Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Lautan Pasir Kematian
Gurun Kematian tidak terbuat dari pasir kuning yang hangat. Tempat ini terbuat dari debu vulkanik putih yang membeku, teksturnya menyerupai serpihan tulang yang dihaluskan.
Di tengah lautan pasir beku tersebut, sebuah barisan hitam yang terdiri dari puluhan ribu manusia bergerak dengan susah payah. Mereka berjalan menunduk, saling merapatkan bahu untuk mencari kehangatan.
Ini adalah malam ketiga sejak pelarian mereka dari Gunung Darah.
Kemenangan melawan Kepala Pengawas Xie Tu terasa seperti mimpi indah yang sudah lama berlalu. Realitas saat ini jauh lebih kejam. Lebih dari seratus budak telah tewas dalam tiga hari terakhir, bukan karena pedang klan dewa, melainkan karena suhu dingin yang merenggut nyawa mereka dalam tidur.
Ye Cangtian berjalan di posisi paling depan barisan.
Tangannya memegang sebuah obor yang terbuat dari Batu Roh kualitas rendah, memancarkan cahaya redup untuk menerangi jalan. Wajah pemuda itu pucat.
Luka di rusuknya belum sepenuhnya sembuh, dan udara beku ini memperlambat sirkulasi Qi di dalam tubuhnya, membuatnya sesekali terbatuk darah.
Di bagian tengah barisan, Xing Yun berlari kecil bolak-balik dengan napas terengah-engah.
Pemuda berkacamata retak itu mengenakan zirah perak kebesaran, matanya yang tajam memindai barisan budak. "Jangan berhenti berjalan! Jika kaki kalian berhenti bergerak, darahmu akan membeku! Paman Lu, pastikan yang sakit berada di tengah formasi! Pakaikan zirah perak itu pada mereka!" teriak Xing Yun parau.
Paman Lu mengangguk cepat, tangannya gemetar saat ia membalut tubuh seorang yang sedang sakit dengan potongan kain jubahnya sendiri.
"B-Berapa lama lagi kita harus berjalan, Nak Xing Yun? Persediaan makanan kita sudah hampir habis..."
Xing Yun menggertakkan giginya, menatap hamparan kegelapan di depan. "Aku tidak tahu," jawabnya jujur.
"Tapi lebih baik mati kelaparan sambil berjalan ke depan daripada mati di Gunung Darah."
Jawaban itu pahit, namun tidak ada yang bisa membantahnya.
Tiba-tiba, langkah Cangtian di barisan paling depan terhenti.
Pemuda itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Melihat isyarat itu, Xing Yun segera membunyikan peluit kayu, membuat barisan puluhan ribu manusia itu berhenti mendadak.
"Ada apa?!" Xing Yun berlari mendekati Cangtian.
Cangtian menancapkan obor Batu Roh ke tanah. Matanya menyipit menembus tirai badai salju di hadapan mereka. Ia menarik perlahan dua bilah pedang perak rampasan dari pinggangnya. "Kita kedatangan tamu."
Sebelum Xing Yun sempat bertanya, suara auman pelan terdengar dari balik tirai salju. Bukan hanya satu, melainkan puluhan auman.
Perlahan-lahan, dari dalam kegelapan malam, muncul sepasang mata bercahaya biru es. Lalu sepasang lagi. Dan sepasang lagi.
Dalam hitungan detik, barisan budak itu dikelilingi oleh ratusan pasang mata biru yang memancarkan rasa lapar.
"S-Serigala Tulang..." bisik Xing Yun, wajahnya memucat seketika saat ia mengenali siluet monster-monster itu dari cerita para pengawal dewa.
Serigala-serigala itu melangkah keluar dari bayang-bayang. Ukuran mereka sebesar beruang dewasa. Mereka adalah predator puncak di Gurun Kematian, makhluk yang bahkan dihindari oleh para pengawal klan dewa.
Mencium aroma darah dan ketakutan dari puluhan ribu manusia fana, sang serigala yang ukurannya nyaris sebesar gajah kecil, melolong panjang ke arah langit kelabu.
Auuuuuu!!!
Ratusan serigala melesat maju bagaikan bayangan putih, menerjang langsung ke arah sayap kiri dan kanan barisan budak!
"Pertahankan formasi! jangan lari!" raung Xing Yun dengan panik. "Laki-laki dewasa, maju ke depan dengan tombak! lindungi wanita dan orang orang sakit!"
Namun, menghadapi monster seukuran beruang itu, nyali para budak fana langsung hancur. Formasi mereka kacau balau.
Serigala pertama yang menabrak barisan langsung menggigit kepala seorang budak pria hingga putus, sementara cakarnya merobek zirah perak.
Jeritan histeris, raungan monster, dan cipratan darah seketika mewarnai padang salju yang putih.
Cangtian tidak membuang waktu. Dantian-nya memompa Qi dari Ahli Persilatan Tingkat 2 ke seluruh tubuhnya. Uap panas kembali mengepul dari kulitnya.
Dengan kecepatan nya, Cangtian melesat membelah udara, menerjang tepat ke arah sang serigala terbesar.
Monster raksasa itu melihat Cangtian datang dan membuka rahangnya lebar-lebar, bermaksud menelan pemuda itu. Cangtian memutar tubuhnya di udara dan mengayunkan kedua pedang peraknya secara menyilang ke arah leher serigala itu.
Trangg!!
Alih-alih daging yang terpotong, pedang perak Cangtian memantul keras saat berbenturan dengan kulit tulang di leher sang serigala itu. Percikan api menyala di tengah kegelapan. Kekuatan benturan itu membuat pedang di tangan kiri Cangtian retak!
‘Tulangnya lebih keras dari dinding obsidian!’ batin Cangtian terkejut.
Serigala terbesar itu mengayunkan cakarnya, menghantam dada Cangtian. Cangtian terlempar beberapa langkah ke belakang, dan segera bangkit kembali sebelum cakar raksasa lainnya menghancurkan kepalanya.
Pertarungan bergeser menjadi duel maut yang sangat cepat. Serigala itu memiliki insting membunuh alami, sementara Cangtian... Cangtian belum pernah belajar ilmu pedang apa pun dalam hidupnya.
Selama sepuluh tahun, ia hanya tahu cara mengayunkan alat tambang. Ayunan pedangnya kaku, brutal, dan murni mengandalkan tenaga kasar.
Cangtian melompat menghindari tebasan cakar, lalu menebas punggung serigala itu. Trang! Pedangnya kembali memantul.
Di sekelilingnya, jeritan para budak semakin menyayat hati. Ratusan orang telah tewas dicabik-cabik oleh kawanan serigala lainnya. Jika Cangtian tidak segera membunuh sang serigala terbesar ini, seluruh budak ini akan musnah.
‘Tenaga kasar tidak akan bisa menembus tulang ini,’ analisis Cangtian. ‘Pedang bukanlah alat tambang. Alat tambang menghancurkan dengan benturan luas. Pedang membunuh dengan daya tembus yang terpusat. Jika zirahnya lebih keras dari pedangku... maka aku harus membuat pedangku setajam Qi di dalam tubuhku.’
Cangtian memejamkan matanya sejenak, Ia mengingat kembali momen ketika ia memaksakan terobosan Qi di Dantian-nya. Energi itu harus difokuskan, dikompres, dan diarahkan ke satu titik yang sangat sempit.
Ia mengalirkan seluruh Qi di dalam tubuhnya ke tangan kanannya. Cangtian menekan energi hijau-emas itu, memusatkan nya hanya di bagian mata pedang.
Sebuah getaran aneh merambat di sepanjang bilah pedang perak tersebut.
Tanpa disadari, di tengah padang salju yang berdarah itu, fondasi yang akan dikenal ribuan tahun kemudian sebagai Niat Pedang Pembelah Surga baru saja mengambil napas pertamanya.
Serigala terbesar menerjang maju, rahangnya terbuka lebar mengincar leher Cangtian.
Cangtian membuka matanya. Dengan gerakan yang mengalir layaknya air, ia mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas.
Slaaasshhh!!!!
Tidak ada suara logam berbenturan.
Pedang perak tipis yang dilapisi Niat Pedang itu membelah tengkorak sang serigala, merobek otak, dan membelah seluruh tubuh monster raksasa itu menjadi dua bagian.
Mayat serigala raksasa itu ambruk di sisi kiri dan kanan Cangtian.
Lolongan ngeri seketika terdengar dari kawanan serigala lainnya. Melihat sang pemimpin mati hanya dengan satu tebasan, insting hewan mereka mengambil alih. Kawanan serigala purba itu berbalik arah dan lari, menghilang ke dalam badai salju.
Ketenangan kembali menyelimuti Gurun Kematian. Namun harga yang dibayar sangat mahal. Tiga ratus budak tewas dalam pertarungan singkat itu.
Cangtian menjatuhkan pedangnya. Ia jatuh berlutut, sisa Qi di Dantian-nya terkuras habis.
Xing Yun dan Paman Lu bergegas menghampirinya, membantu Cangtian duduk bersandar pada mayat serigala yang mati.
"Kau tidak apa-apa?!" tanya Xing Yun panik.
"Aku... tidak apa apa," jawab Cangtian pelan. Ia menatap ke sekeliling, melihat para budak yang menangis meratapi mayat keluarga mereka. Suhu udara semakin turun. Angin badai semakin ganas. Pakaian kain lapis baja tidak lagi mampu menahan hawa beku ini.
Jika mereka tidak mati oleh monster, mereka pasti akan mati membeku malam ini.
Cangtian memejamkan matanya, keputusasaan sempat terlintas di wajahnya. Ia tidak memiliki pelindung besar untuk menaungi puluhan ribu orang. Ia bukanlah dewa.
Lalu, matanya terbuka lambat. Pandangannya tertuju pada mayat-mayat serigala. Ia menyadari sesuatu. Monster-monster ini hidup di suhu beku tanpa pakaian apa pun, karena mereka memiliki Qi alam di dalam tubuh mereka yang terus memanaskan darah mereka.
Cangtian menatap tangannya sendiri, lalu menatap Xing Yun dan seratus budak muda yang masih memiliki cukup tenaga.
"Xing Yun," panggil Cangtian, suaranya lemah namun tegas.
"Kumpulkan semua pria dan wanita yang usianya di bawah dua puluh lima tahun. Suruh mereka duduk melingkar di sekitarku."
"Apa? Untuk apa? Jika kita berhenti bergerak sekarang, kita akan membeku!" protes Xing Yun.
"Lakukan saja!" bentak Cangtian.
Xing Yun tidak berani membantah, ia segera mengumpulkan sekitar dua ribu budak muda yang paling sehat di antara mereka, menyuruh mereka duduk bersila di atas salju, melingkari Ye Cangtian.
Cangtian mengambil napas dalam-dalam. "Kalian kedinginan? Kalian merasa tulang kalian akan retak?"
Ribuan pemuda dan pemudi itu mengangguk pelan, bibir mereka membiru dan bergetar.
"Dewa-dewa tiran itu bisa terbang dan tidak pernah kedinginan, karena sejak lahir, meridian di tubuh mereka terbuka. Mereka bisa menyerap energi alam. Sementara kita, meridian kita dikunci secara paksa oleh hukum dunia sejak di dalam rahim."
Cangtian mengangkat tangan kanannya, memunculkan percikan Qi tipis di telapak tangannya. Cahaya itu memberikan kehangatan kecil di tengah badai.
"Aku telah mendobrak kunci itu. Dan malam ini, kalian juga akan melakukannya. Ini adalah satu-satunya cara kita bisa melewati malam ini tanpa membeku."
Mata Xing Yun membelalak. "K-Kau... kau mau mengajarkan semua itu pada kami..."
"Dengarkan aba-abaku," potong Cangtian. "Tutup mata kalian. Tarik napas melalui hidung selama empat ketukan, tahan selama dua ketukan, buang melalui mulut selama empat ketukan. Jangan bayangkan udara masuk ke paru-paru, bayangkan ia masuk ke perut bagian bawah kalian."
Budak-budak muda itu, didorong oleh keputusasaan untuk bertahan hidup, segera memejamkan mata dan mengikuti instruksi Cangtian.
"Kalian akan merasakan sakit," lanjut Cangtian. "Sakit yang seolah-olah merobek tulang kalian. Itu adalah sumbatan meridian kalian yang menolak untuk terbuka. Jangan lawan rasa sakit itu! Tabrak rasa sakit itu dengan napas kalian!"
Di malam yang gelap dan mematikan itu, sebuah fenomena yang tidak pernah dicatat dalam sejarah mana pun mulai terjadi. Dua ribu manusia fana, yang tidak memiliki darah dewa setetes pun, sedang mencoba mematahkan takdir alam semesta secara bersamaan.
Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba, jeritan kesakitan pecah dari seorang pemuda di baris depan. Ia jatuh berguling-guling di salju, tubuhnya kejang-kejang, sementara kotoran hitam merembes dari pori-pori kulitnya.
"Jangan Berhenti!" raung Cangtian. "Jika kau berhenti sekarang, meridianmu akan hancur dan kau akan cacat seumur hidup! teruskan napasmu!"
Pemuda itu menggertakkan giginya dan kembali duduk bersila dengan sisa jiwanya.
Satu per satu, jeritan kesakitan mulai bergema di seluruh lingkaran. Xing Yun yang ikut bermeditasi, merasakan dadanya seolah dihantam godam panas.
Namun otaknya yang jenius segera menangkap pola sirkulasi yang dimaksud Cangtian. Ia menahan rasa sakit itu, terus memompa napasnya, hingga sebuah letupan pelan terjadi di perutnya.
Hawa panas yang sangat menenangkan tiba-tiba menyebar ke seluruh tubuh Xing Yun, mengusir rasa beku yang sedari tadi menyiksanya. Uap tipis mulai mengepul dari tubuhnya.
Xing Yun membuka matanya, menatap kedua tangannya dengan pandangan tidak percaya. Ia telah menembus penghalang! Meski kekuatannya sangat rapuh—bahkan tidak layak disebut Ahli Persilatan Tingkat 1, namun energi itu cukup untuk memanaskan darahnya sendiri.
Malam itu, lebih dari delapan ratus budak berhasil membuka meridian pertama mereka dan merasakan aliran Qi, sementara sisanya gagal atau pingsan karena tidak kuat menahan rasa sakit.
Namun delapan ratus orang ini cukup untuk menyebarkan hawa panas ke budak-budak lain di sekitarnya dengan cara saling berpelukan.
Saat matahari pagi yang pucat akhirnya terbit di ufuk timur, ia menyinari puluhan ribu manusia yang berhasil selamat melewati malam tersulit dalam sejarah.