"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.
Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.
Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.
*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*
Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.
Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Porsche Panamera
Dan sekarang, Surya punya ujung benang pertama untuk menarik seluruh tubuh ular keluar dari sarangnya.
Benang itu dimulai dari satu plat nomor.
B 17 KTN.
Surya tidak langsung meninggalkan ruang monitor. Ia meminta Bang Joni memutar ulang rekaman dari awal. Bukan hanya malam ulang tahun pernikahan. Tiga bulan terakhir. Setiap kali Porsche Panamera itu masuk. Setiap kali Nadia turun dengan wajah bersinar seperti perempuan yang baru kembali menjadi dirinya sendiri.
Bang Joni menelan ludah. "Bang, kalau Bu Nadia tahu saya bantu..."
"Saya tidak akan sebut namamu." Surya menatap layar. "Tapi saya butuh salinan."
"Rekaman kompleks biasanya cuma buat keamanan internal."
"Saya tahu. Makanya saya minta salinan sebagai petunjuk pribadi dulu. Kalau masuk laporan resmi, saya akan minta lewat prosedur."
Bang Joni ragu lama. Lalu ia mengeluarkan flash disk kosong dari laci. Namun, kapasitasnya terlalu kecil. Surya pergi ke ruko elektronik dekat kompleks, membeli tiga flash disk baru dan satu hard drive kecil. Ia juga membeli kabel data dan kartu memori cadangan.
Saat kembali, Bang Joni sudah menyiapkan daftar tanggal.
"Saya cari yang jelas saja, Bang," katanya pelan. "Ini ada lift. Ini parkiran. Ini gerbang."
Surya berdiri di sampingnya, melihat rekaman demi rekaman dipindahkan. Porsche masuk. Nadia turun. Pria itu merangkulnya. Kadang mereka tertawa di lift. Kadang Nadia memperbaiki kerah kemeja pria itu sebelum pintu terbuka.
Tidak ada adegan vulgar.
Tetapi cukup.
Cukup untuk menghancurkan kebohongan seorang istri di depan hakim. Cukup untuk membuat keluarga Kusuma berhenti memakai kata "rumah tangga" sebagai tameng. Cukup untuk membuktikan bahwa Surya bukan suami gila yang mengarang cerita setelah dipermalukan.
Setelah semua selesai, Surya membuat tiga salinan. Satu flash disk ia simpan di saku jaket. Satu ia masukkan ke amplop untuk Dewi. Satu lagi ia simpan di loker sewaan kecil dekat stasiun. Hard drive ia enkripsi dan unggah salinannya ke penyimpanan cloud.
Bang Joni memperhatikannya dengan mata melebar.
"Bang Surya... dari kapan bisa urus begini?"
Surya menutup laptop. "Dari saat saya sadar orang baik yang bodoh hanya jadi makanan orang jahat."
Pagi berikutnya, Surya menelepon seorang teman lama dari UNAIR, Rangga, yang kini bekerja di unit lalu lintas Polres sebagai staf administrasi. Mereka tidak dekat, dulu pernah satu kelompok PKPA dan Rangga masih berutang budi karena Surya pernah membantu menyusun berkas ujian etiknya.
Mereka bertemu di warung kopi kecil dekat kantor Samsat.
Rangga datang dengan kemeja dinas rapi, wajahnya hati-hati. "Sur, kalau kamu minta data lengkap pemilik kendaraan, itu nggak bisa sembarangan. Harus ada laporan atau permintaan resmi."
"Aku tidak minta dokumen resmi." Surya meletakkan foto plat di meja. "Aku cuma perlu tahu ini milik pribadi atau perusahaan. Cukup arah."
Rangga melihat foto itu. Alisnya naik sedikit. "Plat cantik. Mobilnya apa?"
"Porsche Panamera."
"Wah." Rangga mengetuk meja dengan jari. "Ini bukan kelas orang biasa."
Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka ponsel, menelepon seseorang, bertanya dengan kalimat pendek, lalu mencatat dua kata di tisu warung.
PT Kencana Abadi.
"Hanya itu yang bisa aku bilang," kata Rangga. "Terdaftar atas nama perusahaan. Kalau mau lebih jauh, kamu harus cari lewat AHU, berita bisnis, atau jalur hukum. Jangan seret namaku."
Surya mengambil tisu itu. "Aku paham."
Rangga menatapnya lebih serius. "Ini soal rumah tangga?"
"Soal orang yang mencoba membunuhku."
Rangga terdiam.
Surya berdiri. "Terima kasih."
"Sur." Rangga menahan sebentar. "Kalau benar ada percobaan pembunuhan, jangan main sendiri terlalu lama."
"Belum waktunya."
Di warnet kecil yang masih buka di samping toko fotokopi, Surya mulai menggali.
PT Kencana Abadi.
Nama itu muncul di beberapa laman berita lama, terkait distribusi bahan industri, proyek swasta, dan kemitraan dengan grup yang jauh lebih besar: Perkasa International. Di situs AHU, struktur pengurusnya tidak terbuka sepenuhnya tanpa akses berbayar, cukup banyak jejak yang bisa dibaca.
Kevin Tanuwijaya.
Nama itu muncul sebagai Direktur Utama di beberapa berita peluncuran produk.
Surya mencari lagi.
Budiman Tanuwijaya.
Hasil pencarian berubah menjadi dunia lain. Foto pria paruh baya berjas mahal. Wawancara di majalah bisnis. Perkasa International. Perkasa Enviro Tbk. Aset triliunan rupiah. Keluarga Tanuwijaya. Rapat pemegang saham. Ekspansi regional.
Surya menatap layar.
Jadi itu ular yang selama ini tidur di ranjangnya.
Bukan sekadar laki-laki kaya.
Putra konglomerat.
Mantan kekasih Nadia yang kembali dengan Porsche, uang, dan keyakinan bahwa seorang suami miskin bisa disingkirkan seperti sampah dapur.
Surya mencetak beberapa halaman berita. Ia menyimpan file PDF, mengirim salinan ke email baru, lalu memasukkan semuanya ke folder dengan nama sederhana: KTN.
Sore itu, ia mengirim pesan kepada Nadia.
Kita bicara. Tempat pertama kita makan dulu. Jam tujuh.
Balasan datang kurang dari satu menit.
Kamu pikir aku mau ketemu kamu?
Surya mengetik singkat.
Aku bawa rekaman Porsche.
Tidak ada balasan lagi.
Namun pukul tujuh kurang sepuluh, Nadia sudah duduk di sudut restoran kecil di Bintaro itu. Dulu tempat itu menjadi lokasi kencan pertama mereka. Bukan restoran mahal. Hanya tempat makan keluarga dengan lampu kuning, meja kayu, dan menu ayam bakar yang dulu membuat Nadia berkata, "Aku suka tempat sederhana kalau sama kamu."
Malam ini, wajah Nadia kaku.
"Apa maumu?" tanyanya begitu Surya duduk.
Surya meletakkan amplop cokelat di meja.
"Cerai."
Nadia tertawa pendek. "Kamu yang bunuh Papa secara tidak langsung, sekarang kamu minta cerai?"
"Aku akan ajukan sesuai prosedur pengadilan. Mediasi, pembuktian, putusan. Kamu tanda tangan baik-baik, prosesnya bersih."
"Dan kalau aku tidak mau?"
Surya mengeluarkan flash disk dari saku.
Mata Nadia langsung terpaku pada benda kecil itu.
"Ini rekaman dari gerbang, parkiran, dan lift," kata Surya. "Tiga bulan. Lebih dari sepuluh kali. Suami sahmu yang kamu sebut nggak berguna ini ternyata cukup rajin menyimpan bukti."
Nadia memucat. "Kamu mencuri rekaman."
"Aku mengambil petunjuk dari alamat tempat aku masih tinggal sebagai suami sah. Kalau kamu mau debat legalitas, kita bisa lakukan di pengadilan. Aku lulusan hukum juga, Nadia. Jangan lupa."
Ia melempar flash disk itu.
Benda kecil itu mengenai pipi Nadia, lalu jatuh ke meja, berputar dekat gelas air.
Nadia tidak bergerak.
"Kamu mau harta Kusuma?" tanyanya dengan suara lebih rendah. "Itu tujuanmu?"
"Aku tidak butuh harta keluargamu." Surya menatapnya datar. "Perjanjian pranikah kalian sendiri sudah memastikan aku tidak mendapat apa-apa. Bagus. Aku juga tidak mau menyentuh uang kotor dari rumah itu."
"Lalu?"
"Kamu keluar dari hidupku. Kamu tidak menuntut apa pun. Kamu tidak ganggu Dewi. Dan kamu berhenti memakai namaku untuk dokumen apa pun."
Wajah Nadia berkedut.
"Kalau aku menolak?"
Surya membuka amplop kedua, mengeluarkan satu lembar cetakan berita. Foto Kevin Tanuwijaya tersenyum di acara Perkasa International.
Nadia berhenti bernapas.
Surya melihatnya.
Itu dia.
Ketakutan yang berbeda. Bukan takut pada Surya. Takut rahasia yang lebih besar terbuka ke dunia Kevin.
"Kevin Tanuwijaya," kata Surya pelan. "Direktur PT Kencana Abadi. Putra Budiman Tanuwijaya."
"Jangan sebut namanya."
"Kenapa? Takut ayahnya tahu putra konglomerat itu tidur dengan istri orang dan ikut membuat rencana asuransi?"
"Kamu tidak tahu apa-apa."
"Belum semuanya." Surya memasukkan kembali foto itu. "Tapi cukup untuk mulai."
Nadia menggenggam ujung meja. "Surya, kalau kamu menyentuh Kevin, kamu akan hancur. Kamu pikir dia cuma laki-laki biasa? Keluarga Tanuwijaya bisa membeli hidupmu sepuluh kali."
"Mereka bisa membeli banyak hal." Surya berdiri. "Tapi malam ini, aku ingin tahu apakah Budiman Tanuwijaya mau membeli malu anaknya sendiri."
Nadia ikut berdiri, panik. "Apa maksudmu?"
Surya berjalan melewati kursinya.
"Salinan rekaman dan foto Porsche sudah kukirim."
"Ke siapa?"
Surya berhenti di samping meja, menatap Nadia untuk terakhir kali malam itu.
"Ke kantor Perkasa International. Atas nama Budiman Tanuwijaya."
Wajah Nadia kehilangan warna.
Surya meninggalkan restoran tanpa menoleh.
Di belakangnya, suara gelas pecah menghantam lantai.