NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Publik Menuntut, Kerajaan Herlina Runtuh dalam Semalam

Anindya melihat wajahnya sendiri untuk pertama kali dua hari setelah penyerangan.

Ia berdiri di kamar mandi kontrakan Ciputat setelah mendapat izin pulang dengan kontrol rawat jalan. Balutan besar sudah diganti plester luka yang lebih tipis. Garis jahitan di pipi kiri terlihat jelas, dikelilingi bengkak kekuningan.

Tangannya berhenti di dekat cermin.

Ia tidak menyentuh luka. Dokter melarang tekanan, kosmetik, dan paparan matahari langsung. Jadwal terbangnya sementara ditunda sampai nyeri bahu, obat, tidur, dan konsentrasi dinilai kembali oleh dokter penerbangan.

Ponsel di meja terus bergetar.

Potongan kamera koridor telah menyebar jauh melampaui pernyataan resmi. Beberapa akun menambahkan musik dramatis. Yang lain menampilkan foto lama Herlina di acara sosial dan menyebutnya pelaku sebelum polisi menetapkan kesimpulan akhir.

Anindya menutup semua aplikasi.

Ia tidak ingin melihat luka sendiri berubah menjadi hiburan berulang.

Siang itu, Enggar dan Sisi datang membawa makanan, berkas medis untuk kontrol, serta satu map terpisah. Mereka tidak naik sebelum meminta izin melalui pesan.

“Tidak ada pembicaraan kerja lebih dari tiga puluh menit,” kata Anindya setelah mereka duduk.

“Itu perintah dokter atau Bos?” tanya Enggar.

“Keduanya.”

Sisi membuka map. “Wartawan mulai menelusuri bisnis Bu Herlina. Sebagian menemukan keluhan lama dari pekerja, tetapi banyak unggahan tidak punya bukti. Ada satu hal yang bisa diverifikasi.”

Ia menunjukkan keputusan resmi dinas kesehatan daerah. Dua tahun lalu, sebuah klinik kecantikan milik perusahaan Herlina kehilangan izin layanan injeksi selama enam bulan karena menggunakan produk tanpa pencatatan distribusi yang lengkap dan menugaskan tindakan kepada personel yang sertifikasinya kedaluwarsa.

“Izin klinik seluruhnya tidak dicabut,” kata Anindya.

“Benar. Hanya layanan tertentu yang dihentikan sementara. Setelah perbaikan, izin terbatas diterbitkan kembali.”

“Jangan sebut kliniknya ilegal.”

“Kami tidak akan.”

Ada pula putusan perselisihan tenaga kerja yang memerintahkan salah satu perusahaan Herlina membayar upah lembur dan pesangon. Dokumennya terbuka, tetapi selama ini tidak pernah menarik perhatian media besar.

Enggar bersandar. “Kalau dua berkas ini muncul sekarang, publik akan menyambungkannya dengan serangan.”

“Memang ada hubungan langsung?”

“Tidak.”

“Maka jangan kita sambungkan.”

Anindya meminta Sisi mengirim nomor putusan dan tautan regulator kepada dua jurnalis investigasi dengan rekam jejak memeriksa bisnis kesehatan. Tidak ada narasi siap pakai. Tidak ada pembayaran. Tidak ada ancaman agar berita diterbitkan.

“Mereka harus meminta tanggapan klinik, dinas kesehatan, dan pekerja,” katanya. “Kalau setelah verifikasi mereka menilai layak diberitakan, itu keputusan redaksi.”

“Dan kalau tidak?” tanya Enggar.

“Kita tetap punya arsip. Tujuan kita bukan menciptakan hukuman dari rumor.”

Sisi mengangguk. “Saya juga mengirim permintaan penghapusan kepada akun yang menampilkan foto darah tanpa izin.”

“Prioritaskan foto rumah sakit dan data pribadi. Kritik boleh tetap ada.”

Menjelang sore, satu media menerbitkan laporan pertama. Judulnya tidak menyebut kerajaan runtuh. Isinya jauh lebih berbahaya bagi Herlina karena tenang: riwayat sanksi layanan klinik, putusan tenaga kerja, tanggapan dinas, dan pernyataan perusahaan yang mengakui pernah menerima tindakan korektif.

Media kedua memeriksa sendiri lalu menerbitkan laporan terpisah.

Dampaknya bergerak cepat. Dua merek perawatan kulit menunda kampanye bersama sampai pemeriksaan kepatuhan selesai. Sebuah hotel membatalkan acara promosi klinik karena risiko reputasi. Pelanggan meminta pengembalian uang dan bukti registrasi produk. Mantan pekerja mulai menghubungi jurnalis dengan dokumen mereka sendiri.

Tidak ada saham publik yang jatuh. Yang runtuh adalah keyakinan bahwa nama Wibisana selalu bisa menghentikan pertanyaan.

Herlina mengeluarkan pernyataan melalui pengacara. Ia menyesalkan pengadilan oleh media, menegaskan perkara Anindya masih diselidiki, dan menyebut pelanggaran klinik telah diperbaiki dua tahun lalu.

Anindya tidak membalas.

Ia menjalani kontrol luka melalui jadwal rumah sakit, berlatih mengangkat bahu sesuai batas, dan menolak tiga permintaan wawancara. Ketika salah satu akun memuji bekas lukanya sebagai simbol kecantikan baru, ia juga meminta pernyataan itu tidak digunakan atas namanya.

“Saya bukan kampanye,” katanya kepada Sisi. “Saya sedang pulih.”

Ratih mengirim pesan suara setiap pagi tanpa menuntut jawaban. Isinya bukan kalimat penyemangat besar. Ia mengeluhkan harga cabai, menceritakan Kemal yang salah memesan benang, dan mengingatkan bahwa sup ada di kulkas.

Pada hari kedua, Ratih datang membawa topi bertepi lebar untuk melindungi luka dari matahari. Ia tidak berkata Anindya tetap cantik atau meminta melihat jahitan.

“Kalau kamu mau keluar, kita jalan lima menit di halaman,” katanya. “Kalau tidak, saya makan buah potong sendirian.”

Anindya memilih berjalan.

Ia memakai masker longgar sesuai petunjuk dokter, lalu mengelilingi halaman satu putaran. Dua tetangga melihat dan segera menurunkan suara. Seorang anak bertanya kenapa pipinya ditempel. Ibunya panik, tetapi Anindya hanya menjawab bahwa luka perlu dijaga tetap bersih.

Tidak ada dunia yang runtuh.

Malamnya, ia berdiri kembali di depan cermin. Ia mampu melihat garis jahitan selama sepuluh detik sebelum memalingkan wajah. Hari berikutnya, lima belas detik. Kemajuan itu terlalu kecil untuk masuk berita, tetapi lebih penting daripada jumlah komentar yang membela namanya.

Dokter penerbangan tetap menunda tugas beberapa hari lagi sampai obat dihentikan dan konsentrasinya dinilai ulang tanpa tekanan dari perusahaan.

Keesokan paginya, Anindya datang singkat ke lantai privat Klub Enggar dengan kendaraan yang dikemudikan staf. Ia memakai masker medis longgar sesuai saran dokter untuk perjalanan, bukan untuk menyembunyikan identitas. Pertemuan hanya dua puluh menit.

Sisi memperlihatkan bagan perkembangan informasi. Di satu sisi, publik menuntut penyelidikan Herlina berjalan transparan. Di sisi lain, akun pendukung Amara mencoba mengalihkan perhatian dengan bertanya dari mana Anindya mendapat akses terhadap begitu banyak dokumen.

“Kita tidak pernah mengunggah dokumen dari akun Klub Enggar,” kata Sisi. “Jurnalis mendapatkan tautan regulator, lalu mengunduh sendiri.”

“Mereka tidak sedang mencari cara kita mengirim tautan,” jawab Anindya. “Mereka sedang mencari siapa saya.”

Enggar meletakkan satu foto tangkapan kamera di meja. Seorang pria tak dikenal terlihat dua kali di dekat Ciputat dan sekali di area parkir rumah sakit. Pakaiannya berbeda, tetapi cara berdiri dan tas kameranya sama.

“Bukan wartawan terdaftar,” katanya. “Dia juga tidak terhubung ke dua orang Amara yang sudah kita kenal.”

“Penyelidik swasta?”

“Kemungkinan. Profesional. Dia tidak mendekati pintu atau mencoba membeli staf.”

Anindya menatap tiga gambar itu. Penyelidikan Amara sebelumnya kasar dan mudah dibaca. Orang ini menjaga jarak, mengganti kendaraan, dan hanya muncul pada titik yang bisa menjelaskan pola hidupnya.

“Jangan tangkap atau dekati,” kata Anindya. “Identifikasi pemberi tugasnya. Dan ubah rute saya mulai hari ini.”

Sisi menutup map. “Ada orang yang mulai mencari latar belakang Anda, Bos. Bukan wartawan. Kali ini orangnya tahu cara bekerja.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!