NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puncak Takhta dan Gelombang Baru

Kekalahan memalukan Adrian Vance di ruang sidang Komisi Arbitrase Industri menjalar bagaikan api liar di kalangan bursa saham internasional. Berita mengenai kegagalan Vance Heritage Trust menuntut Perkasa Nusantara Investama tidak hanya menghancurkan reputasi finansial pria muda dari Zurich itu, tetapi juga mengakhiri seluruh sisa-sisa ambisi keluarga Vance di Asia Tenggara. Dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam, harga saham Perkasa Nusantara Investama justru melesat naik hingga menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah konglomerasi.

Pagi itu, suasana di penthouse lantai 50 Perkasa Tower diselimuti oleh kabut tipis sisa gerimis Subuh. Sinar matahari pagi menerobos masuk menembus kaca-kaca raksasa, membiaskan pendar keemasan yang berkilau di atas marmer abu-abu Italia.

Aku berdiri di depan cermin rias berbingkai platina, mengenakan gaun malam haute couture berpotongan A-line berwarna biru navi pekat berbahan sutra tebal. Rambut hitam panjangku disanggul tinggi, mengekspos leher jenjang yang dihiasi oleh batu blue sapphire dari kalung The Tear of Serpent. Cincin pernikahan platina murni dan cincin berlian canary yellow 10 karat berkilau tajam di jari manis kiriku.

Hari ini adalah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) sekaligus perayaan lima tahun berdirinya konsolidasi baru Perkasa Nusantara Investama.

Langkah kaki tegap Raymond terdengar menginjak lantai kayu parket ruang rias. Pria 37 tahun itu melangkah masuk dengan balutan tuxedo serba hitam buatan Italia. Aura dominan, dingin, dan mengintimidasi yang memancar dari postur tubuhnya tak pernah pudar, justru kian pekat seiring makin kukuhnya takhta yang kami genggam.

Raymond berdiri di belakangku, melingkarkan kedua tangannya yang tegap dan hangat di pinggangku. Pria itu menundukkan kepala, menyapukan bibirnya di perpotongan leher dan bahuku, mengirimkan getaran hangat yang seketika merayapi seluruh syaraf kesadaranku.

"Setiap kali kamu mengenakan blue sapphire ini, Clarissa..." bisik Raymond parau di dekat telingaku, suaranya yang berat dan dalam bergema halus, "...kamu selalu mengingatkanku pada malam pertama saat kamu melangkah masuk ke dalam vilaku di Bali dengan mata yang dipenuhi api dendam."

Aku menyunggingkan senyuman tipis yang sangat anggun, memutar kepalaku sedikit untuk mengunci iris mata hazel-nya melalui pantulan cermin. Tanganku terangkat, mengusap garis rahang tegasnya yang memukau.

"Dan malam ini, api dendam itu sudah berubah menjadi mahkota abadi untuk kekaisaran kita, Raymond," balasku jernih dan penuh ketegasan.

Raymond terkekeh rendah—suara bariton yang sarat akan dominasi pekat dan kehangatan mutlak. Jemari tangannya yang besar meresapi lekuk pinggangku, merengkuhku lebih rapat ke dada bidangnya.

"Alexander sudah bersiap di mobil bersama Pak Herman dan tim pengawal," kata Raymond seraya mengalihkan pandangannya pada mataku. "Anak kita akan menyaksikan Ibunya mensahkan penguasaan seratus persen aset energi terbarukan di hadapan seluruh taipan Asia."

"Bukan hanya Ibunya," ralatku halus seraya menyunggingkan senyuman menantang. "Anak kita akan melihat bagaimana Ayah dan Ibunya memerintah papan catur ini tanpa memberi celah sedikit pun pada musuh."

Raymond menyunggingkan senyuman dinginnya yang teramat tampan. Pria itu menundukkan kepala, mengunci bibirku dalam sebuah ciuman hangat yang dalam dan sarat akan kepemilikan mutlak sebelum kami melangkah keluar dari penthouse.

Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan telah disulap menjadi arena puncak kejayaan Perkasa Group. Ratusan tamu undangan—mulai dari pejabat kementerian, duta besar, investor asing dari Eropa dan Asia Timur, hingga jajaran pimpinan media nasional—telah memadati ruangan megah bertabur lampu kristal tersebut.

Begitu pintu ganda ballroom terbuka, ketukan hak tinggi sepatuku dan langkah mantap Raymond seketika membungkam riuh percakapan di dalam ruangan.

Aku melangkah masuk beriringan dengan Raymond. Di samping kami, Pak Herman membimbing Alexander yang kini berusia dua tahun lebih, tampak begitu tampan dengan jas miniaturnya dan mata hazel yang menatap sekitar dengan ketenangan alami mewarisi karakter ayahnya.

Bisik-bisik kagum dan segan berhembus tajam di antara para tamu. Pasangan penguasa yang dahulu diawali dari skandal, pernikahan terlarang, dan perang bursa saham berdarah dingin ini kini berdiri di hadapan publik sebagai dinasti paling solid di Indonesia.

Kami melangkah menuju panggung utama. Raymond berdiri di samping mimbar, memberikan ruang sepenuhnya bagiku untuk menyampaikan pidato pengesahan RUPSLB.

Aku berdiri di balik mimbar kayu mahoni berukir logo emas Perkasa Nusantara Investama. Pendar lampu sorot menangkap kilaunya blue sapphire di dadaku dan pendar mata hitamku yang tajam.

"Selamat malam, Tuan-tuan dan Puan-puan yang terhormat," suaraku meluncur begitu tenang, jernih, dan bergema penuh wibawa melalui pengeras suara ruangan. "Lima tahun lalu, banyak pihak yang meragukan apakah Perkasa Group mampu bertahan di tengah pusaran konflik hukum dan akuisisi ilegal. Banyak pula yang memprediksi bahwa warisan yang ditinggalkan oleh almarhum ayah saya akan hancur oleh manuver asing."

Aku menghentikan suaraku sejenak, membiarkan pandangan mataku menyapu seluruh wajah para investor papan atas di hadapanku.

"Namun malam ini..." sambungku dengan penekanan yang tak tergoyahkan, "...kami tidak hanya membuktikan bahwa Perkasa Nusantara Investama berdiri tegak. Kami telah menguasai seratus persen rantai pasok nikel dan energi terbarukan di Indonesia, memusnahkan setiap ancaman akuisisi ilegal, dan menutup pintu rapat-rapat bagi siapa pun yang berniat mengusik tanah ini."

Gemuruh tepuk tangan riuh meledak di seluruh ruangan ballroom. Para diplomat dan taipan berdiri secara refleks, memberikan standing ovation penuh penghormatan atas ketegasan sang Executive Chairperson.

Di sisi panggung, Raymond menatapku dengan iris hazel-nya yang menyala pekat sebuah pendar rasa bangga yang luar biasa dan obsesi cinta yang tak pernah padam.

Saat acara resepsi malam berlanjut, suasana di VIP lounge terasa lebih hangat. Alexander tertidur lelap di pangkuan Pak Herman di ruang istirahat khusus dengan penjagaan ketat.

Aku berdiri di dekat meja champagne bersama Raymond, menerima ucapan selamat dari beberapa menteri dan investor utama.

Namun, saat pesta mendekati puncaknya, Pak Herman melangkah mendekati kami dengan langkah terburu-buru. Wajah pria paruh baya yang biasanya tenang itu kini memancarkan raut tegang.

"Tuan Raymond, Nona Clarissa..." bisik Pak Herman rendah di dekat kami, memotong percakapan kami dengan salah satu menteri.

Raymond menyipitkan matanya pelan. "Ada apa, Pak Herman?"

"Ada kabar dari rumah sakit jiwa swasta di Jakarta Selatan tempat Siska dirawat dua bulan terakhir," jawab Pak Herman dengan suara yang hampir tak terdengar oleh tamu lain.

Jemariku yang memegang gelas kristal champagne mendadak membeku sejenak.

Siska. Dua bulan lalu, usai depresi berat akibat kebangkrutan total dan ditinggalkan oleh seluruh lingkaran sosialitanya, Ibu kandungku mengalami gangguan jiwa berat hingga harus dirawat di fasilitas tertutup di bawah pengawasan tim medis yang kubiayai secara privat.

"Ada apa dengannya?" tanyaku dingin, suaraku jernih tanpa riak emosi.

"Siska... baru saja dinyatakan meninggal dunia setengah jam yang lalu akibat gagal jantung," terang Pak Herman pelan.

Keheningan yang amat pekat mendadak terasa melingkupi area kecil tempat kami berdiri.

Ibu kandungku—wanita yang dahulu memicu seluruh badai dendam ini, wanita yang tega membuang Ayah demi harta Raymond, dan wanita yang memicu permusuhan di antara kami—kini telah benar-benar menghembuskan napas terakhirnya.

Aku menatap kosong ke arah deretan gelas kristal di hadapanku. Tidak ada air mata yang menetes, tidak ada rasa sedih yang membakar, dan tidak ada pula rasa puas yang berlebihan. Yang tersisa di dalam dadaku hanyalah sebuah pelepasan mutlak—penutupan lembar terakhir dari buku masa lalu yang dipenuhi tinta beracun.

Raymond melangkah satu senti lebih dekat padaku. Tangannya yang besar meraih jemariku, menggenggamnya dengan keteguhan yang sangat menenangkan. Pria itu menunduk, menatap mataku dengan intensitas yang teramat dalam.

"Apakah kamu ingin kita pergi ke sana malam ini, Clarissa?" tanya Raymond parau, suaranya yang bass memiringkan perhatian seutuhnya padaku.

Aku menegakkan posisiku, mengalihkan pandangan dari lantai marmer lurus mengunci iris mata hazel milik suami dan penguasaku. Sebuah senyuman tipis yang sangat tenang terukir di bibirku.

"Pak Herman," suaraku meluncur tenang. "Urus seluruh proses pemakaman secara privat besok pagi. Pastikan ia dimakamkan di samping makam Ayah di TPU Jeruk Purut. Biarkan mereka berdua menyelesaikan urusan mereka di alam yang berbeda."

"Baik, Nona Clarissa," sahut Pak Herman seraya membungkuk hormat dan melangkah mundur.

Raymond menarik tanganku ke bibirnya, menyapu buku-buku jariku dengan ciuman hangat yang lama.

"Masa lalu sudah seutuhnya menjadi abu, Clarissa," bisik Raymond parau di depan wajahku. "Tidak ada lagi penyesalan, tidak ada lagi bayangan. Kamu dan aku... adalah masa depan."

Keesokan harinya, Subuh yang tenang menyelimuti TPU Jeruk Purut. Gerimis tipis menyiram dedaunan pohon kamboja tua yang menaungi area pemakaman keluarga.

Pemakaman berjalan dalam kesunyian mutlak tanpa liputan media atau kehadiran pelayat luar. Hanya ada aku, Raymond, Alexander yang digendong oleh Pak Herman, serta beberapa petugas pemakaman.

Gundukan tanah baru berlapis rumput hijau kini berdampingan dengan makam batu marmer milik Ayah. Sebuah batu nisan hitam berukir nama Siska berdiri tegak di atasnya.

Aku melangkah mendekati dua makam tersebut, membiarkan gaun blazer hitamku dibasahi gerimis tipis. Aku meletakkan dua tangkai mawar putih di atas masing-masing nisan.

"Rest in peace, Ibu... Ayah," bisikku pelan, suaraku terbawa angin Subuh yang dingin. "Papan catur yang kalian buat sudah aku bersihkan. Dan dendam yang kalian tanam... sudah aku ubah menjadi pelindung bagi keturunan kita."

Raymond melangkah berdiri di sisiku, melingkarkan lengan berototnya di bahuku, memayungi tubuhku dengan payung hitam besar. Pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun; keberadaannya yang kokoh di sisiku sudah cukup menjadi pernyataan mutlak bahwa pertempuran ini telah selesai selamanya.

Aku berbalik, menyambut Alexander dari garapan Pak Herman. Balita mungil itu menyandarkan kepalanya di bahuku, tangannya menyentuh lembut liontin blue sapphire di leherku.

Kami bertiga melangkah meninggalkan area pemakaman menuju konvoi mobil yang sudah menunggu di gerbang.

Satu bulan kemudian.

Vila pribadi kami di Uluwatu, Bali—tempat pernikahan privat kami digelar dua tahun lalu—terlihat begitu indah di bawah naungan sinar matahari sore. Suara gemuruh ombak Samudra Hindia yang menghantam tebing karang bergema bagaikan simfoni alam yang megah.

Di teras luas yang menghadap langsung ke laut lepas, Alexander sedang berlari-lari kecil mengejar seekor anak anjing golden retriever di atas rumput hijau, tertawa riang di bawah pengawasan Pak Herman.

Aku duduk di kursi santai berbahan kayu jati, mengenakan gaun pantai sutra berwarna putih yang melambai ditiup angin laut. Di sampingku, Raymond duduk memiringkan tubuhnya, memegang gelas wiski tua seraya menatap pemandangan laut dan anak kami.

"Adrian Vance baru saja menandatangani surat pengunduran dirinya dari seluruh dewan direksi di Zurich," kata Raymond rendah, suara bass-nya menyatu sempurna dengan deru ombak. "Pria itu memutuskan untuk menjual seluruh asetnya di Eropa dan pindah ke Kanada."

Aku menyunggingkan senyuman manis, menyesap teh herbal-ku. "Dia mengambil keputusan yang bijaksana. Melawan kita hanya akan membuat namanya terhapus seutuhnya dari bursa finansial."

Raymond meletakkan gelas wiskinya di atas meja, lalu menggeser posisinya hingga ia berlutut di samping kursiku. Tangannya yang besar dan hangat meraih jemariku, menyusupkan jemarinya di antara jemariku yang terikat cincin pernikahan murni.

"Apakah kekaisaran ini sudah sesuai dengan apa yang kamu impikan saat pertama kali kita bertemu, Nyonya Perkasa?" tanya Raymond parau. Manik mata hazel-nya memancarkan pendar cinta, kepemilikan, dan rasa bangga yang tak terukur.

Aku menatap lurus ke dalam iris mata pria yang telah membawaku melintasi neraka dendam hingga membimbingku ke puncak takhta ini. Jemari tanganku terangkat, membelai pipi dan rahang tegasnya yang memukau.

"Ini jauh melampaui apa yang pernah kuimpikan, Raymond," balasku pelan, mantap, dan sarat akan kepastian abadi. "Kita tidak hanya memenangkan pertaruhan ini... kita telah menciptakan dunia di mana tak ada seorang pun yang sanggup mengusik kita lagi."

Raymond menyunggingkan senyuman dominannya yang teramat tampan. Pria paling berkuasa itu mendongakkan kepala, mengikis habis sisa jarak di antara kami, dan menyatukan bibir kami dalam sebuah ciuman yang sarat akan kehangatan, kebuasan, dan obsesi yang kini telah menjadi kedamaian abadi.

Di bawah pendar langit jingga Bali yang memukau, di atas tebing Uluwatu yang menjadi saksi penyatuan takdir kami, pertempuran papan catur itu telah resmi ditutup selamanya. Topeng-topeng dendam telah hancur menjadi debu, musuh-musuh telah musnah, dan di atas puncak kejayaan yang tak tertandingi... aku, Raymond, dan Alexander berdiri abadi sebagai penguasa tahta terlarang yang tak akan pernah bisa diruntuhkan hingga akhir masa.

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!