NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

TAMAT!!

Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Baru di Balik Senyuman Manis

Rencana liburan panjang dua minggu yang dijanjikan oleh Jino West tampaknya harus disimpan rapat-rapat di dalam laci meja kerja untuk sementara waktu. Pasalnya, hukum alam semesta di dunia konglomerat tampaknya punya aturan mutlak: ketenangan bagi keluarga West hanyalah jeda singkat sebelum badai besar berikutnya menerjang.

Sore itu, suasana di ruang kerja pribadi lantai empat puluh penthouse mendadak terasa jauh lebih berat dari biasanya. Jino berdiri di depan dinding kaca raksasa, menatap lalu-lalang kendaraan di bawah sana dengan rahang mengeras dan tatapan mata setajam belati. Di atas meja kerjanya, sebuah map merah tebal tergeletak terbuka, memuat dokumen hukum dan laporan investigasi rahasia yang baru saja dikirimkan oleh tim intelijen korporat sejam yang lalu.

Reina Lunox melangkah masuk membawa dua cangkir teh chamomile hangat. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres begitu melihat punggung suaminya menegang kaku. Reina meletakkan cangkir tersebut di atas meja, lalu berjalan mendekati Jino, melingkarkan kedua tangannya pelan di pinggang suaminya.

"Ada apa lagi, Tuan CEO?" tanya Reina lembut, menyandarkan kepalanya di punggung bidang Jino. "Wajahmu kelihatan kusut banget. Jangan bilang hacker kemarin bangkit lagi dari kubur?"

Jino menghela napas panjang. Ia membalikkan tubuhnya, lalu merengkuh Reina ke dalam dekapan hangatnya. Jemari besarnya mengelus lembut rambut cokelat istrinya.

"Bukan hacker," jawab Jino dengan suara baritonnya yang serak. Ia menunjuk map merah di atas meja dengan dagunya. "Tapi masalah yang jauh lebih rumit dan melibatkan masa laluku secara langsung."

Reina mengerjap keningnya, melepaskan pelukan sejenak untuk menatap lekat-lekat manik mata kelam suaminya. "Maksudmu?"

"Pagi tadi, kantorku mendapat surat gugatan perdata resmi dari sebuah yayasan amal internasional bernama Arcadia Foundation," jelas Jino dingin. "Mereka mengklaim bahwa sebagian besar aset tanah utama yang digunakan untuk pembangunan gedung pusat West Corporation saat ini adalah milik sah warisan leluhur yayasan tersebut, bukan dibeli secara legal oleh kakekku puluhan tahun lalu."

Reina terperanjat kecil. "Tanah pusat perusahaan? Bukankah itu aset paling krusial dari seluruh imperium bisnis keluargamu?"

"Tepat sekali," geram Jino tertahan. "Jika yayasan itu berhasil memenangkan gugatan di pengadilan, seluruh operasional kantor pusat harus dihentikan, dan aset perusahaan bisa disita secara sepihak dalam waktu kurang dari sebulan."

Reina terdiam. Insting penulis novelnya langsung mendeteksi pola konflik yang tidak biasa. "Tunggu dulu... Arcadia Foundation? Bukankah yayasan itu dipimpin oleh seseorang yang sangat berpengaruh? Dan kenapa baru sekarang mereka melayangkan gugatan setelah puluhan tahun berdiri?"

"Karena ada dalang di balik layar yang sengaja membiayai dan memprovokasi mereka," tukas Jino tajam. "Seseorang yang sangat membenci keluarga West dan ingin melihatku jatuh miskin dalam semalam."

Tepat saat Jino hendak menyebutkan nama sang dalang, suara ponsel pintar di atas meja kerjanya tiba-tiba berdering nyaring, memecah ketegangan di dalam ruangan.

Jino melangkah mendekat dan menyambar ponsel tersebut. Tertera sebuah nomor tak dikenal di layar, namun di bawahnya muncul sebuah pesan teks singkat:

[Tuan Muda Jino West, bagaimana rasanya duduk di singgasana megah yang sebentar lagi akan runtuh? Datanglah sendiri ke galeri seni 'Starlight' pukul delapan malam ini jika kau ingin tahu siapa dalang sebenarnya di balik gugatan Arcadia, atau istrimu yang cantik itu akan kehilangan segalanya lebih dulu.]

Membaca pesan ancaman itu, suhu di dalam ruangan mendadak merosot drastis. Jino mengepalkan tangan kanannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Pembuluh darah di pelipisnya berdenyut menahan amarah yang mendidih sampai ke ubun-ubun.

"Keparat..." geris Jino penuh ancaman mematikan.

Reina yang membaca isi pesan tersebut dari balik bahu Jino tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Sebaliknya, sorot mata cokelatnya memancarkan kilat keberanian yang menyala-nyala. Alih-alih panik, sudut bibir Reina justru terangkat membentuk senyuman dingin.

"Wah, wah... sepertinya musuh kita kali ini punya nyali yang cukup besar ya," komentar Reina tenang, melipat tangan di dada. "Berani-an mengancam lewat pesan singkat murahan ala penjahat di sinetron pukul tujuh."

Jino menoleh, menatap istrinya dengan sorot mata cemas dan protektif. "Reina, jangan main-main. Pesan ini jelas ancaman serius. Aku tidak akan membiarkanmu ikut terseret ke dalam bahaya ini. Malam ini aku akan datang sendiri ke galeri seni itu dan menghabisi siapapun bajingan di baliknya."

Reina langsung mendengus protes. Ia melangkah maju, menatap lurus ke dalam manik mata kelam suaminya tanpa gentar.

"Hei, ingat ya, Tuan Muda West! Kita ini sudah menikah secara sah. Susah senang ditanggung bersama, bukan cuma pas lagi senang-senangnya saja!" tegas Reina galak. "Lagi pula, kalau kau pergi sendirian tanpa aku, siapa yang akan menyelamatkanmu kalau-kalau kau terjebak dalam perangkap murahan mereka? Penulis wuxia sepertiku punya seribu satu cara akal bulus untuk menghadapi penjahat licik!"

Jino tertegun menatap ketegasan dan keberanian yang terpancar dari wajah istrinya. Di satu sisi, ia ingin melindungi Reina agar tetap aman di dalam penthouse; namun di sisi lain, ia tahu betul bahwa melarang wanita keras kepala ini sama susahnya dengan menghentikan badai lautan.

Jino menghela napas pasrah, lalu tersenyum tipis penuh kekaguman. Ia merengkuh pinggang Reina erat-erat, menarik gadis itu ke dalam dekapan hangatnya.

"Baiklah... Nyonya Besar," bisik Jino pasrah namun penuh ketegasan. "Kita hadapi bersama-sama. Tapi ingat, jangan pernah lepas dari sisiku sedetik pun malam ini."

Pukul delapan malam tepat, sebuah mobil sedan mewah hitam milik Jino terparkir anggun di depan pelataran Galeri Seni Starlight—sebuah bangunan arsitektur klasik berlantai dua yang terletak di distrik seni kota metropolitan. Suasana di sekitar galeri tampak sepi dan temaram, sangat kontras dengan kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan.

Jino dan Reina melangkah turun dari mobil bergandengan tangan. Aura dominasi dan ketenangan terpancar sempurna dari diri mereka, seolah mereka bukan sedang mendatangi sebuah perangkap berbahaya, melainkan hendak menghadiri pesta dansa kelas atas.

Begitu mereka mendorong pintu utama galeri seni yang tidak terkunci, suara langkah kaki mereka bergema nyaring di atas lantai marmer hitam yang mengkilap. Ruangan galeri dipenuhi oleh pajangan lukisan abstrak raksasa dengan pencahayaan lampu sorot yang remang-remang.

"Selamat datang, Tuan Muda West... dan tentu saja, sang penulis novel fenomenal, Nyonya Reina," sebuah suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah lantai atas balkon galeri.

Jino dan Reina mendongak secara bersamaan.

Dari atas tangga kayu melingkar, sesosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas putih gading melangkah turun perlahan. Wajahnya tampak familier, dengan garis rahang yang keras dan seringai dingin di bibirnya. Pria itu adalah Victor Arcturus—paman jauh dari mendiang Nathaniel Arcturus yang selama ini bersembunyi di luar negeri dan kini kembali untuk menuntut balas atas kejatuhan keluarganya.

"Victor Arcturus," sebut Jino dingin, manik mata kelamnya memancarkan niat membunuh yang nyata. "Jadi, kau dalang di balik gugatan bodoh Arcadia Foundation itu?"

Victor tertawa renyah, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Tentu saja, Jino! Kau pikir dengan menyingkirkan keponakanku si bodoh Nathaniel, kau bisa menguasai seluruh imperium West dengan tenang? Harta dan tanah itu adalah milik keluarga kami yang dirampas kakekmu!"

Reina di sebelah Jino menyipitkan matanya, mengamati gerak-gerik Victor. Ia memperhatikan ada beberapa bayangan orang berbadan kekar yang mulai keluar dari balik pameran lukisan di lantai bawah, mengepung posisi mereka dari segala penjuru.

"Victor, Victor..." ucap Reina dengan nada suara santai namun menusuk tajam, melangkah maju sedikit di depan Jino. "Mau pamer dendam keluarga pun sepertinya salah tempat. Kalau keluargamu memang punya hak atas tanah itu, kenapa tidak tunjukkan sertifikat aslinya di pengadilan alih-alih menyewa preman bayaran buat menyergap kami di galeri seni sepi ini?"

Wajah Victor sedikit mengeras mendengar sindiran telak itu. Ia mendengus sinis. "Silakan saja banyak bicara, Nona penulis. Karena setelah malam ini, kalian tidak akan pernah keluar dari tempat ini dalam keadaan bernyawa!"

Victor menjentikkan jarinya dua kali sebagai aba-aba penyerangan.

Namun, sebelum para preman bayaran itu sempat bergerak maju selangkah pun, Reina justru tersenyum manis, mengangkat ponsel pintarnya tinggi-tinggi, lalu menekan sebuah tombol virtual.

Bip!

Seketika itu juga, seluruh lampu sorot utama di dalam galeri mati total, berganti dengan suara sirene alarm kepolisian nasional yang menderu nyaring dari luar gedung, disusul oleh suara puluhan kendaraan taktis polisi yang mengepung seluruh area galeri seni dalam hitungan detik.

Victor membelalak kaget, panik bukan kepalang. "A-apa-apaan ini?! Dari mana polisi bisa tahu?!"

Reina tersenyum penuh kemenangan, memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. "Halo, Paman Victor? Di zaman modern seperti ini, menyuap preman galeri jauh lebih mudah dilacak dibanding meretas server kantormu sendiri. Suamiku memang datang memenuhi undanganmu, tapi tim intelijen khusus kepolisian sudah menunggu di halaman belakang sejak sepuluh menit lalu."

Victor murka. Ia menghunus pisau lipat kecil dari balik jasnya dan menerjang ke arah Reina secara membabi buta.

Namun, Jino bergerak sepuluh kali lebih cepat. Dengan satu tendangan telak yang terarah sempurna, Jino menghantam tangan Victor hingga pisau tersebut terpental jauh, lalu membanting tubuh pria tua itu ke lantai marmer dengan kuncian tangan yang membuat Victor menjerit kesakitan.

Petugas kepolisian langsung mendobrak pintu masuk utama, memborgol Victor dan seluruh preman bayaran dalam sekejap mata.

Jino berdiri tegak, merapikan sedikit kerah jasnya, lalu merengkuh pinggang Reina erat-erat. Ia menunduk dan mencium sekilas kening istrinya.

"Hebat sekali, Nyonya West," puji Jino penuh kekaguman.

Reina tersenyum manis, membalas tatapan suaminya. "Sudah kubilang, jangan meremehkan akal bulus seorang penulis novel."

Badai malam itu berhasil mereka lewati dengan gemilang, membuktikan sekali lagi bahwa tidak ada musuh atau masalah apa pun di dunia ini yang bisa memisahkan ikatan cinta mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!