Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Guling Hidup
Pagi hari menyapa dengan sinar matahari tipis yang menembus celah gorden kamar utama.
Naya terbangun dengan perasaan sangat segar. Tidurnya semalam terasa begitu lelap dan nyenyak, tanpa ganguan sama sekali. Ia menggeliat pelan, mendapati sisi kasur di sampingnya sudah kosong dan rapi.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Naya melangkah lincah menuju dapur. Suasana hatinya begitu baik. Ia mulai sibuk meracik sarapan simpel, nasi goreng mentega dengan telur mata sapi dan beberapa potong sosis, lengkap dengan dua cangkir kopi hitam hangat kesukaan Arka.
Aroma harum masakan memenuhi area dapur dan meja makan saat Arka keluar dari kamar.
Naya tersenyum ramah, menyapa pria itu dengan nada ceria yang jauh lebih santai dibanding semalam.
“Selamat pagi, Pak Arka! Sarapannya sudah siap.”
Namun, senyum Naya perlahan memudar saat memperhatikan penampilan bosnya sekaligus suami sahnya pagi ini.
Arka berjalan layaknya orang yang baru saja melewati pertempuran berat. Kemeja kerjanya memang sudah terpasang, tetapi matanya dipenuhi garis merah tipis, dan lingkaran hitam terlihat menghiasi bagian bawah matanya. Pria itu bahkan tidak membalas sapaan Naya dengan ketegasan biasanya.
Arka hanya menarik kursi meja makan dengan gerakan lambat, lalu menguap lebar-lebar tanpa ditutup-tupi.
“Pak Arka... Bapak tidak apa-apa?” tanya Naya ragu, melirik cemas saat Arka menuang kopi dengan tangan yang tampak agak lemas.
“Wajah Bapak kelihatan pucat sekali. Tidurnya kurang nyenyak, ya?”
Arka menghentikan cangkir kopinya yang baru menggantung beberapa sentimeter di depan bibir. Matanya beralih menatap Naya yang berdiri polos di seberang meja, tampak benar-benar segar dan tanpa dosa.
“Kurang nyenyak?” batin Arka menahan dongkol.
Pria itu menguap sekali lagi, mengusap tengkuknya yang terasa pegal luar biasa akibat menahan posisi tubuh yang kaku sepanjang malam demi tidak membangunkan "guling hidup" nya.
“Ya,” sahut Arka singkat dengan suara serak berat. “Ada gangguan tidak terduga semalam.”
Naya mengedipkan mata, merasa heran.
“Gangguan? Masuk angin, Pak? Atau AC-nya keseringan kumat dinginnya?”
Arka menatap gadis di depannya itu dalam-dalam, lalu menghela napas panjang dan menyesap kopinya lambat-lambat.
“Bukan AC. Tapi ada 'musang kecil' yang mendadak berubah jadi gurita dan mengunci saya sampai subuh.”
Naya mengerutkan dahi, sama sekali tidak menangkap maksud kata-kata Arka.
“Hah? Gurita di lantai atas, Pak?”
Arka menatap Naya datar, menahan gemas yang sudah di ujung kepala. Bisakah wanita di depannya ini sadar sedikit saja kalau "gurita" yang dimaksud adalah dirinya sendiri?
“Bukan di lantai atas, Naya,” sahut Arka pelan, meletakan kembali cangkir kopinya ke atas piring kecil dengan denting halus.
“Tapi di atas kasur saya.”
Naya makin mengernyit. “Hah? Bapak indigo ya? Jangan nakut-nakutin dong, Pak. Rumah sebagus ini masa ada pesugihan gurita?”
Arka memijit pangkal hidungnya yang terasa pening.
“Yang nempel dan memeluk saya dari jam dua pagi sampai subuh itu kamu, Naya. Tangan kamu mengunci leher saya, kaki kamu nangkring di atas paha saya. Saya mau bergerak sedikit saja kamu malah makin rapat.”
Keheningan seketika menyelimuti area meja makan.
Naya membeku di tempatnya. Senyum polos yang tadi menghiasi wajahnya hilang tanpa bekas, berganti dengan rona merah padam yang menjalar cepat dari leher hingga ke ujung telinganya. Otaknya mendadak bekerja keras memutar ulang ingatan semalam, dan barulah ia teringat rasa hangat empuk yang sempat ia peluk erat-erat karena mengira itu guling kesayangannya.
“Sa... saya, Pak?” cicit Naya, suaranya naik satu oktaf.
“Menurut kamu? Memangnya di kamar itu ada orang lain selain kita berdua?” Arka menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Naya yang kini mematung sambil memegang spatula.
“Pantas saja tidur kamu nyenyak sekali. Kamu menjadikan suami kamu sendiri sebagai guling.”
Naya reflek menutup wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan rasa malu yang luar biasa.
“Ya ampun... Pak Arka, maaf! Demi Allah saya tidak sadar! Saya kira itu guling yang biasanya di rumah mama!”
“Guling tidak bisa bernapas dan tidak punya detak jantung, Naya,” balas Arka, walau ada kilatan geli tipis di matanya melihat reaksi panik Naya.
“Gara-gara kamu, leher saya kaku dan punggung saya mau patah rasanya.”
“Maaf, Pak... beneran maaf...” Naya menunduk dalam-dalam, sama sekali tidak berani menatap mata Arka.
“Lain kali saya akan tidur di pinggir banget deh, atau... atau saya tidur di sofa luar saja!”
“Tidak perlu sedramatis itu,” potong Arka cepat. Pria itu menyantap sepotong sosis dengan gerakan tenang, menikmati perubahan drastis suasana hati istrinya.
“Lagipula, sarapan buatan kamu lumayan untuk membayar penderitaan punggung saya pagi ini.”
Naya pelan-pelan mendongak sembari melirik ragu. “Beneran tidak apa-apa, Pak?”
“Hm. Cepat duduk dan makan sarapanmu,” perintah Arka dengan nada tegasnya yang sudah kembali.
Naya berdehem pelan, berusaha menguasai dirinya yang masih sangat canggung. Ia merapikan roknya sedikit lalu duduk di kursi seberang Arka, menarik piring nasi gorengnya dengan gerakan hati-hati.
“Kamu sendiri hari ini mau ke mana? Mengingat kamu sudah berhenti dari bar,” tanya Arka santai di sela-sela kunyahannya, memecah kecanggungan yang sempat menggantung.
Mendengar pertanyaan itu, Naya langsung menegakkan punggung. Rasa malunya seketika teralih oleh semangat baru.
“Rencananya hari ini saya mau mulai sebar berkas lamaran lagi, Pak. Saya harus cepat dapat pekerjaan baru,” jawab Naya jujur. Ia kemudian mengaduk makanannya pelan sebelum melanjutkan, “Sama nanti siang saya ada janji ketemu vendor dekorasi dan catering buat acara gala amal yayasan. Oma Soraya kemarin pesan supaya saya ikut memantau persiapannya.”
Arka menghentikan kunyahannya sejenak, mengamati keseriusan di wajah istrinya. Ada rasa kagum tipis yang tersirat dari tatapannya, wanita di depannya ini tidak pernah menuntut kemewahan dari pernikahan mereka, bahkan tetap gigih berjuang mandiri.
“Soal lamaran kerja, jangan terburu-buru. Selesaikan dulu urusan gala amal Oma,” kata Arka tegas namun bernada tenang.
Pria itu meraih cangkir kopinya kembali. “Kalau untuk janji dengan vendor nanti siang, jam berapa?”
“Jam satu siang di daerah Senopati, Pak,” sahut Naya cepat.
“Baik. Nanti siang supir kantor akan jemput kamu di rumah. Jangan pergi sendiri naik angkutan umum membawa berkas-berkas gala amal Oma.”
Naya membelalakkan mata, kaget. “Eh, tidak usah Pak! Saya bisa naik ojek online kok, saya tidak mau merepotkan—”
“Ini perintah. Bukan penawaran,” potong Arka tenang namun tak terbantahkan, lalu meminum kopinya hingga tandas. “Oma sangat memperhatikan acara ini. Saya tidak mau kamu terlambat atau ada kendala di jalan.”
Naya memiringkan kepala, menatap Arka yang sibuk merapikan lengan kemejanya.
“Tapi Bapak sendiri nanti ke kantor naik apa kalau supirnya dipakai saya?”
“Saya bisa menyetir sendiri. Bagasi mobil satu lagi juga lebih dari cukup untuk bawa sampel dekorasi kalau kamu memang butuh,” jawab Arka santai. Pria itu bangkit dari duduknya, meraih jas yang sempat disampirkan di sandaran kursi.
“Setidaknya kalau kamu diantar supir, saya tidak perlu cemas kamu kesasar atau helm ojek online merusak tatanan rambutmu sebelum bertemu vendor.”
Naya menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang mendadak ingin terbit. Ada nada perhatian terselubung di balik kalimat datar itu, meski ia ragu apakah Arka benar-benar cemas atau sekadar bertindak sebagai 'bos' yang bertanggung jawab atas citra keluarganya.
“Terima kasih banyak, Pak Arka. Kalau begitu saya ikuti perintah Bapak,” sahut Naya pelan, berusaha kembali bersikap sopan.
Arka menghentikan langkahnya sejenak tepat di samping meja makan, menatap Naya dari atas ke bawah sebelum matanya tertuju pada bibir gadis itu yang masih menyisakan sedikit bekas bumbu nasi goreng. Tanpa peringatan, Arka mengulurkan tangan, mengusap sudut bibir Naya dengan ibu jarinya secara refleks.
Naya menahan napas seketika. Tubuhnya kaku, matanya membelalak menatap Arka yang jaraknya kini hanya belasan sentimeter dari wajahnya.
“Kalau makan yang bersih. Kamu bukan anak kecil lagi,” ujar Arka tenang, mengusapkan jarinya ke tisu di meja tanpa menunjukkan rasa canggung sedikit pun, seolah tindakan refleksnya barusan adalah hal paling wajar di dunia.
“I-iya, Pak...” cicit Naya dengan wajah yang kembali hangat.
Arka meraih tas kerjanya, lalu berbalik menuju pintu utama. Namun, baru melangkah tiga titik, ia menghentikan langkahnya lagi dan menoleh sedikit.
“Oh, satu hal lagi.”
“Apa, Pak?” tanya Naya cepat.
“Nanti malam, pastikan guling yang sebenarnya sudah ada di tengah-tengah kasur,” kata Arka dengan garis bibir yang terangkat tipis, sebuah senyum tipis yang sangat langka.
“Punggung saya tidak menerima toleransi pertempuran dua malam berturut-turut.”
Sebelum Naya sempat melempar serbet di tangannya, Arka sudah lebih dulu melangkah keluar, meninggalkan suara pintu depan yang tertutup rapat dan Naya yang kini sibuk menepuk-nepuk pipinya yang terasa terbakar.
–tbc–
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak