NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inisiatif Baru Sang Pria Es

Waktu terus bergulir tanpa memedulikan luka yang belum mengering. Tiga bulan telah berlalu sejak sore yang penuh kegaduhan di koridor lantai lima belas itu. Di duniakah luar, berita pernikahan megah antara Carlo dan Sarah terpajang di berbagai media sosial dan majalah bisnis sebagai bentuk aliansi strategis dua keluarga elite [shopping]. Bagi Valerie, berita itu hanyalah selembar kertas usang yang tidak lagi memiliki arti. Tembok tinggi yang dia bangun di dalam hatinya telah berhasil mengunci rapat semua rasa sakit, mengubah gadis ekspresif itu menjadi sosok yang sunyi dan dingin.

Di kampus, Valerie menjalani hari-harinya layaknya sebuah mesin yang teratur. Dia datang tepat waktu, menyelesaikan praktikum laboratorium biokimia dengan presisi tanpa cela, lalu langsung pulang menuju unit apartemen studio nomor 1502. Tidak ada lagi tawa riuh yang biasa menggema di koridor fakultas, tidak ada lagi warna kuning cerah dalam pakaiannya. Dia hanya bergerak berdasarkan rutinitas akademis yang kaku, sebuah mekanisme pertahanan diri agar jiwanya tidak perlu merasakan kehancuran untuk ketiga kalinya.

Namun, jika ada satu variabel yang paling konsisten mengusik keteraturan sunyi hidup Valerie belakangan ini, variabel itu bernama Dean.

Sore itu, hujan rintik-rintik kembali membasahi ibu kota Jakarta, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Valerie melangkah keluar dari lift lantai lima belas dengan tubuh yang tampak lebih kurus. Rambut hitamnya yang biasa terurai kini diikat asal-asalan, dan matanya menyiratkan kelelahan mental yang pekat setelah menghabiskan waktu enam jam meneliti draf struktur sel di laboratorium.

Langkah kaki Valerie terhenti tepat dua langkah di depan pintu putih kamarnya. Pandangan matanya yang sedingin es langsung tertuju pada sebuah benda asing yang tergeletak rapi di atas meja kecil di samping daun pintunya.

Sebuah kotak wadah makanan berbahan kaca bening, di dalamnya tersaji fuyunghai tebal dengan siraman saus asam manis yang masih mengepulkan uap hangat aromatik. Di samping kotak tersebut, terdapat selembar draf kertas kecil berukuran persegi dengan tulisan tangan yang kaku, tegak, namun teratur—tipikal coretan tangan seorang eksekutif yang biasa menandatangani draf kontrak bernilai miliaran.

“Fuyunghai buatan rumah dengan saus asam manis, tidak terlalu banyak gula sesuai dengan preferensi kesehatanmu. Saya mencoba memasaknya sendiri di dapur siang tadi setelah meminta resep dari Mama. Makanlah selagi hangat setelah kamu membersihkan diri.” — Dean.

Valerie menatap draf catatan kecil itu dengan seulas senyuman sinis yang hambar. Sifat blak-blakannya mendadak memicu denyut perih yang samar di dadanya. Lucu sekali. Satu tahun lalu, dia harus menerobos badai hujan deras, basah kuyup hingga ujung bajunya meneteskan air, hanya untuk mengantarkan kotak bekal berisi fuyunghai buatan rumah ke kantor Dean. Saat itu, Dean justru mengusirnya dengan alasan logis bahwa tindakannya impulsif, tidak efisien, dan mengotori lantai marmer kantor.

Tapi sekarang? Pria es yang memuja efisiensi waktu korporat itu justru rela meluangkan waktu berjam-jam di sela-sela jadwal auditnya hanya untuk belajar memotong sayuran, mengocok telur, dan mengotori dapur apartemen mewahnya demi membuatkan sepiring fuyunghai untuknya.

Klek.

Pintu unit apartemen nomor 1501 yang berada tepat di seberang lorong terbuka perlahan. Dean melangkah keluar dengan gerakan kaku yang tenang. Sore ini dia tidak lagi mengenakan setelan jas hitam kebesarannya; dia hanya memakai kaus kasual berwarna hitam polos dengan celana kain panjang abu-abu. Namun, yang membuat Valerie mengernyitkan kening adalah penampilan pria itu. Ujung lengan kaus hitam Dean digulung hingga siku, memperlihatkan sedikit noda tepung putih yang samar di lengannya, dan jari telunjuk tangan kanannya tampak dibungkus oleh selembar plester medis kecil—sebuah bukti fisik yang logis bahwa seorang amatir baru saja terluka akibat pisau dapur.

Dean menghentikan langkahnya tepat di tengah koridor, menjaga jarak aman dua meter dari posisi Valerie sesuai dengan draf kesepakatan tidak tertulis di antara mereka. Matanya yang tajam bak elang menatap lekat-lekat wajah pucat Valerie dengan binar penyesalan yang mendalam sekaligus ketulusan yang teramat sangat besar.

"Saya tahu rasanya mungkin tidak sepadan dengan buatan rumah ibumu, Valerie," ucap Dean, suaranya rendah, berat, dan kaku namun sarat akan kesungguhan yang putus asa. "Ini percobaan ketiga saya siang tadi setelah dua draf masakan sebelumnya gosong karena saya salah mengatur suhu kompor induksi. Tapi sausnya sudah saya pastikan menggunakan takaran yang pas."

Valerie tidak menyentuh kotak makanan tersebut. Dia perlahan membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata elang pria yang dulu pernah menghancurkan seluruh harga dirinya di ruang kerja CEO. Tembok tinggi yang dia bangun di dalam hatinya tidak bergeser satu senti pun menghadapi inisiatif baru dari sang mantan kekasih.

"Apakah dengan belajar memasak fuyunghai dan melukai jarimu sendiri seperti itu, menurut otak logismu seluruh luka di hatiku bisa langsung sembuh, Dean?" tanya Valerie, suaranya terdengar sangat kaku, datar, dan sedingin salju di musim dingin. "Satu tahun lalu, aku mengemis perhatianmu membawa makanan seperti ini dan kamu membuangnya ke tempat sampah melalui sekretarismu. Sekarang, setelah hatiku mati total untuk lelaki manapun, kamu bertingkah seolah-olah kamu adalah pria paling romantis di duniakah ini?"

Dean menarik napas pendek melalui hidung, menekan rasa sesak yang meremas dadanya mendengar kalimat sarkasme dari mulut Valerie. Dia menatap jari telunjuknya yang terbungkus plester, lalu kembali menatap Valerie tanpa ada selembar pun rasa marah atau bantahan di wajahnya.

"Saya pantas menerima semua kata tajam dari mulutmu, Valerie," jawab Dean kaku, namun matanya memancarkan ketetapan mutlak yang tak akan pernah bisa digoyahkan oleh waktu. "Tindakan saya di masa lalu adalah kebodohan terbesar yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh rumus matematika mana pun. Saya tidak memasak ini untuk meminta draf pengampunan darimu hari ini. Saya melakukannya murni karena saya ingin belajar mengerti duniakamu, belajar memenuhi apa yang dulu gagal saya berikan sebagai seorang kekasih. Jika kamu tidak mau memakannya, taruh saja di dalam kulkasmu atau buanglah ke tempat sampah koridor ini. Tapi saya akan tetap menaruhnya di sini setiap sore."

Valerie menatap Dean cukup lama dengan tatapan kosong yang melelahkan. Sifat kaku Dean ternyata telah bertransformasi menjadi sebuah ketegasan protektif yang menolak untuk menyerah. Valerie tidak membuang makanan itu di depan wajah Dean, namun dia juga tidak membawanya masuk dengan senyuman. Dia mengambil kartu digitalnya, membuka pintu unit nomor 1502 dengan gerakan cepat, lalu menyambar kotak kaca makanan tersebut bersama draf catatannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Pintu apartemen ditutup dengan suara dentuman keras yang menggema di sepanjang koridor lorong lantai lima belas.

Dean berdiri mematung sendirian di tengah koridor yang kembali sunyi. Namun, seulas senyuman tipis yang sangat langka dan samar perlahan terukir di sudut bibirnya yang mengeras. Fakta bahwa Valerie bersedia membawa kotak makanan itu masuk ke dalam kamarnya—meskipun tanpa kata draf terima kasih—adalah sebuah kemenangan logis kecil yang teramat berharga bagi penantian panjangnya.

Dean berjalan kembali memasuki unit kamarnya nomor 1501, melangkah menuju area dapur yang masih sedikit berantakan oleh sisa-sisa tepung dan mangkuk saus. Dia membersihkan permukaan meja marmer dapur dengan kain lap dengan gerakan yang teratur dan presisi.

Bagi seorang Dean, ini adalah draf perjuangan baru dari titik nol. Memasak, mengantar makanan, berdiri menjaga lorong dari gangguan duniakah luar, dan menerima setiap penolakan dingin dari Valerie adalah rutinitas baru yang akan dia jalankan secara konsisten selama sisa tahun ini. Karma telah mengajarinya dengan sangat kejam bahwa duniakah logika kaku tidak akan pernah cukup untuk mempertahankan seorang wanita seutuhnya, dan kini, dengan selembar plester medis di jarinya dan ketulusan pekat di dadanya, sang CEO es bersumpah tidak akan pernah bergeser satu senti pun dari depan pintu kamar Valerie sampai benteng es di hati sang mantan kekasih runtuh tak bersisa oleh kehangatan inisiatif barunya.

Dean mulai menunjukkan konsistensi inisiatif kecilnya sebagai tetangga depan kamar, sementara Valerie masih mempertahankan tembok dinginnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!