NovelToon NovelToon
Reincarnation Of The Lemitless

Reincarnation Of The Lemitless

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3 Prajurit Tulang di Lorong Bulan

Tangga batu itu menurun begitu dalam hingga Kael berhenti menghitung anak tangganya setelah angka tiga ratus.

Cahaya dari luar sudah lama lenyap. Namun kegelapan di dalam Crimson Moon Dungeon tidak benar-benar gelap. Dinding di kedua sisi dipenuhi kristal merah sebesar kepalan tangan yang berpendar redup, memancarkan cahaya seperti bulan yang tertutup darah. Bayangan Kael memanjang dan bergoyang di dinding, seolah ada seseorang lain yang ikut menuruni tangga bersamanya.

Udara semakin dingin. Bau darah tua semakin pekat.

"Tempat ini benar-benar membuatku ingin pulang," gumam Kael. "Kalau saja aku punya rumah untuk pulang."

Dia tertawa kecil pada leluconnya sendiri, dan suara tawa itu memantul dari dinding batu, terdengar jauh lebih lama dari seharusnya.

Akhirnya tangga berakhir di sebuah aula luas berlantai marmer hitam. Deretan pilar tinggi berdiri di sepanjang dinding, masing-masing dipahat berbentuk wanita bersayap yang wajahnya tertutup kain. Di ujung aula terdapat pintu lengkung dengan ukiran bulan sabit yang sama seperti di gerbang luar.

[Crimson Moon Dungeon — Lantai 1.]

[Penjaga terdeteksi: Skeleton Soldier.]

"Penjaga?"

Belum selesai Kael bertanya, terdengar bunyi gemeretak dari arah bayangan. Satu demi satu, tulang-belulang manusia merangkak keluar dari sela pilar, mengenakan sisa-sisa baju zirah berkarat dan menyeret pedang tua di lantai. Rongga mata mereka menyala merah pucat.

Ada tujuh. Kael menghitung dua kali untuk memastikan.

Dia meraih cakar beruang di pinggangnya. Senjata itu cukup tajam untuk mencabik daging, tetapi menghadapi tulang, dia ragu. Saat itu salah satu rangka menerjang, dan Kael menyadari sesuatu yang membuatnya terdiam sesaat: cara rangka itu mengayunkan pedang jauh berbeda dari monster hutan.

Bukan cakar liar atau taring buas. Ini gerakan yang *diajarkan*.

Pedang itu turun dalam garis lurus, cepat, dan bersih. Kael mundur satu langkah, tetapi ujung pedang tetap menggores lengannya.

[Adaptation terhadap teknik pedang Skeleton Soldier: 6%.]

[Terdeteksi: Teknik Pedang Dasar.]

Kael menatap luka kecil di lengannya yang menutup sendiri. Lalu dia tersenyum lebar. "Jadi ini yang namanya teknik."

Dia merunduk menghindari tebasan kedua dan menghantam rusuk rangka itu dengan cakar beruang.

*Krak!*

Tulangnya berhamburan. Rangka itu roboh, dan pedang berkaratnya jatuh berdenting di lantai.

Kael memungut pedang itu.

Bilahnya patah di ujung, gagangnya lapuk, tetapi berat dan panjangnya terasa pas di tangan. Dia mencoba mengayunkannya sekali. Gerakannya kaku, tetapi ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya.

[Teknik Pedang Dasar — Pemula 1%.]

"Aku selalu ingin belajar main pedang," gumam Kael. "Tidak kusangka gurunya adalah tengkorak."

Enam rangka tersisa maju bersamaan.

Pertarungan itu berlangsung lama, dan Kael menikmatinya lebih dari yang seharusnya. Setiap tebasan yang mengenai tubuhnya adalah pelajaran.

Tebasan dari atas selalu lurus, tusukan selalu dari pinggang, dan ketika dua rangka menyerang bersamaan, yang satu menebas rendah sementara yang lain menusuk tinggi.

[Teknik Pedang Dasar — Pemula 12%.]

[Adaptation terhadap teknik lawan: 21%.]

Bahunya tertebas, dan dia meringis.

Darah menetes ke lantai marmer hitam, tetapi lukanya menutup sebelum tetesan ketiga jatuh.

Dia mengayunkan pedang berkarat itu, kali ini dengan sudut yang sedikit lebih benar, dan memotong tulang paha rangka di hadapannya.

[Teknik Pedang Dasar — Pemula 28%.]

Salah satu rangka menebas dari belakang. Kael tidak menoleh. Dia hanya menunduk, dan pedang itu melintas tepat di atas kepalanya.

"Tebasan dari atas ke bawah," ujarnya pelan.

"Selalu setelah menghela napas."

[Adaptation terhadap teknik lawan: 47%.]

Dia memutar badan dan menghancurkan tengkorak rangka itu dengan gagang pedang. Tulang-tulang berserakan, lalu tak bergerak lagi.

[Teknik Pedang Dasar — Pemula 37%.]

Ketika rangka terakhir roboh, aula itu kembali sunyi.

Kael berdiri di tengah tumpukan tulang, terengah-engah, dengan pedang berkarat yang kini terasa seperti perpanjangan tangannya sendiri. Dia mengangkatnya, mengayunkannya sekali lagi.

*Wush.*

Suara itu bersih. Tidak sempurna, tetapi bersih.

"Lumayan," gumamnya.

Di antara tulang-tulang, sesuatu berkilau. Kael berjongkok dan menemukan tiga kristal kecil berwarna putih kemerahan.

[Monster Core — Kualitas Rendah × 3.]

Dia menyerapnya satu per satu sambil duduk bersila di lantai marmer yang dingin.

Aliran hangat mengalir ke perutnya, dan Body Tempering 2★ naik hingga hampir penuh.

Dia tidak terburu-buru. Dia sudah belajar satu hal dari Death Forest: tergesa-gesa adalah cara tercepat untuk mati.

[Body Tempering 2★ — Progres: 96%.]

Setelah cukup lama, Kael bangkit dan mendorong pintu lengkung di ujung aula. Daun pintunya bergeser tanpa suara, memperlihatkan lorong panjang yang menurun lagi.

Lantai dua tak jauh berbeda dari lantai pertama, hanya saja lebih dingin dan lebih sempit. Dinding lorongnya dipenuhi lubang kecil, dan Kael baru menyadari fungsinya ketika ubin di bawah kakinya bergerak sedikit.

*Klik.*

"Oh, jangan ..."

Belasan anak panah hitam melesat dari dinding. Kael melompat mundur sambil mengangkat pedangnya, tetapi tetap saja dua di antaranya menembus dada dan pahanya. Dia tersungkur, mencabut anak panah itu dengan geraman, lalu merasakan sensasi dingin menjalar di pembuluh darahnya.

[Racun Bulan Darah terdeteksi.]

[Efek: pelumpuhan otot.]

Kael terkekeh lemah. "Tentu saja ada racunnya."

Tubuhnya tidak bisa bergerak selama beberapa detik, tetapi Absolute Regeneration segera menetralkan racun itu sedikit demi sedikit. Sementara itu Adaptation bekerja diam-diam.

[Adaptation terhadap Racun Bulan Darah: 9%.]

Dia butuh lima kali kena jebakan yang sama sebelum angka itu melewati lima puluh persen. Lantai dua ternyata hanyalah rangkaian jebakan: panah, jarum, gas, lantai runtuh. Kael melewati semuanya dengan cara paling kasar, yaitu dengan terluka, sembuh, dan belajar.

Ketika akhirnya dia menemukan pintu turun ke lantai tiga, pakaiannya sudah compang-camping, sekujur tubuhnya berlumur darah kering, dan senyum kecil terpasang di wajahnya.

[Adaptation terhadap Racun Bulan Darah: 83%.]

[Body Tempering 2★ — Progres: 100%.]

[Tembus ke Body Tempering 3★.]

Kael menatap pintu di depannya. Ukiran bulan sabit di daun pintu itu kini dikelilingi oleh tiga tetes darah, bukan satu. Di bawahnya, tulisan aneh yang entah bagaimana bisa dia baca muncul samar.

*Di sini, para penjaga berhenti menjadi tulang.*

"Peringatan yang sopan," gumam Kael. "Sayangnya aku bukan orang yang mudah menurut."

Dia mendorong pintu itu.

Dan dari kegelapan di baliknya, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar rangka membuka matanya.

---

Yang membuka mata di kegelapan lantai tiga adalah sebuah zirah.

Tingginya hampir tiga meter, terbuat dari logam merah gelap yang berkilau seperti darah yang belum kering.

Tidak ada tubuh di dalamnya, hanya rongga kosong dengan dua titik cahaya merah di tempat mata seharusnya berada.

Di tangan kanannya tergenggam pedang lebar sepanjang tubuh Kael, dan di tangan kirinya sebuah perisai bergambar bulan sabit.

[Crimson Knight — Penjaga Lantai 3.]

[Perkiraan kekuatan: Qi Gathering 3★.]

"Tiga bintang di atas aku," gumam Kael. "Tidak buruk. Aku sudah terbiasa melawan yang lebih kuat."

Zirah itu tidak menjawab.

Ia hanya mengangkat pedangnya perlahan, lalu menghantamkannya ke lantai.

Getaran menjalar sampai ke kaki Kael, dan seluruh lantai retak seperti kaca.

Kael tidak sempat bersiap. Pedang raksasa itu sudah berayun horizontal, dan dia hanya sempat mengangkat pedang berkaratnya untuk menahan.

*KLANG!*

Pedang tua itu hancur berkeping-keping.

Tubuh Kael terlempar sejauh dua puluh meter dan menghantam dinding, membuat tulang punggungnya berbunyi mengerikan.

Dia jatuh berlutut, terbatuk darah, dan menatap gagang kosong di tangannya.

"Ah. Guru pertamaku pensiun terlalu cepat."

Regenerasi bekerja, tetapi lebih lambat dari biasanya. Tulang punggungnya butuh beberapa detik untuk kembali tersambung, dan selama itu Crimson Knight sudah melangkah maju, setiap langkahnya membuat lantai bergetar.

Kael memungut sebilah pedang yang tergeletak di antara puing, milik salah satu penjaga rangka yang mungkin hancur puluhan tahun lalu. Bilahnya lebih pendek dan lebih ringan daripada yang tadi, tetapi masih utuh.

[Teknik Pedang Dasar — Pemula 52%.]

Zirah itu menyerang.

Serangan pertama datang dari atas, berat, dan Kael menghindar dengan melompat ke samping. Serangan kedua menyapu rendah. Dia melompat lagi, tetapi ujung pedang masih menyayat betisnya. Serangan ketiga, keempat, dan kelima datang bertubi-tubi, dan setiap kali Kael hanya bisa mundur.

[Adaptation terhadap teknik Crimson Knight: 4%.]

Kael menggigit bibir. Zirah ini tidak seperti rangka biasa. Teknik pedangnya jauh lebih halus, ayunannya efisien, dan tidak ada gerakan yang sia-sia. Namun justru karena itu, Kael merasa sesuatu dalam dirinya berdenyut penuh semangat.

"Ini yang kucari," bisiknya. "Sesuatu yang benar-benar layak dipelajari."

Ayunan keenam.

Kael tidak menghindar.

Dia menyerongkan pedangnya dan membiarkan bilah raksasa itu tergelincir di sisi bilahnya sendiri.

Percikan api beterbangan, dan lengannya nyaris patah, tetapi arah serangan itu berbelok.

[Adaptation: 13%.]

[Teknik Pedang Dasar — Pemula 61%.]

Serangan ketujuh, kedelapan, kesembilan. Kael terluka, sembuh, terluka lagi. Darahnya membasahi lantai, tetapi matanya semakin tenang.

Dia mulai melihat celah kecil di antara ayunan: sepersekian detik ketika perisai turun untuk menyeimbangkan tubuh.

[Adaptation: 34%.]

[Teknik Pedang Dasar — Pemula 78%.]

"Satu," gumamnya. "Dua. Tiga."

Pedang itu turun. Kael menunggu.

Perisai menurun. Kael maju.

Dia menusukkan pedang pendeknya ke celah di antara helm dan pelindung bahu, tepat di sambungan zirah.

Ujung bilahnya masuk sedalam telapak tangan, dan cahaya merah di dalam rongga zirah itu berkedip-kedip liar.

*Krek!*

Zirah itu meraung tanpa suara dan menghantamkan perisainya. Kael terpental, tetapi kali ini dia mendarat berdiri.

[Adaptation: 58%.]

[Teknik Pedang Dasar — Pemula 91%.]

Crimson Knight mengamuk. Serangan-serangannya menjadi lebih cepat dan lebih liar, tetapi justru karena itu polanya mudah terbaca.

Kael berputar, menunduk, meluncur di bawah ayunan, lalu menebas sendi lutut zirah itu dengan seluruh tenaganya.

Logam terkoyak. Satu kaki zirah itu ambruk.

[Teknik Pedang Dasar — Pemula 99%.]

Kael menarik napas.

Dia mengangkat pedangnya sekali lagi, dan dunia terasa menyempit menjadi satu garis lurus antara ujung bilahnya dan retakan di dada zirah itu.

Dia mengayunkan pedangnya.

*SWOOSH!*

Bilahnya membelah udara, membelah logam, dan menembus inti cahaya merah di dada Crimson Knight.

Zirah itu membeku, kedua matanya meredup, dan tubuhnya runtuh menjadi tumpukan logam yang berdentang keras.

Keheningan turun.

[Crimson Knight dikalahkan.]

[Teknik Pedang Dasar — Pemula 100%.]

[Teknik Pedang Dasar telah mencapai batas Pemula.]

[Tingkat penguasaan meningkat.]

[Teknik Pedang Dasar — Mahir 1%.]

Kael berdiri terengah-engah, menatap layar itu, lalu tertawa lepas, tawa yang terdengar aneh di dalam ruang batu yang dingin.

"Mahir," katanya. "Baru seminggu, dan aku sudah jadi pendekar pedang."

Dari tumpukan logam itu, dia mengambil sebuah kristal sebesar kepalan tangan, merah keunguan dan berdenyut pelan.

Begitu diserap, gelombang panas mengalir ke seluruh tubuhnya, jauh lebih kuat dari kristal-kristal sebelumnya.

[Body Tempering 3★ — Progres: 88%.]

Dia bersandar sebentar di dinding untuk pulih, lalu bangkit dan menuruni tangga menuju lantai berikutnya.

Lantai empat sampai tujuh berlalu dalam kabur. Lorong panjang, ruang-ruang sempit, penjaga yang semakin kuat tetapi tidak seberat Crimson Knight.

Kael melaluinya dengan sabar, meski setiap langkah membuat dinding dungeon terasa semakin dingin dan udara semakin berat oleh sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.

Bukan racun, bukan miasma. Sesuatu yang lebih halus, seperti tekanan dari seseorang yang sedang menunggu.

Di lantai terakhir, tidak ada penjaga.

Tangga terakhir membuka ke sebuah ruangan bundar yang luas, dengan langit-langit setinggi gereja katedral.

Ribuan kristal merah menggantung dari atas, berpendar lembut seperti bintang yang sekarat.

Di tengah ruangan, di atas altar batu bertingkat tiga, berdiri sebuah peti mati kristal berwarna merah pekat.

Kael berhenti di ambang tangga.

Udara di ruangan itu terasa berbeda. Tidak ada bau darah tua. Yang ada hanya keheningan yang begitu dalam hingga detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentuman.

Dia berjalan perlahan, satu langkah demi satu langkah.

Di dasar altar, dia melihat huruf-huruf kuno yang lagi-lagi bisa dia baca.

*Di sini tidur sang Bulan Merah. Bangunkan dia dengan darah, atau biarkan dia tidur selamanya.*

Kael menatap tulisan itu, lalu peti mati kristal di atasnya.

Dari balik permukaan bening yang kemerahan, dia melihat sosok seorang wanita berambut putih keperakan, berkulit pucat, kedua tangannya bertumpu di dada. Wajahnya begitu cantik hingga Kael lupa bernapas sesaat.

"Ya ampun," bisiknya. "Jadi ini yang dijaga semua monster tadi."

Dia mengangkat tangan, ragu, lalu menyentuh permukaan kristal itu.

Lukanya yang belum sepenuhnya kering di telapak tangan meneteskan satu titik darah ke permukaan peti.

Sunyi.

Lalu peti mati itu berdenyut. Sekali. Dua kali.

Retakan halus merambat di kristal dengan bunyi lembut seperti es yang pecah di musim semi.

Kelopak mata wanita di dalamnya bergetar, dan ketika terbuka, Kael melihat dua mata sewarna darah segar yang menatap langsung ke arahnya.

Bibir pucat itu bergerak, dan suara serak yang sudah seribu tahun tidak dipakai berbisik lirih:

"Darah ..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!