NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpisahan Dengan Lana

Sinar matahari menembus celah jendela kayu kamar Simon, menyinari mata Simon dengan hangat.

Bulu matanya bergetar sebelum ia secara perlahan membuka matanya.

"Silaunya...." Gumam Simon.

Simon segera bangun dari tempat tidurnya sembari mengusap mata.

Iya menghela napas lega, sambil juga mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan bunyi tulang mulai terdengar.

"Akhirnya... aku sudah bukan perjaka lagi!" gumam Simon dengan wajah yang penuh kepuasan.

Ia melirik ke samping tempat tidur. Lana sudah tidak ada di sana, hanya tersisa seberkas noda darah merah yang telah mengering terserap kasur itu.

"Di mana Lana?" gumam Simon sembari melihat pandangan sekeliling.

Kriet...

Pintu depan kamar terbuka. Lana melangkah masuk mengenakan pakaian biasanya, membawakan baju zirah dan pakaian Simon yang telah dicuci bersih.

Langkah kakinya tampak sedikit gemetaran akibat sisa rasa sakit semalam.

"Simon, ini adalah bajumu yang sudah aku cuci," kata Lana sambil tersenyum lembut memandangnya.

"Terima kasih, Lana," balas Simon.

Dalam hatinya, ia sedikit terkejut tidak menyangka pakaiannya akan bersih dan siap dipakai tepat ketika ia bangun tidur.

Sungguh gadis yang rajin...

Di kehidupan sebelumnya dimana kamu bisa mendapatkan gadis yang polos dan tradisional seperti ini? Kebanyakan wanita di sana cuma matree.

"Bagaimana dengan tubuhmu? Masih sakit?"

Muka Lana memerah, ia mengangguk pelan,

"Hmm, sedikit... tapi aku bisa menahannya kok.".

Lana terdiam sejenak, meremas ujung bajunya dengan ragu-ragu sebelum bertanya pada Simon.

"Umm... Apakah kamu akan pergi dari sini?" Lana menatap Simon dengan wajah yang sedih.

Simon mengenakan bajunya dan memasang baju zirah kulitnya kembali.

"Ya, aku harus pergi kembali pada Baron" jawab Simon.

Raut wajah Lana seketika meredup dan menjadi cemas.

"Apakah kamu... akan kembali ke sini lagi?"

Gerakan Simon saat mengencangkan pelindung dadanya terhenti sejenak.

Ia membalikkan badan dan menatap Lana dengan senyuman hangat.

"Aku pasti akan kembali kok. Setelah pekerjaanku selesai, aku akan menyempatkan waktu untuk kembali ke sini. Jadi, tolong tunggulah aku," kata Simon.

Gadis berambut pirang yang tadinya murung itu seketika kembali tersenyum cerah. Dengan mata terpejam bahagia, Lana mengangguk.

"Hmm! Aku pasti akan menunggumu!"

Simon mendekat dan mengusap kepala Lana dengan pelan. "Gadis baik," ucap Simon.

"Hehehe..." Lana terkekeh riang.

..........

Mereka berdua berjalan keluar dari penginapan menuju pelataran desa.

Di sana, sudah ada Kapten Jon, Gogo, Jack, Shade, dan Tomi, mereka semua sudah bersiap menaiki kuda masing-masing untuk meninggalkan desa perbatasan tersebut.

Gogo terlihat menaiki kudanya, dan ekspresi kuda perang itu tampak sangat ketakutan dan kesulitan menampung beban tubuh Gogo yang gemuk.

"Sobat, kalau kamu bisa bertahan beberapa hari saja mengangkutku sampai ke markas, aku janji akan mencarikan kuda betina paling cantik untukmu!" bisik Gogo di telinga kudanya.

Seketika, kuda itu meringkik nyaring dan kembali bersemangat berdiri tegap.

Jack yang menyaksikan tingkah rekannya menggelengkan kepala.

"Lihat si bodoh itu. Kudanya hampir patah pinggang, tetapi malah ditipu pakai janji manis!"

Tomi tertawa,

"Tapi taktiknya berhasil, Jack! Kuda itu langsung tegap lagi. Tampaknya kuda Gogo punya selera yang sama mesumnya dengan pemiliknya!"

Shade, yang sedang memeriksa tali busurnya di atas kuda, memerhatikan hal ini dengan wajah dingin.

"Pokoknya jika kuda itu ambruk di tengah jalan, Gogo harus memanggul pelananya sendiri."

Gogo yang mendengar celotehan mereka langsung menoleh sembari menepuk dadanya.

"Hoi! Jangan meremehkan ikatan batin antara pejantan! Kudaku paham mana motivasi sejati dan yang palsu!"

Kudanya meringkik pendek seolah mengiyakan, membuat Tomi dan Jack tertawa makin keras di atas pelana mereka.

Simon yang menuntun Zen melangkah mendekat lalu melompat menaiki kudanya. Dari kejauhan, matanya menangkap sosok Lana yang memperhatikan dirinya dengan raut wajah khawatir dan sedih.

Simon menatapnya lurus, lalu mengacungkan jempol tangannya.

"Aku pasti akan kembali!" teriak Simon dengan meyakinkan.

"Heheheehe, nampaknya Simon kita telah menemukan belahan hatinya." Kata Tomi sambil bercanda.

"Simon aku mendengar suara aneh dari kamarmu, apa yang terjadi ya~" kata Gogo sambil menyenggol Simon.

"Tentu saja itu suaraku saat latihan oke, tidak ada yang aneh tentang itu!" Kata Simon.

"Latihan ya? Hehehe ~" Jack tertawa.

Dan Shade juga secara tidak sadar tertawa pelan.

Kapten Jon mengangkat tali kudanya di barisan paling depan dan berteriak keras, di belakang kuda kapten Jon ada uskup sesat yang mulutnya di bungkam dengan kain agar tidak berisik dan kedua tangannya di rantai pada pelana kuda.

Uskup sesat itu bergerak-gerak tak karuan

"Apakah semuanya sudah siap?!"

""Siap!"" Jawab mereka semua.

Derap... derap... derap...

Langkah kaki kuda melaju menembus gerbang kayu desa.

Dari tepi gerbang, Lana melambaikan tangannya dengan sedih, air mata menetes di pipinya.

"Hati-hati di jalan, Simon! Jangan lupa janji kita! Aku akan selalu menunggumu di sini!" teriak Lana dengan suara serak.

Ibu Lana yang berdiri di sampingnya menghela napas panjang, lalu merangkul pundak putrinya untuk menenangkan.

"Sudahlah, Lana... Dia adalah ksatria yang hebat. Pria seperti Simon memiliki takdir besar yang harus dijalaninya," bisik sang ibu secara lembut.

"Tapi Ibu... bagaimana kalau dia tidak pernah kembali?" tanya Lana dengan cemas sembari menyapu air matanya.

Ibunya tersenyum hangat menatap debu salju yang ditinggalkan rombongan kavaleri di kejauhan.

"Ibu bisa melihat bahwa anak muda itu bukan tipe pria yang Suka mengingkari janji. Jika dia bilang akan kembali, dia pasti akan kembali padamu percayalah"

Lana mengangguk pelan, memeluk ibunya sembari terus menatap punggung Simon yang perlahan menghilang di balik perbukitan salju.

Sementara itu pada Simon yang sedang menunggangi Zen, mendadak menepuk dahinya dengan pelan.

"Sial, aku lupa mengambil baju zirah perak itu!" gumam Simon dengan nada kesal.

Ia teringat pada zirah perak buatan penyihir Gullveig yang ditinggalkannya di samping tengkorak Senior Leodo di dalam gua es rahasia.

Karena terburu-buru mengejar penculikan Lana kemarin malam, ia hanya membawa gulungan Pernafasan Titan Jormungar dan meninggalkan zirah Mithril tersebut.

"Ya sudahlah. Lain kali saat aku berkunjung ke perbatasan lagi, akan kuambil baju zirah itu. Semoga saja saat waktu itu tiba, guanya belum ditemukan oleh siapa pun," pikir Simon.

Gogo, yang mengendarai kudanya di dekat Simon, mendadak menoleh karena menangkap perubahan raut wajah rekannya.

"Kenapa kamu diam saja, Simon? Apa ada sesuatu?" tanya Gogo dengan heran.

Simon segera kembali tenang.

"Tidak ada, aku hanya teringat sesuatu," jawab Simon.

"Hmm, baiklah! Mari lanjut berjalan, jangan sampai tertinggal, kawan!" ucap Gogo sembari menepuk pelan leher kudanya.

"Baiklah," balas Simon dengan singkat.

Tomi yang berkuda tidak jauh di samping mereka terkekeh melihat tingkah Gogo.

"Hei, Gogo! Daripada kau mengurusi lamunan Simon, lebih baik kau khawatirkan kudamu itu! Lihat kakinya yang gemetar menampung beban tubuhmu sejak tadi!"

Jack di barisan tengah tertawa lebar.

"Haha! Benar kata Tomi! Jika kudamu ambruk di tengah jalan salju ini, jangan harap kami mau mengangkutmu. Kau harus berjalan kaki sambil memikul zirahmu sendiri!"

Gogo melotot ke arah Jack dan Tomi dengan wajah bersungut-sungut.

"Sembarangan kalau bicara! Ini namanya otot ksatria, bukan beban berat! Kudaku ini sangat bangga mengangkut ksatria jenius sepertiku. Iya kan, Sobat?"

Kuda Gogo hanya mengeluarkan ringkikan rendah yang terdengar seperti helaan napas pasrah, membuat Tomi dan Jack makin tertawa terbahak-bahak.

"Fokuslah pada jalan," potong Shade dengan suara dingin dari arah samping, matanya yang tajam tetap mengawasi pepohonan pinus di sekitar mereka.

"Hawa dingin mulai semakin pekat, dan sisa-sisa pengikut sekte atau bandit perbatasan bisa saja memanfaatkan celah ini untuk menyergap."

Atmosfer riuh itu seketika mereda saat Kapten Jon memutar sedikit kepala perintahnya dari posisi paling depan.

"Shade benar. Tahan mulut kalian dan tetap jaga formasi tempur," tegur Kapten Jon dengan nada yang berwibawa.

"Kita membawa tawanan penting. Orang ini harus tiba di kediaman Baron dalam keadaan bernapas."

Kapten Jon kemudian melirik ke arah Simon yang berada di belakang.

"Simon, kau tampak memikirkan sesuatu sejak kita keluar dari desa. Apakah kamu menemukan keberadaan musuh lain di sekitar sini?"

Simon menatap Kapten Jon secara lurus, sepasang mata merahnya memancarkan ketenangan.

"Tidak ada, Kapten. Aku hanya sedang memikirkan persiapan laporan yang harus kita serahkan pada Baron nanti."

Kapten Jon mengangguk puas mendengar jawaban tersebut.

Bagus. Kerja kerasmu di markas sekte kemarin sangat luar biasa, tapi ingat, pertempuran belum benar-benar selesai sebelum kita memasuki gerbang benteng utama."

""Siap, Kapten!"" Balas Simon dan anggota kavaleri lainnya serempak, lalu melanjutkan perjalanan menembus badai salju di perbatasan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!