RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Deretan mobil mewah berwarna hitam pekat itu akhirnya melesat meninggalkan Bandar Udara Internasional Soekarno‑Hatta, melaju beriringan dengan formasi rapi membelah jalanan Jakarta yang mulai padat lalu lintas siang hari. Meski jalanan cukup sibuk, konvoi ini bergerak lancar berkat koordinasi ketat antar pasukan pengawal.
Di barisan paling depan, sebuah sedan mewah hitam mengkilap dikendarai langsung oleh Sara. Ia memegang setir dengan mantap, meski hatinya kini dipenuhi rasa was‑was. Di sebelahnya, Don Vincenzo duduk tegak di kursi penumpang posturnya tetap gagah meski usianya sudah lanjut. Pria itu menatap lurus ke depan, raut wajahnya sulit dibaca, namun tersirat haru yang mendalam, bercampur penasaran dan antusiasme yang tak bisa lagi disembunyikan.
Don Vincenzo menoleh perlahan, menatap wajah cucunya dari samping, lalu menyunggingkan senyum tipis yang meneduhkan. "Bukankah seharusnya kau masih berada di jam sekolah, Queen?" tanyanya menyelidik.
"Iya, Kek. Tapi hari ini Sara izin sehari khusus untuk menjemput Kakek," jawabnya cepat sambil tersenyum manis.
"Benarkah?"
"Tentu saja benar! Kakek tak percaya pada cucu sendiri!" protes Sara dengan memasang wajah cemberutnya.
Tak tahu aja Don jika ia gak sekolah karena di skors.
"Eh! Ngomong‑ngomong, apa ada sesuatu yang terjadi? Apakah ada kendala dengan perusahaan kita?" Sara segera mengalihkan pembicaraan, tak sanggup lagi menahan rasa ingin tahunya.
Don Vincenzo menggeleng pelan. "Sama sekali tidak ada masalah. Semua bisnis berjalan aman dan kian berkembang pesat akhir‑akhir ini," jawabnya menenangkan.
"Kalau begitu, apa yang membuat Kakek terlihat berbeda hari ini? Pasti ada sesuatu yang sangat penting yang sedang Kakek pikirkan," tekan Sara tak mau kalah.
Don terdiam sejenak, menghela napas panjang, lalu menatapnya lekat. "Pancaindra mu memang tajam sekali, padahal Kakek sudah berusaha bersikap biasa. Baiklah, karena kau sudah bertanya, Kakek akan beritahu: hari ini Kakek membawa kabar gembira, sebuah kejutan istimewa untuk kita semua!" ucapnya penuh semangat.
"Wah, kejutan? Sepertinya ini sesuatu yang luar biasa istimewa ya!" sahut Sara ikut bersemangat, matanya berbinar.
"Sangat istimewa," tegas Don penuh keyakinan. Ia merogoh ponsel dari saku jasnya, lalu menampakkan layar peta pada Sara. "Coba lihat, apakah kau mengenal alamat ini, Queen?"
Sara sedikit mengurangi kecepatan untuk melihatnya jelas. Begitu membaca alamat yang tertera, alisnya langsung bertaut. "Ini arah menuju Kawasan Mansion Krisnawardhana... tapi nomornya bukan rumah Raven. Justru ini..."
"Kenapa diam saja? Kau tahu atau tidak?" desak Don melihat keraguannya.
"Eh, tahu, Kek! Ini searah dengan rumah teman sekolah Sara," jawabnya cepat beralasan, berusaha menutupi rasa heran. "Apakah Kakek ingin langsung ke sana? Jaraknya tinggal sebentar lagi."
"Tentu saja! Langsung arahkan ke sana!" seru Don tegas, matanya memancarkan antusiasme yang nyata.
"Kenapa Kakek begitu bersemangat? Sebenarnya siapa yang ingin ia temui di sana?" batin Sara makin bingung, namun ia memilih diam dan segera memutar setir menuju tujuan. "Baiklah, Sara akan mengantar Kakek ke sana sekarang juga. Mohon bersabar sebentar ya."
Don hanya mengangguk puas, lalu kembali menatap ke luar jendela, matanya menerawang jauh seolah sedang merajut kembali kenangan masa lalu.
Kurang dari sepuluh menit kemudian, mobil melambat dan berhenti tepat di depan gerbang tinggi sebuah mansion megah bernuansa putih dengan aksen keemasan yang elegan. Tiga mobil pengiring pun berhenti rapi di belakangnya.
"Kita sudah sampai, Kek!" ucap Sara sambil menarik rem tangan, lalu menoleh.
Don Vincenzo menurunkan kaca jendela, menatap bangunan itu lekat‑lekat seakan ingin menghafal setiap sudutnya. "Jadi ini tempat tinggalmu... ternyata kau hidup dengan baik dan terhormat di sini," batinnya haru, sudut matanya sedikit berkaca‑kaca.
"Kau yakin, Queen? Ini benar alamat yang dituju?" tanyanya memastikan sekali lagi.
"Benar sekali, Kek! Sesuai persis dengan yang Kakek tunjukkan tadi," jawab Sara mantap.
Seorang petugas keamanan segera mendekat dengan sikap waspada namun tetap sopan. Melihat deretan mobil mewah dan aura berwibawa yang terpancar, ia bertanya dengan hati‑hati. "Mohon maaf, Tuan dan Nona! Ada keperluan apa ke kediaman keluarga Wijaya ini?"
Mark sang asisten segera melangkah maju. "Permisi, Pak. Kami ingin menemui Tuan Wijaya. Apakah beliau ada di dalam?" tanyanya sopan namun tegas.
Satpam itu mengangguk ragu sembari melirik ke arah Don. "Baik, izin bertanya, atas nama siapa saya melapor?"
"Tuan kami bernama Don Vincenzo dari Italia. Tuan Wijaya pasti mengenal nama itu," jawab Mark singkat namun berwibawa.
Mendengar itu, satpam tampak terkejut namun segera mengangguk hormat. "Baik, silakan tunggu sebentar! Saya akan segera menghubungi Tuan Wijaya!"
Mark kembali berdiri tegak di samping mobil, sementara para pengawal mengambil posisi siaga di sekeliling. Tak sampai lima menit, gerbang besi besar itu terbuka lebar. Konvoi pun melaju masuk hingga berhenti di halaman depan yang luas dengan taman yang tertata indah.
Sara turun lebih dulu, lalu membantu kakeknya turun. Diikuti Mark dan pasukan pengawal yang bergerak rapi, mereka berjalan menuju pintu utama. Di sana sudah berdiri Ricky Wijaya dengan wajah tak percaya, matanya terbelalak menatap sosok legendaris yang kini berdiri di hadapannya.
"Tuan Don Vincenzo! Sungguh tak terduga! Silakan masuk! Ini adalah kehormatan luar biasa bagi keluarga kami!" ucap Ricky tergesa‑gesa menyambut dengan penuh penghormatan.
Sara yang masih menutupi sebagian wajahnya dengan topi dan masker semakin melongo. "Hah! Jadi ini rumahnya Chelsea Amanda Wijaya! Apa urusan Kakek dengan keluarga Wijaya?!" batinnya kian penuh tanda tanya.
Bersambung...
Ayo Sara, kumpulkan semua bukti-bukti itu/Determined/, Ku menunggu pembalasanmu pada mereka, orang yang telah membunuh keluargamu, dan juga mengambil semua hak-hak yang seharusnya menjadi milikmu/Determined//Determined/