NovelToon NovelToon
Belenggu Masa Lalu: Menjemput Hatimu Kembali

Belenggu Masa Lalu: Menjemput Hatimu Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama

Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance

Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.

Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.

Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPECIAL SEASON Episode 1: Riak Kecil di Kebahagiaan Baru

Suara deburan ombak Samudra Hindia yang menghantam dinding tebing Uluwatu selalu memiliki cara tersendiri untuk menenangkan jiwa yang pernah dirundung badai. Enam bulan telah berlalu sejak ruang sidang Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menjadi saksi runtuhnya dinasti kebohongon Danuar Baskoro. Enam bulan pula sejak belenggu masa lalu yang menyiksa kehidupan Kirana Larasati dilepaskan untuk selamanya.

Kini, di bawah langit Bali yang bersih, kehidupan berjalan dengan ritme yang jauh lebih manusiawi bagi sepasang kekasih yang hampir kehilangan seluruh dunia mereka.

Pagi itu, cahaya matahari terbit menembus celah-celah gorden tipis di kamar utama vila bergaya tropis minimalis milik mereka. Adrian Dirgantara sudah terbangun sejak jarum jam menunjukkan pukul lima subuh. Sebagai seorang pria yang memimpin salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia, Dirgantara Group, disiplin adalah sesuatu yang tertanam di dalam DNA-nya. Namun, alih-alih langsung beranjak ke meja kerja atau memeriksa pergerakan bursa saham di tabletnya, Adrian memilih untuk tetap diam di posisinya.

Ia berbaring menyamping, menopang kepalanya dengan tangan kanan, sementara lengan kirinya—lengan yang setahun lalu bersimbah darah di gudang Cikarang akibat peluru Rendy Baskoro—kini melingkar protektif di pinggang Kirana. Mata elangnya yang biasanya memancarkan aura dingin dan mengintimidasi di ruang rapat, kini melembut sepenuhnya saat menatap wajah tenang istrinya yang masih terlelap.

Rambut hitam Kirana yang kini tampak jauh lebih sehat dan berkilau, tersebar di atas bantal putih. Kulit wajahnya tidak lagi sepucat dulu; ada rona merah alami yang menandakan bahwa jiwanya telah menemukan kedamaian sejati. Di dalam tidurnya, Kirana tampak begitu rapuh namun sekaligus begitu berharga bagi Adrian. Bagi Adrian, setiap embusan napas Kirana yang teratur adalah sebuah kemenangan atas masa lalu kelam yang pernah merantai mereka.

Adrian mendekatkan wajahnya, mengecup kening Kirana dengan kelembutan yang teramat sangat, seolah takut jika ciumannya yang terlalu tegas bisa membangunkan wanita itu dari mimpi indahnya.

"Enghh..." Kirana melenguh kecil, merespons kehangatan bibir Adrian. Sepasang mata bulatnya perlahan terbuka, mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengunci pandangannya pada mata elang sang suami. Sebuah senyuman manis langsung terukir di bibirnya. "Pagi, Mas..." suara Kirana terdengar serak khas orang baru bangun tidur.

"Pagi, Sayang," balas Adrian, suaranya baritonnya terdengar hangat. Ia mengusap pipi Kirana dengan ibu jarinya. "Tidurmu nyenyak?"

Kirana mengangguk kecil, memposisikan dirinya agar bisa bersandar lebih erat di dada bidang Adrian. Ia bisa mendengar detak jantung Adrian yang konstan—detak jantung yang selama setahun terakhir ini menjadi melodi paling menenangkan yang mengusir segala bentuk paranoia dan mimpi buruk dari kepalanya. "Sangat nyenyak. Malah, aku merasa akhir-akhir ini aku jadi terlalu banyak tidur."

Adrian terkekeh pelan, sebuah suara rendah yang menggetarkan dadanya. "Tidak apa-apa. Kamu sudah bekerja sangat keras untuk butik barumu dalam beberapa bulan ini. Kamu berhak untuk istirahat sebanyak yang kamu mau."

---

Dua jam kemudian, suasana di dalam vila berganti dengan aroma harum masakan. Kirana berdiri di dapur bersih berwajah marmer, mengenakan gaun katun longgar berwarna pastel. Jemarinya dengan cekatan memotong sayuran untuk membuat sarapan sederhana. Sejak menetap sepenuhnya di Bali, Kirana bersikeras untuk memasak sendiri makanan mereka, setidaknya untuk sarapan dan makan malam. Bagi Kirana, kegiatan domestik seperti ini adalah bagian dari terapinya untuk merasakan arti dari "rumah" yang sesungguhnya—sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan selama pernikahan pertamanya yang penuh kepura-puraan.

Di meja makan yang terletak tidak jauh dari dapur, Adrian duduk dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Di depannya, sebuah laptop menyala, menampilkan grafik keuangan dan beberapa laporan dokumen dari Rendra di Jakarta. Meski pusat operasional Dirgantara Group sebagian besar telah didelegasikan kepada Rendra, status Adrian sebagai CEO mutlak membuatnya tetap harus mengambil keputusan-keputusan strategis.

"Mas, sarapannya sudah siap," ucap Kirana sambil meletakkan sepiring nasi goreng hangat dan telur mata sapi di depan Adrian.

"Terima kasih, istriku," ujar Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Tangannya bergerak secara refleks meraih cangkir keramik hitam yang berada di sebelah kanannya, bersiap untuk menyesap kopi hitam tanpa gula—minuman wajibnya setiap pagi untuk memicu fokus kerja.

Namun, baru saja Adrian mengangkat cangkir kopi itu beberapa sentimeter dari meja, gerakan Kirana mendadak membeku.

Aroma pekat dari biji kopi arabika yang baru diseduh itu mendadak memenuhi indra penciuman Kirana. Detik itu juga, perut Kirana seolah bergolak hebat. Rasa mual yang teramat sangat menyengat ulu hatinya, memicu reaksi penolakan yang instingtif dari dalam tubuhnya. Kirana membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, wajahnya yang tadinya cerah seketika berubah menjadi pucat pasi.

*"Uhuk...!"* Kirana membalikkan badannya dengan cepat, berlari tergesa-gesa meninggalkan dapur menuju kamar mandi yang terletak di dekat ruang tengah.

Adrian tersentak. Cangkir kopi di tangannya terhempas kembali ke atas meja, membuat sedikit cairannya tumpah mengotori permukaan kayu. Laptop dan laporan bisnisnya seketika kehilangan arti. Fokus Adrian langsung beralih sepenuhnya pada suara langkah kaki Kirana yang terburu-buru.

"Kirana?!" Adrian bangkit berdiri, kursi kerjanya terdorong ke belakang hingga menimbulkan suara gesekan keras di atas lantai.

Adrian berlari mengejar istrinya. Langkah kakinya yang lebar membawanya tiba di depan pintu kamar mandi dalam hitungan detik. Dari dalam, terdengar suara Kirana yang sedang muntah-muntah hebat, sebuah suara yang terdengar begitu menyakitkan di telinga Adrian. Insting pelindungnya yang ekstrem seketika aktif. Trauma masa lalu—di mana ia sering mendapati Kirana dalam kondisi histeris atau terluka akibat manipulasi emosional keluarga Baskoro—membuat isi kepala Adrian langsung memproses skenario terburuk.

*Apakah Danuar memiliki kaki tangan yang berhasil lolos? Apakah ada seseorang yang meracuni makanan atau minuman Kirana? Ataukah gangguan kecemasan dan PTSD Kirana diam-diam kembali menyerang secara fisik?*

"Kirana! Buka pintunya, Sayang!" seru Adrian sambil mengetuk pintu kayu kamar mandi dengan keras, suaranya dipenuhi oleh nada panik yang jarang sekali ia tunjukkan kepada dunia luar.

Tidak ada jawaban dari dalam, hanya terdengar suara gemericik air wastafel dan napas Kirana yang terengah-engah. Adrian tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Tangannya mencengkeram kenop pintu, berniat memutarnya secara paksa atau bahkan mendobraknya jika perlu. Namun sebelum ia melakukannya, pintu perlahan terbuka.

Kirana berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen dengan tubuh yang tampak lemas. Beberapa anak rambutnya basah karena sisa air bilasan wajah. Matanya berair, dan bibirnya tampak gemetar.

"Sayang, kamu kenapa? Apa yang sakit?" Adrian langsung menangkup wajah Kirana dengan kedua telapak tangannya yang besar, memeriksa setiap jengkal ekspresi istrinya dengan tatapan cemas yang mendalam. "Kita ke rumah sakit sekarang. Aku akan minta Rendra menyiapkan tim dokter terbaik."

Kirana memegangi pergelangan tangan Adrian, mencoba meredam kepanikan suaminya. "Mas... tidak usah. Aku tidak apa-apa. Sungguh."

"Tidak apa-apa bagaimana? Kamu muntah hebat, Kirana. Wajahmu pucat," potong Adrian dengan nada tegas yang sarat akan proteksi mutlak. "Apa yang kamu rasakan? Perutmu sakit? Atau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu lagi? Katakan padaku."

Kirana menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba melempar senyuman tipis untuk menenangkan Adrian, meskipun tubuhnya sendiri masih terasa agak goyah. "Aku cuma... mendadak merasa sangat mual saat mencium bau kopi hitammu tadi, Mas. Baunya terasa sangat menyengat dan membuat perutku berputar. Padahal biasanya aku tidak pernah terganggu dengan bau kopimu."

Adrian menyipitkan matanya, alisnya bertaut rapat. "Bau kopi?"

Sebagai seorang pria yang rasional dan selalu berpikir taktis, penjelasan Kirana terdengar aneh di telinganya. Adrian menuntun Kirana dengan sangat hati-hati menuju sofa panjang di ruang tengah, mendudukkan wanita itu seolah-olah Kirana adalah barang porselen yang sangat mudah pecah. Ia mengambilkan segelas air putih hangat dan memberikannya kepada Kirana.

"Minum dulu," perintah Adrian lembut.

Kirana meminum air itu perlahan, merasakan kehangatannya perlahan menenangkan gejolak di perutnya. Setelah meletakkan gelas, ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Adrian. "Maaf ya, Mas. Aku merusak momen sarapan pagi kita."

"Jangan pernah meminta maaf untuk hal seperti ini, Kirana," bisik Adrian, lengan kokohnya melingkar di pundak Kirana, mengusap lengan istrinya dengan gerakan konstan. "Kesehatanmu adalah prioritas utamaku. Jika kamu merasa tidak enak badan, kita harus memeriksanya. Aku tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun terkait kondisimu."

---

Siang harinya, suasana di butik baru Kirana yang terletak di kawasan Seminyak tampak cukup sibuk. Beberapa pelanggan dari kalangan ekspatriat dan sosialita Bali terlihat sedang melihat-lihat koleksi gaun malam terbaru yang dipajang di manekin. Butik ini didesain dengan konsep minimalis modern dengan sentuhan elemen kayu hangat, menciptakan atmosfer yang elegan namun tetap menenangkan—persis seperti kepribadian Kirana yang baru.

Kirana duduk di balik meja kerjanya yang terletak di sudut ruangan, mencoba memfokuskan pikirannya pada lembaran sketsa desain kain tenun yang sedang ia kerjakan. Namun, konsentrasinya buyar setiap beberapa menit sekali. Rasa lelah yang teramat sangat mendadak menyerang tubuhnya, seolah-olah seluruh energinya telah dikuras habis padahal hari baru menunjukkan pukul dua siang.

*TOK! TOK! TOK!*

Pintu ruang kerjanya diketuk pelan sebelum akhirnya terbuka. Sesosok wanita paruh baya dengan pakaian rapi masuk membawa beberapa berkas laporan penjualan. Dia adalah Mbak Lastri, kepala pengelola butik sekaligus orang kepercayaan yang disewa Adrian untuk membantu Kirana mengurus manajemen operasional butik.

"Ibu Kirana, ini ada laporan kain yang baru datang dari perajin di Gianyar. Apakah Ibu mau memeriksanya sekarang?" tanya Mbak Lastri dengan sopan.

Kirana mendongak, mencoba mengulas senyum. "Ah, iya, Mbak. Sini, letakkan saja di meja."

Mbak Lastri melangkah mendekat, namun langkahnya terhenti saat melihat wajah Kirana. Sebagai seorang wanita yang sudah berpengalaman dan memiliki anak, Lastri langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda dari penampilan fisik bos mudanya itu. Kantung mata Kirana tampak agak menebal karena kurang istirahat, dan kulitnya terlihat sedikit berbeda dari biasanya.

"Ibu Kirana... maaf kalau saya lancang," ucap Mbak Lastri ragu-ragu setelah meletakkan dokumen. "Ibu kelihatan pucat sekali hari ini. Apa Ibu sedang kurang sehat? Akhir-akhir ini saya perhatikan Ibu juga sering sekali meminta teh jahe hangat dan jarang menyentuh makan siang Ibu."

Kirana menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya pada kursi kerja. "Iya, Mbak Lastri. Belakangan ini tubuhku rasanya aneh sekali. Gampang lelah, dan tadi pagi aku bahkan muntah-muntah hebat cuma karena mencium bau kopi Mas Adrian. Mungkin aku cuma kecapekan karena mempersiapkan koleksi baru ini."

Mendengar penjelasan Kirana, mata Mbak Lastri mendadak berbinar. Sebuah pemikiran melintas di kepalanya, membuat wanita paruh baya itu tersenyum penuh arti. "Mual karena bau kopi? Sering lelah dan telat makan?" Lastri menjeda kalimatnya, menatap Kirana dengan pandangan menyelidik yang hangat. "Maaf, Ibu... kalau boleh saya tahu, kapan terakhir kali Ibu mendapatkan siklus bulanan?"

Pertanyaan Mbak Lastri seketika membuat otak Kirana bekerja keras. Ia tertegun di kursinya. Jemarinya yang memegang pensil desain mendadak kaku. Kirana mencoba mengingat-ingat kalender di ponselnya. Selama beberapa bulan terakhir, karena terlalu fokus pada perkembangan butik dan terapi pemulihan jiwanya, ia sama sekali tidak memperhatikan hal itu.

*Satu bulan lalu? Tidak... dua bulan lalu?* Kirana membelalakkan matanya saat menyadari bahwa ia sudah melewatkan siklus bulanannya selama hampir tujuh minggu.

"Mbak... maksud Mbak Lastri...?" bisik Kirana, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. Jantungnya mulai berdegup dengan ritme yang jauh lebih cepat, menciptakan sensasi desiran aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Mbak Lastri tersenyum semakin lebar, mengangguk pelan. "Saran saya, Ibu sebaiknya pulang lebih awal hari ini. Coba periksa ke dokter, atau setidaknya beli alat tes mandiri di apotek, Ibu. Tanda-tanda yang Ibu alami ini... sangat mirip dengan tanda-tanda wanita yang sedang berbadan dua."

---

Sore harinya, mendung tipis mulai menutupi langit Seminyak, membawa rintik hujan ringan yang membasahi jalanan. Kirana pulang ke vila lebih cepat dari biasanya. Di dalam mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadi yang disediakan Adrian, Kirana hanya diam membisu, menatap keluar jendela dengan pandangan kosong namun penuh dengan gejolak emosi.

Di dalam tas kerja kulitnya, terdapat sebuah kantung plastik kecil dari apotek yang sengaja ia beli sendiri secara sembunyi-sembunyi saat perjalanan pulang tadi. Di dalamnya ada dua buah alat *testpack* digital tingkat akurasi tinggi.

Ada rasa takut yang luar biasa yang mendadak mencengkeram dinding hati Kirana. Ketakutan itu bukan karena ia tidak menginginkan kehadiran seorang anak. Sebaliknya, ia sangat mencintai Adrian dan kehadiran buah hati adalah impian tertinggi dari setiap pernikahan yang sehat. Namun, di dalam sudut tergelap jiwanya, hantu masa lalu kembali berbisik dengan kejam.

*Bagaimana jika aku gagal? Bagaimana jika trauma masa laluku, ketakutan-ketakutanku, dan kegilaan keluarga Baskoro yang pernah menyiksaku diam-diam menurun pada anak ini? Apakah aku, seorang wanita yang pernah hancur di dalam sangkar emas, memiliki kelayakan untuk menjadi seorang ibu?*

Begitu tiba di vila, suasana tampak sepi. Adrian belum pulang dari kantor cabangnya di Denpasar. Kirana langsung melangkah cepat menuju kamar tidur utama, mengunci pintu kamar mandi dari dalam, dan mengeluarkan alat tes tersebut dengan tangan yang bergetar hebat.

Proses menunggu selama tiga menit di dalam kamar mandi itu terasa seperti tiga abad bagi Kirana. Ia duduk di atas tepi bak mandi, memeluk lututnya sendiri, sementara air matanya mulai menetes tanpa bisa dibendung. Seluruh kenangan buruk—saat ia disekap oleh Rendy, saat ia dicaci maki oleh Arissa, dan saat ia mengira Adrian adalah anak dari pembunuh ayahnya—kembali berputar seperti film rusak di kepalanya, bercampur aduk dengan harapan baru yang sedang ia uji di atas meja wastafel.

*Pip.*

Suara indikator digital dari alat tes itu berbunyi, menandakan hasil analisis urin telah selesai diproses.

Kirana bangkit berdiri dengan sangat lambat, kakinya terasa seolah terbuat dari timah. Ia mendekati wastafel, mengulurkan tangannya yang gemetar untuk mengambil alat tersebut, dan membalikkan layarnya.

Di layar digital kecil itu, sebuah tulisan tebal dan jelas muncul secara mutlak:

**YES / PREGNANT (2-3 WEEKS)**

Kirana membekap mulutnya sendiri. Tangisnya pecah seketika. Tubuhnya meluruh ke lantai marmer yang dingin, bersandar pada dinding kamar mandi. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya—tangisan yang merupakan campuran dari rasa tidak percaya, buncahan kebahagiaan yang luar biasa besar, sekaligus ketakutan instingtif yang teramat sangat mendalam.

Di luar kamar mandi, pintu utama vila terdengar terbuka. Langkah kaki yang teratur dan tegas—langkah kaki Adrian—terdengar menggema di ruang tengah, menuju langsung ke arah kamar utama.

"Kirana? Kamu sudah pulang, Sayang?" suara bariton Adrian terdengar memanggil dari balik pintu kamar.

Adrian yang baru pulang menyadari mobil Kirana sudah ada di garasi, namun suasana rumah sepi. Ia melangkah masuk ke dalam kamar tidur, dan pandangannya langsung tertuju pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat dengan lampu yang menyala. Di dalam, ia bisa mendengar suara isak tangis yang tertahan—suara tangis yang sangat ia kenali.

Kepanikan Adrian yang sempat mereda tadi pagi, kini kembali meledak dalam skala yang jauh lebih besar.

"Kirana?! Kamu di dalam, Sayang? Buka pintunya!" Adrian menghantam pintu kamar mandi dengan telapak tangannya, rahangnya mengeras, dan seluruh tubuhnya menegang hebat. Pikiran Adrian langsung dipenuhi oleh ketakutan bahwa Danuar atau sisa-sisa musuh bisnisnya telah melakukan sesuatu pada istrinya di dalam rumah mereka sendiri. "Kirana! Jawab aku! Jangan membuatku takut!"

*KLIK.*

Suara kunci pintu terbuka. Pintu kayu itu perlahan bergeser.

Kirana berdiri di sana. Wajah cantiknya sudah sembap karena air mata, hidungnya memerah, dan tubuhnya masih tampak bergetar menahan gejolak emosi. Adrian tidak menunggu satu detik pun; ia langsung melangkah maju, merengkuh tubuh Kirana ke dalam dekapan dadanya yang bidang dengan sangat erat, seolah-olah ia sedang menyembunyikan Kirana dari seluruh bahaya di dunia ini.

"Demi Tuhan, Kirana... Ada apa? Katakan padaku, siapa yang menyakitimu?" bisik Adrian di telinga Kirana, suaranya bergetar hebat penuh kecemasan, lengannya mencengkeram punggung Kirana dengan protektifitas yang ekstrem.

Kirana tidak membalas dengan kata-kata terlebih dahulu. Ia hanya menangis di dada Adrian, membiarkan kemeja kerja suaminya basah oleh air matanya. Perlahan, Kirana melepaskan pelukannya sedikit, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Adrian yang kini dipenuhi oleh kabut kepanikan.

Dengan tangan yang masih gemetar, Kirana mengangkat alat digital *testpack* dari balik saku gaunnya, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Adrian.

Adrian terpaku. Pandangan matanya beralih dari wajah sembap Kirana ke arah benda kecil di tangan istrinya. Mata elangnya membaca tulisan digital yang tertera di sana: *YES / PREGNANT*.

Detik itu juga, seluruh dunia di sekitar Adrian seolah berhenti berputar. Pria yang biasanya selalu memiliki jawaban atas segala krisis hukum dan bisnis internasional, pria yang tidak pernah goyah oleh ancaman senjata apa pun, kini mendadak kehilangan seluruh kosakatanya. Otaknya membeku, menolak untuk memproses kenyataan luar biasa yang baru saja disodorkan di depan matanya.

"Kirana... ini..." suara Adrian tercekat di tenggorokan, berubah menjadi sangat serak dan rendah.

"Mas... aku hamil," bisik Kirana di sela isak tangisnya. "Di dalam sini... ada anak kita, Mas."

Mendengar konfirmasi langsung dari bibir Kirana, runtuhlah sudah seluruh dinding pertahanan emosional seorang Adrian Dirgantara. Air mata yang selama bertahun-tahun tidak pernah mengalir dari matanya, kini perlahan menetes membasahi pipinya yang tegas.

Adrian kembali menarik Kirana ke dalam pelukannya, namun kali ini bukan karena ketakutan atau paranoia, melainkan karena rasa syukur dan kebahagiaan yang teramat sangat besar hingga membuat dadanya terasa sesak. Ia mencium kening Kirana, pipinya, dan rambutnya berulang kali dengan kelembutan yang luar biasa murni.

"Terima kasih, Kirana... Terima kasih, istriku," bisik Adrian, suaranya parau menahan buncahan emosi yang meledak di dalam dadanya. Ia meletakkan telapak tangan kanannya di atas perut rata Kirana dengan sangat hati-hati, seolah-olah di balik kulit itu ada sebuah permata paling berharga di semesta. "Aku bersumpah demi hidup dan matiku... aku akan menjaga kalian berdua. Kita akan membesarkan anak ini bersama, jauh di ujung jalan yang terang, di mana belenggu masa lalu tidak akan pernah bisa menyentuh hidup kita lagi."

Di dalam kamar yang temaram oleh rintik hujan di luar, di bawah dekapan hangat Adrian, Kirana merasakan ketakutannya perlahan mulai memudar. Riak kecil di awal kebahagiaan mereka bukanlah tanda datangnya badai baru, melainkan sebuah getaran dari kehidupan baru yang akan menyempurnakan lentera di ujung jalan mereka.

---

Bersambung

1
Aera_yong
terimakasih ya teman-teman udah support novel aku😍😍
Afri
deg deg an baca nya ..👍👍
Afri
sama sama adu kekuatan 💪💪👍
Afri
seruu
Aera_yong
jangan lupa juga beri dukungan dan support novel ini yah🤭
Aera_yong
jangan lupa baca novel terbaru aku yah tentang The Four Elite
Batriani
gaya mafia......
Batriani
dendam membara
Batriani
seru juga baca nya ditengah derunya drachin dan drakor....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!