NovelToon NovelToon
Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Pengkhianatan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.

Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.

Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.

Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.

Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.

Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.

Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.

Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Puncak Dan Playground

Dua hari berlalu, hari Sabtu yang Veyra tunggu akhirnya tiba. Siang itu, Veyra dan Alvero langsung bergegas berangkat menuju Puncak.

Alvero sengaja pulang dari kantor langsung jalan, karena di hari weekend seperti ini, arus menuju Puncak pasti macet, bahkan bisa sampai macet total.

Mereka tiba di puncak saat hari sudah hampir malam, Alvero segera memesan Villa untuk mereka beristirahat.

Malam telah berlalu... Hari Minggu ini, jam sudah menunjukkan pukul 09:32 pagi.

"Mas, ke kebun teh sekarang, yuk!" Ajak Veyra sambil memeluk lengan suaminya.

Alvero mengelus lembut kepala Veyra. "Iya. Tapi kita cari sarapan dulu, ya." Jawabnya.

Setelah mendapat persetujuan dari suaminya, Vera mengambil jaket kulit tebal. Walaupun hari sudah menjelang siang, tapi hawa di Puncak masih terasa begitu dingin. Sangat kontras dengan hawa panas Jakarta.

Hamparan kebun teh membentang sejauh mata memandang. Daun-daun hijau itu bergerak pelan setiap kali angin gunung berhembus melewati perbukitan.

Veyra dan Alvero berjalan menelusuri jalan setapak. Kebun teh hari itu sangat ramai, banyak wisatawan yang sudah memenuhi setiap jalan setapak yang mereka melewati.

"Mas, rasanya adem banget," kata Veyra. Senyumnya jauh lebih lebar dari hari kemarin.

"Nikmatin ya sayang," balas Alvero, ia mengeratkan genggamannya pada tangan Veyra yang terasa dingin.

Udara di sana terasa jauh berbeda dari Jakarta. Puncak terasa lebih bersih. Bahkan setiap tarikan napas terasa ringan.

Alvero diam-diam memperhatikan wajah istrinya yang terlihat jauh lebih bahagia. "Sayang, kamu nggak capek?"

"Nggak." Jawabnya cepat.

Sebenarnya, Alvero khawatir Veyra kecapekan. Karena mereka sudah berjalan cukup jauh. Apalagi jalan setapak itu cukup menanjak.

Tapi setiap kali Alvero menoleh ke Veyra, dan bertanya. Veyra seolah tidak merasa capek sedikit pun.

Walau sesekali, Veyra berhenti hanya untuk mengelus perutnya, dan memegangi punggungnya. Veyra juga kadang selalu menunjuk sesuatu yang menurutnya menarik. Dan Alvero hanya menatap ke arah yang ditunjuk sambil mendengarkan.

Meski itu hanya seekor kupu-kupu yang terbang lebih rendah di antara kebun teh.

Angin berhembus sedikit lebih kencang, membuat rambut Veyra berantakan di wajahnya. Alvero hanya terkekeh pelan sambil merapikan.

...****************...

Sementara di kota Jakarta menjelang siang itu, Mbak Rini sudah sibuk dengan tentengan perbekalan yang dibutuhkan Renzio. Susu, tissue basah, tissue kering, air minum dan beberapa cemilan, serta baju ganti.

Mbak Rini mengajak Renzio untuk pergi ke playground. Tapi ia masih duduk di teras rumah sambil nunggu sopir keluarga Alvero pulang. Ia sedang mengantarkan Serena untuk pergi arisan bulanan.

"Zio, jangan lari-lari, ya!" Teriak kecil Mbak Rini setiap kali melihat Renzio berlari aktif di halam rumah.

Tapi bocah itu tak menghiraukannya, larinya justru semakin kencang. Larangan seperti perintah untuknya.

Setelah lama menunggu, satu mobil kini terparkir di depan gerbang. Mbak Rini langsung mengernyit, ia cepat-cepat bangun dan mendekati Renzio.

Ia memang tidak mengerti soal otomotif. Tapi Ia tahu kalau mobil itu bukan mobil orang sembarangan.

Velg besar berlogo bintang tiga sudut. Ban tebal. Dan bentuk kotaknya yang begitu khas. Badannya besar tinggi. Cat hitam mengkilap itu memantulkan cahaya matahari pagi hingga terlihat seperti baru keluar dari showroom.

Pintu mobil terbuka, Regan turun dari mobilnya dengan kaos putih polos dan jogger pants abu, sepatu sneakers putih. Stelannya terlihat sederhana, tapi kualitas bahannya membuatnya jauh dari kata murah.

"Zioo!" Panggil Regan.

Renzio yang mengenali orang itu, ia langsung menarik tangannya dari genggaman Mbak Rini dan berlari menghampiri.

"Om Egann!" Teriaknya.

Di belakangnya Mbak Rini berlari kecil menyusul.

Lalu, Mbak Rini membuka pintu gerbang. "Mas Regan, kirain siapa?!" Katanya santai. Tapi tatapannya tidak bisa santai.

"Kenapa? Ganteng, kan saya?" celetuk Regan ngasal.

Mbak Rini hanya mendengus. Tapi sialnya, hatinya berteriak... 'Kamu sangat ganteng Mas Regan.'

"Alvero sama Veyra ada?" Regan nunjuk ke rumah.

"Mereka lagi ke Puncak, kalau Bu Serena lagi Arisan. Pak Ardion masih tidur." Jawab Mbak Rini jelas.

"Puncak?" Ulang Regan. Ia membeku seperkian detik. Sebelum akhirnya Renzio memegang kakinya.

"Om, mau kemana?" tanya bocah itu. Di usianya yang hampir memasuki tiga tahun. Kosa kata Renzio sudah cukup jelas.

"Hmm... Om mau ajak kamu main, gimana?" Regan mengangkat tubuh anak itu.

"Ayok, aku mau main sama Om Egan." Tubuh Renzio sedikit berontak dipangkuan Regan.

Tatapan Regan kini beralih ke Mbak Rini. "Kamu mau keluar juga, kan?"

Mbak Rini mengangguk cepat. "Iya, mau ajak Renzio ke Playground. Tapi nunggu Pak Bisma dulu. Dia lagi nganterin Bu Serena."

"Yaudah sama aku aja. Kamu hubungi Pak Bisma nya, biar dia gak buru-buru."

Mbak Rini mengangguk. Ia merogoh ponsel, jarinya bergerak lincah di atas layar ponsel.

"Udah," katanya.

"Ayok jalan! Kita main!" Regan berteriak kecil sambil menurunkan tubuh Renzio dari pangkuannya.

Mbak Rini berjalan mendekat, Ia mengusap body mobil. "Mas Regan, ini mobil baru lagi? Bagus banget, ini kan mobil G63."

Regan langsung tertawa kecil. "Bukan, ini koleksi lama. Aku pakai kalau cuma hari libur aja."

"Mas Regan, mobil ini pasti mahal ya?" tanya Mbak Rini lagi.

"Gak tahu, Dady yang beli. Mungkin cuma seharga bola," jawab Regan santai dengan nada ringan.

Mata Mbak Rini langsung membulat, ia sedikit mendongak menatap Regan. "Bola apa? Bola berlian?"

"Udah ayok masuk. Saya mau ajak kamu sama Renzio ke playground, bukan bahas harga mobil."

Regan berjalan menuju pintu kemudi. Sementara Mbak Rini hanya mendengus, sebelum akhirnya membawa Renzio masuk.

Jalanan tidak terlalu macet, membuat mereka datang lebih cepat ke sebuah mall besar.

Renzio berjalan cepat, bahkan sesekali ia berlari. Diantara banyaknya orang-orang berlalu-lalang.

Sampi akhirnya, mereka tiba di sebuah playground. Suasana di sana ramai, ada yang rebutan ayunan, ada juga yang menangis karena terjatuh.

Sementara di area prosotan...

"ZIOO! CEPET SINI!"

Regan melambaikan tangan heboh. Renzio yang dipanggil hanya berjalan santai. Ada senyum lebar di wajahnya.

"Ayok lomba lari!"

Renzio hanya tertawa sambil mengangguk.

"Satu! Dua! Tiga..."

Regan berlari lebih dulu. Tapi Renzio justru berjalan entah kemana.

"AKU MENANG!" teriaknya bangga.

Mbak Rini yang memperhatikan dari kejauhan sampai menggeleng. "Iyalah dia menang. Lombanya juga sendiri!"

Regan memperhatikan Renzio yang kembali aktif bermain di tengah banyaknya bola-bola plastik kecil.

Ia merogoh ponselnya, lalu menghubungi Alvero.

Tak butuh waktu lama, panggilan Video terhubung.

"Al, barusan Zio jatuh. Tapi dia malah ketawa."

"Jatuh kenapa? Kok bisa kamu sama, Zio?" tanya Alvero heran.

Regan mengalihkannya ke camera belakang, Ia memperlihatkan Renzio yang asyik bermain.

"Aku lagi di playground sama Renzio. Ada Mbak Rini juga."

"Yaudah, jagain Zio ya. Aku lagi di jalan!" Alvero mematikan panggilan videonya dalam sepihak.

Regan kembali memasukan ponselnya, dan ikut masuk ke kolam area mandi bola. Di sana, bahkan ia menjahili beberapa anak kecil. Ia benar-benar membuat Renzio puas bermain.

...****************...

Malam turun perlahan di atas perbukitan. Dari balkon villa, lampu-lampu rumah terlihat kecil berkelap-kelip di kejauhan.

Udara semakin dingin. Kabut tipis mulai bergerak di antara pepohonan.

Veryra berdiri di balkon, kedua tangannya bertumpu pada pagar kayu. Angin dingin berhembus pelan, membuat rambutnya bergerak mengikuti udara.

Di sisinya, Alvero juga hanya berdiri. Sesekali menatap wajah istrinya, lalu ke atas langit gelap.

"Sayang, aku kangen berdua kayak gini sama kamu," kata Alvero akhirnya.

Veyra tersenyum kecil. "Padahal tiap hari juga ketemu."

"Ketemu sama punya waktu itu beda."

Kalimat itu membuat Veyra menoleh. Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.

Alvero mengelus lembut pipi istrinya, lalu ngecup pelan keningnya.

"Mas, makasih ya udah mau ajak aku ke sini."

Alvero hanya mengangguk.

Suasana mendadak hening. Hanya suara daun-daun yang bergerak oleh angin.

Alvero sedikit menunduk, menatap bibir ranum Veyra. Wajah Alvero semakin maju, hembusan napasnya menyapu wajah Veyra. Ia mengecupnya singkat.

Namun perlahan, kecupan itu berubah menjadi lumatan yang begitu lembut. Lidahnya terus bergerak. Veyra menegang satu detik, sebelum akhirnya ia memejamkan matanya dan membalas ciuman Alvero.

Tangan Alvero memeluk pinggang istrinya. Sementara Veyra, melingkarkan tangannya ke leher Alvero.

Setelah cukup lama, ciuman itu kini terlepas. Tapi kening mereka masih menempel satu sama lain. Sebelum Alvero menggendong tubuh istrinya, membawa masuk.

Veyra akhirnya di dudukkan di ranjang. Ia sedikit menunduk, menahan degup jantung yang berdetak liar. Sementara Alvero berdiri di depannya, Ia membuka kaosnya. Lalu mendekati Veyra, dan melepaskan jaket kulit yang membungkus tumbuh Veyra.

Ia ikut duduk di samping Veyra. Tangannya kembali nyentuh wajah Veyra, dan terus menurun hingga ke lehernya. Alvero mendekatkan mulut ke telinga Veyra.

"Sayang, Mas kedinginan. Boleh gak kalau sekalian Mas jengukin dede bayi," bisiknya.

Veyra terkekeh pelan. Ia hanya mengangguk. Sambil tersenyum.

Setelah mendapatkan izin dari Veyra. Mulut Alvero terus bergerak di area leher Veyra, ia membuat beberapa tanda merah di sana.

Tangannya menyingkap dres tidur Veyra, lalu merabaa setiap inci tubuhnya, dan berhenti di kedua benda kenyal dan sintal yang selalu menjadi favoritnya.

"Eughhh!" Lenguh Veyra akhirnya.

Di sudut ruangan, lampu kamar memancarkan cahaya hangat. Yang sekarang menjadi saksi atas penyatuan mereka di bawah bukit dingin. ​

1
Addb_Rh
Veyra... ingatlah trs suamimu.. jan ingat pria lain.. ya...? 🥲
Lenny Utami
go regan🤭
Lenny Utami
holang kaya ini mahj
Addb_Rh
Ini si, gmn pinternya ngendaliin perasaan aja. Btw, congrats Gan. akhirnya bisa ya ngeyakinin kerja sama sama mereka
Agatha soul
tanggung jawab lhoo
Its me
sikap veyra bisa mancing Regan nih
hati-hati lidah tak bertulang vey
mama Al
untung Alvero ga marah.
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri
arsyila putri
regan Regan kok bisa sih
Laila Sarifah
Kamu udah mulai ada rasa ya Gan sama Veyra?
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ooooo.. regan memang begitu toh. mudah akrab ke siapa aja
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
di sini aku mulai curiga regan suka sama veyra
SANG
Lanjut👍👍👍💪👍👍👍👍💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Like iklan plus komen 💪👍
SANG
Semangat ya thor 💪👍
SANG
Apaan tuh
SANG
Tuh, disana
SANG
Aku kasih suka ya Thor 💪👍
SANG
Habis dari mana sih
Pengabdi Uji
Duhh ituu bukann lakik muu 😭😭 Tapi ya netizen gimana lg ya? yaudh lah ya smg km bsa istikomen ttp jd istri yg stia y vey🙄
Pengabdi Uji
Ini siasat Regan buat dketin Veyra apa Al 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!