NovelToon NovelToon
The Ghost Agent: Red Revenge

The Ghost Agent: Red Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / CEO
Popularitas:290
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."

Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.

Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.

Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehancuran dan Kelahiran Baru

Bip... bip... bip...

Bunyi yang monoton dan ritmis merayap masuk ke dalam benak Elikai Wijaya seperti jarum-jarum es yang menusuk kesadarannya. Bersamaan dengan itu, ada desis mekanis yang berat, menyemburkan udara dingin secara konstan ke dalam tenggorokannya yang terasa lengket dan sekering padang pasir. Setiap kali dadanya terangkat mengikuti pompaan mesin tersebut, rasa sakit yang luar biasa hebat meledak dari dada kirinya, menjalar cepat bagai sengatan listrik ke seluruh ujung saraf tubuhnya.

Elikai mencoba menggerakkan ujung jarinya. Berat. Rasanya seperti mencoba menggeser sebongkah beton di dalam air. Kelopak matanya terasa kaku saat dipaksa terbuka. Cahaya neon putih yang terlalu terang langsung menghantam retinanya, memicu rasa pening yang hebat di belakang kepalanya.

Pandangannya yang semula kabur perlahan mulai menangkap detail langit-langit yang terbuat dari lempengan baja abu-abu. Ini bukan rumahnya. Ini juga bukan ruang perawatan standar di markas Phantom.

"Jangan memaksa bergerak, otot-ototmu bisa robek."

Suara itu serak, kering, dan terdengar sangat lelah. Elikai memutar lehernya dengan susah payah, mengabaikan rasa kaku yang mendera persendiannya. Di sebelah tempat tidur tidurnya, Belladona terduduk di sebuah kursi besi. Lingkaran hitam yang pekat membungkus kedua matanya, kontras dengan kulit wajahnya yang pucat. Pakaian hoodie yang dikenakannya tampak kusut, dan di atas meja kerja di belakangnya, belasan kaleng minuman berkafein berserakan di samping tiga layar monitor yang terus menampilkan grafik matriks hijau.

Elikai mencoba bersuara, akan tetapi yang keluar dari celah bibirnya hanyalah desis parau yang menyakitkan. "Di... ma... na..."

Belladona bangkit dari kursinya, melangkah mendekat dengan langkah kaki yang diseret. Tangannya yang kurus memeriksa kantung infus, lalu menyesuaikan kecepatan aliran cairan bening yang masuk ke dalam pembuluh darah Elikai.

"Bunker medis bawah tanah milikku. Tempat paling aman di kota ini karena tempat ini tidak pernah ada dalam catatan sipil mana pun," Belladona berbicara tanpa nada, tetapi matanya yang memerah menyiratkan ketegangan yang belum larut. "Kamu koma selama empat bulan, Kai. Peluru kaliber .38 milik pamanmu merobek paru-paru kirimu dan bersarang hanya beberapa milimeter dari aorta jantungmu. Aku harus menjahit pembuluh darahmu yang pecah sendirian sambil mendengarkan laporan radio bahwa rumahmu sudah rata dengan tanah."

Mendengar kata rumah, sebuah palu besar tak kasatmata seolah menghantam dada Elikai. Detik itu juga, tirai ingatan malam jahanam itu tersingkap lebar. Bau bensin yang menyengat, kobaran api yang menjilat dinding, wajah arogan Gaizka Wijaya, tatapan dingin Jenderal Jendra, dan... darah. Darah ayahnya yang menyemprot dinding. Tubuh ibunya yang ambruk. Serta gaun ulang tahun merah muda milik adiknya yang berubah menjadi merah pekat.

Napas Elikai mendadak memburu dengan liar. Monitor detak jantung di dinding seketika berbunyi nyaring, memancarkan garis grafik yang melonjak-lonjak tidak beraturan.

Bip-bip-bip-bip

"Kai, kendalikan detak jantungmu! Jahitan di dadamu bisa terbuka!" Belladona memegang pundak Elikai, mencoba menahannya agar tidak bangkit.

Tetapi, fokus Elikai tidak lagi pada rasa sakit di dadanya. Ada sensasi aneh yang menjalar di sisi kiri wajahnya. Kulit di bagian itu terasa sangat tebal, kaku, dan kesat saat bergesekan dengan bantal medis. Ketika ia mencoba menggerakkan rahangnya, rasa perih yang membakar langsung menyengat pipinya.

Elikai mengangkat tangan kanannya yang masih terikat selang infus dengan gemetar. Jemarinya meraba wajahnya sendiri. Di bawah sentuhan jarinya, tidak ada lagi kulit halus yang dulu ia miliki. Yang ada hanyalah gundukan daging yang mengeras, jaringan parut yang berkerut-kerut kasar, dan permukaan yang melepuh. Sisi kiri wajahnya telah hancur.

"Cermin," desis Elikai. Suaranya tidak lagi terdengar seperti manusia, melainkan bisikan rendah yang pecah dari tenggorokan yang rusak.

"Kamu belum siap melihatnya," Belladona mencoba mengalihkan pandangan.

"Dona... Cermin."

Nada suara itu tidak menerima bantahan. Itu adalah suara Shadow, sang pembunuh legendaris yang kini sedang menuntut kenyataan, sekecil apa pun sisa kehidupan yang ia miliki.

Dengan tangan yang gemetar, Belladona berbalik menuju laci meja kerjanya. Ia mengambil sebuah cermin kecil berbingkai plastik hitam, lalu berjalan kembali dan memposisikannya tepat di hadapan wajah Elikai.

Saat matanya menangkap pantulan di dalam kaca, Elikai terpaku. Pria di dalam cermin itu tampak seperti monster yang baru saja merangkak keluar dari kerak neraka yang paling dalam. Sisi kiri wajahnya berubah menjadi topeng mengerikan dari luka bakar derajat tiga yang mengerut berwarna merah keunguan. Sebagian daun telinganya hilang terkena lelehan material panas, dan sebuah garis parut besar membelah pipinya dari ujung bibir hingga ke bawah mata, menarik sudut mulutnya ke bawah dalam seringai kaku yang ganjil.

Arthur menatap lurus ke dalam manik matanya sendiri yang terpantul di cermin. Kilau hangat seorang anak yang merindukan masakan ibunya, atau seorang kakak yang membawakan kado ulang tahun untuk adiknya, semuanya telah mati total. Habis terbakar bersama rumahnya. Yang tersisa di sana hanyalah sepasang kornea mata yang sedingin es, memancarkan kegelapan mutlak yang pekat dan haus akan darah.

Elikai menurunkan tangan Belladona yang memegang cermin. Gerakannya pelan, tapi penuh dengan kepastian yang menakutkan.

"Elikai Wijaya sudah mati di rumah itu," bisik Elikai. Setiap kata yang keluar terasa seperti sumpah yang diucapkan di depan batu nisan keluarganya. "Pria itu terlalu lemah. Pria itu terlalu percaya pada konsep kesetiaan dan keluarga, hingga membiarkan orang-orang yang dicintainya dibantai seperti binatang."

Belladona menatapnya dengan rasa ngeri yang mulai merayap di punggungnya. "Lalu apa rencanamu? Dengan wajah seperti itu, jangankan membalas dendam, melangkah keluar dari pelabuhan ini saja kamu akan langsung memancing perhatian anak buah Gaizka."

Elikai memalingkan wajahnya ke arah deretan peralatan medis canggih di sudut bunker. "Kita punya teknologi cetak jaringan kulit ilegal dari pasar gelap dan implan silikon taktis yang biasa digunakan Phantom untuk agen penyamaran tingkat tinggi, kan?"

Belladona terenyak. "Kamu gila? Operasi rekonstruksi total dengan mengubah struktur tulang wajah secara mandiri tanpa tim bedah penuh adalah bunuh diri. Rasa sakitnya akan sepuluh kali lebih menyiksa daripada peluru yang bersarang di dadamu. Kita harus memotong beberapa bagian tulang rahangmu, mengubah bentuk kelopak matamu, dan merekayasa ulang seluruh pigmen kulitmu agar tidak ada satu pun algoritma pengenal wajah milik Phantom yang bisa mengenalimu."

Elikai mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memotong telapak tangannya sendiri, meneteskan darah segar di atas seprai putih. Rasa sakit fisik tidak ada apa-apanya dibanding rasa hampa yang menggerogoti jiwanya setiap kali ia mengingat gaun merah muda adiknya yang bersimbah darah.

"Hancurkan wajah ini, Dona," kata Elikai, suaranya kini terdengar sangat datar, tenang, dan mengerikan. "Kikis semua hal yang tersisa dari Elikai Wijaya. Mulai detik ini, buang nama itu ke dalam tempat sampah. Aku akan terlahir kembali dengan nama baru, wajah baru, dan identitas baru yang akan meruntuhkan seluruh kerajaan kriminal Gaizka dari dalam."

Belladona menatap sahabatnya lama, mencari sisa-sisa pria yang dulu sering bercanda dengannya di sela-sela misi. Tidak ada. Yang ada di depannya kini hanyalah cangkang kosong yang digerakkan oleh satu bahan bakar tunggal, yaitu sebuah dendam yang membara.

"Baiklah kalau itu keputusanmu" Belladona berbalik, mulai menyalakan mesin bedah laser dan menyiapkan tabung anestesi dosis tinggi. "Malam ini, kita mulai pembongkaran neraka ini."

Di bawah pendar lampu neon yang dingin, Elikai memejamkan matanya saat masker bius mulai dipasang di wajahnya. Dalam kegelapan yang perlahan menenggelamkannya sekali lagi, ia bersumpah akan merobek setiap tenggorokan orang yang telah mengkhianatinya, tanpa ampun, tanpa sisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!