NovelToon NovelToon
Kemelut Ego

Kemelut Ego

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: Pandutmia

Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedai Kopi

POV Rastadira

Aku sudah sampai di stasiun sekitar 10 menit lalu. Masih ada waktu kurang lebih satu jam sampai kereta yang kutumpangi datang. Kubuka rujak manis yang kudapat dari Taman Bungkul tadi, satu persatu buah kumasukkan ke mulut, segar dan manis rasanya. Di sela aksi mengunyah kudengar seorang muda-mudi di sebelahku terlibat sedikit perselisihan.

“Ini siapa?” Tanya si wanita.

“Kamu ngapain sih buka-buka WA ku?” Si pria terlihat tidak senang.

“Jawab aja dulu.” Si wanita tetap menanti jawaban.

“Itu cewekku, mau apa kamu?” Dari nada si pria terlihat sekali bahwa dia tipe pria yang seenaknya sendiri.

“Tega kamu ya bilang gitu, kamu udah ngelamar aku loh. Nggak ingat kamu sama cincin ini?” Suara si wanita terdengar serak.

“Kamu nggak usah lebay lah, kita belum nikah.” Si pria masih tak mau kalah.

“Memang ada jaminan setelah nikah nanti kamu setia cuma sama aku?”

“Ya memang nggak ada, terus kamu mau apa, hah?” Si pria balik menantang.

Aku yang berada di kursi sebelah jadi ikut emosi mendengar pertengkaran mereka, belum menikah saja sudah jago selingkuh dan bersikap semaunya sendiri. Aku jadi bersyukur setidaknya aku masih pernah merasakan kesetiaan dari Farhan selama pacaran sampai menikah, meski pada akhirnya kisah pernikahan kami juga ada sedikit bumbu perselingkuhan.

Ponselku berdering, di layarnya tertulis nama Farhan. Ada apa dia meneleponku? Ragu aku mendekatkannya ke wajahku, namun kugeser pula tombol hijaunya.

“Halo, Dir. Kamu dimana?” Suara Farhan terdengar cemas di telepon.

“Kenapa?”

“Jawab aja Dira, kamu dimana?”

“Di stasiun.” Jawabku singkat. Sepertinya dia sedang enggan berdebat di telepon, jadi kujawab saja posisiku dimana.

“Aku kesana sekarang.” Sambungan telepon terputus. Entah apa tujuannya menemuiku, namun tak dipungkiri aku pun senang jika Farhan datang kemari. Hati ini tidak dapat berbohong jika masih mencintainya.

Keretaku akan tiba 50 menit lagi dari jadwal, jika Farhan langsung berangkat saat ini setidaknya butuh waktu 20 sampai 30 menit lagi untuk sampai di stasiun. Lalu butuh waktu juga untuk bicara, akankah aku menunda keberangkatanku ke Jombang? Lalu, aku akan menginap dimana nanti?

Meski ragu kuputuskan juga untuk menunda keberangkatanku, kukirimkan chat ke Farhan untuk langsung masuk ke kedai kopi dekat stasiun. Aku menunggunya disana.

Tepat seperti perhitunganku, 30 menit kemudian Farhan sudah tiba. Ia berjalan masuk ke kafe dan memesan sesuatu di meja kasir, setelahnya ia menuju meja yang kutempati. Tak ada senyuman di wajahnya, matanya pun tidak begitu ramah menatapku meski kulempar senyum padanya.

“Kemana aja kamu selama ini?” Tanyanya, sorot matanya begitu dingin, seperti seorang suami yang sedang mengadili istrinya.

“Kamu baru menanyakan itu sekarang? Buat apa?” Tanyaku tak mau kalah.

“Kenapa selalu balik tanya, sih kalau aku tanya. Jawab aja lah, Dir!” Farhan terlihat kesal.

“Mungkin kamu lupa kalau aku juga sering menanyakan keberadaan kamu saat kamu pergi dari rumah. Tapi apa pernah kamu jawab pertanyaanku? Pernah kamu balas pesanku waktu itu?” Aku membalas kekesalan Farhan dengan rasa penasaranku selama ini. Farhan terdiam, namun tetap menatapku dengan gurat emosi yang terpendam.

“Kamu memutuskan hubungan kita di pengadilan agama hanya karena aku pergi dari rumah. Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku pergi saat itu?” Tangisku pecah saat mengingat malam itu. Belum usai traumaku tiba-tiba Farhan mengirim pesan yang berbunyi ‘aku ceraikan kamu sekarang juga’. Sampai detik ini chat-nya masih kusimpan, sebagai pengingat bahwa aku memang sudah resmi bercerai darinya secara agama.

Farhan masih terdiam, memandangku yang mulai mengeluarkan bulir air mata. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya saat ini, yang kutahu wajahnya masih menegang. Aku harap ada sedikit sesal di hatinya karena telah memperlakukanku seperti ini. Tidak ingatkah dia bagaimana perasaannya terhadapku dulu?

“Aku minta maaf.” Ucapnya perlahan.

“Hanya maaf? Tidak ada penjelasan lain kenapa kamu nggak angkat teleponku, nggak balas pesanku, bahkan menceraikan aku?” Tanyaku dengan nada memburu.

“Maaf. Sebetulnya sudah sejak lama aku ingin kita bercerai.” Kali ini Farhan berucap tanpa memandangku.

“Maksud kamu?”

“Aku uda merasa hubungan kita semakin hambar, ditambah aku dan Puput juga sudah lama dekat.”

Deg. Sudah lama? Bukankah kami jarang sekali bertengkar, lalu kapan hubunganku merenggang sehingga Farhan dengan mudah mendekati wanita lain? Dan sejak kapan ia berkhianat?

“Sejak kapan kamu dekat sama wanita itu?” Kutanyakan juga hal itu, meski aku tahu akan semakin terluka jika mengetahui semua kejelasannya.

“Sejak tahun lalu. Puput teman Febi, kami saling mengenal saat resepsi pernikahan Febi. Saat itu dia baru lulus dan bertanya lowongan kerja di kantor, jadi kami bertukar nomor. Sejak itu kami dekat, apalagi saat dia diterima magang di kantor, setiap hari aku yang mendampingi dia mempelajari semua sistem kantor.” Dengan gamblang Farhan menceritakan detail awal kedekatannya dengan wanita itu. Apa dia sadar jika sudah menyakitiku saat ini?

“Apa dia tahu kalau kamu sudah beristri?” Tanyaku datar.

“Sudah. Aku menceritakan semua kepadanya, dan dia sama sekali tidak terganggu dengan status itu. Dia orang yang tulus, dia yang selalu ngasih semangat aku selama ini.” Farhan mulai memuji wanitanya. Muak aku mendengarnya, Puput yang selalu menyemangatinya selama ini? Lalu tidak ingatkah dia jika aku yang menyiapkan segala keperluannya dari ujung rambut sampai ujung kaki? Tidak sadarkah dia jika ada doa-doaku pula yang menyertai langkahnya selama ini?

Kuambil secangkir minuman cokelat di depanku, kuminum perlahan sambil menahan diri supaya tidak sampai terlihat lemah di hadapan Farhan. Jujur, meski sakit sekali mendengar semua pengakuannya tapi aku juga masih ingin tahu bagaimana mereka menjalani hubungan.

“Sudah sejauh apa hubungan kalian?” Kugigit bibirku perlahan saat menanyakan hal itu. Aku takut mendengar pengakuan menjijikkan dari mulut Farhan.

Farhan menatapku, dan tanpa ragu menjawab hal yang seharusnya tak perlu kutanyakan.

“Seperti yang kamu pikirkan.”

Aku memejamkan mata, mencoba mencerna jawaban Farhan. Jadi benar yang dikatakan Mas Geri. Ya Tuhan, dia manusia beragama juga berpendidikan tapi mengapa begitu mudah menggelincirkan diri pada perbuatan dosa? Seketika hatiku memanas, tidak menyangka kesetiaanku selama ini dibalas pengkhianatan yang begitu kejam. Pantas saja waktu aku sedang bertaruh kehormatan di malam itu, Farhan bergeming tak mengangkat teleponku sama sekali. Pasti waktu itu dia sedang menghabiskan malam bersama Puput, dan membiarkan aku melawan rasa takut seorang diri.

Zalim! Kamu sangat zalim terhadapku, Farhan!

“Lalu, apakah kalian tidak pernah merasa bersalah saat melakukan hubungan itu di belakangku?” Sesederhana itu pertanyaanku, tapi Farhan benar-benar terdiam sesaat.

“Sejujurnya rasa bersalah itu pasti ada, Dir. Tapi, aku benar-benar mencintai Puput, dan takut melepaskannya, sehingga...” Farhan memandangku sekilas. “Sehingga terpaksa aku harus melepaskan kamu.” Lanjutnya.

“Hebat ya kamu, Han. Hanya karena tanaman yang lebih segar sampai membuat kamu mencabut tanaman lama yang bahkan belum layu apalagi mati. Mungkin kamu lupa sama semua janji pernikahan kita, mungkin juga kamu lupa sama janji kamu ke almarhum ayahku. Nggak papa, Han. Aku juga bersyukur terlepas dari laki-laki pezina seperti kamu!” Ucapku tak mau kalah. Sudah cukup tangisku untuknya, kini waktunya aku tersenyum bertepuk tangan atas keberhasilan Farhan menentukan pilihan.

“Aku nggak nyangka kalau hubungan kita bisa berakhir karena orang ketiga, aku pikir pondasi hubungan kita sudah cukup kuat karena telah terjalin bertahun-tahun. Ternyata aku salah,” ucapku sambil tersenyum getir.

“Sekali lagi maaf, mungkin aku sudah menyakiti kamu dan keluarga besar kamu. Tapi aku siap dengan semua makian kalian, ketika aku sudah membuat keputusan itu artinya aku sudah siap dengan segala konsekuensinya.” Farhan berkata bak pendekar yang siap berperang.

“Hei, jangan bicara ngawur ya, Bung Farhan. Keluargaku bukan tipe keluarga bar-bar yang mudah memaki orang. Mereka semua yang mengajarkanku untuk selalu bertindak dengan akal, bukan hanya dengan nafsu belaka seperti yang kamu lakukan. Aku saja yang kamu sakiti secara langsung tidak pernah memaki kamu, kan? Jadi jangan harap keluargaku repot-repot menemui kamu hanya karena masalah sepele seperti ini.” Nada bicaraku mulai tinggi saat Farhan menyangkutpautkan keluargaku. Bagaimanapun, keluarga besarku di Madiun adalah orang-orang yang terhormat menurutku, mereka tidak pernah marah ataupun gegabah dalam menyelesaikan suatu masalah.

“Aku rasa cukup pembicaraan kita, lebih baik kamu pergi sekarang karena aku masih menunggu orang lain setelah ini.” Ucapku sedikit berbohong. Aku masih ingin berlama-lama di kedai ini, tanpa Farhan tentunya. Namun pertanyaan spontan dari Farhan berhasil membuatku cukup terkejut.

 “Apa itu Mas Fariq?” 

 

 

1
Desi
seru sekali kk
Pandutmia: terima kasih kak, ditunggu update bab selanjutnya ya kak 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!