NovelToon NovelToon
Hujan Yang Tak Pernah Reda

Hujan Yang Tak Pernah Reda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Rico Warsa

Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Peran Baru

Di tengah kekhawatiran soal Fajar dan kemungkinan rencana akuisisi tersembunyi, kehidupan bisnis keluarga Wijaya tetap harus berjalan. Sari, yang kini semakin percaya diri dalam perannya sebagai direktur operasional, memutuskan sudah saatnya memformalkan peran Denis dalam struktur perusahaan, mengingat kontribusinya yang konsisten selama berbulan-bulan terakhir.

"Aku sudah bicara dengan Bapak," Sari menjelaskan pada Denis dan Kirana suatu pagi di ruang kerja yang kini sepenuhnya menjadi kantor keluarga. "Kami sepakat untuk menawarkan posisi resmi sebagai penasihat strategis untukmu, Denis, dengan kompensasi yang sesuai dan hak suara terbatas dalam keputusan-keputusan besar perusahaan."

Denis tampak terkejut mendengar tawaran itu. "Aku tidak menyangka akan secepat ini. Aku pikir prosesnya akan memakan waktu lebih lama, mengingat kompleksitas hukum soal statusku."

"Dokumen pengakuan anak yang kita temukan sudah cukup kuat sebagai dasar hukum," Sari menjelaskan. "Dan terus terang, kontribusimu selama krisis kemarin sudah membuktikan bahwa kau pantas mendapatkan tempat resmi di sini, bukan hanya sebagai anggota keluarga, tapi juga sebagai bagian dari bisnis yang kita perjuangkan bersama."

Kirana tersenyum menyaksikan momen itu, merasakan kebanggaan melihat perjalanan panjang yang telah ditempuh keluarganya sejak hari pertama ia pulang. "Ini keputusan yang tepat, Kak. Denis sudah membuktikan dirinya berkali-kali."

Denis menerima tawaran itu dengan mata berkaca-kaca, emosi yang sulit ia sembunyikan. "Terima kasih, Sari. Ini... ini lebih dari yang pernah aku bayangkan bisa aku dapatkan dari keluarga ini."

Setelah penandatanganan dokumen resmi yang disaksikan Pak Wibowo, mereka merayakan momen itu dengan makan siang sederhana bersama, dihadiri Bapak yang kondisinya kini sudah cukup stabil untuk duduk lebih lama di meja makan.

"Aku bangga padamu, Denis," Bapak berkata, suaranya masih agak lemah namun penuh ketulusan. "Kau membuktikan bahwa darah keluarga ini mengalir kuat dalam dirimu, terlepas dari bagaimana rumitnya awal kehidupanmu."

"Terima kasih, Pak," Denis menjawab, tersenyum tulus. "Aku berjanji akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin, untuk membantu keluarga ini, bukan untuk kepentingan pribadi semata."

Di tengah perayaan kecil itu, Kirana memperhatikan bagaimana jauh perjalanan yang telah mereka tempuh bersama—dari kecurigaan dan amarah, menuju penerimaan dan kepercayaan yang tulus. Namun ia juga tidak bisa sepenuhnya menikmati momen bahagia itu tanpa bayang-bayang kekhawatiran soal pertemuannya yang akan datang dengan Fajar.

Setelah makan siang, ketika Denis dan Sari sibuk membahas detail administratif posisi barunya, Kirana menyempatkan diri bicara dengan Bapak secara pribadi.

"Pak, aku ingin bicara soal sesuatu," Kirana memulai hati-hati, duduk di samping kursi roda ayahnya di teras belakang. "Ada kemungkinan ancaman baru terhadap perusahaan, terkait dengan seseorang dari masa laluku."

Bapak mendengarkan dengan seksama saat Kirana menjelaskan situasi soal Fajar dan koneksinya dengan Meridian Capital Partners serta Ratna. Ekspresinya semakin serius seiring penjelasan itu berlanjut.

"Kau yakin ingin bertemu dengannya lagi?" tanya Bapak, kekhawatiran jelas terlihat di wajahnya.

"Aku pikir ini cara terbaik untuk mengetahui rencana mereka lebih jauh," Kirana menjelaskan. "Tapi aku ingin memastikan Bapak dan keluarga siap menghadapi kemungkinan terburuk, seandainya mereka benar-benar berencana melakukan sesuatu yang merugikan kita."

Bapak menghela napas panjang, menatap putrinya dengan campuran kekhawatiran dan kebanggaan. "Kau sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat berani, Kirana. Delapan tahun lalu, kau lari dari masalah. Sekarang, kau justru berani menghadapinya langsung, bahkan ketika itu berarti menghadapi kembali luka lama."

"Aku belajar dari kalian semua," Kirana menjawab tulus. "Dari keberanian Bapak akhirnya jujur, dari ketegaran Kak Sari memimpin perusahaan, dari perjuangan Denis membuktikan dirinya. Aku tidak ingin lagi jadi orang yang lari dari masalah."

"Aku akan mendukung apa pun keputusanmu," Bapak berkata mantap. "Tapi berjanjilah untuk selalu berhati-hati, dan jangan ragu meminta bantuan kalau situasinya menjadi terlalu berbahaya."

"Aku janji, Pak," Kirana menjawab, menggenggam tangan ayahnya erat.

Sore itu, setelah percakapan mendalam dengan Bapak, Kirana merasakan tekad yang semakin kuat untuk menghadapi pertemuannya dengan Fajar minggu depan. Ia menyadari bahwa keberanian sesungguhnya bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan memilih untuk tetap maju meski rasa takut itu ada, demi melindungi orang-orang yang ia cintai.

Ponselnya bergetar, pesan dari Pak Wibowo memberi kabar bahwa ia telah menyiapkan beberapa strategi untuk membantu Kirana menggali informasi dari Fajar tanpa membocorkan detail sensitif perusahaan. Kirana membaca pesan itu dengan seksama, mempersiapkan dirinya secara mental untuk pertemuan yang akan menentukan langkah selanjutnya dalam melindungi warisan keluarganya.

Sore itu, setelah percakapannya dengan Bapak, Kirana menemukan Denis masih di ruang kerja, meninjau beberapa dokumen keuangan dengan seksama. "Bagaimana persiapanmu soal peran baru?" tanya Kirana, duduk di kursi seberang mejanya.

"Menantang, tapi aku menikmatinya," Denis menjawab, tersenyum meski matanya menunjukkan kelelahan setelah berhari-hari mempelajari detail operasional perusahaan. "Aku ingin membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan Bapak dan Kak Sari padaku bukan tanpa alasan."

"Kau sudah membuktikannya berkali-kali," Kirana meyakinkan. "Tidak ada yang meragukan kompetensimu lagi, Denis."

Denis mengangguk, meski rasa syukur masih terlihat jelas di wajahnya setiap kali diingatkan tentang penerimaan yang ia dapatkan dari keluarga ini. "Aku dengar soal rencana pertemuanmu dengan Fajar minggu depan. Aku tahu ini pasti tidak mudah, mengingat kompleksitas sejarah kalian."

"Aku akan berusaha sebaik mungkin," Kirana menjawab, menghela napas panjang. "Untuk keluarga kita."

"Kau tidak sendirian menghadapi ini," Denis menambahkan, menatapnya dengan tulus. "Apa pun yang terjadi dalam pertemuan itu, kami semua akan mendukungmu."

Kata-kata itu memberi Kirana kekuatan tambahan menjelang hari-hari penuh tantangan yang menanti di depan, sebuah pengingat bahwa meski ia harus menghadapi Fajar secara personal, ia tidak pernah benar-benar sendirian dalam perjuangan melindungi keluarga yang kini menjadi prioritas utamanya.

Sebelum meninggalkan ruang kerja itu, Kirana menyempatkan diri melihat sekeliling ruangan yang kini telah bertransformasi dari tempat penuh rahasia menjadi pusat kegiatan keluarga yang terbuka dan produktif. Foto keluarga lama yang dulu tersembunyi di laci kini terpajang rapi di rak buku, bersanding dengan foto-foto baru yang menampilkan senyum Denis bersama mereka semua.

"Ruangan ini sudah banyak berubah," gumam Kirana, lebih pada dirinya sendiri.

"Seperti kita semua," Denis menjawab, mendengar gumaman itu meski tidak ditujukan padanya. "Ruangan ini menyimpan begitu banyak sejarah, baik yang menyakitkan maupun yang menyembuhkan."

Kirana mengangguk setuju, merasakan kehangatan aneh menyelimuti dirinya menyadari betapa jauh perjalanan yang telah mereka tempuh bersama dalam ruangan yang sama ini—dari tempat kebohongan disimpan rapat, menjadi tempat kejujuran dan kerja sama keluarga berkembang.

Sebelum meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke aktivitas masing-masing, Denis menambahkan satu hal lagi. "Aku ingin kau tahu, Kirana, aku menghargai bagaimana kau selalu memperlakukanku sebagai saudara sejak awal, bahkan ketika situasi masih sangat rumit. Itu memberiku keberanian untuk terus berusaha membuktikan diri."

"Kau tidak perlu membuktikan apa pun lagi, Denis," Kirana menjawab tulus. "Kau sudah menjadi bagian dari keluarga ini, bukan karena apa yang kau lakukan, tapi karena siapa dirimu."

Kata-kata itu menyentuh hati Denis dalam-dalam, sebuah pengakuan yang telah lama ia rindukan tanpa pernah berani berharap akan mendengarnya secara langsung.

---

*Bersambung ke Bab 32...*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!