Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Perceraian yang Tidak Bisa Dibatalkan
Tiga minggu telah berlalu sejak kematian Grizella.
Namun bagi Ivy Alexandra Myles, waktu seolah berhenti pada malam kecelakaan itu. Setiap kali memejamkan mata, ia masih bisa mendengar suara kecil putrinya.
"Mommy..."
Suara itu terus menghantuinya. Di atas meja ruang tamu, sebuah map putih tergeletak dengan rapi.
Surat Perceraian.
Ivy menatapnya lama. Selama empat tahun pernikahannya dengan Mateo Agler, ia telah menunggu Mateo mencintainya. Menunggu pria itu melihatnya sebagai seorang istri, bukan sebagai bayangan Evelyn. Menunggu satu hari ketika Mateo akhirnya mengatakan bahwa dia juga mencintai Ivy seperti halnya Ivy yang selalu mencintainya. Tetapi hari itu tidak pernah datang dan sekarang Ivy sudah lelah menunggu.
Pintu rumah akhirnya terbuka.
Mateo masuk dengan wajah lelah. Ia berhenti ketika melihat Ivy duduk sendirian di ruang tamu.
"Ivy."
Wanita itu tidak menjawab. Mateo lalu meletakkan kunci mobil di atas meja.
"Aku sudah bicara dengan pengacara." Kata Mateo.
Ivy akhirnya mengangkat wajahnya. Tidak ada air mata, hanya ada kehampaan di sana.
"Bagus." Jawaban singkat itu membuat Mateo mengerutkan keningnya.
"Aku ingin kita menyelesaikan perceraian ini secepatnya." Ujar Mateo.
"Aku juga."
Mateo terdiam. Biasanya, setiap kali pembicaraan mengenai perceraian muncul, Ivy akan menangis.
Ia akan memohon, Ia akan berkata bahwa ia masih mencintainya dan ada banyak drama lainnya. Namun sekarang tidak ada semua itu. Ivy hanya terlihat tenang, terlalu tenang.
"Aku tidak akan mengambil apa pun darimu," kata Ivy.
Mateo menatapnya.
"Rumah ini milikmu. Semua aset yang terdaftar atas namaku akan tetap menjadi milikmu. Aku tidak menginginkannya." Ujar Ivy.
"Kenapa?" Tanya Mateo.
Ivy tersenyum tipis.
"Karena semua itu hanya akan mengingatkanku padamu." Ujar Ivy tenang.
Mateo terdiam.
"Aku hanya akan membawa barang-barang milik Grizella." Lanjut Ivy.
Nama itu membuat dada Mateo terasa sesak.
Grizella putrinya, anak yang selama ini hampir tidak pernah ia peluk. Anak yang selalu berusaha mendekatinya setiap kali ia pulang. Anak yang pernah berdiri di depan pintu sambil membawa gambar keluarga. Dalam gambar itu ada Ivy, ada Grizella dan ada dirinya. Mateo masih mengingat bagaimana saat itu Grizella tersenyum.
"Ayah, lihat. Ini keluarga kita."
Namun Mateo hanya menjawab singkat.
"Jangan menganggu ku, aku sedang sibuk dan berhenti memanggilku ayah." Jawaban itu sering sekali Mateo ucapkan pada Grizella.
Kini ia berharap bisa kembali ke hari itu. Hanya untuk memeluk putrinya. Namun sayang semuanya sudah terlambat.
"Ivy..."
"Jangan." Ivy menghentikannya.
"Aku tidak ingin membicarakan Grizella malam ini."
Mateo menatap wanita itu.
"Dia juga putriku." Ujar Mateo.
Ivy tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar menyakitkan.
"Benarkah?"
Mateo mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Mateo.
"Malam itu aku memintamu mengantarkan dia ke rumah sakit." Ivy menatap lurus ke matanya.
"Tapi kau menolaknya dan lebih memilih menemui wanita itu." Lanjut Ivy.
Mateo mengepalkan tangannya.
"Aku tidak tahu kalau malam itu akan terjadi kecelakaan." Ucap Mateo.
"Aku juga tidak tahu."
Air mata menggenang di mata Ivy.
"Tapi aku tahu satu hal."
"Apa?" Tanya Mateo.
"Kalau saat itu kau memilih putrimu daripada selingkuhanmu..."
Suara Ivy bergetar.
"...mungkin saat ini Grizella masih hidup."
Mateo tidak mampu membalas. Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu Ivy benar. Untuk pertama kalinya, Mateo sadar bahwa keputusan yang ia anggap sepele pada malam itu telah merenggut nyawa putrinya.
"Ivy, aku—"
"Jangan pernah meminta maaf." Ucap Ivy.
Mateo terdiam.
"Karena permintaan maafmu tidak akan pernah mengembalikan Grizella." Ivy kemudian berdiri dan Ia mengambil map perceraian.
"Tanda tangani." Kata Ivy tegas.
Mateo menatap dokumen tersebut. Tangannya terasa berat ketika mengambil pena.
Selama ini ia memang sangat menginginkan perceraian ini. Ia sangat ingin terbebas dari wanita yang menurutnya telah menghancurkan hidupnya. Namun saat penanya menyentuh kertas, tangannya justru berhenti.
"Ivy."
"Hm?" Ivy mengerutkan keningnya.
"Apakah kau benar-benar tidak mencintaiku lagi?"
Pertanyaan itu membuat Ivy terdiam. Kemudian ia tersenyum tipis.
"Dulu aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri."
Mateo menatapnya.
"Tapi kau membunuh cinta itu sedikit demi sedikit."
Ivy menunjuk dokumen di hadapan mereka.
"Jadi sekarang tidak ada lagi yang tersisa, semua cinta itu sudah habis Mateo. Untuk itu, cepatlah tanda tangani berkas itu agar semuanya selesai."
Mateo akhirnya menandatangani surat itu. Setelah tanda tangan Mateo tertera di dokumen itu, Ivy lalu mengambil dokumen itu dan memasukannya ke dalam tas miliknya.
"Selamat tinggal, Mateo."
Namun sebelum Ivy mencapai pintu, suara Mateo terdengar.
"Ke mana kau akan pergi?"
Ivy berhenti.
"Entahlah." Kata Ivy.
"Sekarang kau bahkan sudah tidak punya keluarga." Ujar Mateo.
Ivy lalu menoleh.
"Aku punya."
Mateo terdiam.
"Siapa? bukannya mereka sudah mengusirmu. Apa mereka masih mau menerima kamu lagi?" Tanya Mateo sarkas.
"Aku masih punya Grizella."
Mata Ivy berkaca-kaca.
"Dia satu-satunya keluarga yang pernah benar-benar mencintaiku."
Setelah mengatakan itu, Ivy keluar.
Pintu tertutup.
Mateo berdiri sendirian.
Rumah itu mendadak terasa sangat besar dan sangat sunyi. Dulu ia mengira kepergian Ivy akan membuatnya lega. Tetapi mengapa sekarang Ia justru merasa kehilangan sesuatu. Mateo berjalan menuju kamar Grizella saat pintu kamar kecil itu masih terbuka. Mateo akhirnya masuk, semuanya masih sama. Boneka kecil di atas tempat tidur, buku cerita di meja, gaun mungil yang belum sempat dipakai dan sebuah gambar keluarga yang masih tertempel di dinding.
Mateo mendekatinya.
Dalam gambar itu, ada tiga orang. Ivy, Grizella dan dirinya. Gambarnya memang tidak bagus, hanya berupa sebuah garis lurus yang di atasnya terdapat lingkaran yang di beri mata dan mulut.
Mateo membeku, tangannya gemetar ketika menyentuh gambar itu. Air mata akhirnya jatuh.
"Grizella..."
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Mateo menangis. Bukan karena Evelyn, bukan juga karena Ivy tetapi karena putrinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya pula, Mateo menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan.
Putrinya yang dulu selalu memanggil dirinya ayah, kini telah pergi meninggalkan dirinya dengan setumpuk penyesalan. Mateo juga baru menyadari, kalau saat ini dia tidak hanya telah kehilangan putrinya. Tapi dia juga telah kehilangan istrinya, penyesalan mulai menggerogoti dirinya. Seharusnya dia tidak pernah menandatangani surat perceraian itu. Jika dia tidak menandatanganinya, Ivy masih menjadi istrinya dan tetap akan bersama dirinya sampai kapanpun.
Tapi penyesalan itu, hanya akan tinggal penyesalan. Karena Ivy telah pergi dan wanita itu mungkin tidak akan kembali lagi.
"Ivy tidak akan pernah meninggalkan ku, dia sangat mencintai ku. Surat cerai itu pasti hanya gertakan saja, setelah itu ivy pasti akan kembali." Batin Mateo.
Tapi satu hal yang tidak Mateo ketahui bahwa wanita yang baru saja meninggalkannya telah membuat keputusan yang jauh lebih besar.
Ivy tidak akan pernah kembali ke kehidupan lamanya.
Malam itu, sebuah mobil meninggalkan rumah Mateo.
Di kursi belakang, Ivy memeluk sebuah kotak kecil berisi barang-barang milik Grizella.
Air mata mengalir untuk terakhir kalinya.
"Selamat tinggal, Grizella."
Ia mencium foto putrinya.
"Mommy janji..."
Tatapannya berubah.
"Mommy akan belajar hidup tanpa menangis lagi."
Bersambung