NovelToon NovelToon
The Path To Godhood

The Path To Godhood

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?

Ikuti perjalanannya yang memegangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saudara Han, apa kamu mengenalku?

Xuan Han melihat sekitar dan seluruhnya dipenuhi warna-warna yang tercampur. Lalu angin kencang berhembus dan warna-warna itu bergerak dalam kekacauan. Sekarang tidak terlihat lagi seperti bumi dan kehidupannya; semuanya tampaknya telah tercampur. Namun, pemuda kecil itu tidak menghilang. Sebaliknya, ia tersenyum menatap Xuan Han dengan tatapan tajam dan serius, seolah-olah ia adalah pria dewasa yang terperangkap di dalam tubuh bocah kecil.

Xuan Han ingin bertanya, tapi segera bocah itu melangkah dan dalam sekali gerakan ia melesat ke arah Xuan Han.

Tidak bisa menghindar, tubuh Xuan Han seperti terkunci. Sementara itu, bocah tersebut mengepalkan tangannya. Namun ketika mencapai Xuan Han, ia melepaskannya, mendorong ke dada pemuda itu sehingga ia terjatuh ke belakang.

Bocah itu berkata, “Seharusnya kamu tahu ini. Lihatlah apa yang terjadi.”

Xuan Han terjatuh, menembus cahaya warna-warni itu dan melayang-layang di antara awan-awan. Ia melihat banyak awan di langit-langit yang saling menumpuk berwarna putih. Dari sana ia melihat wajah seorang wanita yang menggendong bayi, seorang wanita cantik yang tersenyum menatapnya.

Lalu ia memejamkan matanya. Ia sedikit mengingat masa kecilnya dan merasa bahagia karena itu. Kemudian ia mendengar hembusan angin dan membuka matanya. Kembali berada di gua.

Entah mengapa Xuan Han merasa sehat, dan karena sebagian ingatannya muncul, ia jadi tahu siapa dirinya dan apa yang harus dilakukannya. Tetapi, sepertinya banyak hal telah berubah dan mungkin kediaman itu tidak sama lagi seperti ingatannya.

Tanpa memedulikan tiga orang yang menontonnya, Xuan Han menatap kotak terakhir. Ia jelas tidak tahu apa yang menantinya lagi, tapi sepertinya tempat ini memang menyimpan banyak hal tentangnya atau mungkin orang-orang yang ingin masuk.

Ia menghela napas dan segera melompat.

Pada saat itu ia memejamkan matanya, lalu tiba-tiba mendengar suara detak jantung. Xuan Han membuka matanya.

“Ini....”

Ada jantung yang sangat besar berdetak. Ada pagoda dan lonceng yang berputar mengelilinginya. Dibandingkan dengan jantung itu, Xuan Han seperti semut yang melayang-layang. Cahaya emas berkedip-kedip di jantung itu dan segera menyebar ke seluruh pembuluh darah yang terhubung kepadanya.

Xuan Han ingat perkataan Li Yin tentang jantung panjang umur. Sepertinya apa yang dilihatnya ini memang jantung seperti itu. Tetapi ia tidak tahu apakah itu benar-benar jantungnya atau bukan. Namun, melihat pagoda dan lonceng itu, sepertinya itu memang miliknya.

“Jadi pagoda dan lonceng itu berada di sini?”

Xuan Han mendorong tubuhnya dan melayang-layang mendekati permukaan pagoda berwarna hijau. Bangunan itu terlihat megah bersinar biru. Ia juga terlihat kecil di sini.

Menyentuh jalan besar menuju pagoda, akhirnya seluruh daging dan darah yang ada di langit-langit gua berubah menjadi bintang-bintang luar angkasa yang luas. Xuan Han mengamatinya sebentar, lalu berjalan memasuki gerbang. Ia berhenti dan menatap pagoda besar itu lebih dekat.

Hembusan angin dingin menerpa wajahnya dan rerumputan yang ada di halaman bergoyang-goyang.

Tidak lama, perlahan-lahan cahaya muncul di atas puncak pagoda. Bulan muncul bersinar putih terang. Lalu, cahaya merah dari berbagai arah muncul membentuk sosok yang bersila di tengah bulan.

Gaunnya merah panjang dan rambutnya putih.

Ia adalah seorang wanita yang melayang-layang. Di depannya ada sebuah zither hitam pekat yang panjang. Wajahnya terlihat cantik, dan ia menunduk memejamkan matanya.

Xuan Han jelas tidak tahu siapa wanita ini. Tapi ia harus berhati-hati.

Perlahan-lahan jari-jari wanita itu mulai digerakkan dan suara zither di depannya mulai berbunyi. Itu hanya satu petikan tenang beriringan dengan hembusan angin. Xuan Han merasa ini seperti pertunjukan seni.

Ada jeda, lalu suara petikannya kembali berbunyi. Suaranya rendah, tenang, tinggi, dan berulang beberapa kali.

Xuan Han berjalan mendekatinya.

Tidak lama, kelima jari wanita itu menekan seluruh senar, menciptakan suara serempak yang keras.

Xuan Han berhenti dan menatapnya.

Wajahnya yang menunduk perlahan-lahan terangkat. Ia membuka matanya. Terlihat indah dan ada jejak kesepian, juga kerinduan yang dalam dari tatapan dan wajahnya.

Meskipun ia terlihat cantik, bagi Xuan Han wanita ini terlihat menyedihkan.

Tanpa berkata-kata, wanita itu kembali menunduk menatap zither di depannya. Ia meraba-raba senarnya lalu menghela napas. Kemudian mulai memetiknya dengan tenang.

Kali ini ia menciptakan suara yang tenang dan menyenangkan untuk didengar. Musiknya menenangkan hati. Namun tidak lama, ia melambaikan tangannya di udara dan tiba-tiba empat pedang terbang muncul di belakangnya yang berputar-putar.

Xuan Han mengerutkan keningnya. Tiba-tiba pedang itu melesat.

Melihatnya, pemuda itu melompat mundur. Pedang pertama menembus tanah dan bergetar. Pedang kedua hampir menembus tenggorokannya, Xuan Han menghindar ke samping. Pedang ketiga hampir memotong tangannya tepat ketika ia mengangkatnya. Pedang terakhir hampir menembus perutnya ketika Xuan Han berhasil melompat mundur.

Empat pedang itu bergetar ketika menembus tanah dan suaranya mendesing.

Di bawah sinar bulan, empat pedang itu bercahaya putih. Lalu muncul asap darinya dan empat pedang itu berubah menjadi asap yang perlahan-lahan masuk ke dalam zither wanita itu.

Wanita itu berhenti bermain. Menarik napas, ia mulai memainkannya lagi. Kali ini nadanya jauh lebih tinggi dan hembusan angin terdengar lebih keras. Gaun merahnya melambai-lambai lebih kencang.

Asap putih dari empat arah keluar dari zither-nya. Asap itu membentuk pedang besar berwarna putih yang berkilau dengan panjang sepuluh meter dan lebar tiga meter. Pedang itu berputar-putar sebentar lalu melesat.

Xuan Han melompat mundur. Tanah bergetar dan pedang itu terayun menembus tanah, menciptakan lengkungan besar. Lalu terangkat lagi dan melesat ke arah Xuan Han.

Pemuda itu berusaha menghindar dan terus menghindar. Ledakan demi ledakan bermunculan. Halaman pagoda yang indah dipenuhi cekungan dan kerusakan. Keringat perlahan-lahan menetes dari pelipis Xuan Han.

Ia tidak bisa terus menghindar seperti ini sementara pedang besar itu terus menyerang. Sebagai gantinya, ia perlahan-lahan maju dan berbagai ayunan dilayangkan demi mencegahnya. Xuan Han menghindar, melompat, dan menggeser tubuhnya.

Ketika ia mencapai depan wanita itu, ia menginjakkan kakinya ke tanah dengan kuat, lalu melesat. Di sini hanya ada sedikit gravitasi, sehingga ia bisa melompat sangat jauh. Ia berteriak dan menggenggam erat tangannya. Pedang besar yang ada di belakangnya mulai menunjuk dan melesat. Gerakannya sangat cepat dan hampir mencapai Xuan Han. Namun, pemuda itu tersenyum. Ia berkayang di udara, menginjak bilah pedang itu, dan melompat lebih jauh ke atas.

Wanita yang melayang-layang itu mengangkat wajahnya.

Pukulan dilayangkan dan Xuan Han meraung. Namun, pelindung emas transparan muncul mengelilingi wanita itu dan pukulan Xuan Han tertahan pada pelindungnya. Seketika tangannya terasa seperti memukul batu, membuatnya terasa sangat sakit lalu perlahan-lahan mengeluarkan darah. Xuan Han ingat perkataan Meng Chahua tentang kultivasinya. Jika ia sekarang hanya manusia biasa, pasti cederanya jauh lebih menyakitkan.

Pemuda itu segera mundur dan mendarat di tanah. Pedang besar itu tidak melesat menyerangnya, sebaliknya kembali terbang di sisi wanita itu. Perlahan-lahan pelindung emas itu menghilang dan wanita tersebut mendongak memandang Xuan Han. Ia sedikit tersenyum.

“Saudara Han, apa kamu mengenalku?”

1
Pena Quality
saling support
Budiarsa: Terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!