NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29

Kasak-kusuk Para Pembantu

Grup WhatsApp para pekerja rumah Adiningrat meledak sebelum pukul enam pagi.

Ada yang mengirim potongan video Baskara di PIK. Ada yang memperbesar wajah pemilik perusahaan ketika menerima tiga telepon. Seorang sopir bersumpah pernah melihat Panji turun dari mobil berpelat khusus. Seorang pelayan lain yakin semua itu hanya kebetulan.

Bibi Sari membaca pesan sambil mengaduk bubur.

"Kalau kalian punya waktu membahas Ndoro Baskara, berarti pekerjaan terlalu sedikit," katanya.

Semua ponsel segera menghilang.

Baskara masuk ke dapur dengan dua kantong belanja.

"Aku mau memasak."

Lima orang menoleh bersamaan.

Pak Ganda yang baru masuk membawa daftar keperluan berhenti di pintu. "Ndoro yakin?"

"Aku sudah belajar."

"Dari siapa?"

"Tiga penjual di pasar."

Baskara mengeluarkan ayam kampung, pala, seledri, kentang, dan beberapa bahan lain. Ia ingin membuat sup bening yang dulu dimasak ibu Ratri ketika putrinya sakit.

Tidak seorang pun tahu bagaimana ia mendapatkan resep itu.

"Pisau di sebelah sana," kata Bibi Sari dengan nada orang yang menyerahkan senjata kepada anak kecil.

Lima menit kemudian, Baskara memotong jarinya.

Sepuluh menit kemudian, kentang jatuh ke lantai.

Lima belas menit kemudian, tutup panci meluncur ke bawah meja dan membuat dua pelayan melompat.

"Ndoro bisa meminta kami memasak," kata Bibi Sari.

"Kalau kalian yang memasak, itu bukan dariku."

"Tapi mungkin rasanya bisa dimakan."

Pak Ganda menyerahkan celemek. Baskara memakainya terbalik. Seorang pelayan muda diam-diam mengambil foto sebelum Bibi Sari menepuk ponselnya turun.

"Tidak ada foto dari dapur," tegurnya.

"Tapi grup bertanya apakah Ndoro benar-benar bisa memasak."

"Sekarang kita semua tahu jawabannya. Tidak perlu bukti."

Baskara mencoba menyalakan kompor kedua dan justru mematikan kompor pertama. Kuah yang hampir mendidih kembali dingin. Ia lalu menuang air terlalu banyak, mengambil panci yang salah, dan bertanya apakah seledri perlu dikupas.

Di balik semua kekacauan, ia memeriksa catatan setiap beberapa menit. Tidak sekali pun ia meminta orang lain mengambil alih.

Baskara mengabaikannya. Ia membaca catatan resep yang penuh coretan. Penjual pertama mengatakan ibu Ratri selalu memakai sedikit pala. Penjual kedua mengingat seledri dipotong terakhir. Penjual ketiga tidak yakin, tetapi mengaku pernah mengenal keluarga Kusuma dan menambahkan dua sendok garam.

Baskara mengikuti semuanya.

Hasilnya terlalu asin.

Ratri datang ke ruang makan menjelang siang. Semangkuk sup berada di tempatnya. Baskara berdiri di samping kursi dengan plester di jari.

"Apa ini?"

"Makan siang."

"Saya bisa melihat."

"Sup yang dulu dibuat ibumu."

Tangan Ratri berhenti sebelum menyentuh sendok.

Aroma pala dan seledri membawanya kembali ke rumah kecil, demam masa kecil, dan tangan ibunya yang meletakkan mangkuk di dekat bantal. Tidak sama persis. Kuahnya terlalu keruh, kentangnya tidak rata, dan rasa garamnya membuat tenggorokan ingin protes.

Ibunya selalu meniup sendok pertama, meski Ratri sudah cukup besar untuk melakukannya sendiri. Setelah makan, perempuan itu akan menyelipkan rambut Ratri ke belakang telinga dan berkata bahwa orang sakit tidak harus selalu terlihat kuat.

Ratri telah melupakan suara kalimat itu. Sup yang buruk membuatnya ingat.

Ia menunduk agar Baskara tidak melihat perubahan di matanya.

"Dari mana Anda tahu?"

"Aku bertanya."

"Kepada siapa?"

"Orang-orang di pasar lama."

Bibi Sari berbisik kepada Wira, "Ndoro pergi ke empat pasar, bukan tiga. Satu penjual mengusir karena dikira penagih utang."

Ratri mendengar. Ia mengambil suapan kedua.

"Rasanya buruk," katanya.

Wajah Baskara turun sedikit.

"Terlalu banyak garam. Kentang harus dipotong lebih kecil. Seledri masuk setelah api dimatikan."

"Kau masih ingat?"

"Makanannya buruk, bukan ingatan saya."

Ratri terus makan sampai mangkuk kosong.

Para pelayan saling memandang. Pesan baru pasti sudah memenuhi grup, tetapi tidak ada yang berani membuka ponsel di depan Bibi Sari.

Baskara membawa mangkuk kosong ke dapur dengan kebahagiaan yang tidak sesuai dengan kritik yang baru diterimanya.

Anin datang sore itu membawa salinan berkas untuk Mbak Lia. Ia menemukan Ratri di taman dan duduk tanpa banyak bicara.

"Mama mulai memakai nama Mbak lagi," katanya.

"Untuk apa?"

"Dia bilang kepada orang-orang kalau Nyai Ratri adalah anaknya. Dia meminjam uang dengan janji akan mengembalikan setelah mendapat bantuan dari keluarga Adiningrat."

"Biarkan pemberi pinjaman meminta bukti sendiri."

"Mama juga menanyakan kondisi Mbak. Dia bertanya apakah benar darah Mbak sering tidak berhenti dan umur Mbak tidak panjang."

Ratri memandang pohon di depannya. "Kepada siapa dia bertanya?"

"Beberapa dukun dan penjual pusaka. Katanya dia punya cara membuat Mbak memohon lagi."

Anin menyerahkan tangkapan layar. Yuliana mengirim foto dirinya bersama beberapa orang berjubah tradisional dan mengaku memiliki jalur ke ahli kejawen. Sebagian foto diambil dari acara umum. Satu orang bahkan sudah membantah mengenalnya ketika Anin menghubungi nomor resmi.

"Dia menawarkan pertemuan dengan bayaran muka," kata Anin. "Katanya pusaka Mama satu-satunya kunci untuk hidup Mbak."

"Jangan bayar dan jangan tantang. Minta semua orang yang dihubungi menyimpan pesannya."

"Mbak mau menunggu sampai kapan?"

"Sampai kebohongannya cukup lengkap untuk tidak bisa disebut salah paham."

"Kotak merah itu palsu."

"Aku tahu. Tapi Mama sedang mencari kebohongan baru."

Ratri meminta Anin menyimpan semua pesan. Ia tidak ingin mengejar Yuliana setiap kali perempuan itu membuat keributan. Ketika waktunya tiba, semua utang, pemerasan, dan penggunaan nama tanpa izin akan dijumlahkan sekaligus.

Malam telah larut ketika Ratri melewati taman belakang.

Ia melihat cahaya dari teras samping. Baskara duduk sendirian, lengan kemejanya tergulung. Satu tangan menekan kain pada luka baru di bagian dalam lengan. Wajahnya pucat.

Di telapak tangan lain terdapat pil hitam kecokelatan.

Ia menelannya dengan air, lalu menutup mata menahan rasa pahit.

"Itu apa?" tanya Ratri.

Baskara tersentak. Ia segera menurunkan lengan.

"Jamu."

"Jamu apa?"

"Untuk tenaga."

Ratri berjalan mendekat. "Anda sakit?"

"Tidak."

"Orang sehat tidak menelan obat diam-diam sambil menekan luka yang terus muncul di tempat sama."

Baskara berdiri terlalu cepat dan hampir kehilangan keseimbangan.

Ratri melihat wadah obat di meja. Tidak ada label pabrik, hanya kain kecil dengan tulisan tangan Eyang Suryo. Ia mengenali dua bahan dari aromanya, keduanya biasa digunakan dalam racikan pemulih tenaga setelah laku berat.

"Anda melakukan laku apa sampai perlu obat ini?"

"Aku hanya kurang tidur."

"Jangan menghina kecerdasan saya."

"Hanya luka kecil."

Ratri meraih pergelangannya. Di bawah telapak mereka, denyut Baskara terasa lemah. Pada saat yang sama, pusaka di dada Ratri menghangat.

Rasa sakit itu terasa asing, tetapi juga sangat dikenal tubuhnya.

Seolah luka itu pernah hidup di dalam nadinya sendiri.

"Baskara," katanya pelan, "sakit apa yang sebenarnya Anda sembunyikan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!