Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babml. 30. Keputusan telak
Pimpinan dewan direksi bersama beberapa pemegang saham PT Global akhirnya mengambil keputusan. Setelah melalui pembahasan yang cukup panjang, mereka menetapkan Khalid Anugerah sebagai Wakil Direktur Utama perusahaan.
Keputusan itu sontak membuat suasana ruang meeting berubah. Sebagian besar orang menerima keputusan tersebut dengan tenang. Namun, tidak sedikit pula yang terlihat terkejut, terutama mereka yang sejak awal tidak menyangka seorang karyawan yang baru bekerja sekitar satu tahun di PT Global bisa langsung menduduki posisi setinggi itu.
Bagi beberapa orang, keputusan tersebut bahkan terasa sulit diterima. Salah satunya adalah Rudy. Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya menunjukkan kemarahan yang berusaha mati-matian disembunyikannya.
Rencana yang sudah disusunnya selama beberapa waktu untuk mencemarkan nama baik Khalid dan membuat pemuda itu dipecat ternyata gagal total.
Bukan hanya gagal. Khalid justru mendapatkan jabatan yang jauh lebih tinggi.
"Sial! Brengsek! Kenapa anak itu selalu saja mendapatkan keberuntungan sebesar ini?" gerutunya dalam hati. "Aku bahkan tidak bisa mengusirnya dari perusahaan."
Rudy menundukkan wajahnya sejenak, berusaha mengendalikan emosinya. Namun, rasa kesal yang memenuhi dadanya semakin sulit dibendung.
Sementara itu, Kinanti justru tampak tenang. Ia menghampiri Khalid adiknya dan memegang kedua lengan kekar adiknya dengan penuh kebanggaan. Tatapannya menunjukkan dukungan seorang kakak yang sejak awal percaya pada kemampuan adiknya.
"Kamu sekarang sudah menjadi Wakil Direktur Utama. Jadi, bekerjalah dengan lebih pantang menyerah agar perusahaan ini semakin maju. Mbak akan selalu mendukung dan membantumu. Jangan pernah merasa tidak sanggup menjalankan amanah ini," ujar Kinanti dengan lembut, tetapi penuh keyakinan.
Perkataan itu membuat beberapa orang di dalam ruangan saling berpandangan.
Terutama Pak Ridwan.
Sejak tadi, ia memperhatikan kedekatan antara Kinanti dan Khalid. Ada sesuatu yang terasa janggal baginya. Cara Kinanti berbicara kepada Khalid bukan seperti seorang rekan kerja ataupun investor kepada seorang pejabat perusahaan.
Ada kedekatan yang jauh lebih dalam.
Pak Ridwan akhirnya membuka mulut.
"Maksudnya, Mbak Kinanti, Khalid adalah...?"
Namun, sebelum Pak Ridwan menyelesaikan pertanyaannya, Rudy justru menyela.
"Apa sebenarnya hubungan Anda dengan Khalid?" tanyanya tanpa basa-basi.
Suasana ruangan kembali hening.
Rudy menatap Kinanti tajam, seolah-olah menemukan kesempatan untuk kembali menjatuhkan wanita itu.
Bahkan tanpa memikirkan akibat dari perkataannya, ia melanjutkan dengan nada sinis.
"Atau jangan-jangan dia simpanan Anda?"
Beberapa orang langsung terdiam.
Ada yang membelalakkan mata, ada pula yang menatap Rudy seolah tidak percaya dengan keberaniannya mengucapkan tuduhan tersebut di depan banyak orang.
Kinanti dan Khalid hanya saling berpandangan. Keduanya sama-sama menggelengkan kepala.
Rudy memang belum berhenti mencari celah untuk mempersulit mereka.
Padahal, selama beberapa bulan terakhir, Rudy sendiri sering bersikap semena-mena terhadap karyawan lain. Ia merasa memiliki kedudukan lebih karena hubungan keluarganya dengan Pak Ridwan. Mertuanya merupakan saudara dari Pak Ridwan sehingga Rudy merasa memiliki perlindungan di dalam perusahaan.
Namun, kali ini perkataannya justru membuat suasana semakin canggung.
Semua orang menunggu jawaban Kinanti.
Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. Bukan senyum karena terkejut, melainkan senyum seseorang yang merasa tuduhan tersebut terlalu tidak masuk akal untuk ditanggapi dengan emosi.
Kinanti kemudian menatap seluruh orang yang berada di ruangan tersebut.
"Khalid adalah adikku," ucapnya tenang.
Ia berhenti sejenak, membiarkan semua orang mencerna perkataannya.
"Kami saudara kandung." ucapnya dengan tenang.
Seketika, ruangan meeting menjadi riuh
oleh suara bisik-bisik. Beberapa orang tampak terkejut. Mereka sama sekali tidak mengetahui hubungan antara Kinanti dan Khalid.
Pak Ridwan bahkan masih terlihat terpaku.
Kinanti kemudian meraih tasnya yang berada di atas meja. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, ia kembali menoleh kepada semua orang.
"Kalau masih ada yang meragukan bahwa kami saudara kandung, silakan lakukan tes DNA. Atau kalau mau cara yang lebih sederhana, silakan cek ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Kebenarannya bisa dibuktikan dengan jelas."
Tidak ada nada tinggi dalam suara Kinanti.
Justru ketenangan itulah yang membuat perkataannya terasa semakin tegas.
Setelah mengatakan hal tersebut, Kinanti melangkah keluar dari ruang meeting. Amri, asisten pribadinya, segera mengikuti langkah wanita itu.
Sementara itu, orang-orang yang masih berada di dalam ruangan hanya bisa memandangi kepergian mereka dengan wajah penuh keterkejutan.
Khalid yang sempat terdiam akhirnya segera menyusul kakaknya.
Ia mempercepat langkah hingga berhasil mendekati Kinanti yang sudah berada di depan lift.
"Mbak Kinanti."
Kinanti menghentikan langkahnya dan menoleh. Khalid berdiri di hadapannya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Seharusnya Mbak tidak perlu sampai melakukan semua ini. Mbak tidak perlu membuang-buang uang untuk membeli saham PT Global hanya demi membantuku."
Kinanti hanya tersenyum kecil.
Pintu lift terbuka di hadapan mereka.
Namun, sebelum masuk, Kinanti menatap adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Sebagai seorang kakak, membantu adiknya ketika membutuhkan adalah kewajibanku."
Khalid terdiam.
"Dan kamu tidak perlu terlalu memikirkan apa yang sudah Mbak lakukan. Jalani saja kehidupanmu dengan baik. Buktikan bahwa keputusan Mbak untuk mempercayaimu tidak pernah salah."
Kinanti kemudian melangkah masuk ke dalam lift.
"Mbak hanya ingin mendengar kabar baik tentang perkembangan perusahaan Global darimu. Itu saja."
Pintu lift perlahan menutup.
Khalid masih berdiri di tempatnya, memandangi pintu lift yang kini telah tertutup rapat.
Ia tahu, berdebat dengan kakaknya hanya akan menjadi sia-sia. Sejak dulu, Kinanti memang selalu seperti itu. Selalu mengutamakan keluarganya. Selalu bersedia berkorban tanpa pernah menghitung apa yang sudah diberikannya.
Khalid menghembuskan napas panjang.
"Mbak..." gumamnya pelan.
Tatapannya masih tertuju pada pintu lift.
"Entah bagaimana caranya, suatu hari nanti aku pasti akan membalas semua kebaikan Mbak."
Sudut bibirnya terangkat tipis, meskipun matanya mulai berkaca-kaca.
"Sejak dulu, Mbak selalu berkorban untuk keluarga."
Di sisi lain, perjalanan pulang Kinanti dan Amri berlangsung seperti biasa.
Mobil yang mereka tumpangi meninggalkan kawasan gedung PT Global dan perlahan memasuki jalan utama.
Kinanti duduk di kursi belakang sambil memeriksa beberapa dokumen yang dibawanya dari perusahaan. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak meninggalkan gedung tadi, ada seseorang yang diam-diam memperhatikannya.
Dari kejauhan, pria itu memperhatikan mobil Kinanti yang semakin menjauh.
Tatapannya penuh tanda tanya.
Selama ini ia sudah berusaha mencari tahu tentang kehidupan Kinanti. Bahkan seorang detektif telah ia sewa untuk menyelidiki wanita tersebut.
Namun, semakin banyak informasi yang berhasil dikumpulkan, semakin banyak pula hal yang terasa tidak masuk akal.
Ada terlalu banyak sisi Kinanti yang belum ia pahami.
"Kenapa Kinanti semakin aku selidiki, semakin banyak teka-teki yang sulit aku pecahkan?" gumamnya.
Ia menatap ke arah mobil Kinanti yang akhirnya menghilang di antara kendaraan lainnya.
"Bahkan detektif yang aku sewa pun tidak berhasil menemukan semua jawaban yang aku cari."
Pria itu menghela napas panjang.
Ada rasa penasaran yang semakin besar dalam dirinya.
"Kinanti..."
Ia terdiam sejenak sebelum kembali bergumam.
"Kamu adalah istriku. Tapi kenapa justru kamu menjadi misteri yang paling sulit untuk aku temukan jawabannya?”