Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
"Kau menggoda ku rupanya?"
Laki-laki yang di panggil Nismara menoleh lalu berdiri dengan sempoyongan. Ternyata betul dugaan Nismara kalau dia mabuk berat. Penampilan nya sungguh berantakan, rambutnya awet-awutan. Terlihat juga jika matanya memerah dan wajahnya yang bersih tampak sekali kelelahan, tetapi itu bukan pria yang Nismara duga. Dia bukan Samudra.
Sejenak Nismara mencelos. Entah untuk sebuah alasan apa, dia menjadi lega bahwa laki-laki yang masih berdiri menatapnya bukanlah mantan kekasihnya.
Buru-buru Nismara berbalik arah.
"Hai, tunggu!" laki-laki itu berseru. Sejurus kemudian Nismara mendengar bunyi debum disusul bunyi benda-benda berjatuhan. Si pemabuk itu jatuh dengan menyenggol meja di dekatnya, tetapi Nismara sama sekali tidak ada niat untuk menolongnya. Nismara justru mempercepat langkah kakinya untuk segera meninggalkan tempat itu.
Sampai di dapur, tujuan utamanya adalah kulkas besar yang berada di dekat sebuah akuarium. Ada berbagai minuman di sana, Nismara mengambil satu botol bir untuk mister Thrang dan sebotol minuman ringan berwarna coklat pekat untuk dirinya sendiri.
"Apa yang membuatmu lama Sofia?"
Mister Thrang sudah pindah duduk yang tak jauh dari meja kerjanya.
"Maaf, Mister Thrang aku salah belok tadi." Jawab Nismara sedikit gugup. Dia menaruh botol minuman di meja.
"Mendekat lah dan temani aku minum!" Mister Thrang meraih botol yang baru saja Nismara letakkan.
Nismara tidak menjawab, tetapi dia menuruti perintah lelaki pendek itu. Nismara mengambil duduk di sebelah Mister Thrang yang mulai meneguk minuman bersama.
"Sekarang katakan padaku, seberapa banyak kau ingin uangku?" Mister Thrang bertanya tanpa menoleh.
"Cukup untuk aku tidak kesusahan, Mister."
"Rupanya kau pandai bicara untuk gadis seusiamu ya, Sof."
Nismara tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya. "Sejujurnya aku takut menjawab dengan salah, Mister. Dalam bayanganku Anda adalah orang kejam yang tak segan-segan memberi hukuman jika anda mendapatkan jawaban yang kurang berkenan."
Meledak lah tawa Mister Thrang. Terdengar begitu membahana.
"Maafkan aku kalau kata-kataku lancang, Mister." Kata Nismara sambil melirik. Benar-benar kini dia menjadi takut.
Mister Thrang menggeleng. Salah satu tangannya meraih pundak Nismara dengan cepat, meremas-remas gemas di sana untuk beberapa lama.
"Yang terpenting kau sudah paham dengan apa yang kau baca tadi?" tanya Mister Thrang setelah tawanya mereda.
Nismara mengangguk.
"Jaga kerahasiaan pekerjaanmu, meski itu pada bayangan dirimu sendiri."
Lagi-lagi mengangguk patuh.
"Aku kejam untuk orang yang suka membangkang. Paham?"
"Iya, Paham Mister."
"Good. Pergilah, nanti Wei yang akan atur semua pekerjaan untukmu."
Nismara menoleh cepat, kedua matanya terbeliak sempurna. Dalam hatinya menjerit. "Hanya begini saja?"
Mister Thrang terkekeh lagi. Seakan - akan dia tahu apa yang sedang dipikirkan Nismara. "Sudah jangan banyak berpikir. Pergilah dari pintu mana yang kau masuk tadi. Jangan bilang kamu lupa."
"Ba- baik Mister. Aku pamit sekarang." Nismara berdiri dengan ragu dan mulai melangkahkan kakinya. Namun hingga langkahnya mendekati pintu, tak ada lagi suara atau gerakan dari laki-laki itu.
Saat Nismara membuka pintu, dia sempat melirik ke arah Mister Thrang yang sedang menadahkan kepala disofa dengan mata terpejam. Laki-laki itu seperti tertidur.
Ternyata lobby hotel sudah sepi ketika gadis yang dipanggil Sofia itu sampai di sana. Nismara jam tangannya, pukul sepuluh lebih lima belas menit. Lama juga dia berbincang dengan Mister Thrang.
Nismara memesan taksi online. Tujuan nya ke hotel bintang tiga yang dekat dengan mahkota Gym. Dia memutuskan untuk beberapa hari ke depan akan tinggal di hotel itu saja. Untuk saat ini hotel mungkin menjadi tempat teraman, meskipun harus merogoh kocek lebih dalam.
Nismara perlu melihat keadaan ke depan terutama dengan Maryono dan pekerjaan barunya. Jika dirasa aman, mungkin dia akan mencari rumah sewa.
"Ah, seandainya di kota ini sudah ada apartement, pasti akan menjadi lebih mudah." Nismara bermonolog dengan hatinya sendiri.
Keesokan paginya, Dia mendapat pesan dari Wei bahwa fotonya ada yang membeli dan dia diminta bertemu dengan Katy untuk mengambil uangnya.
Nismara membalas cepat.
[ Apa tidak bisa transfer saja Wei?]
Namun hingga lima belas menit Wei tidak membalas pesannya. Akhirnya Nismara pergi ke mahkota Gym setelah makan siang dan langsung ketemu dengan Katy.
"Katy, aku diminta Wei untuk bertemu kamu." kata Nismara begitu dia berjumpa dengan lelaki gemulai yang kini nampak lebih ramah padanya .
"Ow, ya. Tunggu di sini sebentar!" sahutnya dengan ceria.
Katy pergi ke pintu kaca, yang dulu sempat Nismara ingin masuki. Nismara jadi tersenyum sendiri, mengingat pernah dibentak oleh Katy gara-gara ingin masuk ke ruangan itu.
"Nah, ini uang." kata Katy menyodorkan sebuah amplop coklat.
"Kenapa nggak ditransfer aja ya? Hari gini masih transaksi dengan cash? Agak aneh menurutku." Komentar Nismara sembari menerima amplopnya.
Katy terkikik manja. "Sistem dirancang agar kamu kasih komisi ke aku." bisiknya tertahan, disusul kerlingan dengan sebelah matanya.
"Oh, gitu rupanya." Nismara ikut berbisik dan mengerling.
Nismara membuka amplop itu, terlihat beberapa lembar uang rupiah berwarna merah. Mungkin sekitar sepuluh juta atau paling banyak adalah lima belas juta.
"Karena ini uang gajianku pertama, kamu bebas mengambil berapa aja yang kamu mau, Kat." Amplop coklat yang telah terbuka, Nismara sadarkan lagi pada Katy.
Lelaki gemulai itu kaget, tetapi bibirnya kembali menerbitkan senyum lebar. "Serius kamu?"
Nismara mengangguk dan mendorong amplop coklat itu lebih dekat lagi ke tangan Katy. "Ambillah!"
"Kalau kuambil semua?" Katy meledek.
"Jangan lah, aku butuh untuk makan." Nismara memasang tampang memelas.
Katy tertawa ceria, senang sekali karena merasa sudah berhasil mengerjai gadis yang dia kenal sebagai Sofia. Tangan nya dengan cepat mengambil tiga lembar. "Makasih ya, Sof."
Nismara mencebik. "Cuma segitu?" Kata Nismara melotot lucu. Satu tangan Nismara mengambil beberapa lagi terlihat banyak dan langsung disodorkan pada Katy.
"Nih!"
"Astaga Sofia, Kamu paling bisa membuatku senang ya." tanpa basa-basi Katy meraup uang itu dan buru-buru dia masukkan ke dalam saku celananya. "Mulai sekarang, kamu adalah teman. Jadi kalau butuh apa-apa panggillah temanmu ini."
Nismara tergelak. Apa yang dikatakan oleh orang-orang bahwa uang bisa membeli segalanya, hari ini dia mendapat salah satu bukti nyata.
****
Empat hari telah berlalu dan Nismara baru menyadari jika dia belum bertemu Tina lagi sejak dia menjumpai Mister Thrang di hotel Mahkota. Sosok Gadis itu tidak terlihat di seputar mahkota Gym, bahkan saat 2 hari lalu dia dipanggil Wei untuk melakukan sesi foto, Tina tidak terlihat.
Untuk menanyakan pada Wei pun Nismara tidak berani. Pria itu sekarang begitu pendiam dan kaku, dia hanya bersuara saat memberi arahan-arahan gaya saja pada dirinya. Di luar itu Wei tidak banyak bicara.
"Katy boleh nggak aku bertanya?" Kata Nismara saat dia kembali mengambil upah dia menjadi model dewasa. Tak lupa dia sodorkan sepuluh lembar uang seratus ribuan pada Katy.
"Tentu dong, Kita kan teman, Sof." jawab Katty dengan hati berbunga-bunga. Tangan nya terampil mengambil kertas berharga itu.
"Kamu lihat Tina nggak?" Nismara langsung padahal yang ingin dia ketahui. Kali ini dia sengaja memfokuskan semua indra penglihatan ke wajah. Dia benar-benar ingin tahu reaksi atas pertanyaan yang dilontarkan. Katy tampak terkesiap, matanya mengedip dengan cepat.
"Tina ya?" katanya mengulang sesuatu yang tidak perlu.
"Iya, aku udah coba beberapa kali menghubunginya tapi kayaknya nomornya nggak aktif." Lanjut Nismara.
"A- aku nggak lihat. Mung- mungkin dia pulang kampung hihihi, biasa dia kalau duit udah banyak suka ngilang, nanti juga datang lagi."
"Pulang kampung?" Nismara hampir berseru kaget.
Katy mengangguk samar. "Ta- tapi jangan tanya di mana kampungnya, aku nggak tahu." tukas Katy mendahului sebelum Nismara mencecarnya.
"Eh, tau nggak tanya si Mario juga?" Katy seperti sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
"Mario?"
"Iya, Mario. Kulihat kamu lumayan akrab sama dia hihihi, jangan pikir aku nggak lihat ya."
Nismara mendengus.
"Dia juga udah lama nggak kelihatan loh, kamu nggak cariin juga?" ceplos Katy.
Nismara membelalak. "Serius?"
"Tuh, kan kepo juga soal Mario." Katy tertawa-tawa kegirangan. Berbanding terbalik dengan Nismara yang tertegun.
Tina menghilang setelah dia bicara dengan Mister Thrang. Aduh, sekelibat pikiran buruk membuat Nismara menggigil tiba-tiba. Apa mungkin gara-gara dia menyebut nama Tina soal informasi Sherin yang dia dapat?
teka teki nya dapat. suka banget.