MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ANGIN YANG MENGUBAH ARAH
Malam itu udara di ruang tengah apartemen terasa hangat. Disya baru saja selesai menyiapkan teh hangat, lalu duduk di sofa berhadapan dengan Jack. Ponselnya bergetar pelan, sebuah pesan masuk dari Min Jae. Ia tersenyum tipis sebelum menyimpannya kembali ke meja. Jack memperhatikannya sekilas, lalu menyesap tehnya pelan.
"Kau sudah mulai nyaman dengan dia, ya?" tanya Jack tiba-tiba, suaranya tenang namun tajam.
Disya mengangguk pelan, tak berani berbohong pada sahabatnya. "Iya, Oppa. Aku rasa... aku sudah tidak takut lagi. Dia berusaha keras, dengan caranya sendiri."
Jack menghela napas panjang, lalu menatap Disya lekat-lekat. "Aku tidak melarangmu, Disya. Kau berhak bahagia. Tapi ingat satu hal: hatimu itu berharga. Jangan sampai kau terluka lagi. Dan ingat juga, dia bukan orang biasa. Menjadi dekat dengan idol sekaliber dia itu tidak semudah membalikkan telapak tangan."
"Aku tahu itu, Oppa. Aku tidak akan gegabah lagi," jawab Disya mantap.
Namun peringatan Jack ternyata datang lebih cepat dari yang mereka duga.
Keesokan paginya, berita di media sosial sudah heboh. Foto rekaman CCTV lokasi syuting kemarin tersebar luas: terlihat jelas sosok Min Jae berlari menerobos hujan, memeluk Disya, lalu menyelimutkan jaketnya ke tubuh gadis itu. Berbagai judul bermunculan: "Min Jae Dikabarkan Punya Kekasih Rahasia?", "Siapa Gadis Misterius yang Dilindungi Min Jae?", hingga komentar beragam dari penggemar—ada yang mendukung, ada yang bingung, tak kurang pula yang menyindir kasar.
Siang harinya, Disya sedang menunggu Jack di ruang istirahat yang disediakan khusus kru. Ia duduk tenang sambil menyusun berkas kecil, tak menyangka berita yang menyebar pagi tadi sudah membesar begitu cepat.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka mendadak. Min Jae masuk dengan napas terengah dan wajah yang pucat pasi. Di belakangnya, Kim Seo Jun—manajernya—berjalan dengan langkah cepat, wajahnya tampak merah padam menahan amarah. Ponsel di tangan Min Jae berdering terus-menerus tanpa henti, namun ia tak sempat menyentuhnya.
"Min Jae! Apa yang kau lakukan kemarin?!" bentak Kim Seo Jun sambil meletakkan cetakan berita di meja dengan keras. "Kau tahu betapa berisikonya itu? Karirmu bisa hancur seketika! Kami sudah berusaha keras melindungi privasimu, tapi kau sendiri yang ceroboh!"
Min Jae menatap Seo Jun dengan tenang, tak lagi gemetar seperti dulu. "Aku tidak menyesal, Seo Jun. Saat itu Disya hampir terjatuh dan terluka. Aku tidak bisa diam saja melihatnya."
"Gadis itu lagi-lagi ya?" Seo Jun menoleh ke arah Disya yang berdiri kaku di sudut ruangan. "Kau tahu tidak siapa dia? Apa latar belakangnya? Kalau dia orang yang tidak tepat, kau akan diseret ke dalam masalah besar!"
Tiba-tiba Jack melangkah maju, berdiri tegak di samping Disya, suaranya tegas dan berwibawa layaknya aktor papan atas.
"Maaf Seo Jun, boleh saya bicara sebentar?" potong Jack tenang. "Saya kenal Disya baik-baik. Dia gadis yang tulus, pekerja keras, dan tidak pernah menginginkan sesuatu yang bukan haknya. Dia adalah asisten pribadi saya, dan sahabat saya sejak lama. Kalau ada yang salah, kesalahannya ada pada situasi, bukan pada gadis ini."
Min Jae ikut menambahkan dengan keyakinan penuh, sesuatu yang jarang ia tunjukkan dulu. "Benar kata Jack. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyalahkan Disya atas hal ini. Kalau harus memilih antara karirku dan dia... aku akan berjuang untuk menjaganya. Aku tidak akan lagi menyembunyikan perasaanku hanya karena takut pada pandangan orang lain."
Kim Seo Jun terdiam, tertegun melihat keteguhan hati Min Jae yang berubah drastis. Ia menyadari bahwa idola yang ia bimbing kini sudah tumbuh menjadi pria yang berani bertanggung jawab atas pilihannya.
Sementara itu, Disya yang mendengar semuanya menahan air mata. Ia melihat perubahan besar pada diri Min Jae: pria itu tidak lagi penakut atau mementingkan citra semata. Dan ia pun merasa berani—ia tidak lagi mau bersembunyi di balik bayang-bayang orang lain.
Terakhir, Jack menatap Seo Jun sekali lagi. "Kita bisa cari jalan keluar terbaik untuk beritanya. Tapi tolong, jangan korbankan perasaan tulus mereka berdua. Kejujuran dan kesetiaan itu lebih berharga daripada gosip sesaat."
Suasana menjadi hening sejenak. Kim Seo Jun akhirnya menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan.
"Baiklah. Aku akan bantu menenangkan situasi. Tapi ingat Min Jae, ini kesempatan terakhir. Kalau kau benar-benar serius, buktikan dengan sikap yang dewasa dan bertanggung jawab."
Setelah Kim Seo Jun pergi, Min Jae langsung berjalan mendekati Disya. Ia menatap gadis itu lembut.
"Maaf ya, membuatmu terlibat keributan ini. Tapi aku senang... akhirnya aku bisa berkata jujur di depan orang banyak," ucap Min Jae pelan.
Disya tersenyum tulus, matanya berbinar. "Terima kasih sudah berani berdiri untukku, Oppa. Aku juga tidak mau lari lagi."
Jack hanya tersenyum melihat mereka berdua. Perjalanannya masih berliku, rintangan belum tentu berhenti di sini. Tapi setidaknya kini mereka berjalan bersama, dengan hati yang lebih kuat dan keyakinan yang tak tergoyahkan.