NovelToon NovelToon
CINTAKU DI PRAMBANAN

CINTAKU DI PRAMBANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT

Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.

Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.

Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.

Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?

Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.

SELAMAT MEMBACA... ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 SERANGAN JIN PENGIKUT

Sinar mentari pagi menyusup dari balik celah dedaunan pohon beringin di pelataran rumah sakit, mencoba menghangatkan udara kota Yogyakarta yang masih menyisakan hawa dingin sisa hujan semalam.

Namun, secerah apa pun cahaya matahari pagi itu, ia gagal menembus kabut kesedihan yang menggelayut di hati Yuda.

Pemuda itu memarkirkan sepeda motor bebeknya dengan gerakan mekanis. Kantung matanya hitam dan menebal, wajahnya kusut, dan jaket tebal yang ia kenakan terasa berat oleh beban pikiran yang bertumpuk.

Semalaman suntuk, pikirannya terus dihantui oleh temuan kliping koran tragedi Sekar Ayu di tahun 1992, serta amukan entitas bergaun merah yang melemparkannya dan Dion di ruang sekretariat kampus.

Yuda tahu bahwa waktu terus berpacu melawan nyawa.

Namun pagi ini, sebelum ia dan Dion berangkat kembali melacak jejak kepingan masa lalu atau mencari keberadaan pewaris "Darah Sang Pembuat Candi" yang entah ada di mana, insting Yuda memaksanya untuk datang ke rumah sakit.

Ia harus memastikan kondisi Haruma. Kakak dari perempuan yang sangat ia cintai itu adalah benteng pertahanan terakhir. Jika Haruma hancur, maka Harumi akan lenyap tertelan kegelapan selamanya.

Dengan langkah yang diseret, Yuda menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang mulai ramai oleh perawat, dokter, dan keluarga pasien. Bau antiseptik dan karbol pembersih lantai menyengat hidungnya, memberikannya sedikit jangkar ke dunia nyata, mengusir halusinasi bau anyir darah yang belakangan ini sering menyiksanya.

Sesampainya di lorong ruang rawat inap VIP, Yuda melangkah dengan hati-hati. Ia mengintip dari kaca kecil di pintu kamar tempat Haruma dirawat.

Ruangan itu tampak tenang.

Di atas ranjang, Haruma terbaring bersandar dengan selang oksigen yang masih menempel di hidungnya. Monitor EKG di sebelahnya berbunyi dengan ritme yang stabil dan teratur.

Namun, Yuda menyadari satu hal: Zaki dan Nisa tidak ada di dalam ruangan tersebut. Hanya ada Haruma yang sedang menatap kosong ke arah langit-langit.

Yuda tidak tahu bahwa semalam, keluarga itu baru saja melewati malam yang sangat mengerikan di mana Harumi nyaris menggorok lehernya sendiri, sehingga Zaki dan Nisa harus bertahan di rumah bersama kedatangan Pak Rusdi.

Pagi ini, Haruma hanya dijaga oleh seorang perawat jaga yang kebetulan baru saja keluar untuk mengambil jatah sarapan dan obat-obatan.

Melihat kekosongan itu, Yuda perlahan memutar kenop pintu dan melangkah masuk.

Suara derit pelan pintu membuat Haruma menoleh. Saat sepasang mata gadis yang masih terlihat sayu itu menangkap sosok Yuda, ada secercah kelegaan yang melintas di balik kekosongannya.

"Yuuud..." panggil Haruma lirih. Suaranya masih sangat serak dan parau, namun sudah lebih jelas dibandingkan saat ia pertama kali siuman.

Yuda segera menghampiri sisi ranjang, menarik kursi tamu, dan duduk di sana. Ia menatap Haruma dengan perasaan bersalah yang masih terus menggerogoti relung hatinya. Luka di perut Haruma memang telah ditutup oleh ilmu medis, namun Yuda tahu, luka spiritualnya masih menganga lebar.

"Pagi, Ma. Gimana keadaan lo hari ini?" tanya Yuda lembut, mencoba memaksakan sebuah senyuman simpatik.

Haruma menarik napas pelan, dadanya naik turun di balik selimut rumah sakit. "Secara fisik... dokter bilang gue makin membaik, Yud. Tekanan darah gue normal. Tapi..." Haruma menelan ludah, matanya memancarkan ketakutan yang berusaha ia sembunyikan. "Tapi perasaan gue nggak enak, Yud. Hawa di ruangan ini... dari semalam terasa sangat dingin. Gue merasa terus diawasi."

Yuda mengerutkan kening. Ia merasakan hal yang sama. Udara di dalam kamar VIP itu memang terasa kelewat batas dingin, bahkan untuk ukuran ruangan ber-AC sentral.

"Lo harus kuat, Ma. Lo nggak sendirian," ucap Yuda, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Gue dan Dion udah nemuin petunjuk. Tragedi panggung ini pernah kejadian di tahun 1992, Ma. Kita lagi cari tahu cara buat matahin kutukannya. Pokoknya lo fokus sembuh aja. Harumi butuh lo. Dia aman di rumah dijagain Pak Zaki sama Bu Nisa."

Mendengar nama adiknya disebut, setetes air mata jatuh dari sudut mata Haruma. Ia, yang mewarisi energi pelindung tulang wangi, bisa merasakan bahwa perisainya perlahan-lahan mulai retak.

"Janji sama gue, Yud... apa pun yang terjadi, lo harus lindungin Harumi." pinta Haruma di tengah kesedihannya.

"Gue janji, Ma... Pakai nyawa gue sekalipun," tegas Yuda tanpa ragu.

Namun, belum sempat Yuda menceritakan lebih lanjut tentang rencana pencarian "Darah Pembuat Candi", suasana di dalam ruangan itu mendadak berubah drastis.

Bzzzt... Bzzzt...

Lampu neon di langit-langit kamar VIP itu tiba-tiba berkedip-kedip liar. Suhu ruangan merosot tajam hingga ke titik beku dalam hitungan detik. Udara yang keluar dari embusan napas Yuda langsung berubah menjadi kepulan uap putih.

Bau antiseptik rumah sakit seketika menguap, digantikan oleh aroma busuk yang sangat memualkan. Aroma kembang melati yang telah layu membusuk di tanah kuburan, bercampur dengan bau kemenyan yang sangat pekat dan anyir darah yang menusuk hingga ke ubun-ubun.

Yuda langsung berdiri dari kursinya. Bulu kuduknya berdiri serempak. Hawa ini persis sama dengan apa yang ia rasakan di basement perpustakaan semalam.

"Y-Yud..." suara Haruma tiba-tiba bergetar hebat.

Yuda menoleh ke arah ranjang. Matanya membelalak kaget.

Haruma tidak sedang menatapnya. Gadis itu menatap lurus ke arah sudut ruangan di dekat lemari pakaian. Matanya melotot sempurna, dipenuhi oleh teror yang absolut. Seluruh tubuh Haruma bergetar hebat, keringat dingin seketika membanjiri wajahnya yang pucat pasi. Napasnya mulai tersengal-sengal di balik selang oksigen.

"Ma? Lo lihat apa, Ma?!" Yuda berteriak panik, matanya ikut mencari-cari ke arah sudut ruangan, namun ia tidak melihat apa-apa selain udara kosong.

Yuda tidak tahu bahwa mata batin Haruma yang telah terbuka pasca-kematian sementaranya, kini menyajikan pemandangan neraka yang tidak bisa diakses oleh mata manusia biasa.

Di sudut ruangan itu, udara tampak beriak-riak menghitam. Dari balik riakan dimensi gaib tersebut, muncullah sesosok makhluk yang luar biasa mengerikan.

Ini bukan sosok wanita bergaun merah yang merasuki Harumi. Ini adalah Jin Pengikut—algojo spiritual yang diutus langsung oleh entitas utama tersebut untuk menyelesaikan tugas yang belum tuntas.

Sosok itu berwujud raksasa setinggi lebih dari dua meter. Tubuhnya hitam legam seperti bayangan yang memadat, ditutupi oleh bulu-bulu kasar yang basah oleh cairan berbau anyir. Di kepalanya bertengger dua buah tanduk yang melengkung tajam. Dan yang paling mengerikan adalah matanya; sepasang mata raksasa berwarna merah menyala yang memancarkan kebencian murni dan nafsu membunuh yang tak terbatas.

Jin Pengikut itu menyeringai, memamerkan deretan gigi runcing yang meneteskan air liur hitam. Makhluk itu melangkah maju, sangat pelan, namun setiap langkahnya membuat lantai ruangan seolah bergetar di alam bawah sadar Haruma.

"T-Tidaaak... Jangaaan... YUD! DIA DI SANA!" jerit Haruma histeris, menunjuk ke arah makhluk yang semakin mendekati ranjangnya.

"Siapa, Ma?! Siapa yang di sana?!" Yuda kebingungan, ia melangkah maju melindungi ranjang Haruma, memposisikan dirinya sebagai tameng untuk menghadapi udara kosong.

Namun Jin raksasa itu hanya mengibaskan tangannya yang dipenuhi kuku-kuku hitam tajam.

WUSSS!

Sebuah tekanan angin yang sangat kuat menghantam dada Yuda. Pemuda itu terpelanting ke samping, menabrak meja nakas hingga vas bunga dan gelas air putih jatuh pecah berantakan ke lantai.

BRAK! PRAAANG!

"Aaakh!" Yuda mengerang, memegangi tulang rusuknya yang terasa nyeri. Ia merangkak bangun dengan panik.

Di saat yang bersamaan, Jin Pengikut itu telah berdiri tepat di samping ranjang Haruma. Makhluk itu menundukkan wajahnya yang mengerikan, lalu menjulurkan kedua tangannya yang besar dan dingin.

Dalam sekejap mata, tangan gaib raksasa itu mencekik leher Haruma dengan kekuatan penuh!

Bagi Yuda yang tidak bisa melihat wujud makhluk itu, pemandangan di depannya adalah sebuah anomali medis dan supranatural yang meremukkan kewarasan.

Tubuh Haruma tiba-tiba terangkat ke atas, mengambang beberapa sentimeter dari bantalnya seolah-olah ia sedang ditarik paksa oleh kail tak kasatmata. Kepala gadis itu mendongak secara tidak wajar. Tangannya mencengkeram lehernya sendiri, meronta-ronta, mencoba melepaskan cengkeraman dari sesuatu yang tidak terlihat.

"Ugh... Hhkkhh... Y-Yud..." Haruma tercekik hebat. Wajahnya yang tadinya pucat kini berubah menjadi merah keunguan karena pasokan oksigen ke otaknya terputus total. Matanya melotot nyaris keluar dari kelopaknya. Kakinya menendang-nendang sprei kasur dengan brutal.

Dan yang membuat darah Yuda seakan membeku adalah munculnya jejak memar biru kehitaman berbentuk jari-jari raksasa yang tercetak sangat jelas di kulit leher Haruma secara seketika!

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTT...!!!

Monitor jantung di sebelah ranjang menjerit panjang dengan nada melengking. Kurva detak jantung Haruma berantakan, menukik tajam menuju garis kematian. Mesin oksigen berbunyi bip-bip dengan cepat menandakan asupan udara yang anjlok ke titik nol.

"HARUMA!!!"

Yuda meraung histeris. Mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, ia melompat menerjang ke arah ranjang. Ia mencengkeram bahu Haruma, mencoba menarik tubuh gadis itu kembali ke kasur.

Namun, saat tangan Yuda berusaha meraih leher Haruma untuk melepaskan cekikan gaib itu, tangannya seakan menghantam sebuah dinding es yang sangat tebal dan menyengat. Sebuah energi statis yang luar biasa dingin membalas sentuhannya, memberikan sensasi seolah kulit tangannya sedang dibakar oleh es kering.

Tenaga Yuda tidak ada artinya di hadapan kekuatan Jin Pengikut tersebut.

"LEPASIN DIA, IBLIS SIALAN!!! LEPASIIIN!!!" Yuda berteriak kalap, memukul-mukul udara kosong di atas leher Haruma dengan putus asa, namun pukulannya hanya menembus angin yang berbau busuk.

Melihat Haruma semakin lemah, matanya mulai menggulung ke atas dan tubuhnya mulai kejang karena kekurangan oksigen, kepanikan Yuda memuncak. Ilmu medis tidak akan bisa melawan cekikan jin, tapi setidaknya dokter bisa membantu memompa jantungnya!

Yuda berbalik, menghantam tombol merah panggilan darurat (nurse call) di dinding dengan kepalan tangannya berulang kali. "SUSTEEER!! DOKTEER!! TOLONG DI SINI!! PASIEN KRITIS!! TOLOOOONG!!!"

Terlepas dari jeritan panik Yuda, Jin raksasa bermata merah itu terus mempererat cekikannya. Di alam gaib, makhluk itu tertawa. Tawanya berupa geraman rendah yang membuat telinga Haruma berdenging hebat. Makhluk itu berniat menghancurkan perisai Harumi siang ini juga.

Pintu kamar didobrak terbuka. Dua orang perawat, termasuk Suster Ratna, berhamburan masuk membawa trolley obat darurat. Dokter Surya yang kebetulan sedang berada di bangsal sebelah menyusul masuk dengan wajah tegang.

"Ada apa ini?! Ya Tuhan, pasien kejang dan asfiksia!" teriak Dokter Surya saat melihat Haruma yang tubuhnya mengambang aneh dan wajahnya membiru.

"Napasnya berhenti, Dok! Saturasi oksigennya turun drastis di bawah 60%!" lapor Suster Ratna panik, mencoba memasang Ambu bag (balon resusitasi) ke mulut Haruma, namun rahang gadis itu terkunci rapat seakan digembok oleh kekuatan tak kasatmata.

"Pasang kembali intubasinya! Cepat! Saluran napasnya tertutup paksa dari luar, lihat memar di lehernya itu!" Dokter Surya berteriak, memberikan instruksi di tengah kekacauan medis yang sama sekali tidak logis.

Bagaimana mungkin memar cekikan itu muncul begitu saja saat Yuda ada di sana mencoba menolong?

Yuda terdorong ke sudut ruangan oleh para petugas medis yang sibuk. Napas pemuda itu memburu, matanya memerah karena air mata keputusasaan. Ia sadar, Ambu bag dan selang intubasi tidak akan bisa masuk selama tangan jin itu masih mencengkeram leher Haruma. Mereka butuh bantuan supranatural secepatnya, dan satu-satunya orang tua yang punya wewenang adalah ayah Haruma.

Dengan tangan gemetar hebat yang basah oleh keringat dingin, Yuda merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan ponselnya, menggeser layar yang retak, dan dengan kalut mencari nomor kontak Zaki.

Panggilan terhubung. Nada dering terdengar sangat lama di telinga Yuda, seolah waktu sengaja mempermainkannya.

Di seberang sana, di rumah keluarga yang juga baru saja melewati malam penuh teror, Zaki mengangkat teleponnya. Pria itu sedang duduk mendengarkan penjelasan lanjutan dari Pak Rusdi tentang darah "Pembuat Candi".

"Halo, Yuda? Ada apa?" sapa Zaki dengan suara lelah.

"PAK ZAKI! KE RUMAH SAKIT SEKARANG, PAK! SEKARANG!" Yuda berteriak histeris, suaranya pecah dan bergetar hebat mengalahkan hiruk-pikuk dokter yang sedang melakukan resusitasi jantung paru di belakangnya.

Zaki seketika terlonjak dari kursinya. Nisa dan Pak Rusdi langsung menoleh dengan wajah tegang. "Yuda, tenang! Ada apa dengan Haruma?!"

"DIA DISERANG, PAK! IBLIS ITU NGGAK MAU NUNGGU LAGI!" jerit Yuda putus asa, menatap garis hijau di monitor EKG yang kembali bergerak liar tak menentu. "Haruma dicekik sama sesuatu yang nggak kelihatan, Pak! Wajahnya udah biru! Dokter nggak bisa masukin selang napas! Pak, tolong, Pak, Haruma bisa mati hari ini juga!"

Telepon di seberang sana hening sesaat, namun Yuda bisa mendengar suara benda jatuh dan jeritan tertahan dari Nisa.

"Kami ke sana sekarang! Jangan biarkan dokter berhenti memompa jantungnya, Yud!" suara Zaki membalas dengan raungan seorang ayah yang kembali dipaksa melihat maut mengintai darah dagingnya. Panggilan telepon terputus.

Yuda membiarkan ponselnya jatuh terlepas dari genggamannya. Ia memerosotkan tubuhnya menyusuri dinding hingga terduduk di lantai dingin rumah sakit. Di hadapannya, Dokter Surya dan para perawat masih berjuang mati-matian melawan musuh tak kasatmata yang tengah mencekik nyawa Haruma.

Kutukan itu telah membuktikan ancamannya.

Iblis dari Prambanan itu tidak lagi bersembunyi di balik bayang-bayang malam.

Ia telah datang secara terang-terangan di siang bolong, membawa teror yang menyatukan dunia medis dan supranatural dalam satu ruangan berdarah yang sama.

1
Ilham
lanjut bg
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kak Ilham... 💪💪💪
total 1 replies
My.mitsubishi.triton Adventure X
Kenapa nama tokoh pemerannya sama dengan tirakat tp cerita nya berbeza bahkan tidak ada perewangan milik nisa dn haruma
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Karena novel "CINTAKU DI PRAMBANAN" ini adalah versi Alternate Universe (AU) dari Universe novel "TIRAKAT", Kak...

Jadi cerita utamanya berbeda, namun sebagian besar tokohnya sama.

Semoga Kakak juga suka ya... Dan, terima kasih banyak Kak, sudah komentar... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
di babb 20 keatas baru menangkap alur nya wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iyakah??? Hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, rekomendasi juga buat yang suka bacaan horror.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TERIMA KASIH, KAK ASMARA... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyalah nisa sebagai ibu nggak bakalan diam sama iblis itu, jadi percaya saja harumi biar sulit pasti bisa dilawan
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe...

"SAYA AKAN LAWAN!!!"
#KataSalahSatuLelakiDariSolo
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang ini serem ya apalagi baca nya malem
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: iyaa serem
total 2 replies
Ilham
lanjut kak
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Berat berat baca cerita haruma harumi sii baling wangi. bener ini mah ujian nya lbh berat dari Nisa. dikejar kejar entintas kna baling wangi gimana nggak harus kerja keras bwt melawan nya.

kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: typo itu plot twist mksdnya ya
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Apa zaky masih bisa merasakan sesuatu yg ghoib setelah putus hubungan sama sekar mayang? 🤔 kek nya nggak. sekarang keknya Zaky lebih mengedepankan logika nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: awas aja klo anak anak nya dalam bahaya Zaky nggak bisa apa apa
total 4 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Masij menyimak kak.... blom bisa meraba wkwkwk penasaran juga sama yg sblom nya yg kejadian di gunung lawu itu, apakah ntar ada alur mundur nya?
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih, Kak Asmara... 😍😍😍
total 3 replies
Ilham
aku pengen Arumi sama Arum selamat mereka berdua kak
Ilham
lanjut bg...jadi kemana Perawang Arumi sama Arum kakak..masa ngk menolong mereka kak
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Ilham... 🥰🥰🥰

Perewangan Haruma dan Harumi akan muncul, Kak...

Oh iya, karena novel ini adalah AU (Alternate Universe) dari seri TIRAKAT, jadi nggak terlalu banyak kemunculan para perewangannya... 💪💪💪😍😍😍😍🥰
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduh ini lbh serem, perawangan harumi jenis yang berbeda kah
Author Melda
salam support kak👍
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Okeee... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!