NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Batas Pertahanan Dokter

Minggu pagi di penthouse tidak pernah sesunyi ini setelah kehadiran Ayana. Sinar matahari pukul sembilan pagi menembus dinding kaca raksasa, menerangi ruang tengah yang telah ditata ulang. Karpet bulu tebal yang kemarin menjadi saksi bisu aliansi rahasia kini kembali menjadi arena pertempuran klinis.

Sesuai dengan ucapan Arka semalam, hari ini adalah jadwal untuk menaikkan intensitas paparan audio. Volume sepuluh persen. Angka yang terdengar kecil bagi orang awam, namun bagi seorang penderita PTSD akut, kenaikan frekuensi sekecil apa pun adalah bentuk perluasan medan perang di dalam tempurung kepala.

"Anda sudah siap, Pak Arka?" Ayana duduk di sofa tunggalnya, memegang papan jalan dengan pulpen gel hitam yang sudah siap di tangan.

Arka tidak langsung menjawab. Pria itu duduk di sofa panjang, mengenakan kaus hitam santai dan celana kain abu-abu—penampilan yang sangat jarang memperlihatkan sisi kasual dari seorang CEO Pradipta Group. Matanya menatap lurus ke arah ponsel Ayana yang berada di atas meja marmer. Telapak tangannya yang besar terbuka di atas lutut, siap untuk mengepal kembali kapan saja.

"Jangan banyak bertanya, Ayana. Nyalakan saja," jawab Arka pendek. Suaranya terdengar datar, namun ada nada ketegangan yang tidak bisa disembunyikan dari tarikan napasnya yang pendek.

Ayana mengangguk. Ia tidak ingin membuang waktu atau memberi ruang bagi kecemasan Arka untuk menumpuk lebih tinggi. Ibu jarinya bergerak di atas layar sentuh, menggeser indikator volume dari angka 5% ke angka 10%.

KLIK.

Suara itu kembali bergaung.

Wiuuu... wiuuu... wiuuu...

Kali ini, suaranya tidak lagi terdengar seperti ambulans yang melintas di blok seberang. Volume sepuluh persen membawa ilusi suara itu mendekat, seolah-olah mobil darurat tersebut sedang berbelok masuk ke dalam area kompleks apartemen mewah mereka. Frekuensi suaranya memotong udara ruangan dengan lebih tajam, lebih melengking, dan langsung menghantam sistem syaraf pusat Arka.

DEG!

Tubuh Arka seketika menegang sempurna. Efeknya jauh lebih instan dibanding kemarin. Sepasang mata elangnya langsung memancarkan kilat distres yang pekat. Rahangnya mengatup begitu keras hingga otot-otot di sekitar pipinya berkedut hebat. Keringat dingin tidak lagi muncul perlahan; butiran-butirannya langsung merembes di sepanjang garis rambut dan pelipis tegapnya.

"Fokus pada saya, Arka," suara Ayana mengalun, memotong frekuensi sirine yang mulai menguasai ruangan. "Lihat mata saya. Jangan biarkan pikiran Anda melompat ke jalan layang itu. Anda berada di lantai lima puluh. Di sini aman."

Arka mencoba mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah mata bulat Ayana. Namun, kenaikan volume ini tampaknya memicu distorsi memori yang lebih kuat. Di dalam penglihatan Arka yang mulai mengabur akibat lonjakan adrenalin, bayangan wajah Ayana sempat berganti-ganti dengan bayangan wajah ibunya yang berlumuran darah di dalam rongsokan mobil.

"S-suaranya... terlalu dekat..." Arka terbata, napasnya mulai tersengal-sengal dalam ritme hiperventilasi yang berbahaya. "Ayana... ambulansnya... mereka mau membawa... membawa Ibu..."

"Arka, tidak! Ibu Anda tidak di sini!" Ayana langsung menjatuhkan papan jalannya. Tanpa ragu, ia kembali turun ke atas karpet, berlutut tepat di depan Arka. Ia meraih kedua tangan Arka yang sudah mengepal sekeras batu hingga buku-buku jarinya memutih.

Ayana mencoba membuka kepalan tangan itu, namun kali ini pertahanan fisik Arka jauh lebih kuat karena didorong oleh insting panik yang ekstrem. Tubuh kekar pria itu gemetar hebat.

"Arkananta, lihat saya!" Ayana menaikkan volume suaranya, memegang kedua sisi wajah Arka dengan telapak tangannya yang hangat, memaksa wajah tampan yang sedang didera syok itu untuk menatapnya langsung. "Saya Ayana! Saya dokter pribadi Anda! Buka mata Anda dan lihat saya!"

Sentuhan lembut namun tegas di wajahnya bertindak seperti kejutan listrik bagi kesadaran Arka yang hampir tenggelam. Manik mata hitamnya yang liar perlahan-lahan mulai memfokuskan pandangan pada wajah manis Ayana yang berada hanya beberapa senti di depan wajahnya.

"Tarik napas... satu... dua... tiga... empat..." pandu Ayana dengan napas yang sengaja ia buat dalam dan terdengar jelas. "Keluarkan perlahan... satu... dua... tiga... empat... Terus lakukan, Arka. Jangan menyerah pada suara itu."

Arka mencengkeram pergelangan tangan Ayana yang berada di wajahnya. Genggamannya sangat kuat, menyalurkan seluruh rasa takut dan ketergantungan emosionalnya pada satu-satunya jangkar kewarasan yang ia miliki saat ini. Napasnya yang memburu perlahan-lahan mulai mengikuti ritme napas Ayana. Dada bidangnya naik-turun dengan lebih teratur, meskipun tubuhnya masih menyisakan getaran-getaran halus akibat sisa syok syaraf.

Selama dua menit berikutnya, paviliun itu dipenuhi oleh perjuangan sunyi. Ayana tidak melepaskan tangannya dari wajah Arka, dan Arka tidak melonggarkan cengkeramannya pada pergelangan tangan Ayana. Mereka saling mengunci pandangan, membiarkan raungan sirine volume sepuluh persen itu berputar di latar belakang tanpa lagi mampu merusak kesadaran Arka yang telah terkunci pada sosok Ayana.

Ketika alarm audio berdurasi tiga menit itu akhirnya mati secara otomatis, keheningan yang kembali tercipta terasa begitu melegakan.

Arka menjatuhkan kepalanya ke depan, bertumpu pada bahu kecil Ayana. Napasnya terdengar berat dan lelah di dekat leher wanita itu. Keringat dingin dari dahinya membasahi sebagian kain blazer abu-abu yang dikenakan Ayana, namun Ayana tidak peduli. Ia justru menaikkan tangan kanannya, menepuk-nepuk punggung Arka dengan gerakan perlahan yang menenangkan, seolah sedang menenangkan seorang anak kecil yang baru saja terbangun dari mimpi buruk yang teramat mengerikan.

"Anda berhasil, Pak Bos," bisik Ayana lembut di dekat telinga Arka. "Volume sepuluh persen sudah selesai. Anda tidak tumbang, dan Anda berhasil mempertahankan kesadaran Anda sampai akhir. Anda luar biasa."

Arka tidak menjawab. Pria itu hanya memperdalam sandaran kepalanya di bahu Ayana selama beberapa saat, menghirup aroma wangi herba yang menenangkan dari tubuh dokter pribadinya itu—sebuah aroma yang perlahan-lahan mengusir sisa bau besi berkarat dan darah dari memorinya.

Setelah kondisi Arka benar-benar stabil, Ayana kembali duduk di sofanya dengan napas yang agak terengah. Sesi kali ini ternyata menguras energi mentalnya hampir sama besarnya dengan energi fisik Arka.

Arka menyeka wajahnya dengan handuk bersih yang disediakan pelayan, lalu meminum segelas air hangat yang dicampur sedikit madu organik. Wajahnya masih agak pucat, namun binar otoritasnya perlahan-lahan mulai kembali ke dalam sepasang mata elangnya.

"Bagaimana penilaianmu, Dokter?" tanya Arka, suaranya masih terdengar agak serak. "Apakah performa saya hari ini cukup memuaskan untuk kontrak tiga bulan dari kakek saya?"

Ayana memeriksa kembali papan jalannya, menuliskan beberapa grafik respons klinis yang baru saja ia amati. "Secara klinis, waktu respons Anda untuk mencapai fase stabil jauh lebih cepat dibanding kemarin. Kemarin Anda butuh waktu hampir lima menit dengan teknik intervensi verbal yang intens. Hari ini, dalam waktu dua menit setelah kontak fisik dan *grounding* visual, detak jantung Anda sudah mulai melandai. Itu artinya, otak Anda mulai menerima saya sebagai stimulus keamanan universal."

Ayana mendongak, menatap Arka dengan senyuman tipis. "Jadi, ya... perkembangan Anda sangat bagus, Pak Arka. Tapi jangan sombong dulu. Besok kita akan mulai masuk ke lingkungan kerja. Saya mau melihat bagaimana respons Anda saat menghadapi tekanan rapat korporat di bawah pengaruh pasca-terapi."

Arka bersandar di sofa, menatap Ayana dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh perpaduan rasa hormat dan sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih hangat yang mulai tumbuh di sudut hatinya. "Saya tidak akan tumbang di ruang rapat, Ayana. Jika saya bisa melewati siksaan volume sepuluh persenmu ini, maka menghadapi para dewan komisaris yang bermata culas itu akan terasa seperti bermain di taman kanak-kanak."

Ayana terkekeh renyah. "Sombongnya keluar lagi, kan? Ingat ya, Pak Bos, berdasarkan dokumen hak veto medis dari kakek Anda yang sekarang ada di tas saya, kalau saya bilang Anda harus istirahat di tengah-tengah rapat... Anda wajib patuh tanpa bantahan!"

Arka mendengus pelan, seulas senyuman sinis yang kini terasa begitu akrab muncul di sudut bibirnya. "Kamu benar-benar menikmati kekuasaan barumu ini, ya, Dokter?"

"Tentu saja! Kapan lagi seorang dokter biasa seperti saya bisa mengatur-atur jadwal hidup seorang bilioner paling ditakuti di Jakarta?" sahut Ayana jenaka, mengedipkan sebelah matanya.

Malam harinya, setelah makan malam sehat yang diawasi ketat oleh Ayana, suasana di penthouse kembali tenang. Ayana sedang berada di ruang kerjanya, menyusun laporan medis mingguan untuk dikirimkan secara berkala ke Singapura sebagai bagian dari kepatuhan kontrak dengan Hermawan Pradipta.

Tiba-tiba, ponselnya di atas meja bergetar, menampilkan sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal namun memiliki kode negara Singapura.

Ayana mengerutkan keningnya, lalu menggeser tombol hijau. "Selamat malam, dengan Dokter Ayana di sini."

"Selamat malam, Dokter Ayana," sebuah suara wanita yang terdengar sangat anggun, matang, namun memiliki nada dingin yang familiar terdengar di seberang telepon. "Saya adalah Elena Pradipta, adik kandung dari mendiang ayah Arkananta."

Jantung Ayana berdegup sedikit lebih kencang. Tantangan baru tampaknya kembali datang. Elena Pradipta adalah salah satu direktur keuangan senior di Pradipta Group yang terkenal paling vokal dan tidak menyukai dominasi Arka di perusahaan.

"Ya, Ibu Elena. Ada yang bisa saya bantu terkait kondisi kesehatan Pak Arka?" tanya Ayana, menjaga nada suaranya tetap profesional dan tenang.

"Saya tidak peduli dengan drama kesehatan keponakan saya, Dokter," sahut Elena di seberang sana dengan nada sinis yang tajam. "Saya hanya ingin mengingatkan Anda. Surat hak veto medis yang Anda dapatkan dari ayah saya di Megamendung kemarin... jangan mengira itu akan melindungi posisi Anda selamanya di Pradipta Tower. Besok pagi, audit tahunan perusahaan akan dimulai, dan saya sendiri yang akan memastikan... jika Arkananta menunjukkan satu saja celah kelemahan akibat terapimu... saya akan menendang Anda berdua keluar dari gedung itu."

KLIK.

Sambungan telepon diputus secara sepihak.

Ayana menurunkan ponselnya dari telinga, menatap layar yang kembali gelap dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat tajam. Aliansinya dengan Hermawan Pradipta ternyata langsung memicu pergerakan dari faksi-faksi lain di dalam dinasti keluarga yang haus kekuasaan ini.

Ayana berdiri, berjalan menuju jendela kaca ruang kerjanya, menatap ke arah kamar Arka yang lampunya masih menyala di seberang koridor. “Ternyata dunia tempatmu tinggal jauh lebih kejam daripada yang saya bayangkan, Arka,” batin Ayana sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Tapi jangan khawatir. Karena saya sudah menandatangani kontrak itu... saya akan memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyentuhmu besok pagi.”

Bersambung.

1
Susilawati Susilawati
up lagi thor
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!