NovelToon NovelToon
BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 - Kota Pertama di Dunia Persilatan

Fajar menyingsing di ufuk timur, memancarkan garis-garis cahaya keemasan yang mengusir keabuan malam. Sun Chen berjalan berdampingan bersama Chou Tian, menyusuri celah tebing batu yang menjadi jalan keluar dari Lembah Batu Pecah.

Langkah kaki Sun Chen terhenti sejenak. Ia membalikkan badan, menatap ke arah gubuk bambu yang kini tinggal puing-puing hancur di dasar lembah. Tempat itu telah menjadi saksi bisu langkah pertamanya di kehidupan kedua ini, tempat ia menemukan seorang guru sejati, dan tempat ia membangun fondasi baru.

Di dalam dadanya, benih Qi yang berputar stabil seolah bergetar menyelaraskan emosinya. Sun Chen mengepalkan tangan kecilnya rapat-rapat, menanamkan sumpah di dalam lubuk hatinya. Suatu hari nanti, ketika kekuatannya telah sanggup mengguncang langit, ia akan kembali ke tempat ini dan menghancurkan seluruh organisasi yang telah merusak kedamaian mereka.

"Mari pergi, Sun Chen," panggil Chou Tian tenang, berdiri beberapa langkah di depan. "Perjalanan menuju Provinsi Selatan sangat jauh dan penuh bahaya. Jangan biarkan matamu terikat pada masa lalu."

Sun Chen memantapkan pijakannya, membalikkan badan, dan melangkah menyusul sang guru. "Murid mengerti, Guru."

Perjalanan melintasi pegunungan selatan terbukti tidak mudah. Mereka menembus hutan rimba yang lebat, melompati jurang-jurang terjal, dan menyeberangi arus sungai pegunungan yang deras selama beberapa hari.

Kendati berada dalam perjalanan, Chou Tian tidak pernah menghentikan tempaannya. Pria tua itu memanfaatkan medan liar sebagai arena latihan baru.

"Jangan hanya bernapas dan mengalirkan energi saat kau duduk bersila," instruksi Chou Tian saat mereka mendaki jalan setapak yang curam dan berbatu. "Salurkan benih Qi dari dantianmu ke telapak kaki saat kau menanjak. Jaga aliran energi itu tetap stabil meskipun napasmu terengah-engah dan ototmu kelelahan."

Sun Chen mempraktikkan petunjuk itu. Setiap kali kakinya menapak batu licin atau menyeberangi sungai deras, ia memancarkan seutas energi hangat dari dantiannya untuk menjaga keseimbangan dan memperkuat pijakannya. Awalnya terasa amat berat bagi raga balitanya, namun setelah tiga hari bernavigasi di medan liar, gerakan Sun Chen berubah menjadi sangat ringan.

Ia mulai memahami kebenaran murni dari ajaran gurunya. Pendekar sejati berlatih setiap saat, menyatukan tenaga dalam ke dalam setiap hembusan napas, langkah kaki, dan aktivitas sehari-hari, bukan hanya saat berhenti untuk bermeditasi.

Memasuki hari keempat perjalanan, mereka melintasi sebuah jurang terjal yang dilingkungi oleh Hutan Bambu Hitam. Saat menatap bentuk tebing dan susunan bebatuan di sana, ingatan dari kehidupan masa lalu Sun Chen mendadak berputar deras.

Sun Chen mengenali tempat ini. Di masa depannya yang pernah ia lewati, sekitar tujuh tahun dari sekarang, seorang pendekar pengembara tanpa sengaja akan menemukan sebuah gua rahasia di balik air terjun jurang ini. Di dalam gua tersebut terdapat sebuah warisan kuno yang kelak menggemparkan dunia persilatan.

Sun Chen menghentikan langkahnya sejenak, menatap ke arah dasar jurang yang tertutup kabut tebal. Di dalam hatinya, timbul dorongan untuk memeriksa tempat itu lebih awal. Namun, ia dengan cepat menekan keinginan tersebut.

Saat ini raga balitanya yang baru menumbuhkan benih Qi dasar masih terlalu lemah untuk menembus bahaya yang mungkin tersembunyi di dalam gua. Sun Chen memilih untuk menyimpan rahasia itu rapat-rapat di dalam hatinya, menunggu saat yang tepat ketika kekuatannya sudah cukup matang di masa depan.

Namun, di balik perkembangan pesat Sun Chen, kondisi fisik Chou Tian tergerus secara mengkhawatirkan.

Suatu sore, ketika Sun Chen sedang mengambil air di dekat aliran sungai kecil, Chou Tian duduk menyendiri di balik pohon pinus raksasa. Pria tua itu membungkuk dalam, memegangi dadanya yang bergetar hebat.

Uhuk! Uhuk!

Chou Tian terbatuk parah, berusaha keras menahan suaranya agar tidak terdengar oleh Sun Chen. Ia memuntahkan seteguk darah kental berwarna hitam pekat ke atas daun-daun kering. Urat-urat hitam akibat Qi Racun Bayangan Hitam kini telah menjalar hingga ke rahang bawahnya.

Dengan sisa tenaga dalamnya, Chou Tian memendam gejolak racun itu kembali ke pusat meridiannya. Ia mengusap sisa darah di bibirnya menggunakan kain kusam, lalu dengan cepat menimbun tanah basah di atas bercak darah hitam itu. Pria tua itu berdiri perlahan, merapikan jubahnya agar tampak biasa saja.

Meskipun Chou Tian berhasil menyembunyikan bercak darah itu, Sun Chen yang memiliki pengalaman hidup puluhan tahun menyadari perubahan halus pada gurunya. Langkah kaki Chou Tian tidak lagi selincah hari pertama mereka berangkat, napasnya terdengar sedikit lebih berat saat menanjak, dan wajahnya tampak kian pucat di bawah sinar matahari.

Dada Sun Chen terasa makin menekan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa racun di dalam tubuh gurunya sedang menggerogoti nyawa sang guru setiap detik. Mereka harus secepatnya menemukan tabib sahabat gurunya untuk menekan racun mematikan tersebut.

Memasuki hari keenam perjalanan, pemandangan di sekitar mereka mulai berubah. Hutan lebat berangsur-angsur berganti menjadi ladang-ladang pertanian yang membentang, jalanan tanah yang lebar, serta rumah-rumah kayu milik penduduk desa.

Menjelang siang hari, benteng tembok batu berwarna abu-abu terlihat di balik perbukitan. Mereka akhirnya tiba di Kota Gunung Hijau.

Kota ini merupakan kota perbatasan berukuran sedang yang menjadi jalur transit penting bagi para pedagang dan pendekar yang hendak melintas menuju Provinsi Selatan. Suasana di dalam gerbang kota sangat ramai dan bising. Suara derap langkah kuda, teriakan para penjaja makanan, desingan tempaan besi dari bengkel pandai besi, serta celoteh pengunjung penginapan memenuhi udara.

Di sepanjang jalan utama, para murid sekte berpakaian seragam berjalan berdampingan dengan para pendekar pengembara. Beberapa pengawal karavan memamerkan senjata mereka sambil menawar upah pengawalan. Di sudut lain, suara benturan pedang terdengar dari arena latihan kecil tempat para pendekar muda menguji kemampuan mereka. Aroma obat dari kios tabib bercampur dengan harum daging panggang, menciptakan suasana khas kota perbatasan yang dipenuhi orang-orang dari berbagai latar belakang.

Bagi Sun Chen, ini adalah kali pertama sejak ia terlahir kembali di dalam kereta budak yang kotor ia benar-benar menyaksikan dinamika dunia persilatan yang sesungguhnya.

Mata Sun Chen yang tajam menyapu sekeliling. Indra spiritual dasarnya mendeteksi banyak orang yang memiliki fluktuasi Qi di dalam tubuh mereka. Ada pendekar pedang yang membawa senjata berukir, pengawal karavan berbadan tegap, hingga pemburu hadiah dengan wajah garang. Sebagian besar dari mereka berada di tingkat Pendekar Biasa atau Pendekar Tingkat Satu. Sun Chen membandingkan kekuatan orang-orang ini dengan ingatan masa lalunya, memetakan peta kekuatan wilayah perbatasan secara cepat di dalam kepalanya.

Saat melangkah menyusuri jalanan utama kota, mata Sun Chen tertuju pada sebuah bangunan megah berlantai tiga dengan bendera kain merah bertuliskan Rumah Dagang Angin Merah.

Seketika itu juga, ingatan masa lalu Sun Chen kembali bergetar.

Ia teringat bahwa tiga hari dari sekarang, Rumah Dagang Angin Merah ini akan mengadakan pelelangan kecil untuk barang-barang bekas dan artefak tak teridentifikasi dari wilayah reruntuhan. Dalam kehidupan lalunya, ada sebuah lempengan besi berkarat yang dianggap barang sampah dan dijual dengan harga murah. Namun beberapa tahun kemudian, lempengan besi itu ternyata menjadi kunci untuk membuka sebuah ruang warisan kuno di Menara Penyimpanan Langit. Banyak sekte besar saling membunuh demi mendapatkannya, tetapi isi warisan itu tidak pernah benar-benar diketahui oleh dunia luar.

Pelelangan itu dulu diabaikan oleh banyak sekte besar hingga lempengan tersebut jatuh ke tangan seorang pendekar beruntung.

Sun Chen menatap logo Rumah Dagang Angin Merah itu dengan matanya yang dingin. Ia mengingat tanggal dan jadwal pelelangan itu rapat-rapat. Jika ada kesempatan dan sumber daya yang cukup sebelum mereka meninggalkan kota ini, ia harus berusaha mendapatkan lempengan besi berkarat tersebut.

Chou Tian mengajak Sun Chen berhenti di sebuah kedai teh sederhana di sudut pasar untuk mencari informasi mengenai sahabat lamanya. Chou Tian mendekati seorang pedagang informasi tua yang duduk bersila di pojok ruangan.

Setelah memberikan beberapa keping koin perak dan menyebutkan nama serta ciri-ciri tabib sahabatnya, pedagang informasi itu menggelengkan kepala.

"Tabib tua yang Anda cari sudah tidak lagi tinggal di Kota Gunung Hijau ini, Tuan," ujar pedagang itu pelan. "Dua tahun lalu dia memboyong keluarganya pindah jauh ke wilayah perbatasan Provinsi Selatan, di dekat kota peradaban Klan Wei. Jika Anda ingin mencarinya, Anda harus menempuh perjalanan melintasi dua provinsi lagi."

Mendengar kabar itu, Chou Tian menghela napas panjang. Perjalanan yang harus mereka tempuh ternyata masih sangat jauh, sementara kondisi tubuhnya untuk menekan racun semakin mengkhawatirkan.

Saat mereka keluar dari kedai teh menuju area jalanan pasar yang padat, Sun Chen mendadak memperlambat langkah kakinya.

Sebagai mantan Jenderal Demonic yang kenyang dengan taktik perang dan siasat pembunuhan, indra batin Sun Chen menangkap gelombang hembusan napas dan gerakan mata yang tidak wajar di antara kerumunan pasar.

Ada beberapa pria berpakaian pedagang dan pengelana yang berjalan secara terpisah di antara kerumunan. Namun, pandangan mata mereka secara bergantian selalu terkunci ke arah posisi Sun Chen dan Chou Tian. Setiap kali satu pengintai melewati mereka, pengintai lain di seberang jalan akan mengambil alih posisi pengawasan dengan jarak yang sangat aman.

Ini adalah pola pengintaian tingkat tinggi milik organisasi pemburu. Mereka tidak melakukan pendekatan langsung, melainkan menjaga jarak secara bergantian agar target tidak menyadari keberadaan mereka.

Sun Chen menggeser posisi berjalannya sedikit lebih dekat ke samping Chou Tian.

"Guru," bisik Sun Chen sangat pelan, hampir tak terdengar oleh orang di sekitar mereka. "Kita diawasi."

Mata Chou Tian berkedip tipis. Ia sebenarnya baru menyadari keberadaan beberapa pengintai beberapa saat sebelumnya. Mendengar muridnya mampu mengenali pola pengawasan serapi itu, hati pria tua tersebut kembali dipenuhi rasa kagum. Semakin hari, insting bertarung Sun Chen semakin sulit dijelaskan dengan logika seorang anak berusia empat tahun.

"Berapa orang?" tanya Chou Tian dengan nada suara yang terkontrol.

"Bukan satu atau dua orang, Guru," jawab Sun Chen dengan nada suara yang sangat dingin. "Mereka menyebar di setiap sudut jalan pasar ini. Mereka tidak berniat menyerang sekarang, melainkan sedang menutup seluruh jalur keluar kota ini."

Sun Chen menatap lurus ke depan, menyadari situasi berbahaya yang sedang mengurung mereka. Organisasi pemburu ternyata telah menyebarkan jaringan mata-mata ke seluruh Kota Gunung Hijau. Mereka sengaja menahan diri, mengunci posisi guru dan murid itu, sambil menunggu racun di dalam tubuh Chou Tian melemahkan sang guru sepenuhnya atau menunggu kedatangan bantuan ahli yang lebih kuat untuk melancarkan serangan mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!