Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.
Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.
Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.
Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?
*
Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Putri Vega berjalan mondar-mandir dengan wajah penuh kecemasan. Di belakangnya, Panglima Darius bersama beberapa prajurit berdiri siaga, menunggu perintah.
"Kenapa mereka belum kembali?" tanya Putri Vega sambil terus menatap ke arah jalan yang tadi dilalui Orion.
"Mungkin mereka masih dalam perjalanan, Yang Mulia," jawab Darius, berusaha tetap berpikir positif.
"Yang Mulia, sepertinya ada seseorang yang berlari dari kejauhan," lapor salah seorang prajurit sambil menunjuk ke ujung jalan.
Semua orang serentak menoleh.
Beberapa sosok tampak berlari secepat mungkin menuju mereka.
Semakin dekat, semakin jelas bahwa yang datang adalah Saiph bersama lima orang prajurit yang tadi ikut mencari Astralis Alba.
Kondisi mereka jauh dari baik.
Luka-luka ringan memenuhi tangan dan kaki mereka. Namun, Saiph adalah yang paling parah. Bagian pinggangnya telah basah oleh darah, tetapi ia tetap menggenggam erat beberapa tangkai bunga putih kebiruan dengan putik berwarna emas.
Putik bunga itu memancarkan cahaya keemasan yang samar, tampak begitu mencolok di tengah gelapnya malam.
Untuk sesaat, semua orang terpaku.
Tatapan mereka seolah tersedot oleh keindahan bunga tersebut.
"Jangan menatapnya!"
Saiph segera membuka tenda terdekat, memasukkan bunga itu ke dalam, lalu menutup tirainya rapat-rapat.
"Bunga itu..." gumam Putri Vega yang lebih dulu tersadar. Tatapannya beralih kepada Saiph dengan wajah masih diliputi kebingungan.
Saiph segera memberi hormat.
"Salam, Yang Mulia Putri. Bunga ini ternyata memiliki kekuatan magis yang dapat menghipnotis siapa pun yang menatapnya terlalu lama," jelasnya. "Luka di pinggang saya terjadi karena sempat terpengaruh oleh kekuatan bunga itu."
Wajah semua orang langsung berubah. Kalau begitu, bunga itu sama sekali tidak sesederhana penampilannya.
"Alhena," panggil Saiph kepada pelayan yang sejak tadi berdiri diam. "Di mana Nona Arina? Bunganya sudah berhasil saya bawa. Kita harus segera meracik obatnya."
"Lady Arina pergi mengejar seseorang," jawab Putri Vega lebih dulu.
Ekspresi Saiph langsung berubah.
Ia buru-buru mengencangkan kembali ikatan kain di pinggangnya untuk menahan pendarahan, lalu meraih pedang yang tergantung di pinggangnya.
"Kau mau ke mana?" tanya Putri Vega.
"Maaf, Yang Mulia." Saiph menurunkan pandangannya sejenak . "Saya harus menyusul Nona Arina. Saya adalah prajurit pengawalnya. Tugas saya adalah memastikan beliau tetap aman."
Putri Vega memandangnya dengan tatapan penuh penghargaan. Dedikasi seperti itu tidak mudah ditemukan.
Kini ia mengerti mengapa Arina begitu mempercayai Saiph.
"Tidak perlu," kata Putri Vega. "Jenderal Orion sudah lebih dulu menyusulnya."
Mata Saiph membelalak. "Tuan... ada di sini?"
"Benar. Jenderal Orion sudah lebih dulu menyusulnya." Putri Vega mengangguk pelan.
Saiph mengembuskan napas lega. Kalau Orion yang pergi, setidaknya peluang Arina berada dalam bahaya jauh lebih kecil.
Namun, sebelum sempat mengatakan sesuatu, salah seorang prajurit kembali berseru.
"Yang Mulia! Mereka kembali!"
Semua orang serentak menoleh ke arah jalan utama.
Dari kejauhan tampak sosok tinggi berambut perak berjalan cepat menuju perkemahan. Begitu jaraknya semakin dekat, semua orang dapat mengenali bahwa orang itu adalah Orion.
Namun, yang membuat mereka terkejut bukanlah kedatangannya. Melainkan wanita yang sedang berada dalam gendongannya.
Arina memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di dada Orion. Wajahnya tampak pucat pasi, jauh berbeda dari saat mereka terakhir melihatnya.
"Nona!"
Saiph dan Alhena spontan berlari menghampiri. Wajah keduanya dipenuhi kecemasan.
"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya Saiph dengan napas memburu. Tatapannya langsung tertuju pada wajah Arina yang kehilangan warna.
Alhena tidak mengatakan apa-apa, tetapi kedua tangannya mengepal kuat. Untuk pertama kalinya, ekspresi cemas terlihat jelas di wajah pelayan yang biasanya selalu tenang itu.
“Saya belum tahu,” jawab Orion singkat tanpa menghentikan langkah.
Ia terus melangkah menuju tenda utama. Semua orang secara naluriah memberi jalan.
Tatapan mereka mengikuti Orion yang menggendong Arina dengan hati-hati, sementara suasana perkemahan yang semula tenang kembali dipenuhi ketegangan.
"Turunkan aku, Orion. Aku baik-baik saja," bisik Arina sambil berusaha turun dari gendongan Orion.
"Jangan bergerak," ujar Orion tegas. "Kau harus beristirahat."
Ia kemudian memberi isyarat kepada Darius agar membuka tenda.
Darius segera melangkah maju dan menyingkap tirai tenda selebar mungkin, memudahkan Orion membawa Arina masuk.
"Saiph," panggil Arina.
"Ya, Nona."
"Kau sudah mendapatkan bunganya?"
"Sudah, Nona."
Arina memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya. Ketika kembali membuka mata, sorotnya telah kembali setenang biasanya.
"Alhena, ambilkan botol hijau yang ada di dalam kotak bawaan kita."
"Baik, Nona."
Alhena segera bergegas menjalankan perintahnya.
Sementara itu, Orion membaringkan Arina di atas ranjang sederhana di dalam tenda. Putri Vega ikut masuk dan berdiri di sampingnya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Orion saat melihat Arina hendak bangkit lagi. "Kau seharusnya beristirahat."
"Obatnya harus dibuat sekarang, Orion," jawab Arina datar. "Astralis Alba akan layu saat matahari terbit. Setelah itu, bunga itu tidak akan berguna lagi."
"Tapi kondisimu..."
"Kau mengkhawatirkanku?" potong Arina.
Orion langsung mendengus pelan.
"Siapa yang mengkhawatirkanmu?" bantahnya cepat. "Aku hanya tidak ingin repot menguburkanmu kalau kau tiba-tiba mati."
Putri Vega membelalakkan mata mendengar ucapan itu.
Bagaimana mungkin seseorang bisa mengatakan hal seperti itu kepada istrinya sendiri?
Sebaliknya, Arina sama sekali tidak terlihat terkejut.
Ia sudah cukup mengenal Orion. Pria itu memang memiliki mulut yang lebih tajam daripada pedangnya.
"Kau tidak perlu khawatir," balas Arina tenang. "Kalau aku mati malam ini, masih ada Yang Mulia Putri dan yang lainnya yang bisa menguburkanku."
Selesai berkata demikian, Arina bangkit dari tempat tidurnya.
Ia melangkah melewati Orion yang masih duduk di dekat pintu masuk tenda.
"Arina!"
Orion refleks memanggilnya.
Namun, Arina tidak menghentikan langkahnya.
Dalam beberapa detik, sosoknya telah keluar dari tenda, meninggalkan Orion yang hanya bisa menatap punggungnya dengan raut wajah kesal.
Orion segera menyusul Arina keluar dari tenda.
"Tentu saja aku juga bisa menguburkanmu."
Arina mengangkat sebelah alisnya. Ada apa dengan pria ini?
Namun, ia memilih mengabaikan ucapan Orion ketika melihat Alhena berjalan menghampirinya.
Di saat yang sama, Panglima Darius ikut mendekat dan berdiri di samping Orion. Putri Vega juga keluar dari tenda, lalu mengambil posisi di sebelah Edmund, Wali Kota Asterra.
Tak jauh dari mereka, Saiph berdiri bersama beberapa prajurit yang tidak sedang berpatroli malam itu.
"Ini, Nona." Alhena menyerahkan sebuah botol kecil berwarna hijau kepada Arina.
Arina segera membuka tutup botol itu, lalu meminum seluruh isinya tanpa tersisa.
Itu adalah Sari Perak Bulan, ramuan yang mampu memulihkan tenaga dalam waktu singkat.
Beberapa saat kemudian, rona pucat di wajahnya mulai memudar. Warna kulitnya perlahan kembali normal, dan napasnya menjadi jauh lebih stabil.
Kini, Arina kembali tampak seperti biasanya. Tenang. Dingin. Dan tetap sulit ditebak isi pikirannya.
...***...
...Like, komen dan vote ...