NovelToon NovelToon
My Sweety Sugar Mommy

My Sweety Sugar Mommy

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Romantis
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menempa Ketajaman Garis

Tiga tahun berlalu bagaikan deru angin dingin yang berembus di lereng Gunung Merapi. Waktu tidak hanya mengikis masa-masa muda yang penuh keraguan, tetapi juga mengubah total sosok Arvino. Pemuda yang tiga tahun lalu menapakkan kaki di Yogyakarta dengan koper tua dan kebingungan kini telah bertransformasi menjadi pria muda berusia dua puluh satu tahun yang matang, tenang, dan berwibawa.

Sore itu, gumpalan awan tipis menggantung di atas situs konstruksi sebuah vila peristirahatan dua lantai di kawasan Kaliurang. Suara deru mesin pengaduk semen dan ketukan palu para tukang membahana di udara terbuka. Di tengah riuk-pikuk pembangunan tersebut, Vino berdiri tegap di atas pelat lantai dua yang baru setengah selesai.

Ia mengenakan rompi keselamatan oranye, helm proyek putih, dan kemeja lengan panjang yang tergulung hingga siku. Di jemarinya, terapit gulungan cetak biru spesifikasi struktur. Sorot matanya fokus mengamati pengerjaan balok gantung utama.

Di sampingnya, Mas Danang berdiri bersedekap seraya mengamati gerak-gerik murid utamanya itu dengan binar bangga yang tersembunyi di balik kacamata hitamnya. Tiga tahun gemblengan tanpa ampuh di studio telah membuahkan hasil yang luar biasa.

"Bagaimana menurutmu, Vin?" tanya Mas Danang, menguji analisis muridnya. "Pak Bima bilang pengecoran balok bentang tujuh meter di area tengah ini mau dieksekusi besok pagi menggunakan mutu beton K-300 manual."

Vino menoleh pelan, menggeleng halus sebelum mengulurkan cetak biru ke arah Mas Danang dan Pak Bima, sang mandor senior yang berdiri agak canggung di dekat mereka.

"Tidak bisa, Mas. Kalau dipaksakan pakai pengecoran manual untuk bentang tujuh meter tanpa pengawasan slump test yang ketat, risiko terjadinya honeycomb atau keropos di bagian dalam beton sangat tinggi," ujar Vino dengan nada suara yang tenang, dalam, dan sarat akan kepastian teknis. "Ini area open-space tanpa kolom tengah. Beban mati dari atap baja ringan dan beban hidup lantai atas terpusat penuh di balok ini."

Pak Bima menggaruk tengkuknya yang terbakar matahari. "Tapi Mas Vino, kalau kita nunggu readymix dari batching plant datang, jadwal kita mundur dua hari. Biaya sewa se scaffolding juga membengkak."

Vino menatap Pak Bima dengan raut wajah yang amat santai namun tidak bisa dibantah. "Biaya sewa scaffolding tambahan dua hari tidak ada apa-apanya dibanding risiko keretakan lentur di kemudian hari, Pak Bima. Kalau beton keropos, lendutan balok akan melebihi batas toleransi L per 300. Begitu struktur retak rambut, biaya perbaikannya bisa tiga kali lipat dan mengancam keselamatan penghuni."

Vino lalu mengalihkan pandangannya pada Mas Danang, menjabarkan solusinya dengan wawasan yang begitu luas dan terstruktur.

"Saya sudah memperhitungkan efisiensi anggarannya, Mas Danang," lanjut Vino lancar. "Kita bisa alihkan tenaga kerja besok pagi untuk fokus pada pembesian tangga melingkar dan penulangan plat kantilever di sisi timur. Dengan begitu, tidak ada jam kerja tukang yang terbuang sia-sia sambil menunggu armada readymix masuk lusa pagi. Kita juga tetap menjaga rasio water-cement ratio di angka 0,45 agar kuat tekan karakteristik beton tercapai sempurna."

Mas Danang menahan senyum puasnya. Penjelasan Vino tidak lagi sekadar menghafal teori buku teks atau meniru kalimatnya, melainkan menunjukkan pemahaman mendalam tentang mekanika teknik, sains bahan, sekaligus manajemen efisiensi biaya proyek secara riil.

"Dengar itu, Pak Bima?" tukas Mas Danang seraya menepuk bahu sang mandor. "Ikuti instruksi Arvino. Dia penanggung jawab teknis di lapangan ini sekarang. Keputusannya adalah keputusan saya."

Pak Bima mengangguk patuh seraya mengacungkan jempolnya. "Siap, Pak Danang. Nasihat Mas Vino memang selalu masuk akal dan bikin tenang. Penjelasannya gamblang."

Setelah Pak Bima berlalu untuk mengatur jadwal para pekerja, Mas Danang mengajak Vino berjalan menuju area teras atas yang menghadap ke lembah hijau Kaliurang. Angin sore bertiup dingin, mengibaskan helai rambut Vino yang tertata rapi.

Mas Danang melepas helm proyeknya, lalu menyandarkan siku di atas pagar pengaman sementara. "Wawasanmu makin tajam, Vin. Dulu waktu pertama datang, kamu bahkan bingung bedanya besi polos sama besi ulir."

Vino terkekeh halus, sebuah tawa yang renyah dan sarat akan kerendahan hati. "Itu semua karena Mas Danang tidak pernah bosan memarahi dan mencoret-coret gambar saya selama tiga tahun ini."

"Bukan karena saya, Vin," pangkas Mas Danang tegas. "Saya hanya membukakan pintu. Kamu sendiri yang memilih untuk berlari dan menyerap semuanya. Kamu belajar software parametrik sampai subuh, membaca jurnal kekuatan bahan, sampai turun ke lumpur fondasi untuk belajar dari para tukang. Jam terbang tidak pernah bohong."

Mas Danang merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal lalu menyerahkannya kepada Vino.

Vino menerima amplop itu dengan dahi berkerut tipis. "Ini apa, Mas?"

"Bonus komisi dari penyelesaian proyek resor di Guwosari bulan lalu," jawab Mas Danang santai. "Klien sangat puas dengan efisiensi tata ruang dan konsep pencahayaan alami yang kamu rancang. Itu bagianmu yang sah. Jumlahnya cukup besar."

Vino membuka sedikit amplop tersebut, tertegun melihat deretan lembaran uang kertas yang tebal di dalamnya. "Mas... ini terlalu banyak buat saya."

"Jangan konyol," potong Mas Danang cepat seraya tersenyum hangat. "Kamu bukan lagi budak drafster junior yang saya bayar uang makan, Arvino. Kamu sudah jadi arsitek muda yang punya nilai jual tinggi. Uang itu hasil keringat dan kecerdasanmu sendiri."

Vino memegangi amplop itu dengan dada yang berdesir hangat. Bayangan masa lalunya berkelebat begitu cepat: masa-masa ketika ia harus memutar otak mencari uang puluhan ribu di Surabaya, masa-masa ketika ia dipandang sebelah mata karena dianggap tidak memiliki masa depan.

"Terima kasih banyak, Mas Danang," bisik Vino tulus, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Buat bimbingannya... buat kepercayaannya."

"Gunakan uang itu dengan bijak," pesan Mas Danang, menatap murid kesayangannya itu dengan pandangan bapak pada anaknya. "Saya tahu kamu punya tabungan khusus yang selalu kamu sisihkan tiap bulan. Mimpi besarmu untuk berdiri di atas kaki sendiri sudah makin dekat, kan?"

Vino mengangguk pelan. Senyum tipis yang matang terukir di wajahnya. "Iya, Mas. Saya mau mengumpulkan modal yang cukup. Saya mau membangun studio rancang bangun saya sendiri suatu hari nanti."

Malam harinya, di dalam kamar sewa Vino yang luas dan tertata sangat rapi di lantai atas studio, suasana terasa begitu tenang. Sebuah meja gambar besar berdiri di sudut ruangan, dilengkapi monitor ganda, lampu arsitek, dan berbagai maket berskala kecil.

Vino duduk di meja kerjanya yang diterangi cahaya temaram. Ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya, lalu menginput nominal transferan baru dari amplop tadi sore.

Layar ponsel memantulkan deretan angka pada rekening khususnya sebuah tabungan yang selama tiga tahun ini ia pupuk dengan disiplin ketat tanpa pernah ia sentuh untuk hal-hal yang tak berguna. Jumlahnya kini telah mencapai puluhan juta rupiah, sebuah fondasi finansial yang sangat kokoh untuk usianya yang baru dua puluh satu tahun.

Setelah itu, Vino menyisihkan sebagian uang lagi untuk ditransferkan kepada ibunya di Surabaya, rutinitas bulanan yang tak pernah sekalipun ia lewatkan untuk memastikan kehidupan Bu Lidya selalu terpenuhi dengan sangat baik.

Vino meletakkan ponselnya, lalu meraih sebuah buku catatan bersampul kulit hitam. Ia membukanya di halaman tengah. Di sana, jemarinya yang kini cekatan dan penuh presisi mulai menarik garis-garis sketsa.

Bukan denah rumah klien, melainkan sketsa sebuah ruko dua lantai dengan fasad kayu dan kaca yang elegan. Di bagian depan ruko sketsa itu, Vino menuliskan sebuah nama calon studio masa depannya dengan huruf kapital yang tegas: LAZUARDI DESIGN.

Vino menyandarkan punggungnya di kursi kerja, menatap sketsa itu dengan pandangan mata yang jernih dan tak tergoyahkan. Tiga tahun pengasingan diri di Yogyakarta telah menempa garis hidupnya. Ia bukan lagi anak laki-laki yang meratapi takdir atau melarikan diri dari kenyataan. Ia telah menjadi pria dewasa yang mandiri, berwawasan luas, dan siap untuk mengukir sejarahnya sendiri.

1
mawarsendu
bagus
Alnilam Mintaka: terimakasih kak
total 1 replies
mawarsendu
semangat ya kak

btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍
the virtuso
saling support yah thor jangan lupa🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!