Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28.Perang dingin
Malam jatuh dengan sangat pekat di kediaman Adikara. Suara rintik hujan yang kembali membasahi kaca jendela lantai dua seolah mempertegas keheningan yang mencekik di antara dua penghuni rumah megah tersebut.
Aruna duduk meringkuk di atas sofa panjang yang terletak di sudut kamar. Di atas meja kaca di hadapannya, nampan berisi makan malam dan piring kecil obat-obatan telah bersih tanpa sisa. Bukan karena ia lapar atau tersentuh oleh instruksi Kaivan, melainkan murni karena Aruna tidak ingin pria itu memiliki alasan lagi untuk masuk ke kamarnya dan berpura-pura peduli.
Aruna memeluk kedua lututnya kencang, menyandarkan dagunya di sana. Kata-katanya sendiri tadi sore masih bergema di dalam kepalanya. Saya tidak pantas untuk siapa pun. Ada rasa hampa yang begitu dingin merayapi nadinya, sebuah kepasrahan mutlak yang membuatnya kebal terhadap gertakan maupun perlakuan lembut Kaivan.
Tok, tok, tok.
Ketukan pintu kamar terdengar tiga kali. Kali ini pelan dan sangat teratur.
Aruna tidak bersuara, tetapi pintu itu tetap terdorong terbuka secara perlahan. Kaivan berdiri di sana. Pria itu sudah berganti pakaian menggunakan kaos polos berwarna abu-abu gelap dan celana kain santai, meninggalkan kesan kaku dari kemeja kerjanya. Namun, raut wajahnya tetap keras, dilapisi tembok angkuh yang kembali ia pasang rapat-rapat setelah pertengkaran dingin mereka tadi sore.
Mata tajam Kaivan langsung tertuju pada nampan makanan yang kosong di atas meja. Ada secercah kelegaan yang melintas sangat cepat di matanya, sebelum kembali tertutup oleh tatapan datarnya.
"Bagus kalau kau menghabiskannya," suara Kaivan memecah kesunyian, menggelegar pelan di dalam ruangan yang sepi. "Ternyata kau baru mau patuh kalau diberi tahu dengan cara yang keras."
Aruna tidak berpaling dari jendela. "Saya cuma menjalankan tugas saya sebagai barang jaminan yang penurut, Pak Kaivan. Agar Anda tidak perlu repot-repot membuang waktu menyuapi atau menyisir rambut saya lagi."
Kalimat datar tanpa nada emosi itu menghantam Kaivan tepat di dadanya. Pria itu menegang di tempatnya berdiri. Rasa gengsi yang sempat hancur tadi sore kembali bergolak, membakar emosinya yang ditahan mati-matian.
Kaivan melangkah mendekati sofa, menghentikan kakinya persis di samping meja kaca. Ia menunduk, menatap puncak kepala Aruna yang enggan menoleh padanya.
"Kau sengaja memancing emosiku, Aruna?" tanya Kaivan dengan suara rendah yang menekan. "Kau pikir dengan bersikap seperti patung bernapas ini, kau bisa membuatku merasa bersalah?"
Aruna akhirnya memutar kepalanya pelan, menatap Kaivan dengan sorot mata yang redup dan sepenuhnya kosong. Tidak ada ketakutan lagi di sana, tidak ada pula kemarahan. Yang tersisa hanyalah keputusasaan yang teramat dangkal.
"Saya tidak sedang memancing apa pun, Pak," sahut Aruna lirih. "Saya cuma menyampaikan kenyataan. Anda marah saat saya menolak makan, Anda juga marah saat saya menyadari posisi saya di rumah ini. Jadi, sebenarnya... apa yang membuat Anda puas?"
Kaivan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Rahangnya berkali-kali menegang kencang. Pertanyaan polos namun menusuk itu mengunci tenggorokannya rapat-rapat.
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah ia harus mengaku bahwa ia ingin melihat Aruna kembali tersenyum? Apakah ia harus menurunkan harga dirinya yang setinggi langit dan mengatakan bahwa ia membenci fakta bahwa Aruna memandangnya seperti iblis? Tidak. Gengsi seorang Kaivan Adikara terlalu besar untuk mengakui kekalahan itu.
"Yang membuatku puas adalah jika kau menuruti semua aturan di rumah ini tanpa banyak bicara," cetus Kaivan dingin, berusaha sekeras mungkin mengeraskan nada suaranya. "Termasuk tidak membuang mukamu saat aku sedang bicara padamu!"
Aruna menatap Kaivan selama beberapa detik, lalu perlahan-lahan menegakkan posisi duduknya. "Baik, Pak Kaivan. Saya mendengarkan."
Sikap penurut yang begitu dipaksakan dan hampa itu justru makin menyiksa batin Kaivan. Pria itu mengepalkan jemari tangannya kencang-kencang di samping tubuhnya, merutuki ketidakmampuannya sendiri untuk menembus benteng apatis yang telah dibangun Aruna.
"Besok jam delapan pagi, penjahit pribadi akan datang ke rumah," kata Kaivan mengalihkan pembicaraan, membuang pandangannya ke arah dinding. "Kau butuh pakaian baru yang lebih layak. Pakaian-pakaian lama dari rumah orang tuamu itu sudah kubuang."
Aruna membelalakkan matanya tipis. Pakaian-pakaian lama itu... memang murah dan lusuh, tetapi di antaranya ada satu rajutan sweater tua peninggalan neneknya—satu-satunya barang yang memberi kenyataan hangat dalam hidupnya yang kelam.
"Anda... membuang semuanya?" bisik Aruna, getaran luka yang sangat dalam mendadak muncul kembali di matanya.
Kaivan menyipitkan matanya tajam, tidak menyadari nilai emosional dari pakaian-pakaian tersebut. Di pikirannya yang pragmatis, barang-barang lusuh itu tidak pantas berada di kamar mewah ini dan hanya akan memperlambat pemulihan mental Aruna.
"Pakaian lusuh tidak ada gunanya di rumah ini," jawab Kaivan datar dan angkuh. "Segera ganti dengan yang baru. Aku tidak mau tamu Adikara Group melihat istriku berpakaian seperti pengemis."
Aruna menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemari tangannya meremas kain celananya hingga meremuk. Air mata hangat menetes tanpa suara, jatuh membasahi pangkuannya. Ia tidak memprotes, ia tidak berteriak. Aruna kembali menutup rapat mulutnya, membiarkan Kaivan merenggut sisa-sisa kenangan terakhir yang ia miliki.
Melihat bahu Aruna yang berguncang pelan tanpa suara, rasa panik asing kembali menyergap dada Kaivan. Pria itu mengambil satu langkah maju secara refleks, tangannya terulur setengah ke udara ingin mengusap bahu gadis itu.
Namun, sebelum jemarinya menyentuh kain baju Aruna, ingatan akan kata-kata Aruna tadi sore—bahwa ia tidak pantas untuk siapa pun dan menganggap kebaikannya sebagai kebohongan—membuat tangan Kaivan membeku di udara.
Dengan rasa gengsi yang kembali membendung tindakannya, Kaivan menarik tangannya kaku. Pria itu menyilangkan tangan di dada, membelakangi Aruna yang sedang menangis diam.
"Menangis tidak akan mengembalikan barang-barang sampah itu," kata Kaivan kaku, suaranya terdengar makin keras hanya untuk menutupi penyesalan yang mendadak mencengkeram dadanya. "Tidurlah. Lampu kamar akan kuturunkan redupnya dari luar."
Kaivan membalikkan badan dan melangkah kaku keluar dari kamar.
Begitu pintu terkatup dan menyisakan kegelapan tipis di dalam ruangan, Aruna akhirnya membiarkan isak tangisnya pecah tanpa suara. Di dalam kamar yang dingin itu, Aruna makin memeluk dirinya sendiri dengan erat.
Di luar kamar, Kaivan berdiri bersandar pada pintu kayu tebal tersebut. Pria itu menatap tangannya sendiri yang tadi sempat terulur di udara. Ada rasa perih dan sesak yang luar biasa hebat menghantam ulu hatinya—sebuah kesadaran menyiksa bahwa setiap kali ia berusaha mendekat dengan cara yang angkuh, ia justru menggoreskan luka yang makin dalam pada jiwa gadis yang kini menguasai seluruh pikirannya.
_Bersambung