NovelToon NovelToon
Surat Dari Balik Sekat

Surat Dari Balik Sekat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Action
Popularitas:331
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.

Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.

Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Surat dari Kediri

Kabar tentang gencatan senjata yang mulai membaik membawa perubahan lain: jalur komunikasi dengan kota-kota besar perlahan kembali terbuka, meski masih terbatas dan penuh kehati-hatian. Surat-surat yang selama berbulan-bulan tertahan mulai bisa dikirim dan diterima lewat jaringan kurir yang lebih luas.

Suatu pagi, seorang kurir dari Kediri tiba di Karangtengah, membawa beberapa surat untuk para santri dan ustaz, termasuk sepucuk surat khusus yang ditujukan untuk Ustaz Zahid, yang sejak awal pengungsian memilih tetap tinggal bersama rombongan untuk menjaga Nafisah, meski sesekali harus bolak-balik ke Kediri untuk urusan keluarga.

Ustaz Zahid membaca surat itu di depan Kiai Wahid, wajahnya berubah-ubah antara khawatir dan lega seiring ia membaca setiap barisnya.

"Ada apa, Zahid?" tanya Kiai setelah melihat perubahan raut wajah sahabatnya itu.

"Dari istri saya, Kiai," jawab Ustaz Zahid, menghela napas panjang. "Rumah kami di Kediri sempat rusak sebagian karena ada pertempuran kecil di dekat sana, tapi alhamdulillah seluruh keluarga selamat. Istri saya meminta saya segera pulang untuk membantu memperbaiki keadaan."

"Kalau begitu, kamu harus segera berangkat," kata Kiai, wajahnya penuh pengertian. "Keluarga adalah amanah yang harus diutamakan."

Ustaz Zahid mengangguk, tapi kemudian menatap Kiai dengan kekhawatiran lain yang tampak jelas di wajahnya. "Tapi Nafisah, Kiai. Saya tidak tega meninggalkannya di sini sendirian, meski saya tahu dia dalam penjagaan yang baik."

"Zahid," kata Kiai lembut, "Nafisah bukan anak kecil lagi. Dan dia berada di tengah rombongan yang saling menjaga, di bawah asuhan Khadijah dan para ustazah yang bisa dipercaya. Insyaallah, dia akan baik-baik saja sampai waktunya kalian bisa bersama kembali."

Setelah pertimbangan panjang, Ustaz Zahid akhirnya memutuskan untuk pulang ke Kediri, meninggalkan Nafisah dalam penjagaan Kiai dan Bu Nyai, dengan janji akan kembali secepat mungkin begitu keadaan di rumahnya sudah lebih stabil.

Sebelum keberangkatan ayahnya, Nafisah sempat berbincang panjang dengannya di sudut perkemahan, sebuah percakapan yang, meski Zaki tidak menyaksikannya langsung, ia dengar ceritanya kemudian dari Nafisah sendiri dalam salah satu pertemuan singkat mereka yang mulai lebih longgar seiring situasi yang membaik.

"Abah bertanya tentang Kang," kata Nafisah suatu sore, ketika mereka berdua duduk di tempat biasa dekat sungai, kali ini dengan izin yang lebih terbuka dari Bu Nyai yang mulai memahami situasi mereka berdua. "Tentang perasaan saya, dan tentang Kang Zaki."

Dada Zaki berdegup kencang mendengarnya. "Apa yang Mbak katakan?"

"Saya jujur, Kang," jawab Nafisah, matanya menatap air sungai yang mengalir tenang. "Saya katakan, saya menghargai dan menghormati Gus Hanif, tapi hati saya sudah menentukan pilihan yang berbeda. Dan saya katakan juga, pilihan itu bukan keputusan tergesa-gesa, melainkan sesuatu yang tumbuh perlahan lewat kejujuran dan kesabaran yang saya lihat sendiri."

"Bagaimana tanggapan Ustaz Zahid?"

Nafisah tersenyum kecil, mengingat percakapan itu. "Abah bilang, beliau menghargai kejujuran saya. Beliau juga bilang, sudah lama memperhatikan Kang Zaki, sejak kunjungan pertama beliau ke Al-Hikmah dulu. Katanya, Kang punya dasar yang baik, meski beliau tetap ingin memastikan lebih jauh sebelum memberikan restu penuh."

"Memastikan bagaimana, Mbak?"

"Beliau bilang, ingin melihat bagaimana Kang menjalani hidup ke depan, terutama setelah semua ini selesai. Apakah kejujuran dan kesabaran yang Kang tunjukkan selama masa sulit ini, akan tetap terjaga dalam keadaan yang lebih tenang nanti." Nafisah menatapnya lembut. "Abah bukan orang yang mudah memberi restu, Kang. Tapi beliau juga bukan orang yang menutup pintu tanpa alasan yang jelas."

Zaki merenungkan kata-kata itu dengan dalam, merasakan campuran antara harapan dan tanggung jawab yang semakin besar. "Saya akan berusaha, Mbak. Sungguh-sungguh, untuk membuktikan bahwa kejujuran ini bukan hanya karena keadaan sulit, tapi memang menjadi bagian dari siapa saya."

"Saya percaya itu, Kang," jawab Nafisah, senyumnya tulus di bawah cahaya sore yang mulai meredup. "Dan saya akan menunggu, seperti yang selalu saya katakan, sampai waktu yang tepat tiba untuk kita berdua."

Malam itu, setelah kepergian Ustaz Zahid kembali ke Kediri, Zaki menulis surat panjang untuk pertama kalinya sejak masa pengungsian dimulai, mencurahkan semua yang ia rasakan dalam kata-kata yang selama ini tertahan karena kesepakatan menahan diri.

"Mbak Nafisah,

Sejak hari kitab kita tertukar di dapur umum Al-Hikmah, saya tidak pernah membayangkan perjalanan ini akan membawa kita sejauh ini, melewati begitu banyak ujian, kehilangan, dan harapan yang terus tumbuh meski di tengah ketidakpastian.

Saya bersyukur atas kejujuran yang Mbak tunjukkan kepada Ustaz Zahid, dan saya berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk membuktikan bahwa kejujuran ini akan tetap terjaga, apa pun yang terjadi ke depan.

Saya tidak tahu kapan perang ini akan benar-benar berakhir, kapan kita bisa kembali ke Al-Hikmah, atau kapan Ustaz Zahid akan memberikan restu penuhnya. Tapi saya tahu satu hal yang pasti: kesabaran yang kita jalani bersama ini, bukanlah kesia-siaan, melainkan fondasi yang akan membuat apa pun yang kita bangun nanti menjadi lebih kokoh.

Terima kasih sudah menjadi cahaya di tengah kegelapan zaman yang sulit ini.

— Z."

Ia melipat surat itu rapi, berencana menitipkannya lewat Timin keesokan harinya, sebuah kebiasaan yang mulai mereka lanjutkan kembali dengan lebih terbuka, meski tetap dengan kehati-hatian yang sama seperti sebelumnya.

Di luar, bintang-bintang bertebaran cerah di langit pegunungan yang kini terasa lebih tenang, seolah alam sendiri turut bersyukur atas berkurangnya gejolak yang selama berbulan-bulan mewarnai kehidupan mereka semua, memberi harapan baru bahwa fajar perdamaian yang sesungguhnya, mungkin, tidak lagi terlalu jauh untuk digapai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!