Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.
Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Rumor yang beracun
Dunia tidak berhenti berputar hanya karena hati seorang wanita hancur berkeping-keping. Di antara robekan kertas lowongan kerja dan pesan teror yang dikirimkan Vera di malam pernikahannya, Larissa dipaksa oleh keadaan untuk kembali tegak.
Sisa uang tiga ratus lima puluh ribu rupiah di dompetnya adalah alarm paling nyata bahwa dia tidak punya waktu untuk meratapi nasib.
Setelah melewati belasan penolakan, pintu kesempatan akhirnya terbuka di sebuah gang di kawasan Jakarta Barat. Larissa diterima bekerja sebagai staf administrasi biasa di PT Laju Utama, sebuah perusahaan logistik skala kecil yang bergerak di bidang pengiriman barang domestik.
Kantornya jauh dari kata mewah, hanya sebuah ruko tiga lantai yang pengap, dipenuhi tumpukan kardus di lantai dasar, dan gemuruh suara printer dot-matrix yang mencetak resi tanpa henti.
Gaji yang ditawarkan sangat pas-pasan, hampir menyentuh angka upah minimum regional. Tapi bagi Larissa, pekerjaan ini adalah pelampung darurat agar dia tidak tenggelam dan mati kelaparan di ibu kota.
Larissa mulai beradaptasi dengan ritme kerja yang melelahkan. Setiap hari, dari pukul delapan pagi hingga lima sore, jemarinya menari di atas papan ketik komputer usang, memasukkan data manifes barang, memeriksa nomor resi, dan menghadapi komplain pelanggan.
Tubuhnya yang terbiasa dengan kenyamanan kini harus akrab dengan kursi plastik tanpa sandaran empuk dan udara koridor yang panas. Sering kali, punggung dan pinggangnya yang sempat membiru akibat dorongan Bram kembali berdenyut nyeri.
Larissa sengaja menenggelamkan dirinya dalam kelelahan itu. Dia menggunakannya sebagai pengalih perhatian agar otaknya tidak terus-menerus memutar ulang rekaman pengusirannya.
Satu minggu pertama berjalan dengan ketenangan yang semu. Larissa dikenal sebagai pekerja yang pendiam, sopan, dan sangat cekatan.
Dia mengira, dengan mengganti identitas sosialnya dari seorang istri konglomerat menjadi buruh administrasi biasa, para iblis di masa lalunya tidak akan bisa menjangkaunya lagi.
Namun Larissa melupakan satu hal: ego Bram Baskoro dan keangkuhan Ibu Maya tidak akan pernah membiarkan nama baik mereka tercoreng sedikit pun.
Untuk mengantisipasi desas-desus di kalangan kolega bisnis tentang perceraian kilat mereka, keluarga Baskoro telah bergerak lebih dulu.
Mereka merancang narasi tunggal, menyebarkan desas-desus jahat ke seluruh lingkaran sosial bahwa Larissa adalah wanita mandul manipulatif yang diceraikan karena cacat biologis dan telah menipu keluarga mereka selama lima tahun.
Dan sialnya, jaringan gosip itu memiliki tentakel yang jauh lebih panjang dari yang dia duga.
Petaka itu dimulai pada hari Selasa di minggu kedua Larissa bekerja. Di lantai dua ruko yang berfungsi sebagai ruang administrasi, suasana yang biasanya riuh oleh suara telepon mendadak berubah menjadi canggung saat dirinya melangkah masuk setelah jam istirahat siang.
Beberapa staf wanita yang biasanya menyapa Larissa dengan ramah, tiba-tiba membuang muka. Maya, salah satu staf senior di bagian keuangan tampak sedang berbisik heboh dengan seorang karyawan magang sambil sesekali melirik tajam ke arah meja kerjanya.
Larissa mengernyitkan dahi, merasakan atmosfer yang mendadak dingin. Dia mencoba mengabaikannya dan duduk di kursinya, bersiap melanjutkan input data.
Namun, saat dia berjalan menuju dispenser untuk mengisi botol minumnya, dia melewati meja tumpukan dokumen tempat segerombolan karyawan berkumpul.
"Iya, serius! Temannya sepupuku itu temen nongkrongnya Bram Baskoro," suara Rika, staf bagian operasional terdengar berbisik setengah mendesah, namun cukup jelas tertangkap oleh telinga Larissa.
"Sepupuku cerita, mantan istrinya itu mukanya sok polos tapi aslinya licik. Udah tahu rahimnya kering dan rusak permanen dari lahir, tapi sengaja disembunyikan biar bisa nikah sama anak konglomerat. Pas ketahuan kemarin lewat tes resmi, langsung didepak tanpa ampun. Makanya jangan tertipu sama muka melasnya."
Deg.
Tangan Larisa yang memegang botol minum mendadak kaku di udara. Dadanya berdenyut nyeri, luka lama yang mulai mengering dipaksa robek kembali dengan belati berkarat.
Sejak hari itu, kehidupan Larissa di kantor berubah menjadi neraka dunia. Tatapan miring dan bisik-bisik pedas selalu mengiringi langkahnya, terutama saat berada di kantin karyawan.
Ketika dia akan duduk di salah satu meja panjang, karyawan lain yang berada di meja yang sama akan perlahan-lahan membereskan kotak makan mereka dan pindah menjauh, seolah-olah apa yang terjadi padanya adalah penyakit menular yang menjijikkan.
Sindiran pun mulai datang secara terang-terangan. Saat dia melakukan sedikit kesalahan input data karena matanya yang buram menahan kantuk akibat kurang tidur, kepala bagian administrasi memanggilnya ke kubikel utama.
Pak Joko mengetuk berkas di mejanya dengan pulpen, menatap Larissa dengan pandangan menilai yang tidak nyaman.
"Larissa, aku dengar belakangan ini ada banyak desas-desus tidak sedap tentang latar belakang pribadimu di luar sana. Aku tidak peduli apa masalah rumah tanggamu dulu, tapi tolong... statusmu sebagai wanita yang bermasalah jangan sampai mengganggu kinerja kerja di kantor ini. Perusahaan ini kecil, kita tidak butuh drama atau karyawan yang membawa aura negatif dari masa lalunya."
Larissa mengepalkan tangannya di balik rok kerjanya, menahan rasa hina yang merambat naik hingga ke tenggorokan. "Baik, Pak. Saya jamin pekerjaan saya akan tetap profesional," jawabnya, suaranya mengalun datar menolak untuk terlihat lemah di depan atasannya.
Sore harinya, menjelang jam pulang kantor, kepala Larissa terasa berdenyut pening akibat tekanan mental yang bertubi-tubi sejak pagi.
Dia berdiri dari kursinya dan melangkah menuju toilet karyawan yang terletak di sudut paling belakang lantai dua untuk membasuh wajahnya dengan air dingin, berharap bisa menyegarkan pikirannya yang mulai lelah.
Toilet itu sepi saat dia masuk. Larissa berjalan menuju salah satu wastafel yang cerminnya sudah agak berkerak.
Dia memutar keran, menampung air dingin dengan kedua telapak tangannya, lalu membasuh wajahnya berulang kali. Air dingin itu menetes dari dagu dan ujung rambutnya, menyamarkan rasa panas di pipinya yang dipicu oleh amarah yang tertahan.
Saat dia sedang meraih selembar tisu untuk mengeringkan wajahnya, terdengar suara pintu toilet dibuka dari luar. Dua pasang langkah kaki bersepatu hak masuk ke dalam.
Larissa yang berada di area wastafel dalam sekejap mengenali suara tersebut sebagai suara Rika dan Maya.
Mereka berdua tidak menyadari keberadaan Larissa karena posisi wastafel yang agak terhalang oleh sekat bilik toilet darurat.
Suara denting ritsleting tas dan gesekan bedak terdengar, diikuti oleh suara tawa kecil Maya yang terdengar sangat renyah namun sarat akan kekejaman yang murni.
"Eh, Rik, kamu tadi lihat enggak mukanya si Larissa pas disindir Pak Joko? Sumpah, kasihan banget ya. Tapi ya pantes sih," ujar Maya sambil memoles lipstiknya di depan cermin seberang.
"Pantas saja dibuang sama keluarga Baskoro kayak sampah. Rahimnya kering, wanita kalau enggak bisa punya anak kan sama saja kayak pajangan rusak. Enggak ada gunanya."
Rika terkekeh pelan, menyalakan keran air di wastafel sebelah. "Iya, bener banget. Kasihan ya mantan suaminya, lima tahun tersiksa nungguin anak, dikira istrinya subur tahu-tahu zonk. Untung sekarang Mas Bram udah nikah lagi sama asistennya yang jauh lebih cantik dan denger-denger subur banget. Si Larissa mah lewat."
"Makanya, punya rahim cacat kok dipelihara. Kalau aku jadi dia sih, udah malu banget buat keluar rumah, apalagi kerja di sini sok-sok an tegar," timpal Maya kejam, diikuti suara tawa mereka berdua yang menggema di dalam ruangan toilet yang sempit itu.
Dibalik sekat dinding pembatas, tubuh Larissa mendadak kaku seperti batu. Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut rekan kerjanya terasa seperti siraman air raksa yang membakar habis seluruh lapisan kesabarannya.
Dadanya naik turun dengan cepat karena napasnya memburu, dan jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dalam rongga dadanya.
Pria yang mandul total... pria yang tidak memiliki satu pun sperma hidup di tubuhnya... kini dipuja-puja sebagai korban yang tersiksa selama lima tahun.
Sementara dirinya, istri yang mengorbankan seluruh harga diri dan menelan fitnah demi menyelamatkan muka pria itu kini dicaci, dihina, dan dianggap sebagai pajangan rusak yang rahimnya kering oleh seluruh dunia.
Larissa meremas pinggiran wastafel seperti sedang mencengkeram leher Bram dan Vera, menahan suara geraman emosi yang membakar dadanya hingga ke titik didih tertinggi, siap menandai bahwa masa-masa berdiam diri telah selesai.
Bersambung
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut