NovelToon NovelToon
Di Balik Seragam Yang Sama

Di Balik Seragam Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Tazaya

Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang

dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasihat di Ujung Malam

Di tengah kekacauan yang melanda ruang pemeriksaan, suasana perlahan-lahan mulai mereda setelah Tirta diseret masuk ke dalam sel. Rama masih terduduk di lantai aspal kantor polisi yang dingin, bahunya berguncang hebat dengan napas yang masih memburu. Amarah, rasa bersalah, dan ketakutan bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya.

Melihat kondisi remaja itu yang begitu hancur, salah seorang petugas polisi senior melangkah mendekat. Di seragamnya tersemat papan nama bertuliskan Akbar. Pak Akbar berlutut di sebelah Rama, lalu menepuk-nepuk bahu kekar Rama yang masih basah oleh sisa air hujan dengan lembut, mencoba menyalurkan ketenangan.

"Tenang, Nak. Istighfar... tenangkan dirimu dulu," ucap Pak Akbar dengan suara baritonnya yang tenang dan kebapakan.

Rama tidak menjawab. Dia hanya mencengkeram rambutnya sendiri, menatap kosong ke arah lantai. "Dia kritis di rumah sakit gara-gara bajingan itu, Pak. Saya hampir telat nyelamatin dia..."

Pak Akbar mengembuskan napas pelan, menatap Rama dengan tatapan penuh rasa iba sekaligus kagum atas kepedulian remaja ini.

"Dengar saya, Nak Rama," ujar Pak Akbar, suaranya terdengar begitu bijak dan menyejukkan di tengah keheningan kantor polisi. "Kemarahan kamu tidak akan bisa memutar balik waktu, dan pukulan kamu tadi juga tidak akan bisa menyembuhkan luka-lukanya. Saat ini, yang korban butuhkan bukanlah kepalan tanganmu di sini, melainkan doa yang tulus dari orang yang peduli padanya."

Pak Akbar menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam pikiran Rama.

"Tugas kami di sini adalah menegakkan keadilan hukum untuk bajingan seperti Tirta. Tapi tugas kamu sekarang adalah menjadi penguat untuknya melalui jalur langit. Doakan dia, Nak. Di saat raganya sedang berjuang melawan maut, doa-doa tulus dari orang yang tulus adalah obat yang paling dia butuhkan.

Pulihkan hatimu dulu, agar kamu punya energi untuk menemaninya bangkit nanti."

Mendengar nasihat haru dari Pak Akbar, cengkeraman tangan Rama di rambutnya perlahan melonggar. Kata-kata itu menampar kesadarannya. Benar, menghancurkan Tirta tidak akan membuat Naira mendadak sembuh di ruang UGD.

Drrt... Drrt... Drrt...

Ponsel di saku celana Rama kembali bergetar. Rama meraba sakunya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Layar ponselnya menyala, menampilkan jam digital yang sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi, beserta nama yang membuat tenggorokan Rama langsung tercekat: Ibu.

Rama menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Ibu..." suara Rama terdengar sangat parau.

"Astaga, Rama! Kamu di mana, Nak?!" Suara Ibu ruko di seberang telepon terdengar begitu cemas dan bergetar, bahkan samar-samar terdengar suara isak tangis yang ditahannya.

"Di luar hujan badai besar sekali dari tadi malam, tapi kamu belum pulang juga. Ibu, bapak sama adekmu khawatir setengah mati, Nak. Motor kamu juga ada dibengkel depan ruko tapi kamunya gak ada. Kamu gak apa-apa kan, Nak? Sesuatu terjadi?"

Mendengar suara penuh kasih sayang dari ibunya, pertahanan Rama runtuh. Air matanya kembali menetes, namun dia berusaha sekuat tenaga menahan suaranya agar tidak terdengar sedang menangis.

"Bu... Rama gak apa-apa. Rama minta maaf ya udah bikin Ibu, Bapak sama Dika cemas," ucap Rama pelan.

Tahu bahwa dia tidak bisa terus-menerus menyembunyikan kejadian besar ini, Rama akhirnya menarik napas dalam-dalam dan menceritakan semuanya. Dia menceritakan bagaimana dia menemukan Naira yang menjadi korban tabrak lari oleh Tirta di jalanan sepi, dan bagaimana kondisi Naira sekarang yang sedang kritis di rumah sakit akibat kehilangan banyak darah.

Mendengar cerita itu, Ibu Rama di seberang telepon langsung memekik pelan karena syok. "Astagfirullahaladzim... Naira, Nak? Kasihan sekali anak itu... Terus sekarang kondisinya bagaimana, Rama?"

"Sudah ditangani dokter di UGD, Bu. Tapi..."

Rama menjeda kalimatnya, dadanya kembali terasa sesak saat teringat sosok Tuan Surya.

"Keluarga Naira... Tuan Surya dan istrinya juga sudah ada di rumah sakit dari tadi."

Suasana di seberang telepon sempat hening sejenak. Ibu Rama tentu tahu siapa Tuan Surya pria kejam yang dulu menggusur ruko mereka. Ada ketakutan tersendiri di hati sang ibu jika anak laki-lakinya harus berurusan lagi dengan pria berbahaya seperti itu.

Rama yang memahami kekhawatiran ibunya langsung berbicara dengan nada memohon yang amat sangat.

"Bu... Rama tahu Tuan Surya itu orang yang sudah jahat sama keluarga kita. Rama tahu dia yang bikin kita susah dulu," bisik Rama, suaranya bergetar menahan haru. "Tapi Naira gak salah apa-apa, Bu. Naira gak tahu apa-apa soal kelakuan bapaknya. Rama... Rama minta izin buat tetap tinggal di rumah sakit malam ini untuk jagain Naira, Bu.

Walaupun dia anak Surya Danendra, Rama gak bisa tinggalin dia dalam kondisi sekarat kayak gini. Tolong izinkan Rama, Bu..."

Di seberang telepon, terdengar suara helaan napas lembut dari sang ibu yang menyapu semua keraguan. Sifat pemaaf dan berhati emas Rama jelas menurun dari wanita luar biasa ini.

"Jaga dia, Nak," ucap Ibu dengan suara yang kini terdengar ikhlas dan tegar. "Ibu tidak pernah mengajari kamu untuk menaruh dendam pada orang yang tidak bersalah. Naira anak baik, dia berhak ditolong. Tetaplah di sana, dampingi dia sampai masa kritisnya lewat. Ibu, Bapak dan Dika di sini akan terus mendoakan keselamatan Naira dari ruko. Kamu jangan lupa jaga kesehatanmu juga ya, Nak."

"Iya, Bu. Terima kasih banyak... Rama sayang Ibu," ucap Rama dengan perasaan yang jauh lebih lega.

Setelah menutup telepon, Rama menghapus sisa air mata di pipinya. Dia bangkit berdiri, menyalami Pak Akbar dengan penuh rasa hormat. "Terima kasih banyak atas nasihatnya, Pak Polisi. Saya permisi kembali ke rumah sakit sekarang."

Pak Akbar tersenyum bangga dan mengangguk. Dengan tekad yang baru, Rama melangkah keluar dari kantor polisi, siap menembus sisa-sisa hujan malam demi kembali ke sisi Naira tanpa pernah tahu bahwa rahasia darah mereka berdua akan segera mengubah hidup mereka selamanya.

1
Wawan
Sepertinya ini sama persis degan bab di depan 💪✍️
Wawan
Nah kena Amor lu 😍😄✍️
tazayaa: hahaha🤭
total 1 replies
Wawan
Kok mirip ceritaku ya ... "Pada Suatu Masa" 💪✍️
Wawan: Panjang kalau di ceritaku 😄 ... But ide tulisamu menarik dan menyenangkan Thor 💪✍️
total 2 replies
Wawan
Satu ilklan plus mawara buat yang lagi klepek klepek 😄✍️
tazayaa: hihii terimakasih 💪😄
total 1 replies
Wawan
Suit suiiit 😍
tazayaa: hihiii🤣
total 1 replies
Wawan
Rama dan Naira 😍😍😍
tazayaa: jangan lupa baca kisah selanjutnya yaa😍😍😍
total 1 replies
Protocetus
Bibit2 timnas 💪
Protocetus
Gk sekolah mau kerja apa bossku 😂
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa: siapp, sama-sama👍
total 3 replies
Dhatu Lukita
terus semangaattt 💪💪💪
tazayaa: terimakasih kak, semangat jugaa 💪
total 1 replies
Dhatu Lukita
haloo thor aku mampir nih, semangat terus berkarya ya 💪💪💪
tazayaa: siapp kak, makasihh yaa
total 1 replies
tazayaa
bantu follow ya supaya admin semangat update niii🤭🤭
cila_aa
aduhh ada yang mulai tumbuh tapi bukan pohon nihh 🤭
tazayaa: wkwkw
total 1 replies
tazayaa
BAGUSSS POLLL!!!🩷🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!