NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2.

Revangga perlahan menaiki motor sport milik Elvian. Dia memakai helmnya, mengunci kaca pelindung, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Di depannya, lintasan jalanan malam yang panjang sudah bersiap menyambut.

Seorang wanita berpakaian seksi berjalan ke tengah pembatas jalan. Kedua tangannya mengangkat tinggi sebuah bendera kotak-kotak. Begitu bendera itu dilemparkan ke udara, deru mesin motor seketika memecah keheningan malam.

Vruuummm!

Beberapa motor melesat cepat, saling kejar dan tidak ada yang mau mengalah. Revangga memimpin di posisi tiga. Saat dia hendak mengambil celah di tikungan pertama, salah satu motor musuh sengaja memotong jalur dan mencoba menyenggol roda depannya.

Dengan refleks yang tajam, Revangga memiringkan tubuhnya ke arah berlawanan, menghindar tepat satu sentimeter sebelum benturan terjadi. Pembalap liar di sampingnya itu mengeram marah di balik helm karena rencananya gagal.

Revangga langsung memutar tuas gas lebih dalam. Motornya melesat bak anak panah, melewati garis finis paling pertama dan meninggalkan pembalap lain jauh di belakang.

"Yeeee! Revangga menang!" sorak Langit kegirangan sambil melompat kecil.

Revangga mematikan mesin motor, membuka helmnya, lalu menghampiri kerumunan yang kini resmi menjadi teman-teman barunya. Rambut panjangnya yang sedikit basah oleh keringat berantakan dengan estetik.

"Wih, hebat juga lo balapannya! Gue kira lo cuma gertak sambal pas bilang bisa balapan," puji Elvian sambil menepuk pundak Revangga.

"Keren banget, Bro! Sadis tikungannya tadi!" timpal Marlo bersemangat.

Elvian segera merangkul pundak Revangga untuk memperkenalkannya kepada yang lain. "Rangga, kenalin, mereka ini sahabat-sahabat gue. Ini Marlo, ini Resta. Kalau Langit lo udah kenal tadi. Nah, yang sipit ini namanya Lee Ju-won, sahabat kami dari Korea.

"Brian maju selangkah, menatap yang lain dengan tegas. "Dan mulai sekarang, dia masuk anggota kita. Dia sahabat kita semua."

Selamat bergabung, Bro!" seru Marlo sambil mengulurkan tangan untuk bertos ria, yang langsung disambut hangat oleh Revangga.

"Makasih banyak semuanya," ucap Revangga tulus. Rasa sesak di dadanya perlahan terkikis oleh kehangatan kelompok ini.

Seorang pria bertubuh tegap berjalan menghampiri mereka sambil memegang seikat uang tunai. "Selamat buat kemenangan kalian. Dan ini uang taruhannya." Pria itu menyodorkan selembar demi selembar uang ratusan ribu ke tangan Revangga.

Makasih banyak, Bang," ucap Revangga dengan sopan.

"Kamu hebat. Elvian dan Brian pintar cari teman baru yang punya kemampuan setara," puji pria itu sambil tersenyum ramah."Tentu saja, Bang. Dia anggota baru kita, namanya Revangga," sahut Brian bangga.

Pria itu mengulurkan tangan ke arah Revangga. "Saya Toni. Panggil Abang Toni aja kalau di arena ini."

Saya Revangga, Bang. Panggil Rangga aja," jawab Revangga. After bertukar sapa singkat, Bang Toni pamit untuk mengurus keperluan arena yang lain.

Ju-won yang sejak tadi memperhatikan dari samping tiba-tiba merangkul leher Revangga. "Gimana kalau kita makan-makan sekarang? Buat merayakan kemenangan perdana Rangga sekaligus menyambut anggota baru kita!"

"Oke, gue setuju!" sahut Elvian cepat.

"Gimana kalau di tempat biasa? Warung Mang Ujang aja, sekalian kita kumpul di markas," usul Marlo.

Ide bagus tuh! Perut gue juga udah demo dari tadi," timpal Langit sambil memegangi perutnya.

"Gaskan! Let's go ke warung Mang Ujang!" seru Marlo bersemangat.

Namun, tepat saat mereka hendak memakai helm dan menaiki motor masing-masing, beberapa motor sport lain datang memotong jalan mereka. Sang pengendara utama membuka kaca helmnya, menatap tajam ke arah Revangga dengan pandangan tidak suka.

"Ternyata cuma anggota baru, ya?" cibir pemuda bernama Marvin itu. Dia lalu melirik ke arah Elvian dengan nada meremehkan. "Cih, ternyata lo penakut, El. Sampai-sampai musti nyuruh anak baru buat balapan lawan gue?"

Jangan asal tuduh ya, Vin! Gue enggak pernah takut sama lo," balas Elvian, suaranya mendadak dingin. "Dia sendiri yang mau ikut balapan, enggak ada yang maksa."

"Tau tuh! Kenapa lo yang sewot sih kalau kita punya anggota baru yang bisa menangin balapan dari lo?" sindir Langit, membuat teman-teman Marvin di belakangnya terdiam.

Revangga maju selangkah, menatap Marvin dengan senyuman mengejek yang tipis. "Kenapa, Bro? Enggak terima kalah sama anak baru kayak gue?"

Wajah Marvin memerah Padam karena menahan malu dan amarah. "Lo awas aja, ya! Gue bakal habisi lo di lintasan berikutnya! Bubar!" teriak Marvin kepada anak buahnya sebelum memutar balik motornya dengan kasar.

"Kalah kok ngamuk! Makanya latihan lagi!" ledek Langit dari kejauhan, memicu gelak tawa dari seluruh anggota geng Elvian.

"Yuk, ah, ke warung Mang Ujang sebelum makanannya habis," ajak Resta di sela tawanya.

"Ayok!"

Sekitar sepuluh menit berkendara, mereka sampai di sebuah warung tenda yang cukup luas namun terkesan nyaman. Tempat itu merupakan markas rahasia mereka jika sedang malas pulang ke rumah.

"Mang Ujang! Pesan kayak biasa, ya!" teriak Resta begitu mereka duduk di kursi panjang yang tersedia.

"Siap, Mas Resta!" sahut seorang pria paruh baya dari balik etalase makanan.

Brian menoleh ke arah Revangga yang duduk di sampingnya. "Lo mau pesan apa, Rangga?"

"Samain aja kayak lo. Tapi... tolong jangan pakai udang, ya. Gue alergi udang soalnya," jawab Revangga pelan.

"Oke. Mang Ujang! Tambah satu pesanan nasi ayam goreng ya Mang, buat anggota baru kita. Jangan pakai udang atau sambal petis udang!" seru Brian memastikan.

"Siap, langsung dibuat!"

Tidak butuh waktu lama, makanan hangat dan es teh manis segar sudah tersaji di meja panjang mereka. Aroma ayam goreng bumbu rempah langsung menggugah selera.

"Nah, ini nasi ayamnya. Ayo makan semuanya, makanan di sini enak semua, lo harus coba," ucap Elvian sambil menyodorkan sendok ke arah Revangga.

Revangga tersenyum kecil. "Iya, makasih." Mereka pun makan bersama diiringi candaan ringan yang membuat suasana malam itu terasa begitu hangat bagi Revangga.

Beberapa waktu berlalu, piring-piring di meja kini sudah bersih tanpa sisa.

"Haaa... kenyang banget perut gue," ucap Resta sambil menyandarkan punggungnya ke tiang warung dengan puas.

Marlo melirik jam tangannya yang sudah menunjuk ke angka sebelas malam. "Pulang yuk, udah malam banget nih."

"Ah, malas gue. Kita ke apartemen lo aja gimana, Res?" tawar Ju-won malas.

Ayoklah, gue juga lagi malas pulang ke rumah. Rumah gue rasanya kayak neraka akhir-akhir ini," keluh Langit dengan pandangan yang mendadak meredup.

Mendengar penuturan itu, Revangga yang sejak tadi menyimak akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, "Emang... kalian semua broken home, ya?"

"Yoi," jawab Elvian santai tanpa beban, seolah hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari. "Kita semua di sini rata-rata punya masalah sama keluarga. Makanya kita bikin lingkaran sendiri."

"Kita semua punya cerita masa lalu tersendiri yang bikin kita malas pulang," tambah Resta sambil tersenyum kecut.

Langit bangkit berdiri dari duduknya sembari meregangkan tubuh. "Udahlah, yuk pulang. Besok pagi gue ada jadwal kuliah subuh."

"Bro, gue duluan ya," pamit Marlo yang rumahnya berlawanan arah.

"Yoi, hati-hati di jalan. Jangan ngebut!" seru Brian mengingatkan.

"Ayo, Rangga, kita balik juga," ajak Elvian.Mereka pun berpisah di persimpangan jalan. Revangga kembali membonceng Elvian menuju mansion mewah tempat mereka bertemu tadi.

Ceklek.

Pintu mansion terbuka perlahan. Begitu melangkah masuk ke ruang tengah, Brian terkejut melihat seorang pria berwajah manis sedang duduk bersedekap di atas sofa dengan tatapan menginterogasi.

"Loh, Kak Tian belum tidur? Sudah pulang?" tanya Brian sedikit gugup.

"Dari mana saja kalian malam-malam begini baru pulang, hm?" tanya pria bernama Tian itu dengan suara lembut namun sarat akan ketegasan.

"Biasa, Kak... abis dari arena balapan," jawab Elvian jujur sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Tian menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang terasa pening. "Haaa... sudah berapa kali Kakak bilang buat berhenti balapan liar? Balapan itu enggak baik, El, Brian. Gimana kalau kalian sampai celaka di jalanan?" ucap Tian dengan guratan kekhawatiran yang jelas di wajah cantiknya.

Elvian dan brian hanya mendukung mendengar ocehan dari tian yang mereka anggap kakak mereka sendiri sedangkan revangga hanya diam karena tidak mengenal siapa sosok cantik di depannya ini

"kamu siapa ?" bertanya ke revangga

" aku revangga kak"dengan menatap mata bening tian

"hm,sana masuk tidur awas kalau balapan lagi,kakak sita motor Kalian" mereka bertiga pergi ke kamar

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!