Seorang CEO tampan dan mematikan, jatuh cinta dengan seorang desainer muda, mungkin itu kisah biasa tapi ini lain.. setiap rintangan mereka lalui bersama, terpisahkan dan bersama kembali, pertengkaran hingga perkelahian mereka hadapi.
Sampai suatu hari mereka dapat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alister Weis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Akan Ada disampingmu saat kamu gagal...
Shofia tertidur dengan pulas.
Ya, dia sudah menahan lelah dari tadi pagi karena pagi pagi sudah harus pergi ke bandara dan terbang ke Paris.
Perjalanan hampir 4 jam membuatnya lelah, tapi dia begitu menikmatinya.
Karena suasana pagi dan awan menyelimuti kota saat dia lihat dari atas.
Apalagi disampingnya Kabir yang sedang sibuk dengan ponselnya masih sempat untuk sesekali menciumnya ataupun mengusap tangannya.
Dan rasa lelahnya membuatnya tertidur saat sudah berada didalam mobil.
Kabir yang melihat itu segera menyandarkan kepala Shofia di pundaknya.
"Istriku... waspadamu semakin berkurang"
"Tuan... kita akan kembali pulang atau ke rumah sakit?"
"Rumah sakit!"
Pengawal yang merangkap menjadi pengemudi itu segera mengangguk dan menjalankan mobil lebih cepat.
Menuju rumah sakit ternama, Kabir membuat janji dengan dokter spesialis terbaik di Paris.
Sampai di lobi, Kabir segera membenarkan posisi Shofia.
"Dia terlihat lelah..."
Kabir segera menggendong Shofia ala bridal dan menyuruh pengawalnya untuk membawa kursi roda milik Shofia.
Semua orang melihat mereka, beberapa perawat cantik datang. Mereka menanyai Kabir dengan tatapan menggoda.
"Aku harus menanyai siapa nama kalian, untuk rekomendasi dipecat!"
Kabir kesal. Para perawat itu bukannya menolong malah bersikap seolah pelac*r yang siap melemparkan diri ke lelaki.
"Emmm... ada apa ribut ribut "
Seketika semua orang yang mengerumuni Kabir dan Shofia terkejut.
Wanita yang digendong itu bangun dan menampakkan wajahnya. Karena memang tadi dia memakai masker.
Saat Shofia membuka masker nya, semua perawatan itu semakin terkejut.
Mereka kalah, wanita yang digendong itu sangat cantik, dan berkarisma.
"Suami, kita dimana?"
"Rumah sakit, kami terbangun?"
"Iya... kemana kursi roda ku? "
"Aku bakar..."
"Hah?"
"Kamu hanya butuh aku, tak butuh yang lain!"
Semua yang melihat itu seketika dibuat terpesona dengan perkataan Kabir.
'Lelaki idaman' semua mengatakan itu.
"Apa aku berat?"
"Seperti kapas, cepatlah hamil agar aku tak perlu ke tempat fitness lagi"
"Kenapa? "
"Agar berat badanmu naik, dan aku tak usah angkat beban!"
"Kamu ingin aku tak bisa berjalan selamanya? "
"Tidak, kamu bisa jalanpun aku tetap akan menggendongmu"
Percakapan Kabir dengan Shofia terus berlanjut sampai akhirnya mereka sampai didepan ruangan sang dokter.
Kabir dan Shofia merupakan klien istimewa, tak perlu mengantri. Kabir penanam saham terbesar di rumah sakit ini.
Mereka berdua segera masuk dan mengkonsultasikan kondisi Shofia.
Dokter itu bernama Rudy, dia dokter terbaik. Rudy segera memeriksa Shofia, melakukan scan, dan rontgen.
Rudy menjelaskan keadaan Shofia yang tak terlalu parah, dia akan sembuh dalam waktu paling lama 3 bulan. Tapi dengan catatan dia rutin meminum obat, rutin terapi dan berlatih, serta memiliki semangat untuk sembuh.
"Nyonya, kapan anda siap untuk terapi?"
"Sekarang!"
"Apa anda yakin? Mungkin ada terapi yang membuat anda tak nyaman nantinya"
"Tak apa!"
Kabir hanya diam. Shofia akan marah besar kalau dia menentang keinginan istrinya.
"Baiklah... tuan Kabir, tolong tetap temani istri anda ya"
"Baiklah! "
Shofia segera dibawa ke ruang khusus.
Shofia melakukan fisioterapi, dan pengobatan lainnya.
Setelah hampir lima jam mereka disana, Shofia menangis tersedu sedu didalam mobil.
Menyandar pada dada Kabir, Shofia terus menangis.
"Sayang. .."
"Aku tak berguna, aku gagal! "
Kabir terdiam. Ya, tangisan Shofia sangat beralasan.
Menurut penuturan sang dokter, seharusnya Shofia dapat menggerakkan jari jarinya karena luka tembak Shofia hanya mengenai sedikit sarafnya.
Tapi selama lebih dari 4 jam berlatih, Shofia tetap saja tak dapat menggerakkan kakinya.
"Sayang. ... jangan begitu... jangan sedih ya"
"Kabir...."
"Kenapa? Mungkin Tuhan menginginkan kita untuk selalu bersama dan memanjakanmu"
"Aku serius!"
"Aku juga serius! Ayo berbulan madu ke Roma dan membuat bayi yang mungil"
"Aku akan kesusahan untuk berjalan jalan"
"Aku selalu ada untukmu"
"Pekerjaanmu bagaimana? "
"Bisa aku bawa berlibur, seperti di Turki kemarin "
"Pekerjaanku? "
"Kamu pun sama... pekerjaanmu bisa kamu bawa!"
"Aku ini karyawan bukan boss sepertmu"
"Aku tahu... tapi tak akan ada yang berani membantah keinginan istri boss, bukan?"
"Maksutmu? "
"Aku sudah membeli perusahaan itu"
"Kamu beli? Kenapa?"
"Hadiah pernikahan. .. perusahaan tempatmu bekerja mengalami krisis, jadi aku beli dan segera aku bangkitkan lagi"
"Pasti menghabiskan uangmu"
"Tidak, aku tinggal mengembangkannya...dan mewujudkan impianmu..."
"Kabir tapi ini berlebihan "
"Tidak Shofia, saat kamu mau bertahan bersamaku, mencintaiku dengan segenap jiwamu, aku akan membahagiakanmu selama sisa hidupku.. menua bersama dan membangun keluarga kecil yang bahagia"
"Kabir kamu selalu dapat meluluhkan hatiku dengan segala sikapmu"
"Shofia... hanya kamu yang dapat membuatku seperti ini...."
"Hmmm"
"Shofia..."
"Ya...."
"Aku membuat sebuah rumah untuk keluarga kecil kita "
"Dimana?"
"New York "
"Kenapa tak disini?"
"Aku juga membuat disini, rumah kecil untuk kita"
"Rumah kecil?"
"Ya.... kita akan kesana...."
"Apa sudah dapat ditempati?"
"Sudah.... jadi jangan bersedih ya..."
"Terima kasih Kabir. ..."
Kabir hanya tersenyum tanpa membalas ucapan terima kasih dari Shofia.
Ya, lelah rasanya mendengar Shofia terus berterima kasih padanya. Padahal yang dia lakukan untuk membahagiakan Shofia dan membuatnya senang.
Kabir segera menyuruh supir untuk menuju kawasan tempat tinggalnya. Sedikit jauh dari kota Paris, sedikit keluar dari hiruk piruk kota.
Shofia sedikit tercengang. Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju tempat yang mereka tuju memiliki pemandangan yang sangat indah.
Dari mereka keluar dari kota yang penuh dengan bangunan bangunan tinggi nan megah berubah menjadi pemandangan yang indah.
Walau jauh dari kota Paris, tapi ini benar-benar menakjubkan.
Bukan bangunan rumah modern tapi masih bangunan bergaya abad pertengahan. Mereka masih mempertahankan sejarah.
Sampai akhirnya Kabir menerimanya mobil dan memarkirkan mobilnya didepan sebuah rumah sederhana.
"Ini...."
"Ini villa kita. .."
"Seperti bangunan lama"
Kabir menggendong Shofia untuk keluar dari mobil tanpa kursi rodanya.
"Ya, aku membangun ini saat aku masih remaja... masih di universitas "
"Maksutmu kamu membangun ini saat berpacaran dengan Celline? "
"Emmm...."
"Iya?"
"Begitulah..."
"Jadi kamu memberikanku bekas dari mantan kekasihmu? "
"Tidak, Shofia. ... dia tak tahu.."
"Bohong!"
"Iya, dia tak tahu..."
"Kenapa?"
"Karena aku membuatnya atas kemauannya sendiri... hanya ingin merasakan hidup didesa tanpa hiruk piruk kota yang memusingkan"
"Kenapa kamu ingin hidup didesa?"
"Hanya ingin.... dulu saat masih labil masih sering bertengkar dengan Daddy"
"Sudah pernah kamu tinggali? "
"Sudah....beberapa kali sebelum aku mengambil alih perusahaan Daddy "
"Oh... membawa wanita?"
"Darl... aku kemari untuk menenangkan diri, bukan untuk bersenang-senang! "
"Ya, kamu kan salah satu playboy"
"Kenapa kamu sangat sensitif? "
"Tidak!"
"Lalu?"
"Apa?"
"Kami sedang menstruasi ?"
",tidak....:"
"Lalu? "
"Tuan dan nyonya, villa sudah selesai dibersihkan "
Saat pelayan datang, Kabir dan Shofia baru sadar kalau sedari tadi mereka mengobrol didepan pintu.
"Oh iya, kamu bisa mengerjakan pekerjaan lain"
"Baik tuan..."
********
lanjut Thor..
aku hampir lupa Weh..🤭🤭🤣🤣
mana gua tau, elu aja gak kasih tau...🙄🙄🙄
bahkan gua pun tak bs seperti mereka.., cantik..😑
lah ini, elu cowok dah🗿 brasa gmn gitu🤭🤭🤭
baru juga di komen, udh ad POV nya, ehehehehe😂😂🤭🤭🤭
jdi penasaran aku tuh, sama POV nya 🤭🤭🤭