Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Air Mata di Ujung Jalan Pulang
Cynthia melangkah gontai meninggalkan gerbang megah Keluarga Hutapea. Setiap langkahnya terasa berat seakan kakinya terikat rantai yang tak kasat mata. Punggungnya membungkuk perlahan, seakan tak sanggup lagi memikul beban rasa sakit yang bertumpuk menindih dadanya. Air matanya mengalir deras tanpa henti, membasahi pipi yang kini terasa dingin dan basah kuyup. Di tangannya, foto bayi dan buku harian yang tadi ia genggam erat seakan menjadi bukti kesia-siaan, kini terasa begitu ringkih dan tak berharga di hadapan kilauan berlian yang melingkar indah di leher Karen. Semua yang ia bawa seakan tak berarti apa-apa di mata orang-orang yang seharusnya melindunginya sejak lahir.
Langit yang tadi masih memerah senja, kini mulai berubah kelabu mendung. Angin berhembus lebih kencang, menyapu rambut dan pakaian sederhana yang dikenakan Cynthia, seakan alam pun ikut bersimpati pada nasibnya yang begitu menyedihkan. Ia melangkah tanpa arah, tak tahu harus pergi ke mana. Kembali ke rumah tempat ia dibesarkan? Di sana pula dua orang yang selama ini ia sebut Ibu dan Ayah sedang bersiap merayakan keberhasilan kebohongan besar mereka. Menerima Karen pulang dengan segala kemewahan dan kehormatan, sementara dirinya diusir tanpa belas kasihan sebagai wanita pengganggu yang iri hati.
Cynthia berhenti sejenak di pinggir jalan sepi yang berkelok menuruni bukit. Ia menatap ke belakang, ke arah rumah megah yang kini tampak semakin jauh dan samar tertutup kabut senja. Di dalam sana, orang tua kandungnya sedang memeluk Karen erat, tersenyum bahagia, menangis haru, saling menumpahkan rindu yang seharusnya ditujukan kepadanya. Pelukan itu, senyum itu, air mata rindu itu... semuanya dirampas secara licik oleh kebohongan yang disusun rapi oleh orang yang selama ini ia anggap keluarga sendiri.
"Kenapa..." isaknya lirih, suaranya pecah di tengah desir angin. "Kenapa harus aku yang menderita seperti ini? Apa salahku selama hidup... aku tak pernah meminta kemewahan, tak pernah meminta kedudukan. Aku hanya ingin tahu siapa diriku sebenarnya. Mengapa kebenaran saja begitu sulit untuk kumiliki?"
Cynthia menyandarkan tubuhnya yang lemas tak bertenaga pada sebatang pohon besar di pinggir jalan. Lututnya terasa lemas seketika hingga akhirnya ia terjatuh duduk di atas rumput yang mulai basah oleh embun sore. Tangannya gemetar menutupi wajah, menahan tangis yang tak lagi mampu dibendung. Rasanya seluruh dunia telah berpaling darinya. Di saat yang paling berat ini, tak ada satu pun yang membelanya. Tak ada yang percaya pada ucapannya. Semua seakan bersekongkol menjatuhkannya ke dasar penderitaan yang paling dalam dan gelap.
Namun di tengah keputusasaan yang menyelimuti hatinya sepenuhnya, sepasang sepatu bersolek tua berhenti tepat di hadapannya. Cynthia perlahan mengangkat wajah yang basah berair mata, pandangannya kabur namun perlahan mulai terlihat jelas. Di hadapannya berdiri seorang wanita tua yang tampak sederhana namun bersih pakaiannya, dengan wajah yang teduh dan mata yang seakan menyimpan ribuan kisah masa lalu. Wanita itu menatap Cynthia lekat-lekat, seakan sedang menelusuri jejak wajah yang telah lama hilang dari pandangannya.
"Nak..." suara wanita itu lembut namun tegas, menembus kesedihan yang menyelimuti hati Cynthia. "Mengapa kau menangis tersedu-sedu sendirian di sini? Bukankah kau seharusnya sedang bersukacita di dalam rumah besar yang berdiri di atas bukit itu?"
Cynthia mengusap air matanya dengan punggung tangan yang gemetar hebat, mencoba tersenyum walau terasa begitu perih dan berat. "Saya... saya tidak diterima. Mereka menganggap saya pembohong yang ingin merebut tempat orang lain. Kalung penanda itu... sudah dipakai oleh wanita lain. Ibu yang membesarkan saya diam-diam menyerahkannya kepadanya agar saya tidak dipercaya oleh siapa pun. Saya tak memiliki bukti yang cukup untuk membuktikan kebenaran..."
Wanita tua itu menghela napas panjang yang penuh makna, lalu perlahan berjongkok menyamakan tingginya dengan Cynthia. Matanya menatap lekat tepat ke dalam manik mata Cynthia, seakan menelusuri sesuatu yang sangat berharga di balik wajah yang penuh air mata itu.
"Kalung penanda memang dianggap bukti oleh banyak orang," ucap wanita itu perlahan dan tenang. "Tapi hati seorang ibu... tidak bisa dibohongi oleh batu berlian sekalipun. Kalung bisa dipindahkan dari leher siapa ke leher siapa, bisa dipakai oleh siapa saja. Namun darah yang mengalir di tubuhmu... tak akan pernah bisa digantikan atau dipalsukan oleh siapa pun. Dan matamu... sorot matamu itu persis seperti mata ibumu kandung saat ia masih muda. Kalung bisa diambil alih, tapi ketulusan hatimu dan tatapan matamu... tidak bisa dibuat-buat."
Kata-kata itu seakan menyentuh hati Cynthia yang paling dalam dan terluka. Ia menatap wanita tua itu lekat-lekat, seakan ada secercah harapan yang mulai tumbuh kembali. "Ibu... Ibu mengenal saya sejak kecil?"
Wanita tua itu tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. "Saya dulu bekerja di rumah itu. Saya yang membungkusmu dengan kain lembut saat kau baru saja lahir ke dunia. Saya yang melihat wajah mungilmu pertama kali. Dan saya juga yang melihat... bagaimana kau dibawa pergi secara diam-diam dari ruang inkubator oleh seorang wanita yang bekerja di rumah sakit itu. Saya tak bisa berbuat banyak saat itu, karena ancaman membuat saya tak berdaya."
Jantung Cynthia berpacu kencang mendengar pengakuan itu. Selama ini tak ada satu pun yang percaya padanya. Namun di saat ia merasa paling hancur dan tak berharga, datanglah seseorang yang mengetahui kebenaran sesungguhnya sejak awal.
"Kau..." wanita tua itu menyentuh pelan bahu Cynthia dengan tangan keriput namun hangat. "Kau tidak perlu membuktikan apa pun hanya dengan sepotong kalung. Bukti terbesarmu adalah dirimu sendiri. Tunggu waktu yang tepat. Saat hati mereka tenang dan pandangan mereka jernih... kebenaran pasti akan bersinar terang, tak bisa ditutupi oleh kebohongan setebal apa pun."
Cynthia menahan napas, menatap wanita itu dengan harapan yang perlahan tumbuh kembali dari keputusasaan. "Lalu... apa yang harus saya lakukan sekarang?"
"Kembalilah dulu. Istirahatlah. Jangan menyerah pada keadaan. Ingatlah hal ini: kalung yang dipakai wanita itu hanyalah separuh bagian. Sedangkan separuh lainnya... masih tersimpan rapi di tempat yang seharusnya. Saat kedua bagian itu bersatu kembali... barulah semua orang akan tahu siapa pemilik aslinya yang sejati."
Wanita tua itu berdiri perlahan, lalu melangkah pergi meninggalkan Cynthia yang masih terpaku duduk di sana. Sebelum hilang di balik belokan jalan, wanita itu menoleh sekali lagi.
"Jangan pernah menyerah, Nak. Darahmu tidak akan pernah berdusta. Percayalah pada waktunya. Segala sesuatu ada pengaturannya."
Cynthia duduk termenung cukup lama di tempat itu. Air matanya telah berhenti mengalir. Di dadanya kini tumbuh kekuatan baru yang tak terduga. Kalung itu baru separuh? Lalu separuh lainnya tersimpan di mana? Dan kapan waktunya akan tiba untuk menyatukannya kembali?
Sementara itu, di balik pepohonan tak jauh dari sana, sepasang mata yang sedari tadi memantau akhirnya tampak tenang. Pria itu tersenyum tipis melihat Cynthia yang mulai menguat kembali, lalu melangkah mundur perlahan tanpa mengganggu. Ia belum pergi sepenuhnya. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali berdiri di samping wanita yang dicintainya.
Dan di rumah megah Keluarga Hutapea, Ibu kandung Karen tersenyum puas melihat Karen duduk di samping Tuan dan Nyonya Hutapea, menikmati kemewahan dan kasih sayang yang seharusnya menjadi milik Cynthia. Namun tak ada satu pun yang tahu... bahwa separuh kalung penanda yang sesungguhnya masih tersimpan rapi di tempat yang tak disangka-sangka, dan rahasia besar itu perlahan-lahan mulai membongkar dirinya sendiri.