Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 Hari Musyawarah
Hari ke-1 - Pagi di Darunnajah
Jam 5 pagi, udara Darunnajah masih dingin. Embun masih nempel di jendela asrama putri.
Hasna berdiri di halaman dengan papan absen kayu di tangan, kerudung hitam polosnya agak berantakan kena angin. Biasanya dia paling cerewet absen, tapi pagi ini suaranya pelan banget.
Satu per satu santri putri lewat, bukan langsung tanda tangan, tapi berhenti.
"Hasna, beneran semalam Aa Hafidz ke rumahmu?" bisik Aisyah, pengabdian juga.
Hasna cuma mengangguk, matanya nunduk ke papan absen. Jari-jarinya ngeremas ujung papan sampai putih.
"Doakan yang terbaik ya, Syah," jawabnya hampir gak kedengeran.
Di dalam ndalem, suasananya beda lagi.
Ning Sopiah duduk di atas sajadah, belum sempat lipat mukena habis shubuh. Di depannya Gus Azam masih duduk dengan kitab kecil di pangkuan.
"Gus, semalam itu Hasna pasti grogi banget," kata Sopiah, suaranya pelan tapi gemesnya keliatan. "Abis Aa Hafidz dateng bawa kitab, bukan bawa gorengan. Siapa yang gak grogi coba."
Gus Azam nutup kitabnya pelan, terus natap Sopiah.
"Yang grogi bukan cuma Hasna, Ning. Kakakmu dari semalam bolak-balik ndalem, wudhunya sampai tiga kali. Katanya takut salah ngomong di depan Abahnya Hasna."
Sopiah langsung ketawa kecil, terus nyender ke lengan Gus Azam.
"Ya Allah Gus, padahal Aa Hafidz itu biasanya jaimnya minta ampun. Kalau ada santri putri lewat aja dia langsung nunduk. Lah semalam berani-beraninya sowan malam-malam."
"Karena yang didatengin bukan santri biasa," jawab Gus Azam pelan. "Yang didatengin Hasna. Murid kesayangan kamu dulu."
Sopiah diam sebentar, matanya menerawang.
"Iya ya Gus. Dulu kecil banget. Sekarang..." Sopiah gak nerusin, senyumnya jadi bangga.
...****************...
Siang - Kelas Tahsin
Kelas Tahsin sepi, anak-anak udah pulang. Hasna masih duduk, di depannya ada kitab diplastik.
Pintu dibuka agak kenceng.
Ning Latifah masuk, gamisnya bagus, kerudungnya rapi, bawa es teh dua.
"Hasna sayang, sepupuku tercinta, masih di sini? Dari tadi ditungguin Ning Sopiah di ndalem," katanya manja, terus naruh es teh di meja Hasna.
Matanya langsung ngelirik kitab.
"Ohhh... ini ya? Pantesan Aa Hafidz semalam wudhu tiga kali, ternyata mau ngasih ini ke sepupuku," godanya, jailnya keluar.
Hasna langsung merah, nutup kitabnya, "Ning, ini buat TPQ..."
Ning Latifah duduk mepet, bisik-bisik jail tapi pelan,
"TPQ alesan, Has. Padahal mah buat kamu. Coba liat, tulisannya aja 'Untuk Mbak Hasna' - bukan 'Untuk TPQ'. Ngaku aja deh, deg-degan ya?"
Hasna makin nunduk, "Ning Latifah..."
Ning Latifah ketawa kecil, terus tiba-tiba lembut, ngelus punggung Hasna,
"Tapi Has, serius ya. Latifah ikut seneng loh. Dulu kamu yang sering main ke rumah Latifah minta diajarin pegon, sekarang kamu yang mau ngajar TPQ. Sepupu Latifah udah gede."
Hasna yang tadinya digodain jadi terharu, "Makasih ya Ning..."
Ning Latifah langsung balik jail lagi, "Tapi awas ya, kalau Aa Hafidz jaim-jaim lagi ke kamu, lapor Latifah. Biar Latifah omelin. Dia itu kakaknya Sopiah, tapi kalau sama sepupu Latifah jaim, gak boleh!"
Pas banget di luar jendela, Aa Hafidz lewat mau ke ndalem, denger namanya disebut, langsung nunduk dan jalan cepet.
Ning Latifah ngakak, "Tuh kan! Jaim!"
...****************...
Malam ke-3 - Video Call Paling Heboh
Jam 9 malam, di rumah Desa Kembang. Hasna sudah ganti kerudung coklat, lagi duduk di kamar dengan lampu temaram.
HP nya bunyi. Video Call dari Ning Sopiah.
Hasna angkat, di layar ada Sopiah dengan mukena putihnya masih kepakai setengah, rambutnya agak keluar dikit. Di belakangnya keliatan Gus Azam lagi sandaran baca HP, dan di paling belakang ada bayangan Aa Hafidz lagi duduk jauh, pura-pura gak ikut.
"Hasnaaa!" Sopiah langsung teriak pelan, "Kamu udah buka belum?"
Hasna panik, ngecilin volume, "Ning, pelan-pelan, Umi di depan."
Sopiah langsung berbisik lebay, "Iya iya, udah kamu baca belum tulisan Aa ku?"
"Sudah Ning, yang Ta'lim udah," jawab Hasna, mukanya merah.
"Yang satunya?" Sopiah kedipin mata.
"Belum, masih diplastik," jawab Hasna cepat.
Sopiah langsung ngakak sampe mukenanya miring, "YA JANGAN DIBUKA DULU HAS!"
Dari belakang, Gus Azam nyeletuk tanpa ngangkat kepala, "Ning, kenceng banget ketawanya, kedengeran sampai Kembang."
Sopiah manyun, "Biarin Gus, gemes!"
Terus dari pojok belakang, suara Aa Hafidz akhirnya kedengeran, pelan banget, jaimnya balik lagi,
"Dek, itu kitab buat ngajar, bukan buat yang kamu pikirin."
Sopiah balik badan, "Alah Aa, ngeles! Bilang aja buat bekal!"
Gus Azam ketawa, "Hafidz, adikmu ini kalau udah jadi mak comblang gak bisa direm."
Hasna yang nonton mereka berantem dari layar HP jadi senyum sendiri. Tegangnya dari siang hilang. Dia jadi kangen suasana ndalem lagi.
Sopiah balik lagi ke Hasna, suaranya tiba-tiba lembut,
"Has, serius ya. Abahmu bilang apa? Kamu kan bingung mau kuliah apa TPQ."
Hasna narik napas panjang, cerita pelan,
"Tadi sore Abah bilang gini, Ning. 'Nduk, kamu itu sudah ngabdi setahun, adabmu sudah dibentuk. Kuliah itu penting, tapi ngajar itu juga ibadah. Kalau bisa dua-duanya kenapa harus milih satu? Coba dimusyawarahkan.' Abah gak maksa, Ning. Abah cuma bilang jaga niatnya."
Di layar, Gus Azam yang tadinya main HP, langsung duduk tegak, dengerin serius.
"Pinter Abahmu, Has," kata Gus Azam, suaranya berat dan lembut. "Memang begitu seharusnya. Jangan buru-buru mutusin karena grogi atau karena gak enak sama orang. Musyawarah itu biar hatinya tenang dulu."
Sopiah ngangguk-ngangguk, "Iya Has, Sopiah juga gitu dulu. Makanya Sopiah ngerti deg-deganmu."
...****************...
Malam ke-7 - Penutupan
Jam 8 malam, pendopo rumah Hasna.
Suasananya beda dari seminggu lalu. Seminggu lalu cuma Aa Hafidz dan Abah. Malam ini rame. Ada Abah dan Umi Hasna, ada Gus Azam, ada Abahnya Sopiah, dan Aa Hafidz duduk paling pojok, pakai koko putih bersih, pecinya agak miring karena grogi.
Di tengah ada teh hangat dua gelas, nampannya masih sama, jaraknya tetap dijaga.
Gus Azam yang buka suara, pelan dan runut,
"Abah, Umi, Hasna. Maaf kami datang malam lagi. Seminggu ini kita kasih waktu musyawarah, tidak ada yang kami desak. Hafidz pulang dari Lirboyo, niatnya mau ngembangin TPQ di desa. Dia butuh partner yang ngerti adab Darunnajah, yang sabar ngajar anak kecil. Dan kami lihat Hasna yang paling pas. Tapi Hasna juga punya rencana kuliah di Malang bulan depan. Jadi kami usulkan tengahnya, Hasna tetap kuliah, tapi seminggu dua kali pulang buat ngajar bareng di TPQ. Tidak ada ikatan apa-apa dulu selain partner ngajar. Ta'arufnya sambil jalan, sambil ngajar."
Abah Hasna diam lama, nyeruput kopinya. Terus natap Hasna.
"Nduk, gimana menurutmu?"
Hasna yang dari tadi menunduk dalam, kerudung hitam polosnya nutupin setengah pipi, angkat kepala pelan. Suaranya gemeter, tapi jelas banget,
"Nggih Abah, Umi, Gus, Aa Hafidz. Seminggu ini Hasna mikir terus. Hasna sholat istikharah juga. Hasna itu masih banyak kurangnya, Hasna takut gak bisa jadi partner yang baik. Tapi kalau Aa Hafidz berkenan bimbing Hasna pelan-pelan seperti partner ngajar, bukan langsung nuntut ini itu, Hasna siap. Kuliah tetap Hasna jalanin, TPQ juga Hasna jalanin. Hasna mau belajar lagi dari awal."
Aa Hafidz yang dari tadi nunduk, pelan-pelan angkat kepala. Matanya ketemu mata Hasna cuma sedetik, terus langsung nunduk lagi, mukanya merah.
"Siap, Mbak Hasna," katanya, suaranya pelan tapi mantep. "Saya juga masih belajar. Kita belajar bareng. Mulai dari Ta'lim dulu ya, pelan-pelan."
Dari pojok pendopo, Sopiah yang dari tadi nahan ngomong, akhirnya gak tahan, nyeletuk,
"Nah gitu dong! Yang satunya ditabung dulu ya Aa!"
Semua yang di pendopo langsung ngakak pecah. Tegangnya hilang.
Gus Azam langsung narik lengan Sopiah, "Ning, kamu ini."
Abah Hasna ketawa paling kenceng, "Wes, kalau Ning Sopiah sudah nyeletuk begitu, berarti sah musyawarahnya!"
Hasna ketawanya lepas, untuk pertama kalinya malam itu dia ketawa gak ditahan. Aktif dan cerianya keluar.
Malam ditutup dengan doa pendek dari Gus Azam.
Motor Supra Aa Hafidz pelan ninggalin Desa Kembang lagi. Tapi kali ini di tasnya Hasna sudah tidak ada plastik kitab lagi. Sudah dibuka, sudah dibaca.
Kami pun pulang dengan rasa haru, lega dan bahagia.
---Bersambung---