NovelToon NovelToon
KISAH CINTA ALDARA DAN ARIES

KISAH CINTA ALDARA DAN ARIES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chinta Maulana

Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 022: Ketenangan di Sore Pantai dan Perhatian yang Datang

Sore harinya, Aldara mengajak Dede Ara dan Hafizah pergi ke pantai untuk sejenak melepaskan beban pikiran yang membebani hatinya. Di sana, mereka duduk beralaskan pasir lembut, menikmati semilir angin laut yang sejuk serta pemandangan air yang berkilau diterpa sinar matahari.

Ketiga sahabat itu asyik bermain pasir sambil saling bercerita.

“Ngomong-ngomong Kak, Aries ke mana ya? Beberapa hari ini kok tidak pernah kelihatan sama sekali?” tanya Dede Ara memecah keheningan.

“Iya Dar, benar kata Dede. Kami jadi ikut penasaran keberadaannya,” timpal Hafizah.

Aldara terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Dede Ara dan Hafizah.

Aldara terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang sebelum menjawab pelan. “Sebenarnya sudah beberapa hari ini dia tidak ada kabar sama sekali. Aku tidak tahu ke mana dia pergi, sedang apa, dan di mana dia sekarang. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi,” jawabnya dengan nada sendu.

Dede Ara segera merangkul bahu Aldara erat, sementara Hafizah menepuk-nepuk pelan punggung sahabatnya itu untuk menenangkannya.

“Lalu kalian sendiri bagaimana? Hubungan kalian dengan pacar masing-masing baik-baik saja?” tanya Aldara mencoba mengalihkan topik.

“Kalau Hiken, dia memang makin posesif belakangan ini. Tapi untungnya begitu tahu aku Mau jalan sama kamu, dia tidak melarang dan malah mengizinkan aku melepas lelah,” jawab Dede Ara santai.

“Kamu sendiri Zah, bagaimana kabarnya dengan Ikbal?” tanya Aldara lagi.

Hafizah ikut menghela napas. “Yah begitulah Dar. Dia sibuk sekali dengan pekerjaannya sampai seolah tak punya waktu buatku. Kalau aku tidak menelpon duluan, dia tidak akan pernah menghubungi. Kadang aku merasa pekerjaannya Jauh lebih penting daripada aku,” ucapnya sambil cemberut.

“Itu masih jauh lebih baik, Zah. Kamu setidaknya masih tahu dia ada di mana dan sedang apa. Berbeda dengan dia yang menghilang begitu saja sampai nomornya pun tidak bisa dihubungi,” balas Aldara pelan.

“Betul kata Kak Aldara,” sambung Dede Ara bijak. “Selagi dia masih memberi kabar walau jarang, mungkin itu bukan karena dia lebih mementingkan kerja, tapi itu tanggung jawabnya. Kalau dia tidak bekerja, nanti siapa yang akan menafkahi keluarganya? Dan kalau kalian jodoh, kalian juga butuh makan, bukan cuma bisa kenyang dengan cinta saja kan?”

Hafizah tersenyum kecil dan mengangguk paham. “Benar juga katamu, Dede. Aku akan coba lebih mengerti posisinya.”

Matahari pun perlahan terbenam, melukis langit dengan warna jingga keunguan yang indah. Mereka menikmati pemandangan itu sejenak sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing.

Di tempat lain, Abang Chepot dan Anha duduk santai di teras rumah. Di hadapan mereka ada secangkir teh hangat untuk Anha, secangkir kopi untuk Abang Chepot, serta piring berisi gorengan hangat.

“Bagaimana kuliahmu hari ini?” tanya Chepot memulai obrolan.

“Alhamdulillah lancar, sayang. Cuma dosen kami agak sulit ditebak hari ini,” jawab Anha.

“Kenapa begitu?” tanyanya lagi.

“Dia memberi tugas yang sangat sulit sampai rasanya kepalaku mau pecah,” keluh Anha sambil mengerutkan kening.

Abang Chepot tersenyum lembut. “Wajar saja sayang, namanya juga kuliah. Kamu harus rajin belajar ya, jangan kebanyakan main, takutnya nanti nilaimu menurun.”

“Siap dilaksanakan! Aku pasti akan belajar dengan sungguh-sungguh. Aku tidak mau mengecewakan orang tuaku yang sudah bersusah payah membiayai pendidikanku,” jawab Anha mantap.

“Itu baru anak pintar,” puji Chepot sambil mengusap kepala kekasihnya.

Sementara itu, Aldara baru saja sampai di rumah. Ia segera membersihkan diri, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk karena rasa lelah yang mendadak menyerang. “Baru jalan-jalan sebentar ke pantai kok rasanya sudah capek begini,” gumamnya pelan. Tak lama kemudian matanya terasa berat, dan ia pun terlelap dengan sangat nyenyak.

Berbeda dengan Hafizah, sesampainya di rumah ia sudah mendapati Ikbal menunggu di teras.

“Dari mana saja kamu?” tanya Ikbal sambil segera menghampirinya.

“Tadi ke pantai sama Aldara dan Dede Ara,” jawab Hafizah pelan, lalu duduk di kursi sebelah Ikbal.

“Kamu sudah makan? Kalau belum, ini aku bawakan makanan kesukaanmu,” kata Ikbal sambil menyodorkan bungkusan nasi.

Hafizah membukanya dan tersenyum melihat isi pecel lele yang sangat ia sukai. “Terima kasih banyak ya,” ucapnya tulus, lalu mulai menikmati hidangan itu dengan perasaan yang jauh lebih tenang.

1
Sribundanya Gifran
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!