“Nikah sama aku saja, Aluna.”
Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.
Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.
Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal
mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Peka
Rafa dan Aluna duduk bersama ditaman belakang rumah Aluna, mereka menikmati angin sejuk sore hari dengan pemandangan yang asri.
Sudah seharian ini Rafa dirumah Aluna namun tampaknya ia sama sekali tidak ingin pulang, bahkan dia sempat tidur siang di kamar tamu tadi. Kamar tamu yang sudah hampir menjadi kamarnya sebelum ia pergi ke luar negeri dulu, saking seringnya ia dirumah Aluna saat itu.
"Om sama Tante kok belum balik yah dari tadi pagi Al?." Tanya Rafa penasaran
"Keknya pergi pertemuan keluar di rumah kak Sarah." Jawab Aluna
Ia memang sudah membaca dari grup keluarga kegiatan orangtuanya hari ini.
"Kak Sarah siapa?." Tanya Rafa tidak mengenali tunangan Andrew
"Tunangannya kak Andrew." Jawab Aluna singkat, seketika Rafa teringat wanita tersebut.
"Oh perempuan yang waktu itu ada dirumah kamu yah? Yang waktu aku jemput kamu, kita mau reuni di restorannya Juna." Rafa mengingatnya dengan antusias setiap momen hari itu.
"Iya yang itu. Bentar lagi mereka mau nikah, jadinya semua persiapannya udah mulai direncanakan." Jelas Aluna membenarkan
"Lama juga yah, dari pagi sampai sore gini belum selesai."
"Mungkin udah selesai sih, Papa sama Mama mungkin mampir ke rumah Opa sama Oma soalnya deket, mereka di satu cluster yang sama."
"Wah cepet juga yah bang Andrew, bang Abra aja belum." Kata Rafa merasa kagum walau ia sama sekali tidak suka sikap Andrew pada Aluna.
"Ngapain Lo bawa-bawa gue?." Suara berat Abra mengagetkan keduanya.
"Eh bang Abra."
Rafa tersenyum canggung saat Abra ikut duduk dan bergabung dengan mereka.
"Yang ini jangan ditanya, lagi sibuk ngembangin perusahaan. Calon direktur, lagi sibuk banget." Aluna menjawab pernyataan Rafa sambil membanggakan kakak sulungnya .
"Buat keberlangsungan perusahaan keluarga." Ucap Abra merendah.
"Keren." Puji Aluna mengacungkan dua jempolnya untuk Abra.
Abra sendiri merasa salah tingkah mendapat pujian dari adik bungsunya itu.
"Ohiyaa, semalam kak Abra mau ngomong apa?." Tanya Aluna baru ingat tadi malam kakaknya mau bicara dengannya.
"Kakak lupa." Jawab Abra berbohong
Setelah lama memikirkannya, ia akhirnya memilih untuk memberikan kesempatan untuk adiknya.
Pergulatan batinnya sebenarnya sangat dalam antara mengizinkan adiknya karena ia tau pasti tidak mudah menjalankan semua rencananya, tapi disisi lain ia tidak tega jika adiknya bekerja walaupun itu diperusahaan sahabatnya sendiri, terlebih Abra tau Kai sangat profesional.
Belum lagi kalau Aluna sampai ketahuan oleh orangtua mereka. Tapi Abra sudah memutuskan, ia akan memberi kesempatan untuk Aluna, toh hanya satu bulan saja.
"Bikin penasaran aja." Cibir Aluna merasa sedikit lega
"Yah namanya juga udah lupa." Jawab Abra sewot
"Gimana perusahaan keluarga lo Rafa?." Tanyanya pada Rafa untuk mengalihkan pembicaraan
"Lancar aja bang." Jawab Rafa
"Kalau perusahaannya nyokap di London?."
"Aman banget, Mama best banget untuk urusan bisnis."
Aluna melihat ekspresi wajah Rafa yang terlihat sangat bangga saat memuji Mamanya. Aluna tau, Rafa sangat dekat dengan Mamanya, tapi entah kenapa Rafa malah lebih memilih untuk ikut Papanya sejak perceraian kedua orangtuanya, padahal kalau dia mau dia bisa ikut Mamanya.
"Buah jatuh gak jauh dari pohonnya lah yah, anaknya aja udah sehebat ini." Puji Abra tulus, ia sangat bangga pada Rafa
"Bang Abra bisa aja."
Ucap Rafa merasa salah tingkah sendiri dengan pujian tulus dari Abra.
"Gue lihat-lihat kalian berdua makin lengket aja sejak Lo pulang dari luar negeri." Kali ini Abra menggoda keduanya
"Dia yang ngikutin aku mulu kak." Cibir Aluna
"Kangen banget tau, kamu harus tau gimana menderitanya aku lima tahun disana dan cuma bisa ngobrol sama kamu lewat telpon." Ucap Rafa secara blak-blakan, Abra hampir tertawa mendengarnya karena Rafa sudah seperti mengungkapkan seluruh isi hatinya
"Dia juga kesepian tau gak ada lo, temen kalian banyak tapi yah yang treat dia kek princess cuma lo." Kata Abra yang dihadiahi tatapan tajam oleh Aluna
"Mau aku treat seumur hidup gak?." Tanya Rafa menggoda Aluna
"Itu udah jadi kewajiban kamu jadi gak usah nawarin." Jawab Aluna
Abra menahan tawanya karena ketidakpekaan adiknya pada kata-kata Rafa yang bisa membuat hati gadis manapun luluh walau dibungkus dengan candaan.
"Adek gue gak peka banget, kata gue sabar-sabar deh lo Rafa."
Batin Abra gemas sendiri dengan adiknya, ia saja bisa tau arah tujuan pembicaraan Rafa, masa yang sudah dikasih terang-terangan begini malah tidak bisa dilihat oleh Aluna.
"Huffttt." Rafa menghela napasnya berat mendengar jawaban Aluna
"Berat banget yah kalau harus treat aku seumur hidup?." Tanya Aluna yang malah merasa Rafa keberatan dengan ucapannya tadi.
"Enteng Al, enteng banget sumpah." Jawab Rafa pasrah
"Gitu dong."
Abra tertawa melihat ketidakpekaan adiknya pada sahabatnya. Padahal jika orang lain yang melihatnya, sudah pasti bisa langsung tau dari tatapan mata saja kalau Rafa sangat jatuh pada Aluna.
***
Pagi berikutnya. Hari Senin, hari yang ditunggu oleh Aluna. Berbeda dengan orang lain yang sangat membenci hari Senin, Aluna justru mulai menyukai hari tersebut, hari dimana rutinitas barunya dimulai lagi.
Ia sudah siap sejak tadi pagi, badannya terasa sangat segar setelah beristirahat kemarin. Kebetulan Rafa tidak sampai malam dirumahnya, jadinya saat sorenya Rafa pulang, Aluna langsung naik ke kamarnya dan tertidur pulas semalaman.
"Oke udah pas semua. Let's go Aluna, Monday is waiting for you." Gumamnya
Ia merasa sangat puas saat melihat pantulan dirinya di cermin pagi ini.
Setelah selesai bersiap, ia lalu turun ke meja makan untuk sarapan bersama keluarganya.
***
Saat ia masuk ke dalam ruang makan, tatapan Abra tidak pernah lepas darinya.
Abra merasa kesal sendiri karena sudah tau tujuan adiknya pagi ini, tapi ia juga tidak tega jika harus membongkar rahasia adiknya, terlebih saat Kai mengatakan Aluna memohon-mohon padanya agar Kai menyimpan rahasianya.
"Kak Abra..."
"Kak..."
Aluna memanggil manggil Abra tapi ia malah larut dalam lamunannya.
"Kak Abra!." Seru Aluna membuyarkan lamunan kakaknya
"Kenapa?." Tanyanya terkejut
"Minta selai rotinya." Pintanya seperti biasa
"Makan nasi aja." Perintah Abra dan menjauhkan selai roti itu dari jangkauan Aluna
"Gak mau aku maunya makan roti aja." Tolak Aluna
"Nasi aja, mulai hari ini kamu sarapan makanan berat." Kata Abra kekeh, ia tidak mau jika adiknya kehabisan tenaga pada saat kerja karena hanya sarapan sepotong roti saja.
"Loh kok ngatur." Cebik Aluna kesal
"Bener kata kakak kamu Al, kamu selalunya sarapan roti. Emang kenyang?." Tanya Mamanya menimpali
"Kenyang kok." Jawab Aluna yakin
"Nih makan yang banyak."
Tanpa persetujuan Aluna, Abra menyendok kan nasi goreng diatas piring Aluna
"Kak Abraaa, terlalu berat ini sarapannya, masih pagi." Rengek Aluna
"Udah makan." Ucap Abra tegas.
Mau tidak mau Aluna meraih sendok dan garpu lalu mulai menikmati sarapan paginya.