NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35

Bab 35 — Pencipta E-17

Pintu utama terbuka perlahan.

Suara gesekan logam terdengar panjang dan mengerikan di tengah ruangan yang dipenuhi alarm.

Clara berdiri kaku.

Fedro berada tepat di sampingnya.

Sementara Noah berdiri beberapa langkah di belakang mereka, memperhatikan sosok yang muncul dari balik pintu.

Amara tidak bergerak.

Wajahnya pucat.

Rafael bahkan terlihat kehilangan keberaniannya.

Hanya F-01 yang masih berdiri tegak.

Namun sorot matanya berubah waspada.

Sosok itu melangkah masuk.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Lampu darurat menyinari wajahnya.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun.

Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis.

Mengenakan jas hitam sederhana.

Tidak ada senjata di tangannya.

Tidak ada pengawal di belakangnya.

Namun kehadirannya membuat seluruh ruangan terasa lebih dingin.

Clara menatapnya.

“Siapa kau?”

Pria itu berhenti.

Kemudian tersenyum tipis.

“Pertanyaan yang menarik.”

Clara mengepalkan tangan.

“Aku bertanya siapa kau.”

Pria itu menatap Amara.

“Apa kau tidak pernah memberitahunya?”

Amara menundukkan kepala.

“Tidak.”

“Sayang sekali.”

Pria itu kembali menatap Clara.

“Padahal aku sudah mengenalmu sejak kau masih sangat kecil.”

Clara merasa dadanya sesak.

“Namamu.”

Pria itu menjawab tenang.

“Dr. Adrian Veylor.”

Clara terdiam.

Nama itu tidak pernah ia dengar.

Namun melihat wajah Amara, Clara tahu nama tersebut memiliki arti besar.

“Mami mengenalnya.”

Amara mengangguk.

“Ya.”

“Seberapa dekat?”

Amara tidak menjawab.

Clara menatapnya.

“Mami.”

Amara akhirnya berkata,

“Dia adalah kepala pertama proyek E-17.”

Clara membeku.

“Jadi benar.”

Ia menatap Adrian.

“Kaulah penciptanya.”

Adrian tersenyum.

“Sebagian.”

Fedro maju.

“Sebagian?”

Adrian menatapnya.

“Tidak ada penelitian sebesar E-17 yang dibuat oleh satu orang.”

Fedro mengepalkan tangan.

“Jadi siapa lagi?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru berpindah kepada Noah.

“C-00.”

Noah menatap Adrian tanpa rasa takut.

“Aku bukan milikmu.”

Adrian tersenyum.

“Tidak pernah.”

Noah mengerutkan kening.

“Aku hanya mempelajarimu.”

“Berbohong.”

Adrian diam.

Noah melangkah maju.

“Kau tidak pernah menganggapku manusia.”

Suasana berubah tegang.

Clara menatap Noah.

“Kenapa dia memanggilmu C-00?”

Noah menjawab,

“Karena itulah nama yang diberikan kepadaku oleh mereka.”

Clara menggeleng.

“Tidak.”

Noah menatapnya.

Clara menunjuk dirinya sendiri.

“Aku memberimu nama Noah.”

Noah tersenyum.

“Benar.”

Adrian memperhatikan keduanya.

“Dan itulah kesalahan terbesar E-17.”

Clara menatapnya.

“Apa?”

“Kalian.”

Adrian menunjuk Clara dan Noah.

“Hubungan kalian tidak pernah bisa kami prediksi.”

Clara mengerutkan kening.

“Hubungan?”

“Ketika kau pertama kali bertemu Noah, kau tidak melihatnya sebagai subjek.”

Adrian melanjutkan,

“Kau melihatnya sebagai anak kecil yang sendirian.”

Clara terdiam.

Potongan ingatan kembali muncul.

Ruangan putih.

Kaca tebal.

Noah kecil duduk sendirian.

Clara kecil berdiri di depannya.

Dan suara seorang anak perempuan terdengar.

Jangan takut.

Clara memejamkan mata.

“Aku mengingatnya.”

Amara langsung berkata,

“Clara, jangan.”

Clara membuka mata.

“Jangan apa?”

“Jangan memaksakan ingatan itu muncul.”

“Kenapa?”

“Karena belum lengkap.”

Clara menatap ibunya.

“Selalu begitu.”

Amara terdiam.

“Jangan ini.”

“Jangan itu.”

“Jangan bertanya.”

“Jangan mengingat.”

Clara menggeleng.

“Aku sudah muak, Mami.”

Air mata mulai memenuhi matanya.

“Selama ini Mami selalu bilang semua yang dilakukan adalah demi aku.”

Amara menatapnya.

“Memang.”

“Tidak.”

Clara menggeleng.

“Kalau benar demi aku, kenapa Mami tidak pernah memberiku pilihan?”

Amara tidak mampu menjawab.

Clara melanjutkan,

“Mami menghapus ingatanku.”

“Menyembunyikan Noah.”

“Menyembunyikan E-17.”

“Bahkan menyembunyikan siapa sebenarnya keluargaku.”

Suaranya bergetar.

“Lalu Mami masih ingin aku percaya bahwa semua itu karena cinta?”

Amara menahan tangis.

“Karena aku mencintaimu.”

Clara menatapnya.

“Cinta bukan alasan untuk mengambil hak seseorang atas hidupnya.”

Kalimat itu membuat Amara terdiam.

Rafael menatap mereka.

“Clara…”

Clara menoleh.

“Jangan ikut campur.”

Rafael berhenti.

Clara kembali menatap Amara.

“Aku bisa memaafkan kebohongan.”

“Suatu hari mungkin.”

“Tapi aku tidak bisa memaafkan kalau Mami terus memilih kebohongan untukku.”

Amara mengusap air matanya.

“Kalau aku mengatakan semuanya sejak awal…”

“Ya?”

“Kau akan membenciku.”

Clara terdiam.

Amara tersenyum sedih.

“Aku lebih memilih kau membenciku daripada melihatmu mati.”

Clara membeku.

Adrian tiba-tiba tertawa kecil.

“Menarik.”

Semua menoleh.

Adrian menatap Amara.

“Kau masih menggunakan alasan yang sama.”

Amara menatapnya tajam.

“Diam.”

“Bahkan setelah bertahun-tahun.”

“Diam, Adrian.”

Adrian tersenyum.

“Kau selalu seperti itu.”

Clara menatap mereka.

“Mami…”

Adrian menyela,

“Dia pernah menjadi bagian dari timku.”

Clara terkejut.

“Apa?”

Amara langsung berkata,

“Jangan dengarkan dia.”

“Benarkah?”

Clara menatap ibunya.

“Mami bekerja untuk E-17?”

Amara terdiam.

Adrian menjawab,

“Bukan hanya bekerja.”

Ia menatap Clara.

“Ibumu adalah salah satu orang paling penting dalam penelitian itu.”

Clara merasa tubuhnya membeku.

“Tidak.”

Adrian melanjutkan,

“Dia membantu merancang sistem pemulihan ingatan.”

Clara menatap Amara.

“Mami?”

Amara tidak membantah.

Clara mundur satu langkah.

“Jadi…”

Ia menelan ludah.

“Bukan hanya menghapus ingatanku.”

Amara menatapnya dengan mata penuh penyesalan.

“Mami juga tahu bagaimana caranya.”

“Ya.”

Jawaban itu menghantam Clara lebih keras daripada apa pun.

Fedro segera memegang bahunya.

“Clara.”

Clara menyingkirkan tangan itu sebentar.

“Tidak.”

Ia menatap Amara.

“Jelaskan semuanya.”

Amara mengangguk perlahan.

“Ya.”

“Sekarang.”

“Ya.”

Amara menarik napas.

“Dulu, E-17 mencari cara untuk memindahkan pola ingatan dari satu individu ke individu lain.”

Clara mendengarkan.

“Namun penelitian itu gagal berkali-kali.”

Amara menatap Noah.

“Sampai C-00 lahir.”

Noah menunduk.

“Dia memiliki kemampuan menyimpan dan menerima pola ingatan jauh lebih stabil daripada subjek lain.”

Clara menatap Noah.

“Karena itu dia dijadikan dasar?”

“Ya.”

Amara melanjutkan.

“Setelah itu mereka menemukan bahwa ada subjek lain yang dapat berinteraksi dengan pola tersebut.”

Tatapan Amara beralih kepada Clara.

“C-01.”

Clara menggeleng.

“Jadi aku…”

“Kau memiliki kemampuan untuk menghubungkan pola ingatan.”

“Dan Alena?”

“C-03 memiliki kemampuan untuk menstabilkan hubungan tersebut.”

Fedro bertanya,

“Lalu aku?”

Amara menatapnya.

“F-09 memiliki kemampuan untuk menetralkan konflik antar-ingatan.”

Fedro terdiam.

Adrian kemudian berkata,

“Dan itulah sebabnya kalian bertiga tidak pernah boleh berada di satu tempat.”

Clara menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena jika C-01, F-09, dan C-03 terhubung dengan C-00…”

Adrian berhenti.

Clara menunggu.

“Apa?”

“Mereka dapat membuka seluruh arsip E-17.”

Clara menatap layar.

Ingatan asli.

Seluruh rahasia.

Semua eksperimen.

Semua nama.

Semua orang yang terlibat.

Fedro berkata,

“Dan itu yang sedang terjadi sekarang.”

Adrian mengangguk.

“Benar.”

Raka langsung terdengar melalui alat komunikasi.

“Clara!”

Clara menekan alat tersebut.

“Apa?”

“Dengarkan aku.”

Suara Raka terdengar cepat.

“Jika kalian ingin menghentikan sistem, kalian harus keluar dari ruangan itu.”

“Kenapa?”

“Karena sistem sedang menjadikan tubuh kalian sebagai titik akses.”

Clara menatap tangannya.

Cahaya tipis mulai terlihat pada panel di bawah telapak tangannya.

“Bagaimana cara menghentikannya?”

Raka terdiam.

“Aku tidak tahu.”

Clara mengerutkan kening.

“Kau selalu punya jawaban.”

“Kali ini tidak.”

Raka terdengar gugup.

“E-17 sedang belajar dari kalian.”

Clara membeku.

“Apa maksudmu?”

“Setiap kali kalian terhubung…”

Raka berhenti.

“…sistem berubah.”

Adrian tersenyum.

“Itulah tujuan sebenarnya.”

Clara menatapnya.

“Tujuan apa?”

“Membuat sistem yang mampu belajar dari manusia.”

Fedro mengerutkan kening.

“Jadi selama ini kami bukan target akhirnya.”

“Bukan.”

Adrian menatap semua subjek yang mulai sadar.

“Kalian adalah data.”

Clara merasa marah.

“Kau menggunakan manusia sebagai data?”

Adrian menjawab tenang,

“Semua penemuan besar membutuhkan pengorbanan.”

Clara menatapnya tajam.

“Tidak.”

Ia maju.

“Tidak ada penelitian yang membenarkan menghancurkan hidup anak-anak.”

Adrian tersenyum.

“Itulah perbedaan antara kau dan aku.”

“Apa?”

“Kau masih melihat mereka sebagai manusia.”

Adrian menunjuk kapsul.

“Aku melihat potensi.”

Clara mengepalkan tangan.

“Dan aku melihat korban.”

Amara berdiri di antara mereka.

“Cukup.”

Adrian menatap Amara.

“Kau masih melindunginya?”

“Dia putriku.”

“Dia adalah C-01.”

“Dia anakku.”

Adrian tersenyum tipis.

“Dan itulah alasan kau gagal.”

Amara menatapnya tajam.

“Aku tidak gagal.”

“Benarkah?”

Adrian menunjuk Clara.

“Lihat apa yang terjadi.”

“Dia kembali.”

“Dia mengingat.”

“Dan sekarang E-17 aktif kembali.”

Amara menjawab,

“Karena kau mengaktifkannya.”

Adrian mengangguk.

“Benar.”

Clara menatap Amara.

“Mami tahu dia akan melakukan ini?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa Mami datang ke sini?”

Amara menatap Clara.

“Karena aku tahu ada kemungkinan seseorang mengaktifkan kembali E-17.”

“Dan Mami tetap tidak memberitahuku.”

“Aku ingin menghentikannya sebelum kau tahu.”

Clara tersenyum pahit.

“Lagi-lagi keputusan untukku.”

Amara terdiam.

Tiba-tiba Noah mendekati Clara.

“Clara.”

Clara menatapnya.

“Apa?”

“Jangan bertengkar dengannya sekarang.”

Clara mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Noah menunjuk layar.

Clara melihatnya.

PHASE THREE.

MEMORY MERGE.

00:30

00:29

00:28

Wajah semua orang berubah.

F-01 langsung berlari menuju panel.

“Tidak.”

Fedro mengejarnya.

“Apa yang terjadi?”

“Kalau fase tiga dimulai, semua ingatan akan menyatu.”

“Bisa dihentikan?”

“Bisa.”

“Bagaimana?”

F-01 menatap Clara.

“C-01 harus masuk ke pusat sistem.”

Clara membeku.

“Ke mana?”

F-01 menunjuk ruangan kecil di belakang kapsul Noah.

“Ke sana.”

Pintu kecil terbuka.

Di baliknya terlihat sebuah kursi dan puluhan kabel yang terhubung ke sistem utama.

Clara menatapnya.

“Kalau aku masuk?”

F-01 menjawab,

“Kau akan melihat semua ingatan yang pernah disimpan E-17.”

Fedro langsung menggeleng.

“Tidak.”

Clara menatapnya.

“Fedro.”

“Tidak.”

“Kalau aku tidak melakukannya, semua orang di sini akan terhubung.”

F-01 mengangguk.

“Dan mungkin ingatan kalian tidak akan pernah kembali menjadi milik masing-masing.”

Fedro menggenggam tangan Clara.

“Kita cari cara lain.”

Clara menatapnya.

“Ada?”

Fedro diam.

Clara tersenyum kecil.

“Tidak ada.”

Ia menoleh kepada Amara.

“Mami.”

Amara mengangkat wajah.

“Ya?”

“Kalau aku masuk ke sana…”

Amara langsung menggeleng.

“Jangan.”

“Dengarkan aku.”

“Tidak.”

“Untuk pertama kalinya, biarkan aku memilih.”

Amara menangis.

Clara mendekat.

“Aku tidak akan lari dari kebenaran.”

Amara memandang putrinya.

“Aku takut.”

Clara terdiam.

Amara menggenggam tangannya.

“Bukan pada E-17.”

“Lalu?”

“Pada apa yang akan kau lihat tentangku.”

Clara menatap mata ibunya.

“Apa yang Mami lakukan?”

Amara menangis.

“Aku pernah memilih.”

“Memilih apa?”

Amara menundukkan kepala.

“Antara menyelamatkanmu…”

Ia menatap Noah.

“…dan menyelamatkan C-00.”

Clara membeku.

“Dan siapa yang Mami pilih?”

Amara tidak menjawab.

Noah justru berkata,

“Aku.”

Clara menoleh.

Noah menatapnya.

“Dia memilih menyelamatkanmu.”

Clara terdiam.

Amara menangis.

“Aku meninggalkan Noah.”

Clara menatap Noah.

“Dan kau?”

Noah tersenyum kecil.

“Aku menunggu.”

Clara merasakan air matanya jatuh.

Selama bertahun-tahun, ia mengira dirinya adalah korban dari sebuah rahasia.

Namun ternyata ada seseorang yang menunggu selama bertahun-tahun hanya agar ia kembali.

Hitungan mundur terus berjalan.

00:15.

00:14.

00:13.

Clara mengusap air matanya.

Kemudian menatap Amara.

“Aku belum bisa memaafkan Mami.”

Amara mengangguk sambil menangis.

“Aku tahu.”

“Tapi aku juga belum ingin kehilangan Mami.”

Amara menatapnya.

Clara menggenggam tangannya.

“Jadi tunggu aku.”

Amara mengangguk.

“Aku akan menunggu.”

Clara kemudian berbalik.

Fedro menahannya.

“Clara.”

Ia menatap Fedro.

“Aku ikut.”

“Tidak.”

“Kau tidak boleh sendirian.”

Clara tersenyum.

“Kau tetap di sini.”

“Kenapa?”

“Karena kalau sesuatu terjadi padaku…”

Clara menggenggam tangannya lebih erat.

“…kau harus membawa Alena keluar.”

Fedro menggeleng.

“Aku tidak suka rencana ini.”

“Aku juga.”

Kemudian Clara mencium kening Fedro singkat sebelum melepaskan tangannya.

“Aku kembali.”

Fedro menatapnya.

“Janji?”

Clara mengangguk.

“Janji.”

Ia berjalan menuju ruangan pusat.

Namun sebelum masuk, Noah memanggil.

“Clara.”

Clara menoleh.

Noah berdiri di antara cahaya merah.

“Kalau kau melihat sesuatu yang buruk tentangku…”

Clara menatapnya.

“Aku tidak akan membencimu.”

Noah tersenyum.

“Bukan itu.”

“Lalu?”

“Kalau kau melihat alasan kenapa aku harus dihentikan…”

Noah menatapnya serius.

“Jangan ragu.”

Clara membeku.

“Apa maksudmu?”

Noah tidak menjawab.

Pintu pusat sistem terbuka.

Clara masuk.

Pintu tertutup.

BIP.

MEMORY ACCESS.

SUBJECT C-01 CONNECTED.

Hitungan berhenti.

00:00.

Kemudian seluruh ruangan dipenuhi cahaya putih.

Clara membuka matanya.

Ia tidak lagi berada di laboratorium.

Di hadapannya berdiri seorang anak kecil.

Noah.

Namun kali ini Noah menangis.

Di belakangnya berdiri Amara muda.

Dan di samping Amara…

berdiri Adrian.

Clara mendengar suara masa lalu.

“Kalau kau ingin menyelamatkan C-01…”

Adrian menyerahkan sebuah dokumen kepada Amara.

“…kau harus mengorbankan C-00.”

Clara membeku.

Kemudian Amara muda menjawab,

“Aku tidak akan melakukannya.”

Adrian tersenyum.

“Kalau begitu…”

Layar ingatan berubah.

Muncul Clara kecil.

Kemudian Noah.

Kemudian sebuah ruangan penuh anak-anak.

Dan satu kalimat muncul di layar:

ONE MUST BE SACRIFICED FOR THE OTHERS TO SURVIVE.

Clara menatapnya dengan napas tertahan.

Kemudian suara Noah kecil terdengar.

“Clara…”

Clara menoleh.

Noah kecil berdiri tepat di belakangnya.

Ia tersenyum sedih.

“Sekarang kau tahu kenapa aku menunggumu.”

Clara tidak mampu berkata-kata.

Noah menunjuk ke sebuah pintu di ujung ingatan.

“Di balik pintu itu…”

Ia berhenti.

“…ada kebenaran terakhir tentang keluargamu.”

Clara menatap pintu tersebut.

Perlahan pintu itu terbuka.

Dan di baliknya…

Clara melihat seorang pria yang selama ini hanya ada dalam foto lama keluarganya.

Sosok yang selama bertahun-tahun ia percaya telah meninggal.

Clara membeku.

“Ayah…?”

Pria itu mengangkat wajah.

Dan berkata,

“Clara.”

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!