Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 vs Everyone
Aro segera tertoleh, kembali menilik sekitar. Dan benar, anak itu tersentak –sudah ku duga.
Suasana kota terbungkam hujan, riuh tapi senyap. Kami berdiri di tengah lahan parkir, tepat di sebelah mall besar. Mungkin ada lima belas menit kami bertahan sebelumnya, ku kira akan selesai jika berhasil keluar kepungan di mall. Tapi tidak. Pengepungan sebenarnya baru akan di mulai.
Wajah kami membeku, serius menatap sekitar. Beberapa orang mulai muncul. Tentu dengan perawakan dan properti yang lebih kokoh dan meyakinkan. Armor, dan senjata mereka lebih futuristik dan menakjubkan. Terutama dua orang di depan kami, tampak seperti karakter super hero. Pertama seorang wanita dewasa, perawakan tegap tinggi, gestur tegas tapi tetap cantik. Dia menggenggam sebuah alat berbentuk e.... gak asing. Ah iya, bernekel logam.
Satu lagi seorang pria dewasa, dia tidak memakai armor apapun, hanya jaket kulit dan celana jeans panjang. Sesuatu yang menarik darinya adalah sebuah jubah berwarna metal. Cahaya lampu terpantul di kilapnya.
Beberapa detik lengang hingga banyak orang telah berdiri membundar di sekeliling kami. Bukan pasukan tantara dengan senjata api sebelumnya. Tapi pasukan dengan kekuatan yang belum pernah ku temukan. Aktifitas senjata mereka mulai mendesing. Terdengar percik api, rangkaian elektronika, pedang plasma yang menyalakan cahaya biru, perisai tangan transparan dan masih banyak lagi.
Kabar buruk bagiku dan Aro. Kekuatan mereka sulit diprediksi, menggunakan senjata yang tampak mutakhir. Sementara kami? Hanya mengandalkan tinju kosong dan fisik yang lain.
Senyap, tegang di tatap mereka. Menyisakan hujan yang semakin deras. Langit gelap, parkiran luas tetap terang dengan lampu terang tegangan tinggi.
Wanita di depanku menjulurkan tangan. Bernekel logam yang mengunci di jarinya mulai membentuk proyeksi biru, berakhir seperti belati kerambit. Cahayanya berpendar. “Peringatan terakhir. Milih kami bius atau, plasma panas ini melelehkan kulitmu?” Ujar tegas wanita tersebut. Jujur saja, dia memiliki wibawa yang sangat kuat.
Aku menelan ludah, menatap Aro di samping. Apa yang bisa kami lakukan?
Aro menurunkan alis, tak kalah serius. “Kami tidak bersalah_
“Itu tidak akan berguna” Pria berjubah yang membalas. “Akui saja, peraturan yang ada memang arogan. Tapi damai belum tentu terus dihasilkan dari perdamaian antara dua belah pihak, kedamaian bisa saja lahir dari ke egoisan”
“Cih!!” Aro tercekat. Matanya melebar jeri. Wajah lelaki di sampingku itu semi sebal dan tampak kehabisan kata. Jari-jari di tangannya mulai mengepal kuat.
Aku di samping juga tak menyangka balasannya akan seperti itu. Wajahku mengeras. “Dasar manusia kecil, berkata besar seolah akan mengubah semuanya” Sahutku bergetar.
Tidak ada balasan. Dua orang barusan hanya membalas menatap redup ke arah kami. Lengang sesaat. Pasukan di sekitar kami menunggu kepastian.
Katana plasma muncul di satu tangan wanita di dapanku. Senjatanya bertambah. Dia membawa kerambit dan katana yang sama-sama ber-energi plasma.
Entah kenapa emosiku juga kembali meluap saat ini. Tapi itu baik, aku jadi bisa lebih fokus.
Hujan terus menderu suasana. Membasahi semuanya. Lengang, intuisiku baru saja meniti semua energi yang timbul dari pasukan dan dua orang di depanku, hasilnya sangat beragam. Ini berguna agar aku tahu posisi mereka.
Lengang_
Tas!! Wanita di depanku menghempas, bulih hujan terpecah menjadi tempias. Tubuhnya menghilang di tempat. Tiba di samping Aro sekejap. Mengayunkan pedang birunya.
Aro tidak terkejut. Fokusnya menaik drastis. Pandangan masih lurus ke depan. Namun tubuhnya bergerak lentur menghindari serangan sang wanita.
Pedang mengenai udara kosong. Aro –kedua kakinya tidak berpindah sama sekali, balas meninju. Bug! Wanita tersentak, Aro beringas berputar, tangan satunya bergerak cepat sekali. Deg! Di tahan lawannya.
Aro mendorong wanita itu, terpundur setengah meter. Itu pertarungan mereka. Sementara aku juga mulai melakukan teknik cepat. Tes! Muncul seketika di samping pria jubah. Pria itu tidak sadar.
Tinjuan kuat melayang.
Tertahan, aku terksima, bukan prianya yang menangkis. Melainkan jubah, benda itu mengeras seperti logam padat –bergerak sendiri menutupi bagian tubuh yang kuincar.
Pria di depanku sadar. Tangannya mulai mencengkram kain (Entah kain atau bukan) jubah, menariknya hingga terlepas. Lantas dengan aneh, benda itu mengerucut menutupi tangan hingga lancip, berubah tajam.
Gantian membalas. Coba menusuk menggunakan benda tersebut.
Aku mengehentak kaki menghindar. Tidak kena, gerakanku jauh lebih cepat.
Tes! Lanjut, gerak gesit lagi ke sisi lain pria jubah. Serangan orang itu tidak mengenai apapun –aku sudah tiba di belakangnya siap meninju. BUG!! Terkena telak. Lawanku terpental ke depan. Ingin jatuh –kepala mengarah kebawah, lantas melakukan aksi akrobatik memutar seluruh tubuh. Berakhir berdiri normal.
Pria jubah melesat, maju lagi. Pasukan di sekitar tidak diam. Ikut menyerang.
Aku pasti bisa lebih cepat dari ini.
Di front pertarungan Aro, lelaki itu semakin mengimbangi wanita yang dia lawan. Sekian tinju dia lancarkan, gesit-bertenaga. Wanita yang dia lawan lekas menangkis, kerambit plasma di tangannya hampir tidak berkutik.
Tidak berhenti, wanita itu balas menyabetkan katana birunya, Aro berhasil menghindar, gerakannya juga cepat. Seketika berpindah, kaki memperosok di atas becek, cepat cari celah. Dapat, tinju lagi, dari samping, wanita di depannya berkelok, meleset, tapi tinju lain menyusul cepat, wanita itu tidak siap –bahkan tidak sadar. Tubuhnya terhunjam keras, tersentak ke belekang.
Aro maju lagi, tangannya mengepal keras. Tinju, ditahan sang wanita –bersamaan kerambit birunya bergerak.
Tangan di depannya reflek bereaksi, menahan dari lekukan siku, kerambit barusan tertahan. Balas pukul lagi Bugg!!! Wanita tersentak ke belakang.
Aro maju lagi –tangannya telah siap, sementara wanita masih limbung. Bug!! Armor, yang berbahan karbon padat, tembus berlubang.
Wanita yang dia lawan berseru tertahan. Air liurnya tersentak keluar dari mulut.
Terakhir, kaki Aro menghantam perut Wanita itu, ia terbanting hebat, tersungkur atas aspal.
Aro tersengal, tak terasa ia semakin cepat dan kuat. Matanya menyipit, menemukan suatu nama di armor wanita yang dia lawan : ‘Rosmi’
Kembali di frontku. Beda dengan Aro yang by one. Kali ini semua pasukan mengerahkan kekuatannya ke arahku. Satu versus hampir lima puluh orang.
Bugh!! Bugh!! Dua orang tersentak, senjata plasmanya terpental tidak berguna. Aku menghentak lagi Tes! Satu langkah, gerakanku terlalu cepat, kemudian muncul di hadapan sesorang. Bugh!! Pukul lagi. Terpental, tapi dia maju lagi.
Bekelebat lagi, szas!. Sekejap tiba di orang yang baru saja memutar badan. Bugh!!! Orang tersebut terbanting. Perisai tangannya padam.
Pindah lagi, Bughh!! Pedang biru terlontar.
Satu orang datang, Bugh!! Beseru tertahan. Aku hanya perlu bergerak sedikit, Tes! pindah tempat, menggerakan tangan. Satu orang tumbang. Tubuhku mulai tampak menari-nari di antara orang-orang yang rusuh kebingungan –karena aku terlalu cepat, berkelok di sela-sela hingar-bingar, pasukan yang segera terporak-poranda panik tak terkendali. Tiba-tiba saja satu orang tertinju, yang lain memindah arah. Tubuhku tak terasa berpindah lagi. Melewati dua sampai tiga orang. Muncul, tinju, satu orang ambruk.
Pindah lagi, mendapat pria jubah –dia juga ling-lung karena kecepatanku. Tiba-tiba saja aku muncul di hadapannya. Jubah nano yang dia pakai merespon –pengggunanya terkesima, siap melindungi.
Aku spontan menghentak kaki. Tubuhku terpelanting di atas pria itu. Mendarat seketika di belakang. Memasok energi di kepalan, tinju melayang cepat, bahkan tak terlihat. BUG!! Telak terkena punggungnya, terpental.
Lamat-lamat ku perhatikan. Jubahnya menunjukan nama: ‘Zetta”
Dua orang tiba di sampingku, siap melancarkan serangan senjata plasma.