NovelToon NovelToon
Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Perubahan Hidup / Kaya Raya
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Marcos

Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 04 - Rapat Bianca

Lantai tiga puluh dua Grup Imperial berbau kayu baru dan kopi impor. Ruang rapat eksekutifnya memiliki meja oval untuk dua belas orang, jendela dari lantai ke langit-langit dengan pemandangan kota, dan layar proyeksi yang harganya lebih mahal daripada seluruh apartemen keluarga Kartawijaya.

Bianca masuk pukul 08.53. Tujuh menit sebelum jadwal. Map kulit di bawah lengan, tablet di tangan, rambut disanggul rapi, sanggul yang sudah ia ulang tiga kali di toilet lobi.

Blus sutra abu-abu, celana tailored, sepatu hak sedang. Seragam seseorang yang ingin dianggap serius tanpa terlihat terlalu berusaha. Ia memilih pakaian itu malam sebelumnya. Berganti empat kali. Arga pura-pura tidak menyadarinya.

Farah sudah duduk di kursi kepala meja. Di sampingnya ada dua direktur: Darmawan dari keuangan, berjanggut kelabu dengan mata orang yang membaca kontrak bahkan dalam tidur; dan Taufik dari operasional, yang mengetik di ponsel tanpa mengangkat kepala.

"Bianca Kartawijaya?" Farah mengulurkan tangan. Jabatannya tegas, tepat dua detik. "Silakan duduk. Kopi datang lima menit lagi, tapi kita bisa mulai sekarang."

"Terima kasih." Bianca meletakkan map di meja. "Saya lebih suka langsung mulai, kalau tidak keberatan."

Farah mengangguk. Darmawan mengangkat mata. Taufik tetap mengetik.

Presentasi itu berlangsung empat puluh dua menit.

Bianca tidak memakai slide siap pakai dari agensi. Ia memodelkan setiap lantai kantor pusat baru dalam 3D, lengkap dengan palet material, simulasi cahaya alami per jam, dan analisis alur sirkulasi berdasarkan studi ergonomi korporat. Proyek itu mengintegrasikan biofilia di area bersama, taman vertikal, elemen air, tanpa mengorbankan satu sentimeter pun area pakai.

Saat ia memaparkan solusi akustik untuk open office lantai sepuluh, panel wol batu tersembunyi di plafon dengan pola geometris yang sekaligus berfungsi sebagai identitas visual, Darmawan berhenti mencatat dan hanya menatap.

"Berapa lama Ibu menyiapkan ini?" tanyanya.

"Sepuluh hari." Bianca tidak ragu. "Bisa lebih cepat kalau saya punya akses ke gambar plumbing terbaru."

Taufik akhirnya meletakkan ponselnya.

"Portofolio Ibu didominasi proyek residensial. Rumah kelas atas, beberapa kantor firma hukum." Ia menggulir tablet. "Ibu belum pernah mengeksekusi proyek korporat di atas Rp2 miliar. Yang kita bicarakan ini Rp30 miliar."

Bianca menahan tatapannya.

"Bapak benar. Kontrak terbesar saya Rp1,8 miliar. Tapi proyek yang Bapak lihat di layar tidak kalah dari kantor mana pun yang memasang tarif lima kali lipat dari tarif saya. Bedanya, saya masih punya sesuatu untuk dibuktikan. Dan orang yang masih punya sesuatu untuk dibuktikan tidak menyerahkan pekerjaan setengah matang."

Hening. Darmawan mengusap janggutnya. Taufik bersandar ke kursi.

Farah tidak bergerak. Jari-jarinya masih saling bertaut di atas meja, wajahnya sulit dibaca.

"Pengendali MNT meminta proposal segar," kata Farah tanpa infleksi. "Proposal dari luar lingkaran tradisional. Ibu direkomendasikan oleh pemetaan internal atas talenta baru." Ia menoleh kepada Darmawan. "Ada keberatan teknis?"

Darmawan menggeleng.

"Proyeknya solid. Secara finansial masih masuk dalam margin yang disetujui."

"Taufik?"

Taufik meletakkan tablet di meja. Ia melepas kacamata, membersihkan lensanya dengan dasi, gerakan yang dibenci Farah dan hanya dilakukan Taufik saat ia benar-benar berpikir.

"Saya ingin melihat timeline detail dan daftar vendor sebelum tanda tangan. Tapi konsepnya kuat. Terutama integrasi area bersama dengan ruang kerja. Itu menyelesaikan masalah yang diciptakan renovasi terakhir."

Farah berdiri.

"Bianca, kami akan menganalisis proposal Anda bersama dua finalis lainnya. Jawaban keluar paling lambat sepuluh hari kerja." Ia menjabat tangan Bianca lagi. "Terima kasih atas waktu Anda."

Bianca keluar. Langkahnya mantap sampai lift. Ketika pintu tertutup dan ia sendirian, ia bersandar pada dinding stainless dan melepas napas yang ditahannya selama empat puluh menit terakhir. Tangannya gemetar. Namun itu getaran seseorang yang baru menyelesaikan maraton, bukan seseorang yang ketakutan.

Tak seorang pun di lift melihat senyum yang lolos dari bibirnya.

Tiga kilometer dari sana, di kantor sewaan lantai sepuluh sebuah gedung komersial di Mega Kuningan, Arga menyaksikan semuanya.

Layar laptop menampilkan empat sudut ruang rapat, kamera keamanan milik Grup Imperial sendiri, dialirkan langsung oleh sistem yang dikonfigurasi Pak Jaya pada hari akuisisi. Setiap direktur memiliki mikrofon ruangan yang menangkap bahkan tarikan napas.

Arga tidak berkedip.

Pak Jaya berdiri di belakangnya, tangan terlipat, menyaksikan dengan ketenangan seseorang yang sudah melihat ratusan briefing yang jauh lebih tegang daripada itu.

"Dia bagus," kata Pak Jaya.

Arga tidak menjawab. Di layar, Bianca mempresentasikan solusi akustik, dan ia melihat detik persis ketika Darmawan berhenti mencatat. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak mampu ia beri nama. Bangga, mungkin. Atau nyeri karena melihat seseorang yang kau cintai melakukan sesuatu yang brilian tanpa tahu kau sedang menyaksikannya.

Ketika Taufik mempertanyakan portofolio, Arga mencondongkan tubuh. Buku-buku jarinya memutih di tepi meja.

"Tenang," kata Pak Jaya.

"Saya tenang."

"Tangan Anda tidak setuju."

Bianca menjawab. Dan jawabannya bagus. Arga melepas napas.

"Dia tidak butuh bantuan saya," katanya, hampir kepada diri sendiri.

"Tidak," Pak Jaya membenarkan. "Dia butuh kesempatan. Bantuannya dia kerjakan sendiri."

Rapat selesai. Kamera menunjukkan Bianca keluar. Para direktur saling bertukar pandang. Darmawan mengatakan sesuatu kepada Taufik, dan audio menangkapnya dengan jelas.

"Sudah lama saya tidak melihat presentasi seperti itu dari orang tanpa nama besar."

Arga menutup laptop. Ia bersandar di kursi dan menatap langit-langit.

Ponsel Pak Jaya bergetar. Ia melihat layar.

"Farah."

"Aktifkan speaker."

Suara Farah memasuki ruangan seperti bilah pisau yang dipoles.

"Dia bagus. Secara teknis, lebih baik daripada dua finalis lainnya. Tapi saya perlu tahu satu hal sebelum membawa ini lebih jauh." Jeda dua detik. "Apa hubungan Anda dengan perempuan ini?"

1
Anime aikō-kā
haii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!