Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.
Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.
Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mukanya datar kayak patung
Orang yang naik motor tadi berdiri didepan mas Nandito, dia membuka helmnya.
Dug... Jantungku copot
DIA
Kak Aldrian
Dia melihat mas Nandito kemudian melihat ke arahku, harusnya dia tau ini aku didalam helm yang tertutup kaca.
Aku diem aja, tanganku gemetar.
Kenapa harus dia, 2 kali ketemu dalam keadaan yang tidak baik, dijalan kayak gini lagi.
Kak Aldrian "Syukurlah kalau semua baik baik aja"
Mas Nandito "Aku salah juga sih, tadi ngerem mendadak, maaf bro...?? Sana lanjut lagi, ntar telat kesekolahnya"
Kak Aldrian "OK"
Pertama kali aku denger dia ngomong diluar sekolah. Kalimat panjang mas Nandito hanya menjawab "OK",
Kata "OK" itupun bukan buat aku. Nggak ada lagi kata lain yang terucap dari bibirnya.
Tanpa ngomong tanpa senyum dia pun kembali ke motornya, tancap gas lalu pergi.
Aku masih terpatung, diam berdiri dipinggir jalan. Nafasku belum normal.
Mas Nandito "Kamu ga apa apa kan? Ga ada yang sakit"
Aku "Aman"
Mas Nandito "Syukurlah, anak tadi satu sekolah sama kamu???."
Aku "Iya"
Mas Nandito "Kenal???"
Aku mau jawab kenal tapi nggak kenal, mau jawab nggak kenal tapi kenal, bingungkan...
Tapi sepertinya jawaban "nggak" akan lebih aman, biar mas Nandito nggak ada pertanyaan berkelanjutan.
Aku "Nggak"
Mas Nandito "Pantes diem aja, mukanya datar kayak patung"
Sepanjang perjalanan ke sekolah aku diem.
Masih berfikir omongan mas Nandito ternyata bener juga, "........mukanya datar kayak patung"
Sampai sekolah udah rame banget padahal baru jam 6.20, aku turun didepan gerbang.
Mataku mencari cari barangkali ada Putri atau.....
Aku berjalan santai menuju kelas.
Didalam kelas masih sepi, hanya terlihat beberapa teman. Kutaruh tasku kemudian duduk, minum dari tumbler yang ku bawa.
Rasanya lega banget... tanpa sengaja aku menoleh kekanan ke arah jendela disebelahku.
Dari kejauhan terlihat dia sedang berdiri dibalkon depan kelasnya, tanganya menyilang, tatapanya kekelasku, lebih tepatnya kearahku.
Sekian detik pandangan mata kami bertemu, hingga akhirnya matanya berkedip lalu melihat ke arah lapangan basket dibawah.
Dari wajahnya terlihat biasa saja, seolah olah kejadian dijalan tadi pagi nggak pernah ada.
Kelas mulai rame, teman teman mulai berdatangan, diantara keramain akhirnya terlihat Putri, sambil membawa totebag, ga tau isinya apa.
BRUK BRUK BRUK...
Putri menaruh totebag dan tasnya di meja, lalu duduk dikursi.
Putri "Ya, gimana sih kita??? Masak kemarin ga tukeran nomer sih!!!"
Aku terbangun dari lamunanku, wajahku yang bengong terlihat masih belum sadar apa yang dibicarakan Putri.
Aku "Ehhh... Kenapa Put???"
Putri merapatkan kursinya, mendorong dorong badanku sambil ikut melihat kejendela.
Putri "Lagi apasih?? Ngalamun ya??? Eh bukan bukan, kamu lagi liatin kak Aldrian diseberang ya, sampai ga sadar aku dateng??"
Aku sambil berbalik arah melihat ke depan pintu kelas "Apaan sih Put, orang lagi minum juga"
Putri "Nggak... Nggak.... Aku nggak mungkin salah, kalau minum kenapa hadapnya ke seberang"
Aku "Sorry sorry... Tadi konsentrasi minum Put biar ga keselek, barusan ngomong apaan ya Put"
Putri "Masa sih??? Mau ngeles nih anak... Kita kenapa ga tukeran nomer sih kemarin??? semalem mau ngabarin kamu jadi ga bisa deh"
Aku "Memang kenapa Put? Ada yang penting?"
Putri sambil garuk garuk rambutnya "Penting??? Penting apa ya.... engak juga sih, cuma kepengen chat kamu aja tapi ga punya nomernya"
Aku, berbalik arah ke belakang ngambil Hp ditas : "Ah kirain kenap Put.. Put..., berapa nomer kamu?"
Putri "08122XXXXXXXX"
Aku "Tuh aku yg nge chat kamu"
Putri "Kamu udah sarapan Ya, ini tadi aku dibawain bekal sama mba aku banyak banget"
Aku sambi ngambil bekal dari totebag Putri yang isinya penuh makanan :"Banyak amat sih Put??? kamu disuruh jualan mba kamu?"
Putri "Semalam ponakanku ultah, anaknya mba asih kakak pertamaku. Jajanya banyak banget, trus aku disuruh bawa kesekolah"
Dalam pikiranku, masa iya kakaknya suruh bawa jajan segini banyaknya, kayak orang mau jualan. Ini yang bar bar si Putri atau mba nya.
Aku "Ooo... Kakakmu udah ada yang punya anak... Berapa bersaudara sih Put?"
Putri "Tak hitung dulu ya Ya... Pertama mba Asih yang udah nikah, kedua Mas Yoga, ketiga mas Kokok, keempat aku trus aku ada adek satu cowok yang super manja namanya Dika, berarti berapa tadi... 5 ya"
Aku "Banyak amat, dirumahku cuma 3 bersaudara setiap pagi ramai, semuanya tidak ada yang tidak diributkan"
Putri "Masa sih,, dirumahku yang sekolah cuma aku sama adekku Dika masih SD, yang lain udah pada kerja"
Aku tertawa melihat tingkah Putri yang lucu, mulutnya penuh dengan makanan. Si Putri dia yang bawa jajan sendiri dia juga mau ngabisin jajanya,
Bel sudah berbunyi,
Kak Aldrian dan kak Firuly sudah terlihat berjalan kearah kelas, dibelakangnya ada satu yang mengikuti, kakak perempuan rambutnya sebahu pakai bando warna biru.
TOK TOK...
Kak Firuly "Selamat pagi adek adek"
Kami satu kelas kompak menjawab
"Selamat pagi kakak"
Kak Firuly "Kompak sekali adek adek adek kita, semangat semuanya, pasti sudah pada sarapan???"
Kelas jadi ramai, ada yang jawab sudah, ada yang jawab belum, ada yang bisik bisik ada yang ngomong apalah ga jelas karena ramai.
Kak Firuly "Udah udah... bisa tenang dulu..!!! Perkenalkan ini kak Dara yang kemarin berhalangan hadir, kita langsung ke materi dulu ya, nanti dijelaskan kak Dara biar sekalian perkenalan"
Kak Dara yang dari tadi berdiri disebelah kanan kak Firuly mulai memperkenalkan diri.
Kak Dara "Selamat pagi adek adek kelas 1 6 perkenalkan nama saya Andara tapi panggil kak Dara saja, kelas 12 IPS 3, kelasnya ada dibawah pojok persis didepan tangga belakang, Mohon maaf kemarin berhalangan hadir, berarti sekarang kelompok 3 bisa dengan kakak ya, kita mulai materi........"
Anak anak yang kemarin tidak kebagian kakak pembimbing terlihat tersenyum bahagia.
Kak Dara mulai memberikan materi. Teman teman mendengarkan dengan serius.
Kak aldrian duduk dikursi guru sambil nulis, sesekali kak Aldrian menunjukan tulisanya ke kak Firuly yang berdiri disebelah kak Aldrian.
Akhirnya materi yang diberikan kak Dara selesai, kita diberi kesempatan untuk istirahat sebentar, kemudian diminta turun ke lapangan mengikuti petunjuk dari kakak pembimbingnya masing masing.
Setibanya kami dilapangan,
Kak Aldrian memberikan kami secarik kertas.
Kak Aldrian "Nih dibaca dan dipahami"
Kami bersepuluh sibuk bisik bisik sambil membaca kertas yang diberikan kak Aldrian.
Salah satunya ada lomba estafet pesertanya 1 cewek 1 cowok, setiap kelompok mengirimkan 2 pasang peserta.
Dan yang menjadi point penting disini adalah....
Kakak pembimbing wajib ikut.
Kelompok kami panik,
Berarti kak Aldrian harus ikut dan berpasangan dengan satu diantara kami.
Aku memandang kak Aldrian yang sedang berdiri, tangan disaku, mukanya datar kayak patung.
Karena kak Aldrian tidak suka keributan kami bicara bisik bisik.
"........Bagus saja yang kakinya panjang pasti cepet larinya........"
"........Bagus sama Khilia sama sama sama berkaki panjang....."
Putri yang duduk disebelah berbisik ditelingaku "Kalo kamu aja yang jadi pasangan kak Aldrian gimana Ya"
Aku menutup mulut Putri sambil berkata "Hushh"
Akhirnya kami memutuskan Bagus berpasangan dengan Khilia, sedangkan kak Aldrian biar memilih sendiri mau berpasangan dengan siapa.
Kak Aldria tatapanya tajam kearah kami : "Sudah dipilih siapa yang akan mengikuti??"
Bagus "Sudah kak, saya berpasangan dengan Khilia, biar kakak pilih sendiri mau berpasangan dengan siapa"
Kak Aldrian tidak langsung menjawab, matanya berputar melihat kami satu per satu.
Dadaku dag dig dug
Kak Aldrian "Kamu sama saya"