Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Sensasi panas.
"Kamu gak mau ya balas aku nih...?" tantang Aruna berani, matanya menyipit penuh godaan.
Namun Axel tak menjawab. Pria itu hanya menatapnya lekat-lekat, pupil matanya menggelap pekat menelan seluruh rasa sabar. Tanpa kata, tanpa peringatan ia langsung membalikan posisi mereka. Sekarang Aruna lah yang berada di bawah. Tangan kekarnya bergerak cepat dan kokoh mencengkeram kedua pergelangan tangan Aruna, menahannya di atas kepala dengan mudahnya seolah gadis itu tak berdaya. Tangan lainnya melingkar erat di pinggang rampingnya, menarik tubuh mereka bersentuhan tanpa celah sedikitpun.
Ciuman itu datang bukan hanya ganas, tapi penuh tuntutan mutlak. Axel mendominasi seluruh indera Aruna, melahap, menguasai, dan menuntut kepatuhan total. Aruna memejamkan mata, hanyut dalam gelora yang diciptakan pria itu. Ia memang sengaja memancing, ingin menghapus bayang Zayn, ingin fokus sepenuhnya pada pria yang kini menjadi miliknya.
Saat bibir Axel bergerak turun ke leher dan akhirnya berhenti di area dada, matanya menangkap jelas bekas merah pudar yang tertinggal. Wajahnya datar, tapi aura di sekelilingnya berubah mencekam. Api cemburu membakar, namun ia tak meledak emosi—ia justru menjadi semakin tenang dan mematikan.
Dengan gerakan lambat namun pasti, bibirnya mulai bekerja. Ia menandai kulit itu, satu per satu, dengan ciuman dan gigitan yang terukur namun menyakitkan sekaligus nikmat. Ia tak asal-asalan, ia sengaja membuat jejak baru yang jauh lebih gelap, jauh lebih dalam, untuk menutupi masa lalu itu sampai tak bersisa.
"Ahhhrgghh... Axel... pelan-pelan..." desah Aruna terputus-putus, tubuhnya lemas. Tangannya yang bebas meremas rambut pria itu, kepalanya terlemah pasrah memberi akses penuh.
"Say my name..." desis Axel parau, suaranya rendah bergetar tepat di telinga gadis itu, nada bicaranya bukan permintaan, melainkan perintah.
"Axel..."
"Louder..." tuntutnya dingin, gigitannya sedikit lebih keras menegaskan otoritasnya.
"AHHHHHGHHH... AXEL JULIAN...!!"
Sentuhan tangan besarnya yang memijat area sensitif itu begitu terarah, begitu menguasai, membuat Aruna kehilangan akal sehat. Ia benar-benar lupa segalanya, yang tersisa hanya nama Axel di pikirannya.
Tanpa aba-aba, bibirnya kembali menyentuh kulit itu, kali ini dengan cara yang jauh lebih menuntut. Ia menghamburkan ciuman basah dan gigitan kecil dengan ritme yang terkontrol namun intens, memastikan setiap inci kulit di sana tertutup oleh tanda kepemilikannya sendiri.
"Ahh... Axel... sakit... enggghh..."
"Shhh..." Axel mendesis memotong, suaranya berat. "Ini hukuman buat kamu, karna sudah berani bermain-main denganku tadi."
Bibir mereka kembali menyatu dalam sekejap. Ciuman itu ganas, liar, dan sangat agresif. Axel mendominasi sepenuhnya, melahap bibir ranum itu dengan penuh tuntutan dan rasa memiliki yang meledak-ledak. Aruna memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut.
Sengaja... ia memang sengaja memancing Axel seperti ini. Ia ingin melupakan. Ia ingin menghapus setiap jejak sentuhan Zayn di tubuh dan ingatannya. Ia ingin fokus... hanya pada Axel. Hanya pada pria yang kini resmi menjadi miliknya. Ia ingin membersihkan pikirannya dari racun yang mulai ditabur Zayn di otaknya.
"Lakukan yang terbaik Axel... karna aku hanya ingin mengingat sentuhanmu bukan sentuhan dia... gantikan semua sentuhannya dengan milikmu karna aku hanya ingin fokus padamu..." batin Aruna kala itu. Benar-benar ingin menghapus setiap jejak yang di tinggalkan Zayn pada tubuhnya.
Berkali-kali Axel menghamburkan ciuman basah dan gigitan kecil, membuat jejak-jejak baru yang jauh lebih banyak, jauh lebih jelas, dan jauh lebih mencolok untuk menutupi jejak lama itu sepenuhnya.
Sentuhan nakalnya, ciumannya dan caranya mempermainkan tubuh mungil itu benar-benar membuat Aruna kehilangan akal sehat. Untuk sesaat... ia benar-benar lupa. Lupa siapa Zayn, lupa bagaimana sentuhan pria itu. Yang ada di pikirannya dan di tubuhnya sekarang hanyalah Axel sepenuhnya.
Tubuhnya melengkung tinggi tanpa sadar, dadanya yang membusung terlihat semakin jelas dan menggoda di bawah gaun tipis yang dikenakannya. Bentuk dan ukurannya terlihat begitu nyata, membuat darah Axel semakin mendidih dan hasratnya meledak tak terbendung lagi.
Namun di saat sedang panas-panasnya.. Di saat Axel sudah mulai hilang kendali, tiba-tiba pikirannya bekerja sangat cepat.
"Aruna... aku gak bisa..." ucap Axel tiba-tiba dengan napas yang masih memburu berat.
Dengan sisa kekuatan dan kesadaran yang ada, ia langsung menghentikan semua aksi liarnya. Ia menarik tubuhnya mundur sedikit, lalu memeluk tubuh mungil Aruna dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang, menenangkan hasrat yang sedang menggebu-gebu itu.
"Gak bisa apa?" tanya Aruna heran, matanya masih berkilat penuh gairah.
"Lebih dari ini..." jawab Axel pelan, bibirnya mengecup puncak kepala gadis itu. "Aku ingin menunggu sampai hari pernikahan kita nanti. Aku ingin semuanya sempurna, suci, dan terjadi di waktu yang tepat."
"Siapa juga yang minta?" ceplos Aruna mendelik malas, wajahnya manyun sedikit. "Kan aku gak nuntut apa-apa."
"Ini sudah lebih dari cukup buat aku sayang..." Axel tersenyum tipis, tangannya mengelus punggung Aruna. "Lagipula aku juga punya harga diri. Aku gak mau mengambil hakku sebelum waktunya, apalagi aku ingin menghormati kamu sebagai calon istriku."
Mendengar alasan itu, Aruna pun terdiam. Tapi rasa yang baru saja membara di tubuhnya membuatnya jujur pada keinginannya sendiri.
"Ya tapi... rasanya aku gak tahan nunggu sebulan lagi..." rengek Aruna manja, wajahnya membenamkan diri ke dada bidang Axel.
"Aku mau kamu percepat saja pernikahan kita. Jadiin minggu depan aja seperti yang kamu bilang tadi, ya? Aku gak sabar pengen jadi milikmu sepenuhnya."
Axel tersenyum sangat lebar dan puas mendengar permintaan itu. Matanya berbinar penuh kemenangan.
"Baiklah kalau begitu..." jawabnya mantap sambil mencubit gemas hidung mancung Aruna.
"Aku setuju. Kita percepat semuanya. Lagi pula jujur saja... aku juga gak akan sanggup menahan diri kalau terus-terusan digodain sama kamu setiap hari."
Axel tertawa kecil, lalu kembali memeluk gadis itu erat sekali. Ia benar-benar tak sabar ingin segera menjadikan Aruna istrinya secara sah dan menyempurnakan cinta mereka.
Namun, di balik senyum dan sikap manja Aruna... ada sebuah alasan lain yang jauh lebih berat di dalam hatinya.
'Cepatlah, nikahi aku Axel.... biarkan aku jadi milikmu sepenuhnya... agar semua ini selesai... Semua jejak Zayn dalam tubuhku hilang, berganti dengan sentuhanmu.' batin Aruna berteriak.
Ia ingin segera lepas. Lepas dari bayang-bayang gelap Zayn yang terus menghantuinya.
Dengan cepat menikah dan menjadi istri sah Axel, Aruna berharap... ia bisa benar-benar meleburkan perasaannya pada Zayn. Ia ingin menghapus rasa aneh, rasa tertarik, dan rasa bersalah yang ia rasakan pada pria itu.
Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia milik Axel. Bahwa hatinya sudah tertutup rapat untuk pria lain. Dan pernikahan itulah satu-satunya cara untuk menutup pintu masa lalu dan memulai hidup baru yang benar-benar bersih.
"Axel... puji aku..." pinta Aruna tiba-tiba dengan nada suara yang sangat manja dan memelas, sambil menggeleng-gelengkan tubuhnya yang masih berada dalam pelukan pria itu.
Axel mengerutkan kening sedikit, terlihat heran dengan permintaan mendadak itu, tapi ia tak kuasa menolak. Siapa sih yang sanggup menolak wajah memelas Aruna?
"Kamu... cantik luar biasa. Sangat mempesona. Matahari pun seakan kalah bersinar dibandingkan senyumanmu," puji Axel dengan tulus, meski kata-katanya terdengar sederhana.
Namun kemudian ia menghela napas panjang, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah sedikit bersalah.
"Tapi jujur ya... aku gak bisa mengucapkan lebih banyak lagi meski sebenarnya ingin sekali. Aku terlalu bodoh merangkai kata-kata manis indah kayak penyair atau pujangga. Lidahku terasa kaku kalau harus bicara hal-hal romantis gini," ungkapnya jujur.
Mendengar itu, Aruna langsung mendelik malas dan mencubit pelan lengan kekar kekasihnya.
"Ya memang dasarnya kamu memang Kaku. Beneran deh kayak patung!" ejek Aruna sambil tertawa kecil.
Axel pun ikut tertawa, lalu kembali menatap mata gadis itu dalam-dalam dengan senyum menggoda.
"Ya... aku memang kaku. Kaku seperti besi..." bisiknya pelan, suaranya terdengar berat dan seksi.
"Tapi... setidaknya besi itu bisa lebur dan meleleh... hanya ketika ada kamu sebagai api yang panas di dekatku..."
DUG!
Jantung Aruna berdegup kencang mendengar kalimat terakhir itu. Wajahnya seketika memerah padam, merona cantik bak buah persik. Ia merasa sangat malu tapi di saat yang sama hatinya berbunga-bunga luar biasa.
Tanpa sadar ia membenamkan wajahnya ke dada bidang Axel, bersembunyi agar pria itu tidak melihat betapa klepek-klepeknya ia dibuat oleh rayuan gombal sederhana namun mematikan itu.