki rasa suka pada Devan sejak dulu namun karena dia tau Devan memiliki seorang kekasih dia lebih memilih memendam perasaan nya
"wah terimakasih ya vi aku akan jaga ini baik.." jawab Devan menerima gantungan kunci itu dan memasangkan nya di kunci motor milik nya
"sama van inget jangan lupain kita yaa..", ucap vivi
Devan hanya mengangguk dan tersenyum setelah itu dia berpamitan pada rekannya itu dia lekas pergi kembali ke rumah
"seandainya saja kau belum memiliki kekasih van" batin Vivi saat melihat kepergian Devan
Setelah kepergiannya Devan mampir terlebih dulu ke rumah tante nya untuk membayarkan hutang ibu nya dan dirinya, lalu dia akan ke beberapa rentenir juga untuk melunasi hutang nya dan beberapa keluarga lain nya...
Apa tanggapan mereka ketika mengetahui Devan mampu melunasi semua hutang nya hanya dalam sehari?