NovelToon NovelToon
Istri Albino Sang CEO

Istri Albino Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: QueenMardhiah

Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.

----------

Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.


Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.

----------

Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Binar Kebahagiaan

Tak lama kemudian, Baskara keluar dari kamarnya. Ia sudah mengenakan pakaian santai yang nyaman namun tetap terlihat rapi dan mahal. Rambutnya yang sedikit basah terlihat lebih santai dibandingkan saat di kantor.

Yasmin yang sudah selesai menata semua hidangan di meja makan segera menyambutnya dengan senyum tulus.

"Mari, Pak. Silakan makan. Semuanya sudah siap," ucap Yasmin lembut sambil menarik kursi untuk suaminya.

Baskara mengangguk singkat, lalu duduk di tempatnya. Matanya menelusuri hidangan yang tersaji di hadapannya. Nasi putih hangat, gulai ayam dengan kuah yang kental dan beraroma sedap, serta sayur asem yang segar. Semuanya terlihat sangat menggugah selera dan disusun dengan sangat rapi.

Baskara mengambil sendok dan garpu, lalu mulai menyantap makanannya.

Suasana makan malam itu berjalan hening, namun tidak lagi terasa mencekam seperti sebelumnya. Yasmin tidak duduk bersanding, melainkan duduk sedikit di ujung meja dengan sopan, hanya sesekali mengambil nasi sedikit dan lauk secukupnya, sambil terus memperhatikan reaksi suaminya.

"Enak, Pak? Masakannya pas tidak?" tanya Yasmin berani bertanya setelah beberapa saat, suaranya pelan penuh harap.

Baskara mengunyah pelan, lalu menelan makanannya sebelum menjawab dengan datar.

"Hmm, lumayan. Rasanya pas di lidah," jawabnya singkat.

Mendengar pujian sekecil itu saja, wajah Yasmin langsung berseri-seri. Matanya berbinar kembali, seolah beban di pundaknya terangkat sedikit.

"Alhamdulillah... Syukurlah kalau Bapak suka," ucapnya bahagia. "Besok Saya masak yang lain lagi ya, Pak. Biar Bapak tidak bosan."

Baskara berhenti mengunyah sejenak, lalu menatap Yasmin lekat-lekat.

"Kau ini aneh," celetuk Baskara tiba-tiba.

Yasmin mengerjap bingung. "Maksud Bapak?"

"Siang tadi menangis tersedu-sedu karena kumarahi, sekarang sudah ceria lagi seperti tidak terjadi apa-apa," kata Baskara, matanya menyelidik wajah istrinya. "Kau tidak membenci Saya?"

Pertanyaan itu membuat Yasmin terdiam. Ia menunduk sebentar, memainkan ujung sendoknya.

"Tadi... tadi sempat sedih dan takut sekali, Pak. Rasanya sakit sekali mendengar kata-kata Bapak," jawab Yasmin jujur namun lembut. "Tapi Saya sadar, mungkin Saya yang salah. Saya tidak tahu aturan, Saya polos, dan mungkin memang Saya yang kurang ajar menolak pemberian Bapak."

Yasmin mengangkat wajahnya, menatap Baskara dengan tatapan tulus.

"Dan Saya juga sudah berdoa, Pak. Saya minta kepada Allah supaya hati Bapak dilembutkan, dan Saya diberi kesabaran. Jadi ya... sudah berlalu saja. Seorang istri tidak boleh mendendam pada suami sendiri, kan?"

Baskara terpaku mendengar jawaban itu. Ia menatap wanita di hadapannya itu dengan perasaan campur aduk. Wanita ini begitu sederhana, begitu lembut, dan begitu ikhlas. Kekerasan hatinya yang selama ini terbangun tinggi, seolah mulai terkikis sedikit demi sedikit oleh ketulusan yang ditunjukkan Yasmin.

"Dasar wanita bodoh..." gumam Baskara pelan, tapi kali ini nada ucapannya tidak terdengar menghina, justru terdengar seperti sebuah panggilan sayang yang tersamar. "Makanlah. Jangan cuma melihatku saja."

"Iya, Pak," jawab Yasmin manis, kembali menyantap makanannya dengan hati yang jauh lebih ringan.

Setelah makan malam usai, Yasmin dengan sigap membereskan semua piring kotor dan membawanya ke dapur untuk dicuci. Baskara yang biasanya langsung pergi ke ruang kerja atau menyalakan televisi, kali ini justru tetap duduk di sana, menatap punggung kecil istrinya yang sedang sibuk mencuci piring dengan telaten.

Pandangannya lalu beralih ke kotak bekal yang sudah kosong dan bersih di wastafel. Ia teringat sesuatu.

"Yasmin," panggil Baskara.

"Ya, Pak?" sahut Yasmin tanpa menoleh, tangannya tetap terus menggosok piring.

"Soal bekal tadi..." Baskara terdiam sejenak, agak canggung mengatakannya. "Bukan karena tidak enak atau Saya menghinanya. Saya... Saya tadi terlalu sibuk meeting dan lupa makan. Juga... Saya belum terbiasa membawa bekal."

Yasmin tersenyum lebar di belakang punggungnya, mendengar penjelasan itu. Hatinya berbunga-bunga.

"Iya, Pak. Saya mengerti kok. Gapapa kok," jawabnya ceria. "Besok Saya buatkan lagi yang lebih enak ya. Siapa tahu nanti Bapak jadi ingat makan kalau melihat masakan Saya terus."

Baskara hanya mendengus pelan, menyembunyikan senyum tipis yang terbit di sudut bibirnya. Malam ini, untuk pertama kalinya, apartemen mewah itu terasa benar-benar seperti sebuah rumah yang dihuni oleh sepasang suami istri.

*****>>>{}<<<*****

Waktu terus berlalu tanpa terasa, bagaikan air sungai yang terus mengalir tanpa henti. Dan kini, terhitung sudah genap satu bulan lamanya Baskara dan Yasmin menjalani biduk rumah tangga mereka, rumah tangga yang mungkin tak tercatat secara resmi di atas kertas, namun nyata adanya di hadapan Sang Pencipta dan di antara dinding-dinding apartemen mewah itu.

Selama sebulan penuh ini, Yasmin menjalankan perannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati. Ia selalu berusaha menjadi yang terbaik, melayani suaminya dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan kepatuhan yang luar biasa. Meski kenyataannya, Baskara masih sering bersikap dingin, ketus, dan kerap melontarkan kata-kata tajam yang terkadang mampu merobek hati Yasmin hingga berkeping-keping. Namun, Yasmin belajar untuk tidak hanya melihat sisi gelap itu. Ia sadar, di balik sikap keras kepala dan ego yang tinggi itu, terselip sisi baik Baskara yang sesekali muncul tanpa disadari. Sisi yang membuat Yasmin yakin bahwa hati suaminya bukanlah es yang tak bisa dicairkan selamanya.

Pagi itu, suasana tenang di ruang makan sedikit demi sedikit mulai terganggu.

"Uhukk... uhukkhh... aakh..."

Suara batuk terdengar berulang kali, terdengar kering dan menyakitkan. Yasmin menekan dadanya perlahan, bahunya terguncang hebat setiap kali serangan batuk itu datang. Wajahnya yang memang sudah berwarna pucat pasi karena kondisi albinisme yang ia miliki, kini terlihat semakin pudar dan lesu. Lingkaran hitam mulai terlihat di bawah matanya, dan keringat dingin sedikit membasahi pelipisnya, menandakan bahwa tubuhnya sedang tidak fit.

Baskara yang sejak tadi duduk tenang menikmati sarapannya, segera menghentikan gerakan tangannya. Sendok yang tadinya berada di mulutnya diletakkan kembali ke piring dengan suara denting yang terdengar jelas di ruangan yang hening itu. Alisnya terkerut dalam, menatap tajam ke arah Yasmin yang berusaha sekuat tenaga menahan batuk agar tidak terlalu mengganggu.

"Kau batuk terus sejak kapan?" tanya Baskara, nadanya terdengar ketus dan sedikit membentak, namun jika diperhatikan lebih dalam, terselip nada khawatir yang nyata di sana. "Sudah berapa hari kau begini? Kenapa tidak bilang dari kemarin?"

Yasmin mengibaskan tangannya pelan, berusaha menarik napas dan menenangkan diri. Ia mencoba tersenyum meski bibirnya tampak pucat dan kering.

"N-nggak apa-apa kok, Pak... Cuma batuk biasa saja. Mungkin kemarin malam suhu ACnya kebetulan sangat dingin tapi saya tidak tahu cara menaikkan suhunya, jadi Saya kedinginan lalu masuk angin," jawabnya berusaha terdengar santai. "Nanti juga sembuh sendiri kok, Bapak tidak perlu khawatir."

"Omong kosong! Memangnya siapa yang khawatir? " potong Baskara cepat dengan tegas.

"Saya hanya tidak mau disusahkan kalau kamu sampai sakit! Saya mau hanya kamu yang menjadi pembantu disini untuk membersihkan apartemen dan mengurus keperluan saya." Sambungnya, seperti biasa tanpa memperdulikan perasaan Yasmin.

Ia lalu berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Yasmin. Tanpa diduga sama sekali, tangan besar dan hangat milik Baskara terulur menyentuh dahi Yasmin untuk mengecek suhunya. "Panas sedikit. Jangan disepelekan. Kulit dan tubuhmu kan berbeda dengan orang lain, kondisimu sensitif. Kalau sakit sedikit saja bisa jadi parah dan lama sembuhnya. Jangan bertindak bodoh."

Sentuhan hangat di dahinya itu membuat jantung Yasmin berdegup kencang tak karuan, sejenak membuatnya melupakan rasa sakit dan rasa lemas yang menyerang tubuh dan hatinya barusan. Pipinya yang pucat sedikit demi sedikit merona merah karena malu. Ia menunduk dalam, membiarkan suaminya memeriksanya.

"Iya, Pak... Saya mengerti," jawabnya lirih.

"Dengar baik-baik apa yang aku katakan," Baskara menarik tangannya kembali, lalu menatap Yasmin dengan tatapan serius namun penuh perhatian. "Setelah sarapan selesai, pergilah ke dokter atau langsung beli obat di apotek. Di ujung jalan sana ada apotek besar yang lengkap, jaraknya juga tidak jauh dari sini, bisa ditempuh jalan kaki atau naik ojek online sebentar saja. Beli obat yang bagus, yang ampuh, jangan yang murahan. Uang ada di dompet kecil di atas meja sana, ambil saja seperlunya, jangan hitung harganya."

Yasmin mengerjap beberapa kali, tampak terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"B-Bapak... Bapak mengizinkan Saya keluar sendiri? Tapi... biasanya kan selalu ada Pak Roy yang mengantar dan mengawasi..." tanya Yasmin ragu-ragu, matanya membelalak penuh tanda tanya. Selama ini ia selalu didampingi, jadi izin keluar sendirian ini terasa seperti hal yang sangat luar biasa baginya.

Baskara kembali bersandar santai di pinggir meja makan, menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Yasmin dengan pandangan yang kali ini jauh lebih tenang dan tidak menakutkan.

"Roy hari ini izin tidak masuk. Dia minta cuti sebentar karena anaknya yang kecil ulang tahun, jadi dia harus menemani keluarganya merayakannya," jelas Baskara pelan. Ia terdiam sejenak, seolah sedang mempertimbangkan kata-katanya, sebelum akhirnya melanjutkan dengan nada bicara yang lebih rendah dan terdengar sangat tulus.

Bukan tanpa alasan Baskara mengizinkan Yasmin keluar sendiri kali ini. Pasalnya setelah satu bulan mengutus Roy, pengawalnya itu memberitahukan bahwa gerak-gerik Yasmin selama ini aman terkendali, tidak mencurigakan dan Yasmin juga tidak sampai buka mulut mengenai pernikahan siri mereka.

Yasmin yang mendapatkan izin tentu saja senang bukan main, pasalnya Yasmin sudah lama sekali ingin menikmati pemandangan kota tanpa pengawalan yang membuat gerak-geriknya terbatas.

"Tapi ingat! Jangan sekali-kali berusaha kabur ataupun membocorkan pernikahan kita pada siapapun, atau kamu akan tahu akibatnya!" Baskara memberi peringatan.

"Siap, Pak! Siap, Pak Baskara! Terima kasih banyak ya, Pak! Saya janji demi Allah, Saya tidak akan berbuat macam-macam! Saya hanya pergi membeli obat, terus langsung pulang! Tidakk akan mampir ke mana-mana, tidak akan kelamaan! Saya janji!" ucapnya bersemangat, matanya berbinar-binar penuh rasa syukur yang tak terhingga. Akhirnya, setelah sekian lama merasa seperti tahanan, hari ini ia merasa diperlakukan seperti seorang istri yang benar-benar dipercaya oleh suaminya.

*****>>>{}<<<*****

Jangan lupa komentar!!!

1
Santy 2a
semoga banyak yang baca semangat kak
QueenMardhiah: aamiin... terimakasih sudah mampir. jangan lupa follow juga ya 🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!