NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29

Skenario Sebastian

Sebastian pulang tepat sebelum pukul tujuh malam.

Begitu memasuki aula, ia melihat kotak kue di meja samping dan dua cangkir tamu yang belum dipindahkan. Bi Asih menunggu di dekat tangga dengan wajah lebih serius daripada biasanya.

"Ada tamu pagi tadi, Pak Sebastian."

Sebastian menyerahkan tas kerja kepada pelayan. "Siapa?"

"Tante Nyonya Karina datang bersama suami dan dua anaknya. Lalu Pak Vincent menyusul."

Langkah Sebastian berhenti.

Bi Asih menceritakan semuanya di ruang kecil dekat aula: Kevin meminta dua ratus juta, Jessica menyuruh ibunya diam, Karina menolak memberi uang atau pekerjaan titipan, dan Vincent datang setelah identitasnya dikonfirmasi melalui kantor.

"Pak Vincent mengatakan apa?" tanya Sebastian.

"Beliau lebih banyak melihat. Sebelum pergi, beliau bertukar nomor dengan Nona Jessica." Bi Asih ragu sesaat. "Lalu beliau bertanya kepada Nyonya apakah Nyonya kesepian karena Bapak jarang di rumah."

Wajah Sebastian tidak berubah.

"Di mana Karina sekarang?"

"Bersama anak-anak di lantai atas. Nyonya Meilani pulang sambil menangis."

"Pastikan rekaman pintu dan ruang tamu pagi tadi tidak terhapus."

"Baik, Pak."

Sebastian masuk ke ruang kerja. Reyhan tiba beberapa menit kemudian membawa tablet dan berkas yang harus ditandatangani.

"Ada perubahan jadwal?" tanya Reyhan.

"Tidak. Cari kegiatan Vincent dua bulan terakhir."

Reyhan mengangkat pandangan. "Bagian mana?"

"Pertemuan di luar kantor, penggunaan kendaraan perusahaan, pengeluaran representasi, dan komunikasi dengan vendor. Jangan gunakan akses yang melanggar aturan. Mulai dari catatan internal yang memang boleh diaudit."

"Ada dugaan tertentu?"

"Belum. Itu sebabnya saya minta data, bukan kesimpulan."

Reyhan mencatat. "Baik, Pak Sebastian."

"Periksa juga apakah dia benar punya urusan kerja dengan saya pagi tadi."

"Setahu saya tidak ada agenda. Dia hanya meminta petugas memastikan dirinya keluarga."

"Berarti dia datang untuk hal lain."

Sebastian menandatangani satu dokumen. Nada suaranya tetap datar, tetapi ujung pena menekan kertas lebih kuat ketika teringat pertanyaan tentang istri yang kesepian.

Ketukan terdengar di pintu.

Reyhan menutup catatan pada tablet. Karina berdiri di luar dengan wajah tenang, meski tangannya saling menggenggam.

"Saya mau bicara sebentar," katanya.

Sebastian mengangguk kepada Reyhan. "Lanjutkan besok."

Setelah asistennya pergi, Karina masuk dan menutup pintu setengah.

"Tentang tamu pagi tadi," ia memulai. "Tante Mei datang tanpa tahu Kevin akan meminta uang. Saya menolak. Lalu Vincent datang dan..."

"Aku sudah tahu," potong Sebastian. "Kamu nggak salah."

Karina terdiam.

Ia sudah menyiapkan penjelasan tentang dua ratus juta, alasan tidak memberi posisi, bahkan kalimat Vincent di pintu. Ia mengira Sebastian akan bertanya mengapa keluarganya membuat keributan di rumah ini atau menuduhnya menggunakan nama Wijaya.

Beberapa malam lalu, lelaki yang sama mengulang pertanyaan tentang Cibungur sampai setiap waktu dan urutan diuji. Hari ini ia hanya mendengar laporan Bi Asih lalu memutuskan Karina tidak bersalah bahkan sebelum Karina masuk.

Perubahan itu membuatnya lega sekaligus tidak nyaman. Kepercayaan adalah sesuatu yang selama ini ia minta, tetapi ketika benar-benar diberikan, Karina justru tidak tahu di mana harus meletakkan pertahanan yang sudah disiapkan.

"Bagaimana Anda tahu laporan itu lengkap?" tanyanya.

"Bi Asih menyebut apa yang dia lihat dan membedakan bagian yang hanya dia dengar dari orang lain. Rekaman ruang tamu juga masih ada."

"Anda menontonnya?"

"Belum. Saya minta disimpan kalau nanti dibutuhkan."

Berarti Sebastian tidak membelanya secara buta. Ia memastikan bukti tidak hilang, tetapi tidak menjadikan pemeriksaan sebagai syarat untuk mempercayai setiap keputusan Karina.

Itu bentuk dukungan yang lebih kokoh daripada pujian.

"Bi Asih cerita?"

"Iya."

"Anda nggak mau dengar versi saya?"

"Kalau ada bagian yang berbeda, katakan. Kalau tidak, kamu tidak perlu membela keputusan yang benar."

Kepercayaan tanpa pemeriksaan ulang itu terasa asing setelah malam di ruang kerja ketika setiap jawaban Karina diuji dari tiga arah.

"Vincent bertanya apakah saya kesepian," katanya. "Saya nggak suka caranya bertanya."

Mata Sebastian menjadi lebih gelap. "Apa jawabanmu?"

"Saya bilang Anda bekerja. Setelah itu dia pergi."

"Kalau dia datang lagi saat saya tidak ada, kamu tidak wajib menerimanya."

"Dia keluarga Anda."

"Itu bukan izin untuk masuk sesukanya."

Karina mengangguk. Jawaban tersebut sekaligus peringatan dan perlindungan.

Makan malam dimulai setengah jam kemudian. Nathan dan Lucas turun membawa kotak kue Tante Mei. Mereka sudah makan masing-masing satu dan ingin memastikan Sebastian juga mencoba.

"Tante Mei bikin," kata Nathan. "Gulanya sedikit."

Sebastian mengambil satu. "Enak."

Lucas menunjuknya. "Harus habis. Kayak kangkung."

Karina tertawa. "Sekarang semua makanan Papa diawasi?"

"Biar Papa besar tetap sehat," jawab Lucas.

Percakapan beralih ke kunjungan pagi. Karina hanya mengatakan sepupunya datang meminta uang untuk bisnis yang belum jelas. Ia tidak menceritakan Meilani menangis di depan anak-anak.

"Berapa?" tanya Nathan.

"Dua ratus juta rupiah," jawab Sebastian.

Lucas membuka mulut. "Bisa beli permen berapa?"

"Terlalu banyak sampai gigi satu rumah sakit," kata Sebastian.

Nathan terkikik. Karina menatap Sebastian, tak menyangka lelaki itu bisa membuat lelucon dengan wajah serius.

"Kevin minta modal dua ratus juta, tapi belum tahu mau jual elektronik, barang online, atau ekspor," lanjut Karina.

Sebastian memotong ayam di piringnya. "Rencana bisnisnya sangat fleksibel. Yang penting uangnya nyata."

Kali ini Karina ikut tertawa. Suasana meja yang biasanya rapi dan kaku menjadi ringan, seolah konflik pagi tadi tidak lagi memiliki kuasa penuh atas malam mereka.

Setelah anak-anak selesai makan dan dibawa mencuci tangan, Sebastian berbicara tanpa melihat Karina.

"Kalau ada orang yang macam-macam dengan keluargamu, bilang saja kepada saya. Nggak perlu kamu tanggung sendiri."

Karina memegang gelas. "Saya bisa jaga diri sendiri."

"Saya tahu."

"Lalu kenapa harus bilang?"

Sebastian akhirnya menatapnya. "Bisa sendiri tidak berarti harus selalu sendiri."

Kalimat itu membuat jawaban Karina hilang.

Beberapa hari lalu ia mengangkat koper melewati kamera karena yakin tidak seorang pun di rumah ini dapat diajak bicara. Sebastian menemukan rencana itu dan memilih menyalakan pemanggang, bukan kunci tambahan. Sekarang ia menawarkan bantuan tanpa meminta Karina mengaku lemah.

Karina masih membutuhkan uang, pekerjaan, dan pilihan yang tidak bergantung pada pernikahan. Satu kalimat tidak menghapus alasan-alasan tersebut. Namun untuk pertama kalinya, gagasan meminta bantuan tidak terasa sama dengan menyerahkan kendali.

"Kalau saya bilang, belum tentu Anda setuju," ujarnya.

"Kalau kamu tidak bilang, saya bahkan tidak bisa memilih untuk setuju."

"Jawaban Anda selalu menyebalkan."

"Tapi masuk akal."

Karina ingin membantah. Sayangnya, kali ini Sebastian benar.

Malam hari, setelah anak-anak tidur, HP Karina bergetar. Tuti mengirim pesan baru.

Bu, aku dengar ada kedai kecil dekat sini yang mau dijual. Harganya murah karena pemiliknya perlu pindah cepat. Kalau buat modal Tante Mei bagaimana?

Karina membaca pesan itu dua kali.

Sebuah gagasan mulai terbentuk.

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!