NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35. DSKKR (Ini masih pov fandi) Karma buruk keluarga Fandi

Gedoran di pintu tripleks itu makin keras, disusul sorak-sorai dari warga gang yang mulai berkerumun. Di kawasan kontrakan kumuh Sarangsari, kehadiran preman suruhan bukanlah hal asing, tapi melihat tetangga sendiri disatroni preman gara-gara utang adalah tontonan murah yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

Bu Ratna makin erat memeluk Intan. Tubuh tua itu gemetar hebat, suaranya habis ditelan tangisan ketakutan. "Fandi... gimana ini, Nak? Ibu takut..."

Fandi menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering seperti diamplas. Ia melangkah perlahan mendekati pintu, menahan gagang pintu yang bergetar akibat dorongan dari luar.

"S-saya buka! Tolong jangan dirusak pintunya!" teriak Fandi dari dalam dengan suara gemetar.

Begitu grendel pintu digeser dan Fandi membuka pintu sedikit saja, sebuah dorongan kuat membuat pintu terlempar menghantam dinding. Tiga pria berbadan tegap dengan kaos oblong kilat dan tato menusuk lengan masuk tanpa permisi. Di belakang mereka, belasan pasang mata tetangga—termasuk Parman yang berdiri paling depan dengan senyum tipis kepuasan—menonton dari luar.

Pria yang paling tinggi, dengan leher berkalung rantai monel, maju menatap Fandi tajam. Bau alkohol menyengat menyebar dari mulutnya.

"Lu Fandi, kan?" bentak pria itu sambil menunjuk dada Fandi kasar. "Punya otak ga lu?! Aplikasi minta bantuan kita buat nyari lu bertiga! Nomer telfon kita, warga di sini, semua dikirim pesan sampah gara-gara lu berulah!"

"Pak... tolong bicarakan baik-baik..." Fandi mencoba memberanikan diri, mengangkat kedua tangannya. "Kami emang ada masalah sama aplikasi itu, tapi—"

"Ga ada baik-baik buat orang penipu kayak lu!" potong pria kedua, menendang ember plastik di dekat pintu hingga pecah. "Lu kira Sarangsari ini tempat persembunyian buronan?! Gara-gara foto muka lu sekeluarga disebar di Facebook, gang ini jadi dicap tempat penampungan maling!"

"Usir aja, Bang! Bikin kotor Sarangsari aja!" teriak salah satu warga dari balik kerumunan.

"Iya! Usir! Nanti rumah kita ikut-ikutan diteror!" sahut suara ibu-ibu lain.

Parman menyelinap sedikit ke depan, berpura-pura pasang muka Prihatin. "Aduh, Fandi... Paman udah bilang dari awal, kalau ada masalah itu ngomong. Tapi kalau udah bawa-bawa preman begini dan bikin resah satu kontrakan, Paman juga bingung mau bantu gimana. Kasihan Bu Haji yang punya kontrakan kalau sampai tempatnya dicap jelek."

Fandi menatap Parman. Rasanya ada api yang membakar dadanya melihat kelakuan pria itu. Parman-lah yang membuat mereka kehilangan tempat tinggal gratis di rumah proyek, Parman-lah yang melaporkannya ke mandor hingga ia dipecat, dan kini Parman pura-pura menjadi juru selamat di tengah kerumunan warga yang menghakimi mereka.

"Lu denger tuh kata warga?" gertak si kepala preman, maju satu langkah hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari muka Fandi. "Lu ada uang bayar bunga harinya ga sekarang? 3 juta! Buat nutupin mulut kita biar ga seret lu bertiga ke kantor polisi!"

"3 juta?!" Intan menjerit dari pojokan ruangan. "Itu pemerasan!" Teriak intan.

"Diam lu, cewek gatal!" bentak preman itu menunjuk Intan. "Lu yang pake data bodong kan?! Banyak bacot lu! Mana uangnya?!"

Fandi merentangkan kedua tangannya, menghalangi pandangan preman itu dari adik dan ibunya. "Kami sudah enggak ada uang segitu banyak, Pak... Tolong beri kami waktu. Saya lagi cari kerjaan"

"Ga ada waktu-waktuan!" Preman itu menarik kerah baju kaos Fandi yang sudah lusuh hingga terangkat. "Kalau ga ada uang, hari ini juga lu sekeluarga angkat kaki dari Sarangsari! Kalau sampai besok pagi muka-muka busuk lu masih kelihatan di gang ini, jangan salahin kita kalau barang-barang lu kita bakar di lapangan!"

Ia menghempaskan Fandi hingga punggung cowok itu menghantam tembok semen yang terkelupas. Fandi meringis kesakitan, tapi ia tak sanggup membalas. Ia tahu, melawan satu langkah saja berarti memancing amuk massa.

Ketiga preman itu berbalik melangkah keluar, menyisakan tatapan sinis dan cemoohan dari para tetangga yang masih enggan beranjak pada Fandi dan keluarga nya.

"Pergi sana! Dasar penipu!"

"Gaya sok kaya dari Flamboyan, rupanya buronan pinjol!"

Pintu kontrakan dibanting dari luar oleh entah siapa. Ruangan sempit itu kembali sunyi, menyisakan bau busuk kekalahan dan ketakutan yang mencekam.

Bu Ratna merangkak mendekati Fandi yang masih terduduk di lantai, memeluk anak sulungnya itu sambil menangis sesenggukan. Intan hanya bisa menutupi wajahnya, menyesali ide konyol yang kini membusukkan hidup mereka.

"Ndi... Gimana ini.." Ucap Bu Ratna.

Fandi mengepalkan tangannya ke lantai semen yang dingin. Tidak ada lagi air mata yang keluar dari matanya. Harapan, martabat, dan tempat bernaung. semuanya telah renggut dalam satu malam. Besok pagi mereka harus pergi, tapi Fandi bahkan tidak tahu ke mana lagi kaki mereka harus melangkah.

Ketiga preman itu berbalik melangkah keluar. Namun, sebelum kerumunan warga membubar, suara ketukan tongkat kayu dan derap langkah tergesa-gesa terdengar dari lorong gang. Bu Haji pemilik kontrakan yang mengenakan kerudung lebar dan deretan gelang emas di tangannya muncul dengan wajah merah padam karena menahan marah.

"Ada apa ini heboh-heboh?! Bikin malu Sarangsari saja!" semprot Bu Haji tajam, menatap lurus ke arah pintu kontrakan Fandi yang terbuka.

Parman langsung menyelinap mendekat. "Ini loh, Bu Haji... ternyata keluarga Fandi ini buronan pinjol. Muka mereka disebar di internet, terus preman sampai datang ke sini. Penghuni lain jadi takut dan risih semua."

Napas Bu Haji memburu. Ia melangkah masuk ke kontrakan tanpa memedulikan Fandi yang masih terduduk di lantai.

"Mas Fandi! Saya ndak mau ya kontrakan saya jadi sarang masalah!" seru Bu Haji melipat kedua tangannya di dada. "Warga di sini sudah pada komplain ke saya. Baru juga beberapa hari tinggal di sini, sudah bawa-bawa preman dan bikin ribut! Besok pagi kalian harus keluar dari sini!"

Fandi buru-buru bangkit, mencoba memohon. "Bu Haji, tolong Bu... kasihan ibu saya. Kami ndak ada tempat tinggal lain. Tolong beri kami kesempatan"

"Ndak ada kesempatan-kesempatan!" potong Bu Haji tegas. "Nama baik kontrakan saya lebih penting dari uang sewa kamu! Walaupun disini seadanya, tapi tetap saja warga kontrakan sini tidak ada yang bermasalah sampai seperti kalian"

Bu Haji kemudian merogoh tas selempangnya, mengeluarkan amplop cokelat tebal lalu melemparnya kasar ke atas meja kayu.

"Ini uang sewa kamu yang lima juta kemarin. Tapi karena kamu sudah melanggar aturan dan bikin keributan, saya potong separo! Saya kembalikan dua setengah juta saja. Anggap saja sisanya buat ganti rugi ketenangan warga di sini!" tegas Bu Haji tanpa bisa dibantah. "Besok jam delapan pagi kontrakan ini harus sudah kosong melompong!"

Tanpa menunggu jawaban Fandi, wanita itu berbalik pergi disusul sorak-sorai kepuasan dari tetangga sekitar yang menonton.

Pintu kontrakan dibanting dari luar. Ruangan sempit itu kembali sunyi, menyisakan bau busuk kekalahan yang mencekam.

Bu Ratna merangkak mendekati Fandi, memeluk anak sulungnya itu sambil menangis sesenggukan. Intan hanya bisa meratapi kebodohannya di pojokan.

Fandi pelan-pelan memungut amplop cokelat di atas meja. Uang dua setengah juta rupiah kini ada di tangannya digabung dengan sisa uang hasil pinjol ilegal yang pernah mereka nikmati. Di atas kertas, mereka memegang uang tunai. Tapi rasanya begitu busuk dan beracun. Uang itu didapat dari malapetaka, dan kini bayarannya adalah rasa malu serta harga diri yang terinjak-injak.

~Bersambung~

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!