Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Perjalanan kembali ke Jakarta terasa jauh berbeda bagi Mila. Jika saat berangkat dadanya dipenuhi kecemasan, kini perasaan itu perlahan mengurai, menyisakan kelelahan yang teramat sangat namun berangsur tenang.
Di dalam bus pariwisata yang bergerak membelah Tol Purbaleunyi, suasana tampak lebih hening. Sebagian besar karyawan tertidur lelah setelah agenda padat di Bandung. Risa yang duduk di sebelah Mila pun sudah terlelap sejak bus baru berjalan sepuluh menit.
Mila menatap keluar jendela, memandangi deretan bukit hijau dan tiang-tiang beton jalan tol yang melesat mundur. Sesekali tangannya menyentuh pergelangan tangannya sendiri. Masih ada bekas kemerahan di sana akibat cengkeraman kasar Arjun tadi siang, tetapi rasanya tidak lagi sesakit sebelumnya. Ketakutannya telah digantikan oleh rasa lega yang luar biasa.
Ia melirik ke arah barisan kursi paling depan. Di sana, Andra duduk tenang sambil menatap layar tabletnya. Wajah tegas pria itu tampak serius, barangkali sedang memeriksa laporan tim hukum perusahaan atau berkoordinasi dengan pihak kepolisian Bandung yang saat ini menahan Arjun.
Seolah merasakan ada yang memperhatikannya, Andra menoleh ke belakang. Pandangan mereka bertemu di sela-sela remang cahaya lampu bus. Bukannya kembali fokus ke tabletnya, Andra justru berdiri dan berjalan pelan ke arah belakang, memastikan tidak mengganggu karyawan lain yang sedang tidur.
Langkah kaki Andra berhenti tepat di samping kursi Mila. Ia membungkuk sedikit agar suaranya tidak terdengar oleh Risa.
"Gimana tangan kamu? Masih sakit?" tanya Andra, suaranya sangat lirih namun penuh perhatian.
Mila menggeleng pelan seraya menarik sedikit lengan kemejanya untuk menutupi bekas kemerahan itu. "Sudah jauh lebih baik, Pak. Terima kasih."
Andra menghela napas pendek. Tatapannya melembut. "Nanti begitu sampai Jakarta, saya minta tim medis kantor untuk periksa lebamnya, sekalian kita ke polres untuk melengkapi berkas pelaporan tambahan. Kamu tidak usah takut, pengacara saya yang akan urus semuanya sampai tuntas."
"Saya... saya benar-benar tidak tahu harus membalas kebaikan Pak Andra dengan apa," bisik Mila, matanya mendadak berkaca-kaca lagi. Bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur yang meluap. "Kalau tadi Pak Andra tidak datang..."
"Jangan dipikirkan lagi," potong Andra cepat, tidak ingin Mila kembali mengungkit kejadian traumatis itu. "Saya melakukannya karena saya ingin kamu aman. Dan yang paling penting, mulai hari ini bajingan itu tidak akan bisa mendekati kamu lagi."
Andra merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah botol minyak angin aromaterapi berukuran kecil yang tampaknya ia beli di minimarket rest area tadi. Ia meletakkannya di telapak tangan Mila.
"Oleskan sedikit di kening kalau kepalamu masih pusing. Istirahatlah, perjalanan kita masih sekitar dua jam lagi."
Setelah memberikan benda itu, Andra menepuk pelan bahu Mila sebelum akhirnya kembali ke kursinya di barisan depan. Mila menggenggam botol kecil itu erat-erat, membawanya ke dekat dada. Kehangatan yang menjalar di hatinya kini terasa semakin nyata, mengikis habis keraguan yang sempat ia miliki.
Sementara itu, di sebuah ruangan interogasi yang dingin di salah satu kantor polisi di Bandung...
Arjun duduk dengan tangan terborgol di kursi besi. Wajahnya yang kusut tampak frustrasi. Di depannya, seorang penyidik kepolisian sedang membaca lembar laporan dengan raut muka masif.
"Saudara Arjun, berkas perkara Anda atas dugaan pengorangan, penguntitan, dan percobaan penganiayaan sudah kami proses," ujar polisi itu tegas. "Ditambah lagi, setelah kami berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya, nama Anda ternyata masuk dalam daftar pencarian terkait kasus penggelapan dana di perusahaan tempat Anda bekerja sebelumnya di Jakarta."
Mendengar hal itu, wajah Arjun langsung pucat pasi. Efek alkohol di tubuhnya benar-benar sudah hilang sempurna, digantikan oleh kenyataan pahit yang kini menghantamnya bertubi-tubi.
"Pak... saya cuma mau jemput istri saya pulang," kilih Arjun, suaranya bergetar menahan panik. "Kami cuma masalah rumah tangga biasa, Pak!"
"Masalah rumah tangga tidak melibatkan preman bayaran untuk mengintai, dan tidak melibatkan ancaman kekerasan fisik di tempat umum," sahut sang polisi dingin sambil menutup map berkas di atas meja. "Apalagi, status pernikahan Anda sudah tidak berkekuatan hukum. Anda resmi ditahan malam ini."
Arjun menyandarkan punggungnya ke kursi besi dengan lemas. Bayangan tentang tumpukan utang judi, kejaran preman di Jakarta, dan kini dinding sel tahanan yang dingin membuat dunianya runtuh seketika. Rencana liciknya untuk memeras Mila demi membayar utang-utangnya kini berujung pada kehancuran dirinya sendiri.
Pukul sepuluh malam, bus pariwisata akhirnya memasuki pelataran parkir gedung kantor pusat di Jakarta. Satu per satu karyawan mulai terbangun dan turun dengan langkah gontai namun wajah yang tampak puas setelah berlibur.
Mila turun paling akhir bersama Risa. Namun, sebelum Risa mengajaknya pulang bersama menggunakan taksi daring, seorang pria berbadan tegap—salah satu pengawal Andra—mendekat.
"Mbak Mila, mohon maaf, Pak Andra meminta Anda untuk ikut di mobil beliau. Kita akan langsung menuju Polres Jakarta Selatan untuk penyelesaian berkas," ucap pengawal itu dengan sopan.
Risa yang mendengar hal itu langsung menatap Mila dengan mata berbinar-binar penuh selidik, namun ia mencoba menahan diri. "Wah... kalau gitu aku duluan ya, Mil. Kamu hati-hati. Kalau ada apa-apa kabari aku!"
"Iya, Ris. Kamu juga hati-hati ya," jawab Mila.
Mila melangkah menuju mobil SUV hitam milik Andra yang sudah menunggu di dekat lobi kantor. Pintu belakang dibukakan oleh pengawal, dan di dalam sana, Andra sudah duduk menunggu dengan pembawaannya yang tenang namun protektif.
Begitu Mila duduk di sampingnya, Andra menutup dokumen di pangkuannya dan menoleh.
"Sudah siap?" tanya Andra lembut.
Mila menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk mantap. Kelelahan di wajahnya tertutupi oleh binar keberanian yang baru. "Sudah, Pak. Mari kita selesaikan semuanya."
Mobil pun bergerak membelah jalanan malam Jakarta yang mulai lengang. Di bawah sorot lampu jalanan ibu kota, Mila tahu bahwa perjalanannya untuk menjemput ketenangan hidup yang sesungguhnya baru saja dimulai—dan kali ini, ada seseorang yang berjalan beriringan di sisinya, siap memastikan bahwa bayangan masa lalu itu tidak akan pernah bisa kembali lagi.
Malam kian larut ketika mobil SUV hitam milik Andra berbelok memasuki pelataran parkir Polres Jakarta Selatan. Sorot lampu merkuri menerangi beberapa mobil patroli yang berjajar rapi. Suasana kantor polisi di malam hari terasa sunyi, namun ada ketegangan konstan yang menggantung di udara koridornya.
Mila turun dari mobil dengan langkah yang agak ragu. Melihat seragam cokelat dan papan nama di dinding membuat debar jantungnya kembali meningkat. Namun, belum sempat rasa cemas itu menguasainya, sebuah tepukan pelan mendarat di bahunya.
"Ada saya. Jangan takut," bisik Andra yang sudah berdiri di sampingnya.
Di lobi polres, seorang pria berkacamata dengan setelan jas rapi sudah menunggu mereka. Dia adalah Baskara, kepala tim hukum dari perusahaan Andra yang sengaja dipanggil untuk mengawal kasus ini sejak sore tadi.